MEMBALAS GUNDIK SUAMIKU

MEMBALAS GUNDIK SUAMIKU
Chapter 54.


__ADS_3

 Lorong panjang berbau obat itu menyambut kedatangan Sarah dan keluarganya yang membawa Jeni ke rumah sakit.


 Wanita itu tampak kesakitan sambil memegangi perutnya yang membuncit keras, keringat bercucuran di wajah yang memucat itu. Sambil berlarian mereka membantu para suster yang mendorong brankar Jeni menuju ruangan bersalin.


"Aahhh, sakit ... tolong ... ini sakit sekali," rintih Jeni sambil mencengkram kuat pinggiran brankar dan sesekali mencengkram tangan Sarah yang ada di sisinya.


 Sarah meringis merasakan perih di tangannya yang lecet akibat goresan kuku Jeni yang panjang tak terurus.


Brugh


 Tanpa sengaja Sarah terjatuh saat tanpa sengaja tersandung kakinya sendiri, dia terlalu meresapi perih di tangannya sampai tak sadar saat di belokan kakinya justru saling mengait.


"Sayang kamu nggak papa?" tanya Axel cemas sambil membantu memapah Sarah menuju kursi tunggu.


 Tuan Bryan turut berhenti dan kini hanya tinggal Nyonya Ellen yang mengikuti brankar Jeni. Entahlah mereka tampak begitu peduli pada Jeni mungkin karna memang pada dasarnya keluarga Sarah tak pernah bisa melihat orang lain dalam kesulitan.


"Mas, kakiku sakit," lirih Sarah sambil memeriksa kakinya.


 Tampak sedikit luka lecet di sana dan mengeluarkan darah walau tak banyak, mungkin terkena roda brankar saat terjatuh dari.


"Sayang, kamu nangis?" ucap Axel cemas, karna baru kali ini Sarah menangis hanya karena terluka kecil.


 Axel mengangkat kaki Sarah dan meletakkannya di pangkuannya, kemudian meniup lukanya. Namun tangisan Sarah justru semakin kuat.


"Itu anak saya, suster." Tuan Bryan datang sambil membawa seorang suster wanita bersamanya di tangannya tampak sebuah kotak p3k, sepertinya Tuan Bryan begitu sigap menghadapi kondisi seperti ini.


"Saya bersihkan dulu lukanya ya, Bu." Suster itu berjongkok hendak mengambil kaki Sarah dari pangkuan Axel.


"Tidak! Jangan sentuh aku! Biarkan suamiku yang melakukannya!" bentak Sarah sambil menghapus air matanya.


 Axel terkejut, begitu pula Tuan Bryan baru kali ini mereka melihat Sarah membentak seseorang hanya karna hal sepele seperti ini.

__ADS_1


 Merasa tak enak hati akhirnya Axel meminta kotak p3k itu dari sang suster.


"Maaf, suster. Istri saya sedang hamil, sepertinya dia marah-marah karna itu, tolong di maklumi ya. Sini biar saya saja yang mengobatinya," pinta Axel ramah.


 Suster itu tertegun sesaat, suara lembut Axel menembus hingga ke ubun-ubun nya. Wkwk


"Heh, ngapain kamu lihat-lihat suami saya? Jomblo ya?" tegur Sarah lagi, kali ini bahkan sambil memegangi lengan Axel dengan posesif.


 Suster itu terkesiap. "Ah, ng- nggak, Bu. Ma- maaf saya ... saya ...."


"Sudah sana kamu, ngapain masih di sini? Bukannya suami saya sudah bilang biar dia yang ngobatin saya?" ketus Sarah lagi.


 Suster itu mengangguk dan bergegas pergi dengan terburu-buru.


"Sayang, kamu kenapa kok aneh begitu?" tanya Axel sambil membersihkan luka Sarah dengan cairan pembersih luka.


 Air mata Sarah keluar lagi, merasakan sensasi perih dan dingin akibat obat itu.


 Sarah menatap mereka tak suka. "Dady jangan pengaruhi suamiku, nanti aku ngambek sama Dady!"


 Tuan Bryan bukannya kesal di hardik sedemikian rupa oleh anaknya, dia justru tertawa karna tingkah Sarah persis seperti Nyonya Ellen dulu saat masih mengandung dirinya.


"Ah, Dady sudah di ultimatum, Ax. Dady menyusul Momy kalian dulu ya. Nanti kalian menyusul saja kalo Sarah sudah baikan," ucap Tuan Bryan mengalah dan langsung menuju ke ruang bersalin yang letakkannya hanya beberapa meter lagi dari belokan itu.


