MEMBALAS GUNDIK SUAMIKU

MEMBALAS GUNDIK SUAMIKU
Chapter 122.


__ADS_3

"Aku tidak tahu siapa orang tuamu." Nek Janah berbalik dan hendak berjalan meninggalkan Aisyah, namun dengan cepat Aisyah menangkap tangan sang nenek dan memohon.


"Nek, tolong lah jangan seperti ini. Aish tahu pasti nenek mengetahui siapa orang tua aish, Aish mohon beritahu Aish, nek. Anggaplah ini sebagai permintaan terakhir Aish."


 Nek Janah mendengkus, menepis kasar tangan Aish hingga tubuh sintal gadis itu terjerembab ke tanah.


"Sudah ku bilang tidak tahu ya tidak tahu! Bandel sekali sih? Kau carilah sana sendiri. Kan kamu yang mau menikah!" umpat nek Janah lalu berjalan cepat kembali menuju rumahnya dan menutup pintu belakang dengan kasar.


Brakk


 Aisyah tergugu di tempatnya, memang bukan perkara mudah untuk mendapatkan informasi dari nek Janah. Bisa di bilang nenek itu hanya akan memberitahu informasi yang di butuhkan jika ada sebuah pertukaran yang menguntungkan, atau dalam kata lainnya sogokan.


"Aish, sedang apa kamu di situ?" tanya seorang pemuda yang usianya terpaut tak begitu jauh dari Aisyah, dialah Hendro putra juragan Baskoro dari istri pertamanya. Selama di kampung hanya Hendro lah yang cukup dekat dan mengenal Aisyah.


 Aish menghapus jejak air mata di pipinya dan berusaha tersenyum.


"Eh, A' Hendro. Nggak kenapa-kenapa kok, A'." Aish menyahut pelan, berusaha menyembunyikan suara seraknya karena baru saja menangis.


"Aa' mau ke warung Ceu Titin, kamu mau ikut? Nanti Aa' traktir seblak," tawar Hendro dengan senyum ramah di bibirnya.


 Aisyah menatap ke arah rumahnya sejenak, lalu kembali menatap Hendro dengan tatapan bingung.


"Sudah, masalah nenekmu nanti biar Aa' yang bicara. Ayo berangkat, nanti keburu sore."


 Seakan bisa membaca pikiran Aish, Hendro berkata demikian. Karena selama ini dia cukup tahu bagaimana perlakuan nek Janah pada Aish, padahal semua warga kampung tahunya kalau Aisyah adalah cucu kandungnya, bukan cucu angkat seperti yang di katakan nek Janah pada Aisyah sejak dia kecil.


 Karna bujukan Hendro, akhirnya Aisyah membuntuti juga langkah pria tegap berkulit sawo matang itu menuju ke sebuah kedai kecil yang tak jauh dari rumah Aisyah tadi. Di sana tampak ramai dengan pembeli, maklum saja karena hanya di tempat itu satu-satunya tempat makan terdekat yang ada di kampung tersebut.


"Bik, seblaknya dua ya! Yang super pedes." Hendro berkata pada sang pemilik warung yang saat ini tengah sibuk di balik etalase jualannya, mengaduk kuah merah seblak pesanan pelanggan sebelumnya.


"Siap, Hen! Tunggu saja, sebentar lagi di antar." Penjual yang tak lain adalah wanita muda yang kerap di panggil bik Titin itu sambil terus fokus pada masakannya.

__ADS_1


 Hendro mengajak Aisyah untuk duduk di kursi yang di sediakan di sana, Aisyah hanya bisa menunduk ketika hampir semua pasang mata menatap heran dan aneh padanya.


"Santai aja, nggak perlu ngelihatin kayak begitu juga kenapa sih?" ketus Hendro saat menyadari tatapan mata orang orang itu menuju pada Aish.


 Serentak orang orang itu kembali membuang pandangannya, entah kembali fokus pada makanannya atau memilih sibuk ngerumpi seperti sebelumnya.


  Maklum saja, Hendro di kenal sebagai anak kesayangan tuan tanah di desa mereka. Sudah barang tentu saja mereka tak akan berani macam-macam pada Hendro dalam bentuk apapun itu.


 Terkecuali seorang wanita dengan dandanan menor dan pakaian yang terbuka yang kini dengan langkahnya yang melenggak-lenggok berjalan menuju ke meja dimana Hendro dan Aish duduk.


"Hai, A' Hen. Kok tumben sendirian aja?" tanyanya dengan gaya di centil centilkan, membuat Hendro begidik melihatnya.


 Gadis bernama Sumiatun tapi memanggil dirinya sendiri dengan nama Tiara itu berusaha untuk duduk di sebelah Hendro, padahal kursi itu sudah pas pasan sekali untuk Hendro dan Aish.


