
"Itu tidak mungkin, semuanya terdengar terlalu gila dan tidak masuk akal." Rahman bergumam.
Ed berpaling padanya, sorot mata yang biasa tajam kini terlihat lebih sendu dan teduh.
Tapi pada kenyataannya itulah yang terjadi, kau lihat kondisi di rumah tadi bukan? Jika saja anak buah ku tidak bergerak cepat, mungkin saat ini pun kami sudah akan kehilanganmu. Dunia gelap itu memang mengerikan, dude. Baguslah dulu kau memilih memisahkan diri," terang Ed lagi.
"Apa ... yang menghabisi nyawa almarhum ayahku juga orang yang sama, Uncle. Jujur hingga saat ini aku masih menganggapku yang tega melakukannya," tanya Rahman ragu ragu, tapi jika dia hanya diam tak ada jawaban pasti akan hal yang sejak dulu dia pendam di dalam hatinya itu.
Edwin mendesah berat, tatapannya beralih pada jendela besar yang terbuka di sisi kamar. Angin dingin masuk dari sana membuat gigil datang menerpa tubuh Rahman yang masih terasa lemah.
"Uncle katakan, agar hati ini bisa tenang dan bisa mempercayai ceritamu tadi," desak Rahman lagi.
Tapi Ed justru bangkit, menggeser selimut dan menariknya hingga batas leher Rahman walau saat ini bersandar di atas bantal. Anehnya Ed tidak memilih untuk menutup saja jendelanya.
"Aku butuh udara segar," ungkap Ed seolah tahu isi pikiran Rahman.
Ed duduk kembali, menggenggam buku buku jarinya sendiri dan kembali menatap lurus jendela yang terbuka itu.
"Apa kau akan mempercayai ku, dude. Ini ... mungkin akan terdengar sangat tidak masuk akal," gumam Ed tanpa mengalihkan tatapannya dari jendela.
Jantung Rahman berdebar kencang, sejak lama dia menunggu jawaban yang sebenarnya kini akhirnya saat itu tiba. Namun diaa justru takut, hatinya tak kuat menerima kenyataan yang sebenarnya.
"Sepertinya kau ragu, apa perlu ku panggilkan ibumu?" sambung Ed seolah tahu keresahan Rahman.
"Apa ibuku masih ada di sini?"
"Yah, bibi masih di sini. Dia yang paling cemas saat menelepon ku dan mengatakan kau tak kunjung kembali ke rumah setelah pergi bersama Asy, tapi Asy bilang kau bahkan pergi begitu saja tanpa mau mendengar apa yang akan dia katakan. Kau tahu, kau menyakiti hati putriku."
Ucapan terakhir Ed membuat rasa bersalah kembali bersarang di hati Rahman, namun kala teringat kata kata terakhir Asy padanya. Sakit itu kembali ke dalam kalbu dan memporak porandakan rasa yang selama ini dia simpan rapi di sana.
"Maaf, uncle bisakah kita membahas hal lain terlebih dulu? Aku ... sedang tidak ingin membahas ini," gumam rahman sambil berpaling ke arah lain.
__ADS_1
Ed mengulum senyum tipis. "Baiklah, tunggulah di sini sementara aku memanggil bibi."
Rahman mengangguk sekilas, dan Ed pun melangkah meninggalkan kamar itu lalu kembali pintunya.
Dalam kesendirian, bayangan kejadian belasan tahun lalu berkelebat dalam benak Rahman, bagaimana akhirnya sang ayah meregang nyawa sembari memeluk tubuh kecilnya. Tanpa sadar air mata Rahman menetes, betapa kerinduan menyeruak tanpa ampun ke dalam relung hatinya.
"Ayah, akan kah kebenaran terungkap sekarang? Siapa yang harus aku percaya, terlalu sulit menentukan jawabannya, Ayah. Andaikan ayah masih di sini, tentu ayah akan membantu Rahman mencari jawabannya kan, Yah? Seperti permainan tebak kata yang kita mainkan untuk terakhir kali," Isak Rahman di tempat tidurnya, berguling ke sana ke mari berusaha meredam tangisannya namun yang terjadi justru malah semakin menjadi.
Bahu Rahman terguncang, saking kerasnya tangisan itu.
Puk
"Anakku." sebuah tepukan dan panggilan dari suara yang familiar menembus pendengaran Rahman, Rahman menghentikan tangisnya, mengusap air mata dan bangkit untuk memastikan pendengarannya.
"Apa kau menangis, Nak?"
