MEMBALAS GUNDIK SUAMIKU

MEMBALAS GUNDIK SUAMIKU
Chapter 209.


__ADS_3

 Sarah menggiring anak anaknya masuk ke dalam rumah untuk bertemu Axel. Wajah mereka tampak menunjukkan kebahagiaan yang tak terbendung. Dari ambang pintu tempatnya berdiri Sarah menatap haru bagaimana anak anaknya bergantian menciumi wajah Axel dengan riang.


 Namun kala kaki Sarah hendak melangkah mendekati mereka, sebuah suara mengagetkan nya dari arah belakang.


"Wah wah wah, sepertinya aku datang di saat yang kurang tepat. Tapi ... sudah tidak banyak lagi waktu yang tersisa untuk kalian."


 Sarah cepat berbalik, wajahnya menegang kala mendapati wajah yang tak ingin dia temui itu kini ada di depan matanya.


 Belum lagi pemandangan di depan sana, dimana orang orang yang di sewa Andrew telah jatuh bergelimpangan karena perlakuan anak buah si musuh.


"Berhentilah menatapku begitu, Sarah. Aku hanya datang untuk mengambil hak ku yang sudah kau rampas," ucap si pria botak dengan wajah sumringah, namun malah membuat Sarah muak melihatnya.


 Mendengar kasak kusuk di luar rumah, membaut Andrew bergegas keluar untuk melihat apa yang terjadi. Dan apa yang menjadi responnya pun sama dengan apa yang terjadi pada Sarah sebelumnya. Tercengang.


"Memangnya apa yang sudah ku rampas dari mu, Mas? Bahkan selama ini pun kau yang sudah menipuku bukan?" hardik Sarah mulai kesal.


 Matanya menatap nyalang pada wajah pria yang ada di depannya itu, walau kini di belakang pria itu tampak berjajar para anak buahnya sedikit pun tak membuat Sarah takut dan gentar, sudah cukup selama ini dia diam dan memilih menghindar. Kini bukan waktunya lagi untuk lari, selagi bisa maka Sarah bertekad akan menghadapi.


"Hei hei, tenanglah. Jangan marah marah begitu, baiklah aku minta maaf aku yang salah bicara. Ya ya bukan kau yang merampas semuanya, tapi ... orang tuamu yang sudah jadi tanah itu lah pelakunya. Haah, harusnya saat itu aku tidak usah langsung membunuh mereka ya akan lebih baik kalau waktu itu aku meninggalkan mereka dalam kondisi sekarat, pasti akan lebih menyenangkan melihatmu melolong panjang karena histeris melihat kondisi mereka," kekeh pria itu mengejek.


 Rahang Sarah bergemeletuk, dia geram sekali mendengar perkataan si botak itu. Ingin rasanya dia melempar bom ke hadapannya agar mulutnya itu diam.


"Jaga bicara mu, kurang ajar. Apa kau tidak pernah di ajari oleh orang tuamu tentang sopan santun?" bentak Andrew yang turut merasa tak suka kala menantunya itu di hina, walau Andrew pun sebenarnya tak begitu menyukai almarhum orang tua Sarah namun dia tahu Sarah tak sedikit pun menuruni sifat serakah ke dua orang tuanya yang berkedok malaikat penolong itu.


"Cheh." Pria botak itu berdecak, raut wajahnya tampak meremehkan. "Apa kau bilang tadi orang tua yang hobinya lari dan sembunyi? Sopan santun? Di ajari? Siapa yang mau mengajari ku sopan santun kalau orang tuaku saja meregang nyawa dengan cara tragis di depan mataku karna ulah orang tua wanita ini?" bentak pria botak itu dengan wajah mengeras tegang.


 Sarah terhenyak, pria itu benar dan saat ini posisinya sudah terpojok.


 Sarah melirik ke arah Andrew, mereka hanya berdua saat ini. Tak banyak yang bisa mereka lakukan mengingat pihak musuh membawa sangat banyak bala bantuan. Sedang orang orang yang di sewa itu kini masih terkapar di tanah entah pingsan atau apa Sarah juga tidak tahu pasti apa yang sudah mereka lakukan hingga para orang orangnya menjadi tak berdaya seperti itu.


