
"Ayo silahkan duduk, kita santai dulu ya. Habis ini baru antar dek Aish ke kos kosan yang sudah Mas pesan tadi," celetuk Satrio yang baru saja muncul dari ambang pintu dapur sambil membawa nampan berisi minuman dan camilan ringan untuk Hendro dan Asiyah.
Asiyah terhenyak, cepat dia masukkan foto perempuan yang hanya seukuran foto KTP itu ke dalam saku celananya.
"Dek, sini." Satrio melambai pada asiyah yang masih berdiri terpaku di depan lemari tv.
"Ah, iya Mas." Asiyah berjalan mendekat lalu duduk di atas karpet halus berbahan rasfur yang di gunakan sebagai alas duduk itu.
Satrio dan Hendro mulai mengobrol santai, namun Asiyah hanya menanggapi sesekali karna pikirannya di penuhi dengan segala prasangka dan keinginan tahuan tentang siapa gerangan perempuan yang fotonya dia temukan di atas lemari tv milik Satrio itu. Foto itu tidak baru, lumayan lecek seperti sudah sangat lama di letakkan di dalam dompet.
'apa mungkin dia saudara Mas Satrio? Ah, tapi tidak mungkin. Masa jika hanya foto saudaranya sampai harus di simpan begini? Atau mungkin dia mantannya? Bisa jadi, tapi ....'
Belum sempat Asiyah selesai dengan pertarungan batinnya, Satrio menyentuh bahunya dan membuatnya seketika tersentak kaget.
"Kamu melamun, dek? Ayo kita ke sebelah, kos kosannya kebetulan ada di sebelah ini kok. Nggak jauh, kamu pasti capek kan mau istirahat?" ucap Satrio dengan senyum lembut di bibirnya.
Aisyah balas tersenyum dan bangkit membuntuti langkah calon suaminya itu menuju ke teras.
"Ini barangnya, Aish. Biar Aa' aja yang angkatin kalian jalan saja duluan," tukas Hendro setelah mengeluarkan sebuah kardus mie instan yang isinya adalah beberapa helai pakaian dan barang barang milik Aish.
Mereka pun berjalan beriringan, tak jauh memang hanya sekitar dua puluh meter ke sebelah kanan dari rumah kontrakan Satrio tadi tampak sebuah bangunan bertingkat yang tampak tenang dan asri, pagar tinggi yang mengelilingi bangunan itu tampak terbuka sedikit di bagian depannya.
"Permisi!" seru Satrio sambil melongok ke bagian dalam.
"Iya?" sahut seorang yang berpakaian khas petugas keamanan itu sambil membenahi topi yang di kenakannya.
"Eh, Satrio. Ada apa ya, sat?" tanya satpam itu lagi yang sepertinya sudah kenal dengan Satrio.
__ADS_1
"Ini, Mang Midun. Saya mau anterin yang mau ngekos di sini, saya udah bilang sama Sri," sahut Satrio, membuat sedikit gelenyar aneh berpadu di dada Aish, ketika sang kekasih menyebut nama wanita lain yang mungkin saja pemilik atau penghuni dari kos kosan itu pula.
.
Aish masih berusaha berpikir positif, mungkin saja memang Satrio hanya sekedar mengenal pemilik tempat tersebut, dan bukan memiliki maksud dan tujuan lain selain untuk memberinya tempat tinggal yang nyaman untuk sementara ini.
"Waduh, cantiknya euy. Bikin pemandangan kos kosan yang suram ini jadi bercahaya," canda Mang Midun sambil mengangkat topinya dan tersenyum lebar.
Satrio mengibaskan di udara tepat di depan wajah si Mang Midun.
"Hei, jangan jelalatan dong, Mang. Yang ini udah calon istri saya, jangaj macem macem sampean ya, Mang."
Mang Midun tampak cengengesan. "Yah, keduluan. Ya udah hayuk atuh masuk, tadi juga si Sri udah bilang kok sama Mamang juga kalo ada yang mau ngekos. Ayo ayo mari silahkan."
Mereka pun masuk bersama sama, Mang Midun mengarahkan ke sebuah ruangan yang lumayan lega di depan kos, sepertinya tempat istirahat pengurus.
