
"Kenapa lama sekali sih?" sentak Alam sambil menarik bungkusan nasi uduk dari tangan Asiyah, lalu gegas membawanya ke meja makan karna perutnya sudah sangat keroncongan.
Asiyah baru saja hendak berbalik menuju kamar saat Alam malah kembali memanggilnya.
"Mau kemana? Sini duduk, temani aku makan." Alam menuangkan isi dari bungkusan kertas nasi itu ke piring dan mulai menyendok isinya ke mulutnya.
Tanpa banyak kata Asiyah menurut dan duduk di kursi yang berhadapan dengan Alam, memperhatikan pria itu makan dengan lahapnya tanpa berniat menawarinya sedikit pun.
"Kamu nggak beli untuk mu sendiri?" tanyanya tampak tak acuh.
Asiyah hanya menggeleng tanpa berniat menjawab.
"Terserah, yang penting aku sudah memberikan uang yang cukup untuk mu. Jadi jangan pernah mengeluhkan kalau aku tidak bertanggung jawab atas mu ya. Apalagi lagi sampai bercerita pada orang orang di kampung ini," dengus Alam lalu kembali meneruskan makannya.
Asiyah masih diam tak menjawab, entah kenapa dirinya sangat enggan berada di dekat pria yang menurutnya aneh itu. Padahal beberapa saat lalu dia baru saja menolong Asiyah saat terpeleset di kamar mandi dan membuat bagian pelipis kepalanya dan sebagian keningnya memerah dan benjol. Namun lihatlah, kini dengan cepatnya dia sudah kembali bersikap dingin dan arogan, menyebalkan sekali.
"Siapa pria tadi?" tanya Alam setelah dia menghabiskan seluruh isi piringnya dan meneguk satu gelas besar air, dia melakukan semuanya sendiri tanpa pernah memerintah Asiyah untuk melayaninya seperti layaknya seorang istri. Dan sejujurnya Asiyah cukup menghargai itu.
"Bukan siapa siapa," sahut Asiyah lirih sembari memainkan jari tangannya yang lentik di atas meja.
"Tapi sepertinya kalian saling mengenal," selidik Alam lagi sambil memainkan gelas yang isinya sudah kosong itu.
Asiyah mendesah berat.
"Bukankah harusnya Mas sudah tahu siapa dia? Lalu kenapa bertanya?"
Alam tampak mengernyitkan keningnya yang mulus tanpa cacat itu, wajah tampan itu bergerak gerak seperti tengah mencoba mengingat sesuatu.
"Ah, sayangnya aku tidak ...."
__ADS_1
"Dia ustadz Rahman," sela Asiyah cepat, dengan bibir mengerucut dan wajah yang cemberut menggemaskan.
Alam sendiri bahkan sampai menutup mulutnya untuk mencegah Asiyah melihat senyumannya saat ini karna gemas dengan wajah imut Asiyah saat ngambek.
"Ooh, ustadz itu. Lalu ... apa kalian pernah saling kenal?" tanya Alam lagi.
"Buat apa Mas tahu? Kita tidak sedekat itu untuk mulai mencari tau masa lalu masing masing ya." Asiyah memperingati Alam akan isi dari perjanjian pasca nikah mereka yang sudah di setujui dan di tanda tangani langsung oleh mereka berdua, termasuk salah satunya tidak akan mencampuri atau mencari tahu masa lalu masing masing.
Alam memutar bola matanya dan menyandarkan punggungnya dengan nyaman di sandaran kursi.
"Yah, baiklah kalau begitu. Hanya saja semoga kamu akan selalu ingat kalau saat ini kamu sudah menikah dan mempunyai suami seorang yang terpandang di kampung ini, jadi ... aku harap kamu tidak akan membuat ku menjadi bahan gunjingan warga," papar Alam santai.
"Terserah!" sentak Asiyah sambil beranjak dari tempat duduknya dan berlalu sambil menghentakkan kakinya ke lantai.
Brakkk.
.Asiyah sedikit membanting pintu kamarnya, walau tak terlalu keras tapi cukup mengejutkan mengingat mereka hanya tinggal berdua di rumah itu. Sedangkan kedua mertua Asiyah tinggal di rumah yang berbeda.
"Ah, perempuan itu ... semakin hari semakin menggemaskan saja," gumamnya lirih sekali.
****
Rahman tampak tergolek lemas di atas pembaringannya, hari sudah gelap dan dia memilih untuk masuk ke kamar dan beristirahat lebih awal karena esok adalah jadwal dia mengisi tausiyah di masjid desa.