"Apa lagi yang ingin kalian katakan? Semua yang kalian sanggah aku akan punya jawaban yang menohok untuk melawannya. Jadi lebih sekarang kalian menyerah dan biarkan aku mengambil kembali apa yang seharusnya menjadi milikku." Pria botak itu maju ke depan Sarah, menatap dalam matanya lalu duduk di kursi teras dengan satu kaki terangkat.


"Tidak ada satu apapun yang merupakan milikmu di sini, semua sudah resmi menjadi milikku setelah kau dengan teganya mengkhianati aku dulu." Sarah berkata tegas.


 Pria itu menoleh dengan dahi mengernyit menatap Sarah. "Apa? Mengkhianati? Kapan? Dimana? Dan apa pula itu resmi menjadi milikmu?" tanyanya bertubi tubi.


 Sarah membuang nafas kasar, lalu berkacak pinggang dan berjalan mendekati si botak. Sedang Andrew menoleh ke dalam dan meminta Sonia membawa anak anak ke tempat yang aman.


"Oh ya? Kau lupa rupanya. Baiklah biar ku jelaskan. Sebelum menikah dulu, kau sudah menandatangani surat perjanjian pra nikah yang dibuat almarhum Dady untuk kita. Dalam salah satu poin yang tertulis di sana ada yang mengatakan jikalau salah satu pihak ada yang berkhianat dalam artian berselingkuh , maka semua harta tanpa terkecuali menjadi milik pasangan yang di selingkuhi. Sedangkan yang berselingkuh tidak berhak atas sepeserpun harta itu. Bagaimana? Apa kamu sudah ingat itu, Mas Bima? Mantan suamiku?"


****


 Sementara itu.


"Ai? Kamu sedang apa?" ucap Asy di depan pintu kamar saudarinya yang sedikit terbuka.


 Rahman sedang pergi mengisi kajian di sebuah kampung bersama Gus Musa, kemungkinan dia baru akan kembali esok hari. Maka waktu yang kosong itu membuat asy bosan hingga memilih untuk menghabiskan waktu bersama saudarinya saja yang belakangan selalu lebih banyak menghabiskan waktunya di kamar.


Kreeetttt

__ADS_1


 Asy mendorong pintu karna tak mendengar suara Aish dari dalam sana, dia tahu itu mungkin tak sopan karna melanggar privasi Aish. Tapi tak biasanya Aish membiarkan pintu kamarnya terbuka jika sedang melakukan hal hal pribadi seperti mandi.


"Aish?" panggil Asy sekali lagi.


 Asy mengedarkan pandangannya dan mendapati bahwa saudarinya tengah duduk di balkon kamarnya menghadap ke perkebunan sang ayah.


"Aish," panggil Asy sekali lagi, kali ini di barengi dengan menepuk pelan pundak Aish yang tampak tengah melamun menatap langit luas.


 Aish terlonjak kaget, pertanda sejak tadi dia memang sedang melamun.


"Ah, Asy. Mengagetkan saja," protes Aish sambil mengelus dadanya yang berdebar kencang.


 Asy terkekeh pelan, lalu mengambil tempat duduk di sebelah Aish.


"Habisnya di panggil dari tadi tidak menjawab. Ku pikir kamu tidur," tutur Asy.


 Aish menggeleng pelan sembari menggenggam erat sebuah pakaian di tangannya.


"Tidak, aku ... cuma sedang rindu Mas satrio. Kira-kira sekarang dia sedang apa ya, apa di sana ada restoran juga tempat dia bisa kembali sibuk bekerja?" gumam Aish mengada ada.


 Asy menatap pilu pada saudarinya itu, ternyata luka hati Aish masih belum hilang. Walau sudah tak seperti sebelumnya namun tampaknya Aish masih belum bisa menerima kepergian Satrio yang begitu saja. Tanpa pamit dan Asy masih belum berhenti menyalahkan dirinya sendiri sebagai penyebab terjadinya semua kejadian itu.


