
"Lama tak jumpa, Els." Seorang pria berperawakan sedang dengan kulit putih dan rambut pirang berdiri tegap di depan pintu.
Sedangkan di sebelahnya seorang wanita cantik namun dengan wajah murung berdiri tegang dengan wajah sesekali menunduk takut .
"Ka- kau ... Ed?" cicit Nyonya Ellen pelan.
Tak lama tampak Tuan Bryan baru saja kembali dari menelpon di balkon. Dia juga tampak sama terkejutnya dengan Nyonya Ellen.
"Edwin?" serunya kaget.
Pria yang di panggil Edwin itu menyeringai.
"Hai, Kakak."
Tuan Bryan berjalan cepat menuju istrinya dan merangkulnya dengan erat, wajahnya menyiratkan ketakutan walau tak begitu dia tunjukkan.
"Mau apa kau kemari hah? Jangan lagi ganggu aku dan keluarga ku, ingat janji mu, Ed!"
Edwin berjalan mendekat, Tuan Bryan perlahan mundur sambil menarik tubuh istrinya. Sarah dan Axel yang ada di sana juga tampak bingung namun pun mulai ketakutan, melihat orang tua nya bersikap seperti itu.
"Aku tidak datang untuk mengganggu, memangnya apa yang aku lakukan?" Edwin berjalan mendekati box para bayi.
Axel bergerak cepat, dan menghalangi pria itu dari bayi bayinya.
"Jangan sentuh anak anakku!" serunya garang.
Edwin tersenyum miring, sambil menarik kembali tangannya yang sudah akan menyentuh pipi bayi perempuan Axel.
"Owww, tenang, Son. Kau begitu ketakutan, kau tau? Aku juga termasuk kakek dari anak anakmu."
Edwin berjalan lagi, kali ini mendekati Tuan Bryan dan Nyonya Ellen. Tapi tidak untuk berbuat apa apa, dia hanya menjatuhkan bobot tubuhnya ke atas sofa dan minum minuman kemasan yang ada di sana.
"Beginikah cara kalian melayani tamu? Aku hanya ingin menjenguk para cucu ku, tapi lihat lah apa yang kalian lakukan. Kalian memperlakukan aku dan istriku seperti penjahat saja," celetuk Edwin ringan.
"Pergilah, Ed. Kami sudah tidak punya urusan apapun dengan penjahat seperti mu!" bentak Tuan Bryan meninggi.
"Tenanglah, Kak. Aku kan sudah bilang kalau aku hanya ingin menjenguk para cucu ku. Apa kau tidak mendengar? Atau telinga tuamu itu mulai tuli?" ejek Edwin tanpa rasa takut.
__ADS_1
Wajah Tuan Bryan memerah sepertinya pria yang baru saja resmi menyandang status kakek itu mulai geram akan tingkah adik tirinya itu.
"Pergilah, Ed. Sebelum aku lupa kalau kau adalah saudara ku!"
Edwin berdiri dan bertepuk tangan.
Clap
Clap
Clap
"Wahahahah, sepertinya kakak ku ini memang ketakutan. Padahal aku belum sempat berbuat apapun, apa kau takut kalau apa yang ku lakukan pada ayah dan ibu akan ku lakukan juga padamu, Kakak?" seringai Edwin tampak sangat menyeramkan.
Wajah nyonya Ellen sudah pucat sejak tadi, dia memeluk suaminya dengan erat seakan tak ingin di pisahkan hingga ancaman itu pergi dari hadapan.
"Katakan apa yang kau mau, dan cepat pergilah dari sini!" bentak Tuan Bryan tak sabar.
Edwin lagi lagi tersenyum sinis, sambil berjalan-jalan pelan mengitari ruangan membuat semua yang ada di sana perlahan menyingkirkan menjauhi nya.
"Katakan, aku akan lakukan apapun asalkan kau mau pergi dari sini dan tak kembali lagi untuk menunjukkan diri pada ku maupun seluruh keluarga ku!"
"Baiklah, tawaran yang luar biasa. Sepertinya kau memang sangat menyayangi keluarga mu ya, Kak. Sejak dulu kau selalu lebih mementingkan keluargamu ketimbang yang lainnya. Hingga lihatlah sekarang, jika bukan karna berlindung di bawah ketiak istrimu, mungkin saat ini kau sudah menjadi gelandangan di kolong jembatan sana. Hahahaha," ejek Edwin semakin keterlaluan. B
Bahkan tawanya membahana hingga ketiga bayi Axel dan Sarah mulai terganggu dan merengek.
