
Pagi mulai merangkak naik, mengganti pagi menjadi siang perlahan. Cuaca cerah hari ini, di gunakan Jeni untuk bertandang ke rumah sakit dimana Nek Minah masih di rawat, ucap suaminya yaitu Gus Musa kondisi Nek Minah sudah mulai stabil hanya perlu banyak istirahat saja.
"As, kamu ikut ya," pinta jeni pada Asiyah yang saat itu menemaninya mencuci botol susu milik Abbas di dapur.
"Iya, Mbak. Asy juga mau jengukin Nenek." Asiyah mengangguk mantab.
"Ganti baju di sini aja, As. Kebetulan Mbak ada beberapa baju yang mau di kasih buat kamu," tukas Jeni sebelum berlalu.
Walau merasa aneh, namun Asiyah akhirnya mengiyakan saja dan membuntuti Jeni menuju kamarnya. Di sana tampak baby Abbas tengah anteng bermain di playmate nya, dan berbagai mainan bayi juga tersedia di sana siapa lagi pelakunya kalau bukan Gus Musa.
Jeni berjalan menuju lemari baju besar yang baru dua hari ini menjadi tempat pakaiannya juga, di bukanya dan di pilahnya beberapa pakaian yang sebenarnya masih sangat muat di tubuhnya.
"Loh, Mbak Jen ini kan masih sering Mbak pake." Asiyah melayangkan protes, bukan karna tak suka tapi hanya sungkan jika sampai pemberian itu malah membuat Jeni kekurangan.
Jeni menatap lekat beberapa stel baju di tangannya, dan tersenyum kecil.
"Kamu nggak suka ya? Ini nggak sering Mbak pake kok. Baru dua kali kalau nggak salah, timbangan Mbak naik jadi agak sempit di pakai. Makanya Mbak kasih kamu, timbang mubazir," pungkas Jeni coba membujuk.
Asiyah tampak ragu ragu, namun melihat kesungguhan Jeni memberikan pakaian itu untuknya akhirnya dia mau juga menerima.
"Ya sudah, Asy terima ya, Mbak. Terima kasih banyak, semoga rejeki Mbak dan keluarga di limpahkan sama Gusti Allah SWT."
"Amiiinnn," sahut Jeni tulus, sedang baby Abbas kini tampak bertepuk tangan dan tertawa tawa melihat tingkah ke duanya.
Karna gemas Asiyah mengangkat tubuh mungil itu dan memindahkannya ke atas kasur lalu mulai menggodanya membuat baby Abbas tertawa ngakak karna di ciumi Asiyah di tengkuknya.
"As, ganti dulu bajunya. Di sini aja, nggak usah di kamar mandi toh cuma ada Mbak juga," ucap Jeni sarkas.
Asiyah kembali mengerutkan keningnya dalam, merasa aneh dengan permintaan Jeni hari ini. Padahal biasanya dia yang paling malu jika ada yang ganti pakaian di hadapannya, kini malah minta Asiyah berganti pakaian di kamarnya saja tanpa memintanya ke kamar mandi.
"Tapi, Mbak." Asiyah ingin protes namun langsung di sela oleh Jeni.
__ADS_1
"Biar cepet aja, Mbak juga mau ganti baju kok jadi nggak bakalan ngintipin kamu, tenang aja."
Asiyah akhirnya kembali mengalah, mengambil satu stel dari tiga pasang baju yang di berikan Jeni padanya dan mulai membuka pakaiannya sendiri untuk di ganti.
Jeni turun dari kasur, membuka lemari dan membiarkan pintunya terbuka menjadi penghalang baginya dan Asiyah agar tak saling lihat.
Usai berganti pakaian merekapun berangkat ke rumah sakit dengan memesan taksi online, sebelumnya tentu saja Jeni sudah meminta izin suaminya untuk ke sana.
Tak butuh waktu lama, akhirnya lima belas menit kemudian mereka sudah sampai di depan pelataran rumah sakit, Jeni turun dan membayar sejumlah harga yang sudah di tentukan oleh aplikasi sedangkan baby Abbas di gendong oleh Asiyah.
"Nah kan bajunya cocok sekali sama kamu, As. Cantik sekali," celetuk Jeni sembari memindai tubuh gadis manis itu dari ujung jilbab di kepalanya hingga ujung gamis yang melambai sampai melewati batas mata kakinya.