"Asy, kamu kok menung?" tegur Aish yang tak mendapatkan jawaban dari Asy setelah beberapa saat.


Asy tampak gelagapan. "Ah tidak, aku ... aku hanya sedang memikirkan apa mungkin yang kamu bilang tadi ada benarnya? Mungkin saat ini Mas Satrio juga masih kerja di sana saya," ucap Asy mengembangkan senyumnya walau getir terasa.


 Asy tertawa pelan. "Ahahah, kamu ini. Sudahlah sudahi semua sedih nya, kamu tahu? Aku akan ikut merasakan itu jika kamu terus begitu. Apa kamu mau saudarimu yang cantik ini juga ikut ikutan cengeng seperti mu?"


"Hei, bukankah kamu lebih cengeng dari aku." Aish berkata dengan senyum, namun dari matanya mengalir bulir bening itu membasahi ke dua belah pipinya.


 Asy dengan telaten mengusap air mata itu, di kembangkannya senyuman paling tulus yang bisa dia berikan pada kembarannya itu.


"Tersenyum lah terus, berhenti bersedih karna hanya akan membuat kamu semakin terpukul. Jika rindu lebih baik kamu kirimkan doa untuk yang sudah berpulang, itu akan lebih berguna baginya di sana ketimbang hanya sekedar tangisan. Biarkan tangisan itu hanya sebagai pengasuh hati yang terluka dan setelah lukanya bersih biarkan dia sembuh dan kering dengan di iringi doa dan juga keikhlasan," tutur Asy panjang lebar.


 I


Aish tersenyum dan mengangguk, setelah itu mereka berpelukan dengan erat.


Syuuuyttt


Gabrukkkkk


Suara keras yang berasal dari arah perkebunan membuat Asy dan Aish menyudahi pelukannya. Saling pandang sesaat sebelum berlari ke tepian balkon untuk melihat apa yang terjadi di tengah kebun sana.


 Dari tempat mereka berdiri tampak di tengah kebun sana sebuah pohon sudah tumbang, entah apa yang terjadi hingga pohon mangga yang kokoh itu bisa tumbang ke samping. Tampak juga di sana ekskavator yang biasa di gunakan tukang kebun untuk mengurus kebun tersebut telah miring ke samping menimpa pohon tersebut dan hal itulah yang membuatnya tumbang.


 Tak lama tampak pula ed yang berlari keluar rumah menuju ke perkebunan kesayangannya itu di ikuti Amelie di belakangnya.


"Ayo kita juga lihat , Asy." Aish menarik tangan Asy dan membawanya turun mengikuti arah perginya orang tuanya tadi.

__ADS_1


 Tak butuh waktu lama, setelah beberapa saat berlarian akhirnya mereka pun sampai di tempat kejadian perkara. Sebuah pohon mangga yang tengah berbunga kini ambruk ke sebelah barat. Bunga bunga yang menguarkan aroma harum bertebaran di bawahnya.


 Asy dan Aish melewati tempat yang penuh bunga mangga itu dengan hati hati, untuk sampai di tempat dimana Ed dan juga Amelie berdiri menghadap Mang diman dan Hendro yang menunduk dalam tanpa berani mengangkat wajahnya.


"Papi, ada apa?" tanya Aish mendahului.


 Ed menolehnya, namun tak mengatakan apa apa. Hanya diam dan melirik mang Diman seolah memintanya menjelaskan kejadian yang sebenarnya.


 Mang Diman tampak salah tingkah, sedang Hendro yang tertunduk di sampingnya mulai terdengar terisak.


"Ma- maafkan saya, bos. Saya yang salah, saya yang tidak bisa mengajarkan dan mengarahkan Hendro dengan baik. Sampai ekskavator nya tergelincir dan membuat satu pohon bos tumbang. Saya mohon maafkan saya, Bos. Kalau mau di pecat, silahkan pecat saya saja bos Hendro tidak bersalah," ucap Mang Diman terbata, nafasnya tampak tersengal mungkin karna menahan diri untuk tidak menangis karna merasa bersalah.


 Ed hanya diam, belum mengatakan apa apa hingga tanpa aba aba Hendro menjatuhkan diri di hadapannya dengan menangis keras.


