MEMBALAS GUNDIK SUAMIKU

MEMBALAS GUNDIK SUAMIKU
Chapter 156.


__ADS_3

"Dek Jen, apa kamu sudah dengar kabar?" tanya Gus Musa sembari duduk di samping istrinya Jeni yang tengah mengawasi putranya bermain di halaman dengan teman teman pondoknya.


"Hum? Kabar apa, Mas?" tanya Jeni sembari mengelus perutnya yang sudah tampak semakin membuncit, baju gamis kebesarannya tak lagi mampu menutupi perut itu dengan sempurna karena usia kandungannya yang sudah memasuki tujuh bulan.


"Orang tuanya temanmu, Sarah Mamanya Adam, Azkara dan Ayuna. Kakek nenek mereka, meninggal."


"Apa, Mas? Meninggal? Kamu dengar kabar itu darimana, Mas? Jangan mengada ada," seru Jeni terkejut bukan main.


 Gus Musa menghela nafas panjang. " Barusan Mas di kasih tahu sama pengasuh si kembar, katanya mereka belum bisa ngaji dulu karna nenek dan kakeknya baru saja meninggal."


"Innalilahi wa innailaihi rojiuun," gumam Jeni sambil menutup mulutnya, menyadari kalau kabar yang di dengarnya itu ternyata nyata.


"Sudah dua kabar tidak menyenangkan kita terima, dek. Semoga saja setelah ini tidak berlanjut lebih banyak lagi, " gumam Gus Musa sembari mengusap tangan istrinya yang masih tampak syok itu.


"Tunggu, apa tadi Mas bilang? Dua? Memangnya satu kabar lagi apa, Mas?"


"Iya, satu kabar lagi katanya Rahman menghilang setelah mengantar seseorang ke rumah sakit. Entah bagaimana kabarnya sekarang, ibunya belum memberi kabar lebih lanjut. Kita doakan saja semoga Rahman lekas kembali."


"Lalu, yang mengisi acara semalam siapa? Bukannya Rahman di undang mengisi acara di hajatan semalam?" tanya Jeni bingung..


.


 Gus Musa mengangguk. "Iya, tapi karna dia dan ibunya tak kunjung pulang akhirnya Mas yang gantikan."


 Kening Jeni membentuk kerutan. "Loh, bukannya Mas semalam ada di rumah?"


"Iya, sampai bada isya dan kamu ketiduran di kamar. Makanya kamu nggak tahu Mas pergi," sahut Gus Musa apa adanya.


 Jeni manggut-manggut paham, lalu perlahan bangkit berdiri dan menarik tangan Gus Musa.


"Kemana, dek?"


.


"Mas, anterin aku yuk. Kita ke rumahnya Mbak Sarah, takziyah."


Gus Musa tampak berpikir sejenak, dari raut wajahnya tampaknya dia keberatan.

__ADS_1


"Mas, ayolah nggak bakalan kenapa Napa kok. Nggak lama juga, lagipula sudah lama kita nggak ketemu Mbak Sarah dan suaminya," bujuk Jeni lagi dengan wajah memelas.


 Gus Musa menghela nafas sesaat dan akhirnya mengalah.


"Kita tanya pendapat Umi dulu ya, soalnya kan kamu lagi hamil. Biasanya kalau orang hamil itu di larang takziyah ke tempat orang meninggal."


 Jeni mengangguk pelan. "Iya, semoga saja Umi mengerti kalau Mbak Sarah juga berarti sekali bagi Jeni."


 Mereka beranjak menemui Umi Nafisah yang berada di kamar kyai Hasan, tengah bercengkrama berdua mengenang masa muda mereka dulu.


 Gus Musa mengutarakan niatnya untuk bertakziah ke rumah Sarah, awalnya Umi Nafisah melarang karna Jeni tengah hamil. Namun pada akhirnya luluh juga setelah Jeni membujuknya dengan air mata. Tapi dengan syarat tidak boleh mengunjungi makamnya, hanya bertakziah ke rumah Sarah saja.


 Dan Jeni juga Gus Musa menyanggupi itu.


 Dan singkatnya kini Jeni dan Gus Musa sudah ada di dalam mobil yang melaju menuju rumah Sarah, tak lupa berhenti membeli buah tangan untuk di bawa ke sana.


Lima belas menit berlalu dan mobil pun memasuki pelataran rumah Sarah yang luas, tampak di sana karangan bunga bertuliskan ucapan belasungkawa dan duka cita tampak memenuhi pelataran itu hingga ke teras rumahnya.