Asiyah tersenyum sungkan dan merekapun berjalan beriringan untuk menuju ke ruang rawat Nek Minah yang sudah di beri tahu Gus Musa sebelumnya.
Jeni berjalan dengan semangat, Khimar besarnya melambai lambai terkena angin siang. Membuatnya tampak anggun dan cantik sekali di pandang mata walau tanpa make up sama sekali di wajahnya.
"Loh, Pak Ismail?" sentak Jeni saat baru saja akan mengetuk pintu ruangan Nek Minah, namun pintunya malah terbuka dari dalam dan sosok menyedihkan pria itu keluar dari sana.
"Dek Jen, udah sampe?" celetuk Gus Musa dari dalam ruangan, melihat itu cepat cepat Pak Ismail menghindar dan berlalu pergi dari hadapan Jeni begitu saja tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Tapi memangnya apa yang diharapkan Jeni akan di ucapkannya? Kata maaf? Atau bilang kalau bayinya mirip dia? Hah, tentu tidak sama sekali bukan.
Jeni menyalami tangan suaminya dan tak lagi memperhatikan Pak Ismail yang terus berjalan menjauh, dan tidak bertanya apapun juga pada suaminya untuk menjaga perasaannya.
Gus Musa membawa mereka masuk dan mengambil baby Abbas dari gendongan Asiyah. Jeni dan Asiyah langsung mendekati Nek Minah yang kini sudah tampak lebih segar dari pada sebelumnya.
"Nek, Nenek gimana kondisinya?" tanya jeni sembari mengenggem tangan tua Nek Minah dan menempatkannya di pipinya.
Nek Minah tampak tersenyum lebar sekali.
"Alhamdulillah, nenek sudah baik baik saja. Bukan cuma fisik nenek tapi juga hati Nenek," sahut Nek Minah sumringah.
"Maksud Nenek?" tanya Jeni tak mengerti.
__ADS_1
Nek Minah kembali tersenyum. "Anak nenek, Ismail sudah minta maaf pada Nenek. Dan mengembalikan semua yang sudah dia ambil pada nenek, bukan hanya surat tanah yang sekarang ada pada kamu tapi juga perhiasan dan terutama kepercayaan dan kasih sayang nenek padanya."
Mata tua Nek Minah berkaca-kaca, tapi bibir tua itu tersenyum terus seakan tak ada lagi beban dalam hidupnya.
"Alhamdulillah, kami ikut senang, Nek dengarnya. Semoga setelah ini Nenek dan anak Nenek bisa hidup rukun dan berdampingan ya, Nek." Jeni melambungkan doa tulusnya untuk Nek Minah.
"Dan mungkin, setelah ini Nenek akan tinggal di rumah sama anak Nenek, Jen. Maaf kalau selama tinggal bersama kalian Nenek banyak merepotkan, terutama kamu, Cah ayu." Nek Minah mengelus tangan Asiyah yang ada di sisinya.
Asiyah mengangguk dan tersenyum lembut pada Nek Minah. Nek Minah kembali beralih pada Jeni.
"Kapan pun kalian mau, nanti bertandang lah ke rumah Nenek lagi ya," ucapnya tenang.
Jeni tak bisa lagi menahan air matanya, dengan memeluk Nek Minah Jeni menumpahkan semua sesaknya di dalam dada sambil mengucapkan semua rasa terima kasihnya yang tak terhingga pada kebaikan Nek Minah pada dia dan Abbas dulu.
****
Sementara itu di rumah Sarah.
(Bagaimana hasilnya, Jen?) ketik Sarah di layar ponselnya, sebuah kontak dengan nama Jeni dengan foto profil sebuah gambar pernikahan itu menjadi tujuannya.
Chat yang semula hanya centang dua abu kini langsung berubah menjadi biru, di ikuti tulisan mengetik di atasnya.
Sarah menunggu dengan tak sabar, dengan jantungnya yang turut berdebar tak karuan.
Kling
Sebuah pesan balasan masuk dari kontak bernama Jeni, dengan cepat Sarah membukanya dan menutup mulutnya tak percaya.
(Sesuai perkiraan, Mbak. Tanda itu ada!)
balasan dari Jeni masuk di ikuti sebuah foto yang turut dia kirim, mata Sarah seakan ingin lepas dari tempatnya demi melihat gambar yang baru saja masuk ke ponselnya itu.
__ADS_1
"I- ini, ini ...."