  Sepeninggalan Tuan Bryan, Axel yang baru saja selesai memasang plaster di kaki Sarah hendak menurunkan kaki istrinya kembali ke lantai. Namun Sarah justru merajuk dan memanyunkan bibirnya.


"Kenapa lagi, Sayang?" bujuk Axel tak mengerti.


 Dia tau kalau ibu hamil akan begitu cepat berubah moodnya, namun dalam kasus Sarah ini sepertinya lebih berat mungkin karna dia mengandung tiga bayi sekaligus.


"Kenapa Mas mau nurunin kaki aku? Kaki aku berat ya? Bilang aja kalo aku gendutan kan?" gerutu Sarah seenaknya.

__ADS_1


 Axel menepuk jidatnya sambil tersenyum kecut. "Apaan sih, Sayang. Kan Mas nggak ada ngomong gitu, Mas mau taruh kaki kamu di bawah lagi itu ya kan karna udah selesai di obatin. Emangnya kamu mau kita begini terus semaleman? Di pangku gini terus kakinya?"


 Sarah semakin manyun, dia pun tak mengerti kenapa mood nya benar-benar jelek kali ini. Biasanya dia bahkan tak pernah semanja dan seaneh ini.


"Ya udah kalo nggak mau, aku bisa kok mangku kaki aku sendiri." Sarah menarik kakinya dan meletakkannya bertopang di kakinya yang sebelah.


 Namun karna tak terbiasa Sarah berkali-kali hampir jatuh karna tak seimbang, dia semakin kesal dan pada akhirnya melampiaskannya dengan memukuli Axel.


"Kamu itu nyebelin banget sih, Mas? Bisa-bisanya tadi kamu bantu gendong Jeni ke mobil? Kamu pikir aku nggak cemburu apa? Kita udah nikah loh, Mas! Kenapa kamu malah nyentuh perempuan lain? Mantan istri kamu lagi, dasar laki-laki kadal!"omelnya sambil memukuli punggung dan kepala Axel sampai Axel berteriak minta ampun.


"Ampun, Sayang. Ini sakit, kan tadi kamu sendiri yang minta tolong Mas buat gendong Jeni ke mobil, gara-gara Dady lagi kumat encoknya. Masa kamu lupa sih, sayang?" ucap Axel mengingatkan Sarah.


 Namun bukannya berhenti, Sarah malah semakin tak terima di salahkan.


"Apa kamu bilang, Mas? Jadi semuanya salah aku? Gitu maksud kamu? Harusnya kamu bisa mikir dong, Mas, kalo kamu lakuin itu aku bakalan cemburu nggak bakal sakit hati nggak? Jangan asal sosor aja, tiap aku nyuruh main terima aja mentah-mentah. Kamu kan bisa mikir, Mas?"


 Axel kehabisan kata-kata menanggapi omelan istrinya itu, bahkan kini dia menangis dalam hati kara ternyata menghadapi wanita hamil bisa serumit ini.


"Ya Allah, beri hamba stok kesabaran satu gudang lagi menghadapi calon mama tiga anak ini, Ya Allah."


****


 Di dalam ruang bersalin, Nyonya Ellen ikut masuk. Dia kasian karna saat ini bahkan tak ada dari pihak keluarga Jeni yang menemaninya. Dengan sabar Nyonya Ellen membantu mengarahkan bagaimana cara mengejan yang benar seperti dirinya dulu.


 Merasa mendapat dukungan, Jeni menurut dan tak sampai satu jam kemudian seorang bayi mungil telah terlahir, tangisnya kuat sekali memenuhi ruangan bersalin itu.


"Alhamdulillah," gumam Nyonya Ellen sembari mencuri pandang pada si bayi yang langsung di tangani oleh para suster, di mandikan dan di pakaikan pakaian bayi yang ada di rumah sakit karna Jeni belum membeli perlengkapan satu pun untuk bayinya.


 Jeni terbaring lemah, serasa semua tenaganya sudah tekuras habis. Bahkan untuk sekedar membuka mata pun dia sudah tak sanggup. Hanya suara tangisan bayinya yang bisa dia dengar dan ingat.


"Alhamdulillah, Nyonya. Bayinya sehat dan tak kurang satu apapun, jenis kelaminnya ...."

__ADS_1


__ADS_2