Tok


Tok


Tok


 Hening.


 Tak ada jawaban atau suara apapun dari dalam rumah.


Tok


Tok


Tok


"Assalamualaikum, Mbak Sarah."


"Assalamu'alaikum, Mbak! Ini Jeni, Mbak.".

__ADS_1


 Tiga kali sudah Jeni berseru memanggil si empunya rumah, namun tak kunjung mendapat respon dari dalam sana. Hanya hening dan suara semilir angin yang terdengar jelas.


"Mungkin sedang pergi, dek. Atau lagi di makam," celetuk Gus Musa.


 Jeni berpaling pada suaminya dan mengangguk dengan wajah gamang.


"Coba di telpon saja, dek kamu bawa hape kan?" cetus Gus Musa lagi.


 Sejurus Jeni tersenyum senang karna di beri ide oleh sang suami, anehnya kenapa tak terpikirkan sejak tadi olehnya. Mungkin karna terlalu kalut jadi Jeni tak berpikir sampai ke sana.


 Jeni mencari kontak Sarah di ponselnya dan menekan ikon telepon, tak lama telepon tersambung dan di angkat oleh Sarah.


"Halo, assalamu'alaikum."


 Suara pria, Jeni langsung bisa menebak kalau itu adalah suara Axel, mantan suaminya yang kini menjadi suami Sarah.


 Jeni terpaku sejenak, bukan karna dia bernostalgia dengan suara sang mantan suami yang masih terdengar sama dengan saat masih bersamanya dulu. Tapi karna suara isakan perempuan yang berada tak jauh darinya. Dan bisa di pastikan itu pasti suara Sarah.


"Wa'alaikumsalam, Mas maaf apa mas sekeluarga tidak di rumah. Saya mau ketemu Mbak Sarah untuk berbela sungkawa," sahut Jeni gugup.


"Ah, maaf kami ada di rumah tapi di lantai dua. Kami hanya sendiri di rumah ini jadi maaf kalau saya tidak dengar ada tamu. Sebentar saya buka pintunya ya," jawab axel terdengar bergetar.


 Wajar saja, mereka pasti masih merasa sangat kehilangan. Orang yang begitu baik dan pengertian seperti Tuan Bryan dan Nyonya Ellen pastilah menjadi kenangan yang tak akan terlupakan di benak anak keturunannya. Kehilangan mereka sudah pasti adalah pukulan terbesar bagi keluarganya.


 Tak lama setelah sambungan telepon terputus, terdengar suara pintu yang di buka dari dalam. Dan di susul sang pemilik rumah yaitu Axel yang muncul dengan wajah sembab khas orang habis menangis.


"Maaf kalau kedatangan kami mengganggu, Mas." Gus Musa menyalami Axel dan merangkul pundaknya sekilas, memberi kekuatan lewat tepukan tangannya di punggung pria itu.


"Tidak, tidak mengganggu sama sekali. Saya dan istri berada di atas, karna Sarah masih lemas untuk beraktivitas di luar. Bahkan anak anak pun sekarang di rumah Oma opanya, orang tua saya. "


 Axel mempersilahkan mereka masuk dan langsung mengarahkan menuju kamar mereka, dimana Sarah tampak masih sangat kehilangan di sana.


"Silahkan, maaf istri saya masih terlalu terpukul sepertinya dia masih sulit di ajak bicara," gumam Axel sembari menunjuk Sarah yang tampak melamun dengan air mata mengalir di pipinya yang tampak kusam dan kuyu.


 Jeni perlahan melangkah masuk, lalu duduk di ranjang Sarah dengan hati hati. Menatap wajah yang dulu sangat cantik itu kini tampak sangat terpuruk.


"Mbak, ini Jeni. Kami ... turut berduka cita ya, Mbak. Semoga Mbak sekeluarga di berikan kesabaran dan kekuatan sama Gusti Allah SWT, untuk menghadapi semua cobaan ini. Dan semoga almarhum dan almarhumah di terima semua amal ibadahnya di dunia oleh Gusti Allah," ujar Jeni sembari menyentuh pelan tangan Sarah yang terasa dingin.

__ADS_1


 Sarah tak merespon, tapi air mata semakin tampak membanjiri wajahnya.


"Ajari aku sholat, Jen," gumam Sarah mengejutkan Jeni yang tak menyangka dengan jawabannya.


__ADS_2