MEMBALAS GUNDIK SUAMIKU

MEMBALAS GUNDIK SUAMIKU
Chapter 193.


__ADS_3

 Aish masih mematung di tempatnya, kala melihat tempat tidurnya mendadak bergerak sendiri dan selimut tebalnya yang tersibak memunculkan seraut wajah yang membuatnya jengkel bukan main saat melihatnya.


"Ada apa, Aish?" tanya Asy sembari berlari tergopoh-gopoh menuju kemari Aish, kamar yang hanya bersebelahan dan terhalang tembok itu memungkinkan suara Aish terdengar jika pintu kamar belum tertutup sempurna.


 Aish menunjuk ke arah ranjang dimana tamu tak di undang itu kini duduk dengan santainya di sana sembari mengucek mata dan menggaruk rambutnya yang acak acakan khas orang bangun tidur.


 Asy mengikuti arah telunjuk Aish, dan matanya serasa hampir copot melihat siapa yang ada di atas ranjang tidur saudarinya tersebut.


"Ya ampun, Juli! Ngapain kamu tidur di sini?" pekiknya kaget.


 Juli yang baru saja terbangun bahkan belum sadar dengan apa yang terjadi, dia masih terkantuk-kantuk sembari menutup mulutnya yang menguap beberapa kali.


"Ini gimana ceritanya dia bisa masuk ke rumah ini, Asy? Bukannya harusnya dia nggak bisa masuk seenaknya ke rumah ini? Masa penjaga di depan nggak ngeliat dia sih?" cecar Aish yang mulai merasa jengkel kala tempat tidur impiannya kini menjadi berantakan ulah Juli, perempuan yang kerap mencari gara gara dengan Asy setiap kali bertemu.


 Asy mendesah dan menatap Aish degn raut wajah menyesal.


"Maaf, Aish. Aku yang ajak Juli ke sini, karna kasihan dia di tinggal suaminya di kota ini dan pergi entah kemana. Kami sudah belikan dia tiket travel untuk pulang ke desa tapi sayangnya travelnya baru ada besok pagi, karna dia nggak punya kenalan dan tempat menginap malam ini makanya aku bawa a ke rumah buat menginap satu malam ini," tukas Asy menjelaskan, berharap saudari kembarnya itu akan mengerti posisinya.


"Kenapa tidak sewakan kamar hotel saja?" tanya Aish lebih lanjut, masih belum setuju jika Juli berada di rumah mereka.


"Maaf, tadi aku nggak kepikiran sampai sana. Lagi pula kasihan, dia sedang hamil dan jarak hotel terdekat dari loket travel lumayan jauh kalau di tempuh dengan jalan kaki. Dia nggak punya siapa siapa di sini, Aish. Sekali lagi, aku minta maaf."


 Aish mendesah, lalu merangkul bahu Asy dari samping dan mengulas senyum tipis. "Kenapa minta maaf terus sih, bukan kamu yang salah di sini, saudariku."


 Asy ikut tersenyum dan membalas rangkulan Aish. Tapi sejurus kemudian Aish menegakkan punggungnya dan menatap tajam ke arah Juli yang malah tertidur kembali dalam posisi duduk, bahkan dengkur halusnya terdengar santer di kamar tersebut.


"Tapi kenapa harus tidur di kamar ini? Bukannya masih banyak kamar lain?" protes Aish lagi, menyadarkan Asy dengan sesuatu yang mengganjal sejak tadi.


 Asy menegakkan kepalanya dan ikut menatap Juli yang terlelap begitu saja di depan sana.


"Astaghfirullah, iya bukannya tadi Juli sudah di antar sama aku ke kamar belakang karna di suruh Mami tidur di sana? Kok ... tiba tiba dia bisa sampai di sini sih?" celoteh Asy tak mengerti.


 Amelie yang baru saja keluar dari kamarnya yang berada di ujung lantai dua itu merasa heran saat melihat anak anaknya tengah berkasak kusuk di depan pintu kamar. Karna penasaran di urungkannya niat untuk turun ke dapur mengambil air dan memilih mendekati anak kembarnya lebih dulu.