"Eh, udah datang. Ini ya yang mau ngekos?" tanya perempuan itu dengan senyum manisnya.
Aish tersenyum getir, entah kenapa sejak pertama melihat perempuan itu hatinya mendadak tidak enak. Ada rasa yang seakan tak bisa dia jelaskan dan membuatnya tak nyaman.
"Iya, Sri. Tolong kasih kamar terbaik kamu ya, tapi kalo bisa jangan yang tinggi tinggi lantainya, kasihan naik turunnya nanti," sahut Satrio yang sepertinya sudah mengenal perempuan berambut sepunggung itu dengan baik.
Aish menekan perasaan cemburu di dadanya, dengan tetap menunjukkan senyum palsunya. Namun Hendro yang duduk di sampingnya sadar, dengan perlahan Hendro memegang tangan Aish yang terjuntai ke bawah, meremasnya pelan seakan memberi semangat dan kehangatan.
Setelah beberapa saat berbincang, Satrio langsung membayar uang sewa untuk satu bulan ke depan. Kenapa hanya satu bulan? Karna Satrio ingin melihat bagaimana kenyamanan Aish berada di sana, jika nantinya Aish betah maka dengan senang hati Satrio akan menambah masa sewanya namun jika tidak maka akan lebih mudah untuk pindah.
"Nah, ini kamarnya. Bagaimana?" tanya Sri setelah membuka sebuah pintu kamar di lantai dua dan menunjukkan bagian dalamnya pada Aish.
__ADS_1
"Bagus sekali," lirih Aish sembari mengedarkan pandangannya ke dalam bilik yang tak seberapa luas namun berfasilitas lengkap dan tampak nyaman dan bersih itu.
"Kamu mau kan di sini, dek? Maaf karna cuma kamar kecil ini yang sanggup Mas berikan dulu ke kamu. Ah, maksudnya sewa, doakan rejeki Mas banyak ya supaya bisa lekas belikan kamu rumah," bisik Satrio di belakang telinga Aish.
.
Aish berbalik dan mengangguk dengan senyum tulus di wajahnya.
"Ini sudah lebih dari cukup, Mas. Terima kasih sudah mau bantu Aish."
Satrio mengangguk. "Sama sama, sudah kewajiban Mas sebagai calon suami kamu. Ya sudah, kamu istirahat ya, Mas mau balik ke resto dulu soalnya jam kerja Mas belum habis, nanti Mas balik ke sini lagi setelah habis jam kerja ya, sayang."
Aish mengangguk setuju, dan melepas kepergian sang kekasih untuk kembali ke tempat kerjanya dengan lambaian tangan dari lantai dua tempatnya berpijak.
Nanar mata aish masih terus menatap punggung tegap Satrio hingga akhirnya hilang di balik tikungan, tanpa sadar air matanya jatuh menetes apabila teringat dengan foto perempuan yang dia temukan tadi.
"Aish, kamu nangis?" tanya Hendro yang sejak tadi hanya diam memperhatikan perempuan yang menghuni relung hatinya itu, tak tega dia melihat buliran bening itu terus menetes membasahi wajahnya.
"A, apa salah kalau Aish berharap Mas Satrio akan setia selalu sama Aish?" tanya Aish tanpa menghapus air matanya, dia biarkan air mata itu berjatuhan mewakili hatinya yang entah kenapa merasa tidak baik-baik saja.
"Kamu tidak salah, wajar jika perempuan berharap demikian dari pasangannya. Perasaan perempuan itu lembut, sangat wajar jika ia inginkan seseorang yang bisa di percaya," sahut Hendro membuang jauh pandangannya ke arah lain.
Aish menatap pria baik di sampingnya itu dan tersenyum kecil.
" Terima kasih semangatnya, A. Tapi, apa bagaimana menurut Aa dengan ini? Aish menemukan ini di kontrakan Mas Satrio tadi." Aish merogoh kantong celananya dan memberikan foto kecil itu ke tangan Hendro.
Hendro menerimanya dan memperhatikannya dengan seksama sebelum akhirnya matanya melebar sempurna.
__ADS_1
"Bukannya ini perempuan yang tadi, Aish?" ucapnya dengan pupil mata tampak bergetar.