Fikirnya melayang, jauh menerawang ke masa masa saat dia masih menjadi bagian dari keluarga Tuan Bryan dan Edwin, tepatnya sebagai keponakan Edwin dari istrinya Amelie. Amelie mempunyai seorang kakak, yaitu ibu dari Rahman yang usianya terpaut cukup jauh, Amelie dan Sandra --ibunda Rahman/ Robin ( nama kecilnya) -- terpaut usia hingga lima belas tahun lamanya.
"Kau akan menjadi gelandangan jika nekat memutuskan hubungan dengan keluarga ini, Robin."
Teringat Rahman saat dimana dia sudah muak dengan semua prahara yang terjadi di dalam keluarga itu dan memutuskan untuk pergi dan membawa serta ibunya untuk memulai hidup baru tanpa embel-embel nama besar keluarganya.
__ADS_1
Tapi karna dia nekat, dia benar-benar meninggalkan keluarga itu tanpa membawa satu apapun, mengganti namanya menjadi Rahman agar benar benar terbebas dari ingatan akan keluarga itu dan apa yang di katakan Edwin saat itu benar-benar terjadi. Berbulan bulan lamanya dia menjadi pemulung demi menyambung hidupnya dan ibunya yang sudah berumur, hingga akhirnya sang ibu di culik dan dia di perintah untuk melakukan sebuah tugas rahasia. Tugas yang membuat dirinya sekarang berada dalam di lema yang begitu besar dan luar biasa.
"Astaghfirullah, berilah jalan keluar terbaik- Mu, ya Allah." Rahman bangkit dari posisi berbaringnya dan duduk di pinggiran kasur dengan hatinya yang gundah.
Karna tak kunjung tenang, Rahman memilih untuk keluar dari kamar dan mengambil wudhu di keran khusus di dekat dapur.
"Belum tidur, ustadz?" tanya Abdi yang kebetulan juga belum tidur karena tengah mengerjakan tugas skripsi akhirnya, dia keluar dari kamar untuk mengambil minum agar tidak mengantuk.
"Eh, Mas. Belum, ini mau sholat saja supaya ngantuk," sahut Rahman dengan candaan ringan.
Setelahnya Rahman dan Abdi kembali dengan maksud masing-masing lalu setelah itu kembali masuk ke dalam kamarnya masing-masing pula.
Rahman duduk bersimpuh di atas sajadahnya, membiarkan air mata turun ke wajahnya dan jatuh menetes membasahi sajadah panjangnya. Di adukannya semua keresahan di hatinya pada sang maha Kuasa, hingga akhirnya dia tertidur sambil berzikir menyebut asma- Nya.
****
Sementara itu di tempat lain.
"Mama, Adam mau pesantren, Ma," rengek seorang anak kecil berumur empat tahun lebih yang tak lain dan tak bukan adalah Adam, putra kedua Sarah dan Axel yang tengah merengek karena tidak mau masuk ke sekolah TK negri dan malah meminta untuk di masukkan pesantren.
Sarah berjongkok di dekat anaknya yang kini sudah sangat pintar itu, wajahnya sangat mirip dengan sang Papa, Axel yang kini hanya memerhatikan mereka sambil memeluk Ayuna yang minta di bacakan dongeng.
"Adam sayang, pesantren itu artinya kamu bakalan jauh dari Papa dan Mama loh, kamu yakin mau ninggalin Papa sama Mama?" tanya Sarah dengan raut wajah cemas, sesekali Sarah mengelus lembut kepala sang putra yang keras kepalanya menurun darinya itu.
Bibir Adam tampak mengerucut sambil melipat tangannya di dada Adam berjalan cepat menjauhi Sarah dan menuju ke atas kasurnya sendiri, yang berada di sisi kanan kamar, kasur Ayuna di tengah dan milik Azkara di sisi kiri kamar.
"Oh, ayolah Adam, kau membuat Mama bersedih." Azkara yang sejak tadi diam langsung turun dari kasurnya dan berjalan mendekati Sarah meninggalkan buku bergambarnya di sana dan memeluk sang Mama sambil mengusap pipinya, mungkin khawatir kalau Sarah menangis.
Adam malah semakin membuang muka dan tak ingin menatap mereka. Membuat Sarah gemas sekali dengan tingkahnya yang sangat keras kepala itu.
__ADS_1
Ayuna ikut turun, dan dengan langkah kecilnya dia berjalan menuju ke tempat tidur Adam, lalu meraih tangannya. Adam tampak pasrah, dia memang paling tidak bisa kasar dengan adik perempuannya itu, yang warna matanya sama dengan sang Mama yaitu coklat kebiruan.
"Bang Adam yakin mau pergi dan nggak main sama Yuna lagi? Nanti kalau Yuna di nakalin Bang Azka gimana?" tanya Ayuna dengan logat balitanya yang lucu dan menggemaskan.