"Hei, girls. Kalian belum tidur?" sapa Amelie sembari merangkul pundak dua putri kembarnya yang tingginya hampir menyamainya itu.


  Asy dan Aish yang sebelumnya tengah bicara serius tampak terkejut sebelum akhirnya mendesah lega saat melihat Amelie yang datang.


"Ah, Mam. Ummm ... itu, anu ...." Asy hendak menjelaskan namun bingung mulai dari mana, jadi dia hanya sedikit bergeser agar Amelie lebih leluasa melihat ke dalam kamar Aish.


"Ada apa? Kenapa kamu nggak masuk kamar, Nak? Kenapa kalian malah berdiri di luar sini sih?" gumam amelie sebelum akhirnya tatapan matanya tertumbuk pada tubuh melar Juli yang terduduk dalam posisi tidur di atas ranjang milik Aish.


"Oh, God." Amelie mendesis dengan mata melotot.


 Di tatapnya bergantian Asy dan Aish yang hanya bisa menggedikkan bahu tanda tak tahu menanu akan hal itu sama seperti Amelie yang baru saja tiba.


"Ini tidak bisa di biarkan!" sinis Amelie sembari melangkah tegas masuk lebih jauh ke dalam kamar putrinya, dan dengan kasar menyentak selimut yang sebagian masih menutupi tubuh Juli.

__ADS_1


Sreeettttt


 Juli tersentak dari tidurnya, matanya yang semula terkatup rapat langsung melebar sempurna dengan bibir menganga melihat wajah marah Amelie di hadapannya.


"Dasar tamu tak tahu di untung," geram Amelie dengan nada datar dan dingin, membuat Juli seketika langsung meremang merinding.


 Juli tergagap, ingin berkata kata namun tak ada sepatah kata jelas pun yang keluar dari bibirnya hanya berupa gumaman gumaman tak jelas maknanya sedang matanya liar menatap ke sekitar.


  Aish dan Asy mendekat, berpencar di kiri dan kanan ibunya.


"Astaghfirullah? Apa yang kau lakukan? Itu baju tidur kesukaan ku! Itu pemberian Papi!" hardik Aish kala melihat piyama yang tengah di kenakan Juli. Piyama dengan bahan katun itu tampak kekecilan di tubuh Juli yang melar karna tengah hamil di tambah bagaian perutnya yang kancingnya hilang satu mungkin karna Juli memaksa baju itu agar muat di tubuhnya hingga membuat kancingnya lepas.


Amelie semakin berang, di tariknya tubuh Juli hingga terjajar ke lantai. Tak peduli wanita yang di perkirakan usianya hanya sedikit lebih tua ketimbang putri kembarnya itu meringis kesakitan sambil memegangi perutnya.


"Tidak sopan sekali! Sudah menumpang, pindah kamar tanpa memberi tahu dan sekarang memakai pakaian putriku hingga rusak seperti ini! Sebenarnya apa tujuan mu melakukan ini semua ha?" bentak Amelie dengan emosi yang tersulut.


 Asy yang tak tega melihat Juli terkapar kesakitan mencoba menolongnya, memapahnya agar bisa duduk lebih tegak karna sebelumnya dia terjajar dengan bertopang siku untuk menahan tubuhnya.


"Mam, jangan terlalu kasar dia sedang hamil." Asy memperingati dengan nada sopan.


 Amelie mendengkus, wajahnya yang merah di arahnya ke arah lain agar tak lagi menatap wajah Juli yang seolah mengemis belas kasihan anaknya.


 Aish mendekat dan membimbing Amelie untuk duduk lebih dulu di atas kursi rias yang ada di kamarnya, memberinya minum yang kebetulan selalu tersedia di atas nakas dan memeluk tubuh Amelie dari belakang.


