
Sudah beberapa hari berlalu sejak ucapan kyai Hasan pada Gus Musa tersebut, dan selama itu pula ustadz muda yang menjadikan idaman emak emak untuk menjadi menantunya itu menjadi semakin pendiam dan sering sekali menyendiri.
Entah apa yang di pikirkannya, pasalnya setiap kali di tanya Gus Musa selalu menghindar.
"Kamu itu kenapa tho, Le? Kok hawanya kayaknya berat sekali masalah mu?" tanya Umi Nafisah sambil duduk di kursi goyang kesayangannya yang berada tepat di samping tempat duduk Gus Musa.
"Ah, nggak papa, Um. Hanya ... sedikit merenung saja," dalih Gus Musa menampakkan senyumannya.
Umi Nafisah meneguk teh hangat di gelasnya dan menghembuskan nafas panjang.
"Kamu itu bukan baru kemarin bersama Umi, Gus. Umi sudah paham sekali bagaimana kamu, dan saat ini bukan hanya merenung yang kamu lakukan, tapi kami juga sedang gelisah kan?" Umi Nafisah balas tersenyum sambil menatap lekat wajah sang putra.
Gus Musa menunduk, wajahnya memerah seketika. Memang sebagai seorang anak tak akan mudah bagi Gus Musa untuk menyembunyikan apapun dari ibunya. Walau itu hal yang tak terlihat sekalipun.
"Katakan, le. Hal apa yang mengganggu pikiranmu belakangan ini, bukan hanya kali ini loh, Umi lihat kamu melamun seperti tadi. Coba kamu berbagi sama Umi, siapa tahu Umi bisa bantu memecahkan masalah kamu," bujuk Umi Nafisah lembut.
Gus Musa tampak mendesah dan memperbaiki posisi pecinya, posisi duduknya pun sedikit bergeser untuk menyeimbangkan perasaan batinnya yang mulai gonjang ganjing kini.
Umi Nafisah menunggu dengan sabar, kabar berita yang akan di bawakan sang putra yang masih sangat betah menyendiri walau usianya sudah terbilang matang itu.
"Musa ... hanya ... hanya ...."
"Jangan sungkan, le. Ini kan Umi mu sendiri, sudah sewajarnya kamu mengatakan kegundahan kamu ke Umi, selama kamu nyaman," tukas Umi Nafisah penuh pengertian.
Gus Musa tampak menelan ludahnya dengan susah payah, tenggorokannya tiba tiba terasa tercekat.
"Musa ingin menikah, Umi." Gus Musa menjawab lirih.
Umi Nafisah tersenyum lembut.
"Alhamdulillah, setelah sekian lama pencarian mu. Akhirnya akan berakhir juga, katakan, Le. Siapa perempuan yang beruntung itu?"
"Hmmm ... dia ... dia ...."
Baru saja Gus Musa ingin menjawab, tiba tiba Jeni datang dengan terburu-buru. Raut wajahnya menyiratkan kecemasan yang luar biasa.
"Permisi, Umi, Gus." Jeni mendudukkan diri di bawah kursi goyang Umi Nafisah.
__ADS_1
Istri dari kyai besar pemilik pondok itu menoleh, tak ada sedikit pun raut kesal atau marah di wajahnya walau Jeni sudah menerobos masuk ke ndalem' tanpa izin terlebih dahulu. Beliau cukup mengenal Jeni, jadi tentunya akan ada alasan yang cukup masuk akal untuk Jeni melakukan hal itu.
"Ono opo, Nduk? Kenapa wajahmu khawatir sekali?" tanyanya lembut.
Jeni mengatur deru nafasnya yang tak beraturan, dadanya naik turun menahan detak jantungnya yang serasa ingin melompat dari tempatnya itu.
"Pelan, pelan ... tarik nafas, buang, tarik nafas, buang."
Jeni mengikuti instruksi Umi Nafisah, dan perlahan perasaannya mulai tenang.
"Katakan, nduk? Apa yang buat kamu sekhawatir itu?" tanya Umi Nafisah lagi.
Jeni menatap Umi Nafisah dengan mata berkaca-kaca.
"Umi, maaf ... tapi saya ... saya mau minta izin pulang sekarang, sebab ... sebeb nenek ... nenek saya ... Nenek saya ...."
"Pulanglah, nduk. Umi izinkan," sela Umi Nafisah sebelum Jeni bisa menyelesaikan kalimatnya.
Jeni mendongak menatap Umi Nafisah yang kini juga menatapnya teduh.
"Umi kenal kamu, kamu nggak mungkin berbohong untuk masalah seperti ini. Pulanglah, nduk. Umi beri izin," imbuh Umi Nafisah lagi.
