MEMBALAS GUNDIK SUAMIKU

MEMBALAS GUNDIK SUAMIKU
Chapter 165.


__ADS_3

 Tak berapa lama Amelie ternyata sudah selesai dengan somaynya, melangkah dengan anggun untuk kembali ke rumah kontrakan Satrio.


 Menghirup udara yang rasanya sudah sangat lama tak dia rasai.


"Ah, nikmatnya begini. Terima kasih, Tuhan telah kau kembalikan lagi buah hati dan semangat hidupku. Rasanya aku tak akan bisa berhenti bersyukur," gumamnya senang.


"Aish, dimana kekasihmu?" tanya Amelie setelah kakinya menapaki pelataran rumah Satrio..


..


 Aish tampak mengulum senyum. "Ada, Mi. Sini duduk di sini, Mi."


 Aish bergeser dan memberi ruang untuk Amelie duduk di sebelahnya.


"Wah, somaynya kelihatan enak. Ayo kita makan dulu." Amelie memberikan bungkusan yang di dalamnya terdapat beberapa bungkus somay ke tangan Aish.


 Aish menerimanya dan mereka pun mulai makan dari ketenangan.


"Permisi," gumam Satrio yang ternyat sudah selesai dengan urusan mendadaknya di dalam rumah.


"Ah, iya?"


 Amelie dan Aish berbalik, dan betapa takjubnya mereka melihat penampilan Satrio yang sangat rapi dan juga wangi.


 Rambut yang di sisir rapi, pakaian yang rapi, licin dan wangi seperti baru saja si setrika juga senyuman yang menawan di wajah yang tampak baru saja di cukur dari rambut rambut nakal.


"Mas, ini kamu?" gumam Aish.


 Satrio duduk di hadapan Aish dan tersenyum. "Iya, dek Ai siapa lagi?"


"Anak Mami memang tidak salah pilih, calon menantu Mami tampan sekali," celetuk Amelie sembari meminum sirup dari gelas Aish.


 Satrio tampak tersipu malu, wajahnya yang memerah dia sembunyikan dengan menunduk dan menuang es sirup ke dalam satu gelas lagi dan menyajikannya pada Amelie.


"Hummm ... jadi ... kapan? Kamu akan melamar putriku, Nak?" tanya Amelie mendadak.


"Uhuk, uhuk." Aish menutup hidungnya yang terasa pedas dan panas karna tersedak.


 Cepat cepat Satrio memberinya minum, yang langsung di tenggaknya hingga tandas.


"Mami, kenapa bicara begitu?" bisik Aish malu malu.


 Amelie mengulum senyum. "Ya karna Mami mau gendong cucu lah, Nak. Waktu kamu bayi dulu Mami bahkan belum sempat mengendong kamu tapi kamu dan Asy sudah menghilang. Apa salahnya kalau sekarang Mami ingin menggendong cucu dari kalian? Toh kalian bukan anak kecil lagi, Nak."

__ADS_1


 Aish dan Satrio tampak saling tingkah, namun dengan segenap keberanian yang dia miliki Satrio pun menjawab. " Insyaallah secepatnya saya akan melamar Aish, Tante."


****


 Asy merenung di sudut ruangan kamarnya, di sini seorang diri membuat dia merasa berada di dalam dilema yang luar biasa.


"Mas, kenapa kamu pergi?" gumamnya menatap langit yang mengumpulkan awan di tengahnya, seolah menutupi bumi dari menatap keindahannya.


 Asy mengembuskan napas panjang, menarik kepalanya dari tepian jendela dan beralih menuju cermin.


 Asy berdiri di sana, mengusap perutnya tampak rata dengan tatapan sedih dan bingung.


"Apa kalau aku bersedia memberikan satu keturunanku untuk mu, aku akan bisa lebih tenang, Mas? Kenapa rasanya sesak sekali?" gumam Asy lagi, terbayang lagi olehnya saat saat dimana Alam menanyakan pendapatnya akan permintaanya yang mungkin saja akan menjadi yang terakhir.


*Flashback


 Di rumah sakit kala itu.


 Hujan turun dengan derasnya kala itu, di lagi hari kala berita tentang menghilangnya Rahman tersebar dan Ed langsung pergi bersama beberapa anak buahnya untuk mencarinya.


 Di ruangan rumah sakit, Asy tak hentinya menangis membuat Alam iba melihatnya.


"Dek," panggil Alam lemah, Asy tampak terkesiap mengusap cepat air mata yang mengalir di pipinya dan tersenyum kecil.


 Alam menggeleng, lalu dengan perlahan dia meraih tangan Asy dalam genggamannya. Sesuatu yang bahkan belum pernah dia lakukan semenjak mereka sah menikah di hadapan penghulu.


 Asy tampak tersentak kaget, namun dia sama sekali tak menarik tangannya dari genggaman Alam. Mungkin juga, karna rasa kasihan melihat wajah Alam yang pucat dan tubuhnya yang demikian lemah.