"Tenanglah dulu, Mam. Mungkin saja semua tak seperti yang kita kira," bisiknya lalu menjatuhkan sebuah kecupan ringan di pipi Amelie.


 Amelie mengangguk, menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan. Sedang di belakangnya sana tampak Asy tengah membantu Juli bangkit untuk berpindah duduk di sofa kecil yang ada di sudut ruangan.


"Ak- aku ... aku ... ngidam pengen ngerasain tidur pake AC," jawab Juli dengan suara terdengar bergetar, mungkin masih takut karna kemarahan Amelie tadi yang tak di sangka sangkanya akan bisa semengerikan itu, padahal dalam pikiran Juli jika dia nanti ketahuan tidur di kamar Aish paling banter dia hanya akan di suruh pindah kembali ke kamar belakang tak terbersit sedikit pun di benaknya kalau dia akan di seret seperti tadi untuk turun dari kasur, hal itu benar benar menbuatnya trauma.


 Asy mengusap wajahnya kala mendengar jawaban Juli yang menurutnya sangat sepele, tapi sejurus kemudian dia kembali menatap Juli tajam dan menanyainya kembali.


" Lalu baju ini? Kenapa kamu memakainya? Kamu tahukan memakai barang barang orang lain itu tidak sopan?" tanya Asy sedikit membentak.


 Juli menunduk memegangi piyama indah berwarna pink yang tengah dia kenakan, perlahan matanya mulai berkabut.


"Aku ... cuma ingin barang barang mahal dan mewah seperti milik kalian. Niatku tadi aku hanya ingin mencoba bagaimana rasanya menjadi orang kaya walau hanya satu malam, tapi rupanya mimpi itu tiba-tiba di rusak oleh ..."


"Oleh siapa?" sela Aish yang rupanya ikut mendekat kala melihat Asy sedang menginterogasi Juli tadi.


 Di tatapnya wajah Juli yang memerah itu dengan tatapan tajam, tak ada rasa simpati nya sedikit pun bagi orang yang sudah dengan lancang mengganggu kenyamanan keluarganya dan tiba-tiba datang untuk meminta pertolongan, mana ngelunjak pula siapa yang akan tahan untuk tidak marah?


  Aish merasa pundaknya di tepuk dari belakang, segera dia menoleh dan mendapati wajah ibunya yang sudah lebih tenang di sana.


"Kita selesaikan urusannya malam ini juga," gumam Amelie membuat Juli seketika merinding ngeri mengartikan ucapannya. Tapi dia sama sekali tak berani lagi bersuara takut kalau akan di seret lagi, sungguh saat ini nyeri yang sebelumnya saja belum hilang.


 Amelie duduk di sofa yang tepat berhadapan dengan Juli dan Asy. Di temani Aish di sisinya, di tatapnya wajah Juli yang menunduk dalam tanpa berani mengangkat wajah sedikit pun.

__ADS_1


"Aku sudah mendengar jawabanmu sebelumnya tadi saat bicara dengan asy, putriku. Putri yang sering kau hina dan rendahkan bahkan di acara pernikahannya kemarin. Dan malam ini, dengan polosnya anakku membawamu pulang ke mari untuk memberi mu tumpangan dan pertolongan. Wah, wah ,wah lihatlah bagaimana caramu membalasnya sekarang?" papar Amelie dengan nada sengit, membuat Juli gemetar dan semakin menundukkan kepalanya ke bawah.


"Dan menurut mu sekarang? Masih pantas kah kami menolongmu jika kau seperti ini pada kami?" Imbuh Amelie dengan pelan namun menusuk.


 Juli terisak, dia bahkan menjatuhkan diri di depan Amelie dan memohon.


"Nyonya, tolong jangan usir aku. Tolong maafkan aku, Nyonya. Aku hanya ingin merasakan bagaimana hidup sebagai Asy. Aku iri padanya, Nyonya."


 Asy tampak terkesiap, menatap tak percaya pada Juli yang kini duduk bersimpuh dengan tangan di dada menghadap Amelie.