Axel yang tak terima anak anaknya terganggu langsung merangsek maju dan menghantam rahang pria aneh itu.
Buaaaghhhhhh
"Jangan banyak bac*t! Kau mengganggu anak anak ku!" hardik Axel geram.
Edwin yang sudah terkapar di lantai hanya menyeringai seolah tak merasakan sakit atau apapun akibat pukulan Axel, walah sudut bibirnya tampak berdarah namun dia bisa berdiri tegak lagi seperti biasa.
"Wah wah, sepertinya menantu mu ini juga mewarisi sifat penyayang keluarga seperti mu ya, Kak. Keluarga yang menyenangkan, dan aku benci itu."
"Jangan banyak bicara lagi, jika tidak ada hal yang ingin kau bicarakan silahkan keluar. Atau aku dengan senang hati akan menyeret mu!" bentak Axel.
__ADS_1
Nyonya Ellen yang tak tega, langsung keluar dari dekapan Tuan Bryan dan mengambil cucu cucunya untuk di pindahkan ke sisi Sarah agar mereka bisa lebih tenang. Tuan Bryan juga turut membantu selagi Edwin di urus oleh Axel.
"Saranku, lebih baik kau jangan terlalu banyak ikut campur, Son. Aku hanya takut kalau nanti kau malah terkana serangan jantung dini jika Ijut masuk ke dalam urusan kami."
Axel tak peduli, dan dengan geram dia langsung menarik tubuh Edwin untuk keluar dari ruangan VVIP tersebut.
"Bedeb*h!" umpatnya garang.
Dia menarik kasar bahu Edwin, membuat pria yang tingginya tidak lebih dari bahu Axel itu dengan pasrah mengikutinya. Walau sejak tadi wajah tengilnya tak kunjung hilang.
Wanita yang datang bersama Edwin tadi turut mengikuti mereka, namun dia tak melakukan apapun selain hanya melihat apa yang mereka lakukan.
Tuan Bryan menyusul keluar dan tak lupa menutup kembali pintu ruangan Sarah agar Edwin tak bisa sembarangan masuk lagi.
"Sekarang katakan apa tujuanmu datang ke mari, atau kau akan menghuni salah satu dari ruangan di rumah sakit ini. Dan akan aku pastikan kau akan lama keluar dari sini," desis Axel mengancam.
Matanya berkilat dingin dengan kemarahan yang sudah memuncak. Dia sangat tidak suka jika anak anaknya ada yang mengusik, dia akan menghancurkan orang itu hingga ke akar akarnya. Segitu sayangnya Axel pada buah hatinya hingga tak peduli jikalau dia harus masuk bui karna melindungi anak anaknya.
"Katakan, Ed. Jangan membuaf situasinya semakin runyam, tolonglah semua sudah di berikan padamu dulu. Tapi sekarang ku mohon jangan lagi kau ganggu aku dan keluarga ku. Aku mohon padamu, Ed." Tuan Bryan menimpali.
"Ohhh,kakak ku. Percayalah kalau aku hanya berkunjung untuk menjenguk para cucu ku. Kenapa kau sangat sulit untuk percaya itu?" sahut Edwin.
Namun wajahnya sama sekali tidak menampakkan itu.
"Kau pikir aku tidak bisa melihat niat jahat yang ada di matamu itu hah? Kau benar benar ingin menjadi penghuni abadi di sini rupanya," ancam Axel lagi.
Edwin mengangkat tangannya dan berpura pura menyerah, walau seringai mengejek masih nyata di wajahnya.
"Baiklah, baiklah. Aku tidak di percaya rupanya di sini, sebaiknya aku pergi. Tapi sebelum itu kabulkan dulu permintaan ku ini."
"Katakan, jangan terlalu memanjang urusan!" bentak Axel tak sabar.
.
Dia mencengkram kerah baju Edwin lebih keras, hingga pria itu merasa lehernya mulai tercekik.
"Beritahu aku, dimana mertuamu itu dulu menitipkan anakku? Aku membutuhkannya saat ini untuk bisa mengambil warisan orang tua ku!"
__ADS_1