MEMBALAS GUNDIK SUAMIKU

MEMBALAS GUNDIK SUAMIKU
Chapter 181.


__ADS_3

Alam memutar mobilnya, menjauh dari pelataran rumah sakit jiwa dimana dia baru saja menurunkan Juli sebelumnya. Masih bisa di lihatnya kalau wanita yang saat ini tengah mengandung anaknya itu mencak mencak sambil menghentakkan kakinya di tanah, tatapannya tajam ke arah mobil Alam yang terus melaju menjauh.


"Maafkan Mas, Jul. Mas lelah," gumam Alam sembari melajukan mobilnya semakin kencang menuju arah pulang ke desanya.


"Mas Al!!!  Jangan tinggalin aku, Mas!" seru Juli berusaha memanggil Alam yang sudah menjauh dengan mobilnya.


Air matanya menganak sungai, kebingungan melanda hatinya. Apa yang harus dia lakukan sekarang? Dia ingin ke sebuah toko kue tapi Alam malah menurunkannya di depan sebuah rumah sakit jiwa. Kadang dia berpikir apa suaminya itu waras? Masa istri lagi hamil di tinggal begitu saja di tempat asing yang dia tidak tahu bagaimana caranya pulang.


Juli menangis keras, hingga mengundang perhatian orang orang yang tengah berjaga di dalam pos rumah sakit.


"Orang waras apa orang kurang waras?" bisik salah satunya pada temannya yang melihat juli dari kejauhan.


Temanya mengangkat bahu. "Mana ku tahu, sudah ayo tanya saja."


Ke dua penjaga rumah sakit jiwa itu berjalan beriringan mendekat ke arah Juli yang masih terisak di depan sana.


Klang!


Penjaga itu membuka rantai yang melilit di pagar rumah sakit jiwa tersebut, suaranya yang nyaring membuat Juli menoleh ke arah mereka berdua.


Salah satu penjaga itu menoleh. "Guh, sepertinya memang penghuni baru."


Penjaga yang bernama Teguh itu mengangguk, lalu perlahan mendekati Juli yang saat ini riasan di wajahnya sudah cemang cemong akibat terkena air mata. Begitulah namanya make up murah, tidak waterprup.


Juli menatap bingung saat dua penjaga itu mendekatinya dan memegang tangannya .


"Hei, apa apaan kalian pegang pegang?" bentak Juli sembari menepis kasar tangan yang coba menyentuhnya itu.


"Wah, agresif rupanya, Guh."


"Iya, Jok. Ayo sergap sajalah, biar cepet selesai." Teguh memberi aba aba.

__ADS_1


Mereka saling pandang, setelah di rasa kuda kudanya mantab. Ke duanya langsung maju dan memegangi ke dua tangan Juli. Kemudian dengan sedikit memaksa membawanya masuk ke dalam lingkungan rumah sakit jiwa yang penuh dengan orang orang yang kurang waras akibat kerasnya terpaan hidup ini.


"Hei! Apa apaan ini? Dasar orang gila! Kenapa saya di bawa masuk ke sini ha? Memangnya saya gila?" teriak Juli lagi masih berusaha melepaskan diri dari pegangan Teguh dan Joko, dua penjaga pos keamanan rumah sakit jiwa itu.


Teguh dan Joko tertawa besar hingga beberapa penghuni rumah sakit jiwa itu ikut tertawa karenanya.


"Hahahaha, gila teriak gila dia, jok."


"Iya, Guh. Nggak sadar diri, hahahah."


Juli tercengang, rupanya dia baru sadar kalau dia benar benar di anggap pasien orang gila seperti orang orang penghuni di sana.


Juli menangis meminta pertolongan, namun sayang di sana memang ada banyak orang. Tapi kan tidak ada yang cukup waras untuk bisa menolongnya.


"Siapa, Guh?" tanya seorang pria berseragam putih yang sepertinya adalah dokter di rumah sakit tersebut.


Beliau baru saja keluar dari dalam sebuah ruangan.


"Pasien baru kayaknya,  Pak. Di tinggal begitu saja di depan gerbang sana." Teguh menjawab dengan entengnya.


"Pak dokter! Tolong saya , Pak. Orang orang ini salah tangkap, saya bukan orang gila. Saya cuma di tinggal suami saya, dan sebentar lagi dia pasti jemput saya di sini. Tolong lepaskan saya, nanti suami saya nyariin!"