 Sedang Amelie tersenyum puas karna bisa membongkar rahasia dari wanita di hadapannya yang sejak awal sudah dia cari tahu asal usulnya.


"Minta maaflah padanya, jika perlu bersujud lah di kakinya hingga kata maaf itu terlontar dari bibirnya untukmu."


 Juli terjebak, walau enggan tapi dia harus melakukannya agar bisa terbebas dari situasi yang dia ciptakan sendiri.


"Tidak, Mam. Tidak perlu seperti ini, ini tidak benar." Asy menghindar kalau juli hendak mendekatinya dan menyentuh kakinya. Asy masih tahu diri kalau bersujud pada orang lain itu haram hukumnya dan dia tak mau menjadi kufur karena itu.


"Tolonglah, Asy aku tidak mau sampai di usir. Kasihan bayiku, tolong maafkan aku." Juli menggunakan bayinya sebuah tameng untuknya, sembari merapatkan tangan di dada mengeluarkan air mata hingga Asy menjadi iba karenanya.


"Sudahlah, tidak perlu di lanjutkan. Aku memaafkannya, Mam. Tolong jangan usir juli, kasihan bayinya," timpal Asy sembari membantu Juli kembali duduk di sebelahnya.


 Amelie tersenyum getir, membuang muka dari arah Juli dan mengusap sudut matanya yang berair. "Kau terlalu naif, Nak."


"Segera ganti pakaian mu, aku tidak ikhlas kau memakai barang anakku. Apa kau tidak merasa malu, bersikap buruk pada Asy dan Aish lalu sekarang malah memakai barang barangnya, tanpa izin pula," sergah Amelie lebih lanjut, sembari menunjuk ke arah Juli dengan jari telunjuknya yang lentik.


 Juli termegap, namun sedetik kematian langsung bangkit dan mencari bajunya sendiri yang tadi dia tinggalkan di depan lemari dan masuk ke kamar mandi untuk mengganti pakaiannya.


 Selagi menunggu juli selesai dengan urusannya, Amelie melempar tatapan pada Asy yang kini terlihat memasang raut wajah prihatin. Hatinya yang lembut menbuatnya tak pernah tega balik menyakiti seseorang yang bahkan sudah sangat menyakitinya. Dendam itu tak pernah ada dalam hidupnya.


"Setelah ini berhentilah untuk terus menolongnya, Nak. Dimana pun dan kapanpun kau akan melihatnya lagi dalam kesulitan abaikan saja. Terkadang kita perlu sedikit egois untuk melindungi apa yang kita miliki, kau paham maksud Mami kan?" tutur Amelie lembut, berharap Asy dan menurutinya.


 Asy mengulum senyum dengan wajah masih cemas, entah kapan dia akan berhenti terus memikirkan bagaimana keadaan dan perasaan orang lain.


"Insyaallah, Mam. Tolong doakan Asy bisa menjadi seperti yang Mami harapkan."


 Amelie mengangguk dan mengamini perkataan Asy.


"Hei, sedang apa kalian semua di sini?" sapa Ed yang ternyata sejak tadi mencari keberadaan istrinya yang pamit padanya untuk mengambil minum di dapur, namun hingga hampir satu jam lamanya tak kunjung kembali ke kamar.


 Ed melangkah masuk bertepatan dengan Juli yang baru saja keluar dari kamar mandi setelah berganti pakaian.


Ed sempat beradu tatap dengan Juli beberpa detik lamanya, sebelum akhirnya dia mengalihkan pandangannya ke arah anak dan istrinya di sudut lain.


"Kenapa dia bisa ada di sini?"


 Bibir Amelie baru saja bergerak untuk menjawab namun Ed sudah menyelanya dengan pertanyaan lain.

__ADS_1


"Dan kenapa dia memakai kalung berlian yang ku hadiahkan untuk Aish?"


 Amelie melotot menatap Juli, rupanya sejak tadi ada yang luput dari perhatiannya di tubuh wanita itu.


__ADS_2