"A' Hen, Tiara temenin ya."


 Melihat tingkah Sumi yang hendak menghenyakkan bokongnya di sampingnya sontak Hendro menepi dan membuat tubuh wanita berpenampilan seronok itu terjungkal ke samping dan menabrak sisi meja di sebelahnya.


Gedubrakkk,


"Auuhhh, iihhh A' Hen kok dorong Tiara sih? Kan Tiara cuma mau nemenin A' Hen doang." Tiara atau Sumi berkata ketus sambil bangkit berdiri dan mengibaskan tubuhnya yang kotor.


 Belum lagi dia harus menanggung malu saat para pembeli yang lain mulai menertawakannya.


"Heh! Diam kalian semua! Dasar Udin eh udik!" seru Tiara atau Sumi sambil menuding ke seluruh penjuru warung.


"Makanya kamu itu jadi perempuan jangan gatel banget kenapa sih, Sum? Sudah tahu dari dulu Hendro itu nggak minat sama kamu, masih aja jual murah." Bik Titin si pemilik warung datang sambil membawa sebuah nampan berisi dua mangkuk pesanan Hendro tadi, melewati Sumi atau Tiara yang tengah merengut.


"Halah, berisik aja sih bik Titin ini, janda aja belagu kamu Bik, bik!" umpat Tiara kesal sambil menatap tajam bik Titin yang kini kembali masuk ke dapurnya setelah meletakkan pesanan Hendro di atas meja.


"Wah, A' Hen pesan dua seblaknya, tahu aja Tiara lagi laper," kekeh Tiara dan dengan tidak tahu malunya ikut duduk di hadapan Hendro tanpa memperhatikan Aish yang ada di di sana juga, yang sejak tadi tampak tertegun melihat tingkah ajaib Sumi atau Tiara ini.

__ADS_1


 Saat tangan Sumi terulur hendak meraih semangkuk seblak yang --di kiranya -- menjadi miliknya itu, dengan cepat Hendro menepis tangannya dan menatapnya tajam.


"Matamu buta ya? Sejak tadi ku perhatikan kayak sengaja cari muka, kamu nggak lihat di sini aku sama siapa? Bisa nggak jangan lincah sekali?" hardik Hendro mulai kesal.


 Sumi atau Tiara mencebik kesal, dia menoleh menatap Aisyah yang kini tertunduk diam di dekat Hendro.


"Iya Tiara tahu Aa' bawa dia, tapi katanya kan dia ini calon ibu tirinya A' Hen. Terus kenapa kalau Tiara pura-pura nggak lihat aja? Toh perempuan kayak dia ini lebih malu maluin daripada Tiara," dengus Tiara sambil berkacak pinggang menatap pada Aisyah.


Brakkk


 Hendro menggebrak meja, membuat Sumi atau Tiara itu terjingkat saking terkejutnya.


"Apa kau bilang barusan? Coba katakan lagi." Hendro menggeram marah, matanya tampak berkilat membuat nyali Sumi menciut karenanya.


"Ta- tapi benar kan kalau perempuan ini yang bakalan jadi istri ke tiganya juragan Baskoro? Bapaknya Aa'? Neneknya sendiri kok yang ngasih tahu ke kita semua," cicit Sumi mulai melunak.


 Hendro tampak tertegun, begitu pula Aisyah yang langsung mengangkat wajahnya dengan tatapan tak percaya.


"Apa maksudnya?" gumam Hendro yang baru mendengar kabar jni sekarang.


 "Kalau Aa' nggak percaya mereka semua di sini bisa jadi saksinya kok, bahkan kalau mau lebih jelasnya mendingan Aa' yang tanya langsung saja sama bapaknya Aa' juragan Baskoro." Sumi kembali menimpali.


 Hendro melayangkan pandangan ke semua penjuru warung, dan semua orang di sana tampak dengan kompak menganggukkan kepalanya berulang kali.


 Wajah Hendro merah padam, lalu tanpa aba-aba dia menarik tangan Aish dan mebawanya pergi dari sana.


"Bik, ini uangnya." Hendro lebih dulu meletakkan uang merah di atas meja kasir bik Titin, walau dia belum menyentuh seblaknya sama sekali.


"Tapi, Hen. Seblaknya belum di makan!" seru bik Titin.


"Kasihkan si Sumi saja, dia sanggup itu makan dua!" sahut Hendro yang berjalan semakin menjauh.

__ADS_1


 Bik Titin menatap tajam ke arah Sumi, namun yang di tatap malah langsung beralih duduk ke kursi dan langsung melahap dua porsi seblak setan itu seorang diri.


"Gayanya aja kayak biduan, makannya kayak bab*." Bik Titin melengos.


__ADS_2