Seraut wajah yang sangat dirindukannya muncul di hadapan, senyum teduh yang menenangkan yang selalu di rindukan Rahman kini muncul di hadapannya. Rahman hampir saja tak percaya, dia terpaku di tempat tanpa mengalihkan pandangannya sama sekali, terpaku pada raut wajah yang begitu ingin dia lihat lagi itu .
"Iya, ini ayah. Waktu ayah tak banyak, jadi dengarkan ayah baik baik, anakku."
Rahman mengangguk, wajah sang ayah di depannya tampak sangat bercahaya namun dia tak peduli walau silau menguasai matanya dia hanya ingin melihat wajahnya sepuas hati agar terobat rindu yang selama ini begitu menggebu.
"Ayah, aku merindukanmu." Rahman tak begitu mendengarkan ucapan sang ayah, dia menubruknya memeluknya erat sekali menhidu aroma yang menguar dari tubuh sang ayah, aroma yang sangat harum dan tak pernah dia temui di dunia.
Terasa sebuah tangan mengusap kepalanya, Rahman memejamkan mata menikmatinya.
"Dengarkan ayah, anakku sekarang kau akan mengetahui semua kebenarannya. Jangan ragu pada apa yang akan kau dengar, itulah cerita yang sesungguhnya. Ayah menjamin itu, dan setelah itu yang harus kau lakukan adalah ...."
*
"Dude, hei dude apa kau tertidur?"
__ADS_1
Rahman merasa tubuhnya di guncang guncang, kepalanya terasa berputar saat dia memaksakan membuka mata. Basah, dia menyentuh wajahnya dan mendapati wajahnya basah.
"Hei, bahkan kau juga menangis dalam tidur. Ada apa?" cecar Ed lagi sembari duduk di tepian ranjang.
Rahman tak menjawab, dia mengedarkan pandangannya ke segala arah dan mendapati tubuh yang ibu baru saja keluar dari bilik kecil di sudut ruangan yang berfungsi sebagai kamar mandi.
"Bu," panggil Rahman.
Bu Hannah tersenyum dan mendekat, membawa sebuah handuk kecil di tangannya.
"Apa yang membuatmu tertidur sampai menangis begini, Nak? Lihat, bahkan bantal itupun basah karena ulahmu." Bu Hannah mengelap wajah Rahman yang basah dan berkeringat dengan handuk yang di bawanya, lalu beliau duduk di sebelah sang putra yang masih tampak kebingungan.
"Apa kau yakin ingin mendengar cerita yang sebenarnya tentang kepergian almarhum ayahmu, Nak?" tanya Bu Hannah mencoba memastikan.
Rahman menoleh dan mengangguk. "Iya, Bu Rahman sudah pantas untuk tahu bukan. Rahman tidak mau memendam kebencian pada orang yang salah terus menerus lagi."
Ed tergelak. "Oh akhirnya keponakanku yang nakal ini sadar juga akan kesalahannya selama ini."
Rahman melempar tatapan tajam pada sang paman. "Berhenti mengejekku, Uncle."
"Yah, baiklah. Sekarang biarkan ibumu yang bercerita, dengan begitu kau akan lebih yakin akan kebenarannya."
Ed bangkit dari duduknya dan berpindah ke sofa dekat jendela.
"Kau siap mendengarnya, Nak?" Bu Hannah berpindah ke depan Rahman.
Rahman kembali mengangguk. "Iya, Bu tolong ceritakan yang sejujurnya. Rahman tahu ibu tidak mungkin berbohong."
Bu Hannah menunduk sejenak. "Baiklah, dengarkan kisah ini baik baik."
"Belasan tahun lalu, tepatnya saat kau masih berusia lima tahun. Ayahmu di bu *nuh oleh orang yang tak bertanggung jawab, lalu melempar kesalahannya pada pamanmu yang saat itu datang berkunjung membawa banyak mainan untukmu. Mungkin kau tak ingat, namun Ed adalah paman yang selalu kau rindukan dulu saat kau kecil. Kembali lagi ke kisah tadi, pagi itu saat ibu tengah sibuk membuat sarapan di dapur kau bermain dengan ayahmu di ruang keluarga, tak berapa lama terdengar suara keributan ibu yang terkejut langsung mengintip dari balik pilar dan di saat yang bersamaan teringat seorang pria mengayunkan pedangnya ke arah kalian, dan dengan sigap ayahmu memelukmu dalam dekapannya membiarkan punggung dan leher belakangnya menjadi sasaran pedang itu ...."
__ADS_1
*Lanjut ke sebelah lagi ya, nanti author teruskan real life sudah melambai. Update lagi jam 3 sore ya.