Juli menarik narik tangannya berharap agar dokter itu bisa membantu bicara pada ke dua penjaga itu agar melepaskannya. Dia tahu Alam pasti akan kembali dan menjemputnya lagi setelah ini. Dia tidak mau Alam malah tidak menemukannya dan memilih pulang sendiri nanti.


Tak terbayang di benak Juli jika harus menghabiskan waktunya di rumah sakit jiwa begini. Di tambah lagi dia tengah hamil saat ini.


"Kalian lihat, siapa yang taruh dia di depan?" tanya dokter itu.


Teguh dan Joko sontak menggeleng. "Nggak, dok. Tahu tahu sudah ngamuk ngamuk aja di depan sana. Nangis nangis, teriak teriak juga."


Dokter itu tampak manggut-manggut, ranbutnya yang mulai memutih membuat Juli teringat akan bapak mertuanya yang sering dia suruh mengambilkan berbagai jenis barang dan buah buahan selama hamil tanpa peduli kalau lelaki tua itu sedang lelah atau sakit. Juli menyesal karna sudah memperlakukannya dengan buruk, dan sempat berpikir apakah ini karma untuknya.

__ADS_1


"Kalau begitu, bawa saja dulu. Taruh di ruangan ujung saja nanti saya periksa setelah urusan saya selesai."


Dokter itu berlalu. Meninggalkan Juli dengan semua harapan agar bisa di lepaskan. Hingga akhirnya dia pasrah saja saat dua penjaga itu membawanya ke dalam sebuah ruangan yang pintunya mirip sel penjara. Memasukajnya ke dalam dan mengunci pintunya.


"Tolong, tolong jangan kurung saya di sini. Nanti kalau suami saya datang lagi bagaimana?". isak Juli mencoba menghiba agar di bebaskan.


Namun dua penjaga itu malah mengerutkan keningnya menatap padanya.


"Mas Al, tolong!" jerit Juli mulai tergugu lagi, ketakutan mulai merambah batinnya membuatnya bahunya bergetar dan tubuh tambunnya merosot jatuh ke lantai.


"Nah kan, Guh. Apa saya bilang? Sudah ayo kita tinggal, biar nanti dokter saja yang periksa."


****


Sementara itu.


Di rumah besar Sarah dan Axel yang sat ini di kosongkan sementara karena Andrew meminta mereka tinggal di rumahnya dulu. Di sana Andrew berada , dengan Axel dan juga beberapa anak buahnya.


Mereka tengah berdiri di depan sebuah jalan rahasia yang sebelumnya di temukan Axel saat mencari Sarah yang tiba tiba menghilang dari kamarnya dan di temukan di dalam sana.


"Sebenarnya ini ruangan apa?" gumam Andrew bertanya pada dirinya sendiri, sembari mengusap tepian pintu rahasia yang tersembunyi di balik lemari buku itu dengan tangannya.


Tekstur kasar terasa, seperti tanah yang mengering dan padat. Andrew menarik tangannya dan memindainya sesaat. Benar saja bau tanah menguar dari sana.


"Bagaimana Peter bisa tahu tentang ruangan ini, Pa? Bahkan kami yang bertahun tahun tinggal di sini pun tak ada yang pernah tahu letak ruangan rahasia ini," guman Axel sembari menghidupkan senter dan menyoroti bagian dalam ruangan yang sebelumnya ini sudah dia lewati namun tak begitu dia perhatikan karna lebih fokus untuk menyelamatkan Sarah yang saat itu suara teriakannya mencapai tempat mereka berdiri saat ini.


"Anak itu tidak mau mengaku saat Papaa tanya kemarin, entahlah apa tujuannya melakukan semua ini. Yang jelas , dia pasti sudah lama tahu tentang ruangan ini hingga tak sulit baginya menemukanya di antara semua pintu yang ada." Andrew berhipotesis.


"Yah, sepertinya Papa benar. Bagaimana ... kalau kita telusuri dulu tempat ini, sepertinya akan ada jawabannya di dalam sana." Axel menberi ide tanpa gentar, padahal ruangan yang berdinding tanah dan agak menurun itu mempunyai tempat yang gelap dan juga lembab.


"Kamu yakin?" tanya Andrew.

__ADS_1


Axel mengangguk, dan mereka pun mulai bergerak memasuki ruangan misterius itu.


"Semoga jawabannya memang ada di dalam, bukan hanya tentang kasus Sarah. Tapi juga jawaban dari misteri yang lainnya." Andrew menggumam.


__ADS_2