
"Assalamu'alaikum," ucap Nyonya Ellen sambil melangkah masuk ke dalam rumah Sarah yang tampak lengang tersebut.
Namun tak lama terdengar suara Sarah yang menyahut dari arah dapur.
"Wa'alaikumsalam, Momy sudah datang?" sambutnya sambil merentangkan tangan untuk memeluk sang ibu.
Nyonya Ellen hanya pasrah saat Sarah mencium pipi kanan dan kirinya, lalu dengan santai meraih dua buah box kue dari tangan nyonya Ellen untuk di bawa ke dapur.
"Triplets ada di taman belakang, Mom." Sarah memberitahu seakan mengetahui isi pikiran sang ibu yang tampak mengedarkan pandangannya ke semua arah.
"Momy ke sana," sahut nyonya Ellen sambil berlalu membawa sebuah bingkisan lagi untuk kado cucu cucunya.
Setelah memotong motong kue dan memindahkannya ke sebuah tempat khusus yang tampak apik dan cantik Sarah membawa kue itu menuju ke taman dimana para suster membawa bayi bayinya bermain di sana.
"Mbak Mbak, ayo sini kita makan kue," tawar Sarah sambil memberikan sebuah wadah yang terpisah dari miliknya dan Nyonya Ellen, isinya sama hanya saja Sarah tidak ingin para baby sitter anaknya merasa sungkan untuk mengambilnya karna satu wadah dengan miliknya.
"Wah, pandan keju ini kesukaan saya, Nyonya. Makasih ya," ucap Susan sambil mengambil sepotong kue dan memakannya sambil mengawasi baby Azkara yang sibuk dengan mainan bayi di tangannya.
Mia pun sama, turut mengambil sepotong bolu gulung pandan keju yang montok dan terlihat sangat menggiurkan itu.
"Aish, kamu nggak mau?" tanya Mia saat melihat Aisyah hanya diam saja di tempatnya tanpa berniat ikut mencicipi kue.
Aisyah menoleh sebentar lalu kembali fokus pada Ayuna yang merengek di pangkuannya.
"Ambilkan saja untuk Aisyah, Mia." Sarah menyarankan, lalu Mia pun mengambil sepotong kue pandan keju sama seperti miliknya lalu di sodorkan pada Aisyah.
Tapi anehnya Aisyah malah menggeleng.
"Aku mau yang coklat saja," pungkasnya pelan.
Mia mencebik lalu mengembalikan kue itu ke wadahnya.
"Ambil saja sendiri, jangan manja," ketusnya seraya menggendong baby Adam dan berjalan menjauh menuju ke kolam ikan yang tak jauh dari sana.
Aisyah tak bergeming, hanya melirik saja dan tak mempedulikan ucapan Mia yang terkesan jengkel itu sama sekali.
"Aish, ayo makan dulu kuenya. Sini Ayuna biar sama saya," ucap Sarah sambil berjalan menuju Aisyah dan mengambil Ayuna dari gendongannya.
"Ayo makan dulu," imbuh Sarah lagi lalu memilih duduk lesehan di tikar yang di bentang para baby sitter itu.
__ADS_1
Dengan perlahan, Aisyah mengambil sepotong towel cake dan memakannya dalam diam. Entah ada angin apa tiba tiba saja air matanya jatuh mengalir dan perlahan menjadi deras.
"Aish, kamu kenapa?" tanya Susan sambil mengelus punggung teman satu yayasannya itu.
Ya, selama bekerja di rumah Sarah Susan memang lebih dekat dengan Aisyah ketimbang Mia yang terkadang julid dan sinis, namun sesaat kemudian dia akan kembali menyapa Aisyah dan tak pernah marah hingga berlarut-larut.
"Aish nangis, Bu." adu Susan pada Sarah yang tampak tidak sadar karena tengah menyusui Ayuna secara langsung.
Sarah tampak bingung, sedangkan nyonya Ellen mencoba mendekat untuk mengetahui sebab tangisan gadis ayu itu.
"Kamu kenapa, Mbak? Sakit?" tanya Nyonya Ellen yang memang terbiasa memanggil para pengasuh cucunya itu dengan sebutan Mbak.
Aisyah menggeleng, dia meletakkan sisa potongan kue yang belum habis di makannya dan berlari pergi begitu saja.
"Mom?" ucap Sarah bingung.