"Terima kasih, Umi. Saya janji akan secepatnya kembali setelah urusan di rumah nenek selesai."
Umi Nafisah mengelus lembut kepala Jeni dari luar jilbab besar yang merupakan satu set pakaian pemberiannya yang tampak sangat cocok di pakai Jeni.
"Tidak usah terlalu kamu pikirkan, sekarang pulanglah. Temui nenekmu, dan selesaikan semua urusan di sana, setelah itu kembalilah lagi ke sini dengan hati yang lapang."
Jeni mengangguk seraya mengusap air mata yang mengalir di pipinya, Jeni melepaskan pelukannya di kaki Umi Nafisah dan menatap wanita baik hati itu dengan terharu.
"Sekali lagi terima kasih pengertiannya nya, Umi."
Umi Nafisah kembali tersenyum dan mengalihkan tatapannya pada Gus Musa yang sejak tadi hanya diam menunduk.
"Le, kamu antarkan Jeni dan anaknya ke rumah neneknya ya."
Gus Musa seketika mendongak, dan menatap Uminya dengan raut wajah tak mengerti.
__ADS_1
"Tapi, Um ...."
"Tenanglah, ada anak di antara kalian. Orang orang tidak akan berpikiran buruk, tenang saja. Lagi pula hanya sekedar mengantarkan bukan?" sela Umi Nafisah seakan mengetahui isi pikiran Gus Musa.
Jeni sendiri sebenarnya sungkan, namun mengingat kondisi nek Minah yang saat ini entah bagaimana keadaannya membuat Jeni akhirnya menurut saja.
Singkatnya, kini Jeni berserta Gus Musa dan bayinya sudah berada di dalam mobil. Sengaja Gus Musa memutuskan mengantar Jeni dengan memakai mobil, untuk mengurangi kemungkinan adanya gunjingan dari warga yang melihat.
Sepanjang perjalanan mereka saling diam, mungkin masih saling sungkan jika harus berduaan saja walau sebenarnya ada bayi di antara mereka yang sejak tadi tak hentinya mengoceh riang.
"Mbak Jen," panggil Gus Musa memecah kecanggungan di antara mereka.
Jeni yang tengah memegangi anaknya yang berdiri di tepi kaca mobil menoleh.
"Injih, Gus?"
"Kalau boleh tau, sebenarnya kenapa tiba tiba Mbak Jen mau pulang?" tanya Gus Musa sambil tetap fokus pada kemudinya.
Jeni menunduk, kemudian kembali menghadap keluar kaca jendela mobil.
"Saya baru saja mendapat kabar, kalau nenek saya meminta tolong karna kebun dan rumah satu satunya yang dia miliki hendak di jual oleh anaknya yang selama ini menghilang. Anaknya kembali dan menginginkan kebun dan rumah itu untuk menjadi miliknya, entah untuk apa maksudnya," papar Jeni lirih, namun masih cukup terdengar di telinga Gus Musa karna jalan yang mereka lewati cukup lengang dan berupa perkebunan milik warga.
"Astaghfirullah, saya turut prihatin jika seperti itu, Mbak Jen. Semoga saja neneknya Mbak Jen masih di lindungi oleh Allah SWT saat ini, ya sudah kalau begitu kita agak ngebut ya, supaya lekas sampai," tukas Gus Musa yang hanya di angguki saja oleh Jeni.
Pikiran Jeni sudah di penuhi dengan segala kemungkinan yang ada, jika nanti dia harus kembali bertemu dengan Pak Ismail yang selama ini di klaim sebagai ayah kandung dari anaknya yang bahkan mungkin tidak diketahuinya.
Tak berapa lama, akhirnya mereka pun tiba di halaman rumah Nek Minah. Di sana juga tampak dua buah sepeda motor yang terparkir, salah Jeni mengenalinya sebagai sepeda motor milik Pak Ismail.
"Ayo, Mbak." Gus Musa turun lebih dulu.
Di ikuti Jeni yang turun dengan perasaan tak menentu. Bayi di gendongannya tampak bersorak girang karena mengenali rumah sang nenek yang selama ini sudah merawatnya saat masih kecil.
Tiba-tiba terlihat beberapa orang yang keluar dari dalam rumah sambil menyeret seorang nenek tua yang di ketahui Jeni sebagai Nek Minah.
"Lepaskan! Sampai kapan pun aku tak akan pernah sudi melepaskan hartaku untuk anak durhaka sepertimu!"
Gus Musa dan Jeni terhenyak saat melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana dua orang tak di kenal itu melempar tubuh tua Nek Minah ke halaman.
__ADS_1
Brughhh