"Bos tolong maafkan saya! Sayalah yang salah, bos. Saya yang tidak bisa mengoperasikan ekskavator itu, saya juga yang sudah membuat pohon bos tumbang. Jangan percaya ucapan Mang Diman, dia hanya ingin melindungi saya, sayalah yang salah dan seharusnya di hukum Bos jangan pecat Mang Diman," katanya terisak.


 Mang Diman memelototkan matanya menelisik tubuh Hendro yang bersimpuh di hadapan Ed. Netra tuanya tampak mengembun namun dengan cepat dia menyekanya dengan ujung tangannya.


"Jangan bicara begitu, Hen. Kamu lebih butuh pekerjaan ini, semua juga tahu kalau ini salah saya," sela Mang Diman tampak tak tega.


  Hendro menggeleng dengan posisi masih seperti semula, Ed masih setia diam dan mendengarkan apa yang akan mereka berdua sampaikan.


"Tidak, Mang saya cukup berterima kasih karna Mamang sudah ingin berniat melindungi saya, tapi seperti yang Mamang katakan kejujuran harus berada di atas segalanya. Dan saya ... ingin menanamkan itu di dalam diri saya," pungkas Hendro melirik sedikit ke arah Mang Diman, lalu kembali menunduk berharap Ed tak akan memecatnya.


"Pi," gumam Aish dengan mata menyorot penuh harap.


 Ed menarik nafas dalam, tak kuasa juga melihat anak muda yang tegap itu kini bersimpuh di depan kakinya a seperti seorang pesakitan.


"Bangunlah, saya sudah cukup mendengar," pungkas Ed datar .


 Hendro mengangkat wajah, setelah memastikan kalau perkataan Ed memang untuknya dia bangkit dengan perasan was was.


"Lain kali hati hati," ujar Ed lagi, sangat singkat padat dan jelas.


 Setelah itu Ed melangkah meninggalkan tempat itu menuju kembali ke rumah tanpa menoleh ke belakang lagi. Amelie dan Asy ikut di belakangnya, sedangkan Aish memilih tinggal di sana untuk bertanya lebih banyak pada Hendro tentang apa yang sebenarnya terjadi.


*


"Jadi begitu ceritanya?" gumam Aish, saat ini mereka sudah ada di taman yang letaknya tak jauh dari rumah Ed.


 Sebuah taman kecil yang penuh dengan anak anak dan penjual makanan kecil. Mereka pergi ke sana setelah Hendro kembali merapikan pohon yang tumbang tadi dengan menanamnya kembali di tempatnya semula lagi. Tentunya dengan di ajari langsung oleh Mang Diman.


"Iya, Mang Diman sangat takut Aa kehilangan pekerjaan makanya memaksa Aa untuk mengatakan kalau semua itu sebab kesalahan Mang Diman. Tapi Aa tidak bisa, jika Aa nekat takutnya nanti malah menjadi bumerang untuk Aa sendiri." Hendro menjawab pelan sembari menikmati sebungkus telur gulung yang di belikan Aish untuknya.


 Hendro tersenyum miris melihat telur gulung itu, dulu padahal dialah yang selalu membelikan Aish makanan atau cemilan kala di kampung, namun di sini saat ini kondisinya sudah berbeda. Bahkan untuk makan saja Hendro di tanggung oleh keluarga kandung Aish. Ingin malu tapi namanya butuh uang ya mau bagaimana lagi?


"Baguslah, dengan begitu Aa akan menjadi orang kepercayaan Papi nantinya. Aish tahu kok Aa itu orang baik, makanya Aish memaksa Papi untuk menerima Aa bekerja di rumah kami. Setidaknya ... Aish bisa punya tempat curhat seperti ini jika sedang sedih," ujar Aish mengulum senyum.


 Hendro menatapnya lekat, mata yang sama dengan lima tahun lalu masih menampilkan binar yang sama di depannya. Binar yang selalu dia rindukan dan selalu dia sebut di setiap doanya. Akankah binar itu nanti menjadi halal untuknya?.

__ADS_1


__ADS_2