"Biar momy yang kejar," sahut Nyonya Ellen cemas lalu dengan cekatan wanita yang sudah berusia setengah abad itu berlari ke arah perginya Aisyah tadi.
Nyonya Ellen berhenti di depan kamar para baby sitter, samar di dengarnya suara isak tangis dari dalam sana.
"Aish, kamu nggak papa?" tanyanya sambil berjalan pelan mendekati Aisyah yang kini duduk di atas ranjangnya dengan menghadap dinding.
Nyonya Ellen membuang nafas kasar, lalu menempelkan tangannya ke punggung Aisyah.
"Ibu, saya rindu ibu ... kue itu ... kue itu membuat saya tiba tiba teringat ibu, saya tidak tahu kenapa padahal ibu tidak pernah bertemu saya sejak saya mulai bisa mengingat. Tapi sekarang saya benar benar merindukannya, Nyonya," lirih Aisyah di sela tangisannya.
Nyonya Ellen tak bersuara, hanya sesekali menarik nafas dalam dan menghembuskannya perlahan.
"Kemarin, saya tidak sengaja bertemu seseorang yang mengatakan kalau orang tua saya masih hidup. Dan orang itu ... orang itu bilang kalau Nyonya tahu siapa orang tua kandung saya. Siapa mereka Nyonya? Tolong beritahu saya. Kalau memang saya adalah anak yang tidak di inginkan saya rela jika tidak bisa kembali pada mereka, tapi setidaknya saya ingin melihat mereka satu kali saja," lapar Aisyah menghiba.
Degh.
Jantung Nyonya Ellen rasanya mau copot mendengar ucapan jujur Aisyah, benaknya berkecamuk matanya melotot seakan hendak terlepas dari tempatnya.
Nyonya Ellen langsung berdiri dengan raut wajah syok, dia menuding Aisyah dengan tatapan ketakutan.
"Siapa? Siapa yang sudah memberitahu mu berita itu?" cecarnya yang lebih terdengar seperti geraman dalam.
Aisyah menghapus sisa air matanya dan merubah posisi duduknya menjadi menghadap nyonya Ellen.
__ADS_1
"Seorang pria, yang wajahnya di tutup dengan kain hitam. Dia bilang, kalau dia pernah ada di bagian keluarga Nyonya sejak lama sekali." Aisyah menjawab tegas.
Nyonya Ellen terperangah, otaknya memaksa untuk bekerja lebih keras hingga kepalanya terasa sangat sakit. Dan tak lama Nyonya Ellen pun ambruk ke lantai.
Aisyah bersimpuh di dekat Nyonya Ellen sambil memangku kepalanya, matanya kembali tampak berkaca-kaca.
"Nyonya, ku mohon beritahu aku siapa orang tua ku. Walau hanya sekali, aku ingin sekali melihat mereka dalam hidup ini, ku mohon." Aisyah masih berusaha membujuk.
Nyonya Ellen yang tampak tak berdaya itu mencoba bicara walau hanya suara lirih yang terdengar.
"Ka- kau ... harus ... pergi se- secepatnya, dari sini."
****
Rahman kembali datang ke depan pagar pondok hari ini, sesuai janjinya dengan Asiyah kemarin. Dengan senyum terkembang, Rahman melambaikan tangan saat melihat Asiyah yang berlari ke arahnya dengan wajah ceria.
"Senang sekali?" tanyanya saat Asiyah sampai di depannya.
Asiyah malah tergelak.
"Iya dong, karna ada kabar gembira."
Mata Rahman berbinar, dia bahkan sampai tak mampu menahan senyuman di bibirnya.
"Oh ya? Apa?"
"Coba tebak?" ucap Asiyah berteka teki.
Rahman berkacak pinggang sambil tertawa pelan.
"Hah, maaf tapi otak paman sudah terlalu tua untuk bermain tebak tebakan," kekeh Rahman yang sukses membuat Asiyah cemberut.
"Ah, paman nggak seru." ketusnya.
Tapi sedetik kemudian senyum Asiyah kembali muncul.
"Ya udah deh, kalau gitu aku kasih tahu aja. Paman boleh ikut ngabdi di ndalem'." serunya bersemangat.
Rahman terpana tak percaya, tapi sedetik kemudian tawa senang keluar dari mulutnya.
__ADS_1
"Benarkah? Tapi bagaimana bisa? Mereka bahkan belum bertemu langsung dengan paman kan? Kenapa semudah itu?" tanya Rahman setelah berpikir beberapa saat.