"Ada apa, Mas? Katakan, jangan membuatku takut?" gumam Asy dengan mata yang kembali berkabut.


"Tidak apa, Mas mencintaimu, dek."


 Asy terhenyak, memegangi dadanya yang terasa tercubit.


"Ta- tapi ... Mas," lirih Asy gugup.


 Alam kembali mengulas senyum padanya. "Iya, Mas tahu kamu mencintai ustadz itu. Mas tidak akan memaksa kamu untuk mencintai Mas. Tapi ... bisakah kamu menerima pilihan dari Mas, dek?"


 Kening Asy tampak membentuk kerutan. "Pilihan? Pilihan apa, Mas?"


 Alam menarik nafas dalam sebelum menyampaikan maksudnya. "Mas akan melepaskanmu dengan ikhlas, tetapi tolong lahirkan satu penerus saja untuk Mas, untuk orang tua Mas di kampung sana. Kasihan mereka yang tidak tahu apa apa jika Mas pergi nanti," papar Alam dengan suara serak.


 Lagi lagi Asy terhenyak, dan tak mampu menggerakkan lidahnya untuk menjawab hingga Alam kembali melanjutkan kalimatnya.

__ADS_1


"Tapi, jika kamu tidak mau Mas tidak akan pernah memaksa kamu, dek. Mas akan melepas kamu jika itu kemauan kamu, tapi ... jika nanti Mas sudah pergi tolong sering seringlah datang jenguk orang tua Mas di kampung sana, anggaplah mereka sebagai orang tua kandungmu sendiri, dek."


Air mata Alam tampak mengalir di sisi wajahnya, Asy yang tak tega menghapusnya lembut membuat Alam sontak menoleh padanya.


"Semua Mas lakukan karna Mas hanya mencintai kamu, dan sampai akhir nanti pun akan tetap mencintai kamu," imbuh Alam dengan senyum di bibirnya.


 Hari Asy terenyuh, bukan karna dia sudah membuka hatinya untuk Alam tapi karna ketulusan luar biasa yang dia tangkap dari pancaran mata pria yang masih berstatus suaminya itu.


"A- Asy ... Asy nggak bisa memilih, Mas." Asy terisak pelan.


"Tidak apa, kamu nggak perlu menjawabnya sekarang, jawablah saat nanti kamu sudah punya pilihan yang tepat. Tapi, Mas harap jangan terlalu lama karna kamu pun tahu waktu Mas bisa berakhir kapan saja," jawab Alam lagi lagi membuat Asy tak berdaya, ingin rasanya saat itu Asy menghambur ke dalam pelukannya namun Asy tak kuasa melakukannya.


 Dan keadaan itu berlanjut dalam keheningan hingga Alam memilih memejamkan matanya untuk beristirahat, meninggalkan Asy dalam kebingungannya sendiri.


*Flashback end.


  Galau terlalu lama di rumah, membuat Asy akhirnya memutuskan untuk pergi ke pondok. Ingin menghirup udara segar sekaligus menjenguk Jeni yang sebentar lagi akan mengadakan syukuran tujuh bulanan kandungannya.


"Assalamu'alaikum," ucap Asy di depan rumah ndalem'.


"Wa'alaikumsalam, eh neng Asy. Ayo ayo masuk, kok sendirian? Suaminya mana?" tanya Umi Nafisah yang menyambut kedatangan Asy di depan rumah.


 Umi Nafisah menuntun Asy masuk ke dalam rumah, lalu meninggalkannya sejenak untuk memanggil Jeni.


"Eh, Asy ... ya ampun lama nggak main ke sini?" sambut Jeni sembari memeluk dan mencium pipi kanan kiri Asy.


"Iya, Mbak kemarin Mas Al sakit jadi nggak bisa kemana mana?"


 Jeni mempersilahkan Asy duduk di kursi tamu berdampingan dengannya.


"Oh ya, sakit apa?"


 Asy hanya tersenyum simpul, rasanya masih sungkan untuk memberitahu orang lain perihal penyakit yang di derita Alam, walau sebenarnya Alam sama sekali tidak memintanya merahasiakan apapun.


"Jen, saya mau pamit pulang dulu ya." suara seseorang memutus obrolan Jeni dan Asy, yang seketika membuat Asy lega karna tak perlu lagi menjawab pertanyaan Jeni sebelumnya.


"Ah, Mbak Sarah mau pulang? Apa sudah ada yang jemput?" Jeni bangkit dan memegang tangan perempuan yang di kenal Asy sebagai teman Jeni itu.


 "Sudah, barusan suami saya sudah telepon."


 Sarah memiringkan kepalanya saat melihat seseorang di belakang Jeni, wajahnya yang masih tampak sembab membuat Asy sedikit heran.


"Lho, Aish kamu di sini juga?" tanya Sarah yang sepertinya lagi lagi salah mengenali Asy.

__ADS_1


__ADS_2