MEMBALAS GUNDIK SUAMIKU

MEMBALAS GUNDIK SUAMIKU
Chapter 217.


__ADS_3

 Keesokan harinya, Rahman tengah bersiap di dalam kamar untuk menghadiri acara pengajian yang di laksakan di masjid desa dengan dia sebagai pengisi acara.


 Asy datang dari luar kamar sembari membawakan segelas teh hangat untuknya.


"Udah ganteng aja suamiku," goda Asy pada Rahman yang memang sejak tadi sibuk mematut diri di depan cermin, walau sebenarnya pikirannya tertuju pada hal lain namun tetap saja orang yang melihat sudah tentu akan mengira dia tengah mengagumi dirinya sendiri di cermin.


 Rahman berbalik dan mengulas senyum tipis. "Ah, nggak kok. Cuma sekedar memastikan kalau sudah rapi saja, sayang."


 Asy menyodorkan gelas yang ada di tangannya pada Rahman, yang langsung di sambut dengan lebih suka cita olehnya.


"Aku juga siap siap dulu ya, Kak." Asy hendak beranjak dari tempatnya.


Namun sesaat Rahman menahan tangan Asy hingga pergerakannya terhenti.


"Kenapa, Kak?" tanya Asy heran .


 Rahman tersenyum manis sekali padanya. "Tidak, hanya saja rasanya ingin lebih lama memandangi wajah kamu."


 Wajah Asy sontak bersemu merah, di tepisnya perlahan pegangan tangan rahman dari tangannya.


"Apa sih, Kak. Malu tahu," tukas Asy membuang muka ke arah lain agar tak terlihat semburat merah di pipinya yang terasa menghangat.


"Ya sudahlah, kalau begitu. Bersiaplah yang nyaman ya, Kakak akan menunggu tenang saja. Jangan terburu-buru juga, acaranya baru di mulai jam sembilan pagi kok. Ini masih jam tujuh masih ada waktu dua jam lagi," ucap Rahman melepaskan istrinya.


 Asy mengangguk. "Baiklah, apa nanti mau mampir dulu ke rumah bapak dan ibu juga lebih dulu? Soalnya kan sekalian lewat ke masjid."


"Iya, boleh saja. Lagi pula sudah lama kamu belum bersilaturahmi lagi dengan mereka bukan?" tanya Rahman.


"Iya, lumayan lama Kak. Nanti kita mampir ya, Asy juga sudah rindu mau ketemu ibu," putus Asy sumringah.

__ADS_1


 Rahman mengangguk mengiyakan membuat Asy sontak langsung bersemangat seraya melangkah menuju kamar mandi lengkap dengan handuk di pundak.


 Tok


Tok


Tok


 Tak berapa lama setelah Asy masuk ke dalam kamar mandi, pintu kamar mereka di ketuk dari luar. Rahman bangkit dan bergegas membuka pintu.


"Eh, Mas Abdi? Ada apa ya? Bukannya ini masih lama sampai waktu yang di tentukan?" tanya Rahman sedikit bingung, terlebih kala melihat Abdi yang sudah rapi dengan baju Koko dan sarungnya, sangat kontras dengan penampilannya sehari hari yang lebih senang memakai celana jeans ketimbang sarung.


"Nggak papa, ustadz. Itu ibu saya sudah masak, ustadz sama istri di minta sarapan bersama lebih dulu sebelum berangkat ke masjid," pungkas abdi ramah.


"Ah, iya iya sebentar lagi saya ke sana. Kebetulan istri saya lagi mandi, nanti kami menyusul setelah dia selesai ya." Rahman mengulas senyum.


 Abdi mengangguk lalu berbalik meninggalkan pintu kamar Rahman dengan langkah gontai, menuju dapur dan menghilang di balik tembok pembatas.


 Matanya menajam, menatap objek yang sangat menarik perhatiannya di sana.


"Itu apa ya? Seperti tanah, tapi kenapa warnanya agak merah? Apa Abdi baru saja turun ke halaman tanpa memakai sandal? Ah tapi sepertinya tidak mungkin, untuk apa?" gumam Rahman menerka nerka.


****


 Setelah semua siap, Rahman membonceng Asy di belakangnya. Sementara Pak kades dan Abdi sudah berangkat lebih dulu untuk menghandle yang ada di masjid sana. Bu kades kali ini terpaksa tinggal di rumah saja, sebab ada tanggung jawab atas seorang bayi yang usianya belum genap empat puluh hari di pundaknya. Dan di sana menurut kepercayaan masyarakat setempat, bayi yang belum berumur empat puluh hari merupakan hal tabu untuk membawanya keluar dari rumah menuju ke tempat lain.


"Kami berangkat dulu, Bu. Hati hati di rumah ya," pamit Asy pada Bu kades yang mengantar mereka hingga ke muka teras.


 Bu kades tersenyum kecil. "Iya, kalian juga ya. Pelan pelan saja bawa motornya. Oh ya Asy, ibu titip salam sama orang tuamu ya."

__ADS_1


"Iya, Bu. Kalau begitu kami pamit dulu ya, Bu. Assalamu'alaikum," ucap Asy lembut.


"Wa'alaikumsalam," sahut Bu kades sembari menimang bayi yang tengah tertidur pulas di dalam gendongannya itu.


 Wajah bayi itu sangat mirip dengan Juli, namun berhidung mancung seperti Alam. Entah apa yang membuat Alam sampai begitu tega membuangnya serta ibunya di saat kelahirannya sudah dekat.


 Asy sempat menyeka air mata yang mengalir di sudut matanya karna prihatin dengan nasib malang yang sudah di alami bayi tak berdosa itu, bahkan sejak dia masih berada di dalam kandungan sang ibu.


 Setelah cukup jauh dari rumah Pak kades, Rahman tiba tiba menyentuh tangan Asy yang melingkar di perutnya perlahan. Namun itupun sudah cukup membuat Asy tersentak kaget.


"Kamu nangis, dek? Kenapa diam saja dari tadi?" tanya Rahman sembari memelankan laju motor metik yang mereka kendarai.


 Asy cepat cepat menghapus jejak air mata yang keluar tanpa bisa di cegah olehnya, lalu sebisa mungkin bersikap biasa saja pada suaminya.


"Ah, ng- nggak kok, Kak. Cuma agak terharu aja," tukas Asy tak pandai menyembunyikan sesuatu dari sang suami.


 "Terharu? Karna apa?" kening Rahman tampak berkerut.


 Asy mendesah pelan, rasanya jika dia memutuskan menyinpam semuanya sendiri malah akan menyiksa batinnya saja. Maka setelah menimbang nimbang sesaat, Asy memutuskan untuk menceritakan kegundahan hatinya pada Rahman dengan sejujurnya.


"Asy ... Asy cuma kasihan sama nasib bayinya almarhum Juli, Kak. Dia nggak tahu apa apa tapi sudah harus menjalani hidup yang keras bahkan ketika dia baru saja di lahirkan," gumam Asy sendu.


 Rahman masih setia mendengar setiap ungkapan hati sang istri, sembari memastikan laju motornya stabil dan tidak salah mengambil jalan yang beberapa bagiannya masih dalam tahap pembangunan.


"Padahal anak itu cantik sekali iya kan, Kak? Kenapa bisa ya Mas Alam tega menelantarkan anaknya itu, bahkan sebelum dia dan keluarganya melihat bagaimana rupa dan parasnya yang benar benar menawan itu," sambung Asy lagi, masih betah menyampaikan semua unek uneknya pada Rahman yang memang selalu tahu caranya menghargainya.


"Iya, Kamu benar sayang. Semua yang kamu katakan memang benar ,tapi kita bisa apa? Selain mendoakan yang terbaik bagi anak itu supaya masa depannya akan lebih baik dari masa kecilnya? Tapi bukankah harusnya sekarang dia sudah berada di tangan yang tepat? Mas yakin kok kalau keluarga Pak kades akan memberikan bayi itu kehidupan yang lebih layak setelah ini," sahut Rahman terdengar begitu yakin.


 Namun tidak demikian dengan yang tergambar di mimik wajah Asy, raut wajahnya kini seolah menyimpan kesedihan dengan jawaban suaminya. Namun Asy memilih diam, dan lagi lagi membiarkan air mata jatuh ke pipinya tanpa permisi.

__ADS_1


"Apa kamu mau kita mengadopsi anak itu?" tawar Rahman tiba tiba.


__ADS_2