MEMBALAS GUNDIK SUAMIKU

MEMBALAS GUNDIK SUAMIKU
Chapter 222.


__ADS_3

Wajah Asy pias, dahinya berkeringat dingin dan banyak membuat gagang kulkas yang di pegangnya terasa licin di telapak tangannya. Ingin pergi dari sana tapi tubuh Asy seperti terpatri di tempat, tak dapat bergerak sama sekali. Hingga kini Pardi telah berada tepat di depan wajahnya.


"Asy, bukankah bapak bertanya padamu? Kok kamu nggak jawab pertanyaan bapak?" tanyanya dengan sebuah seringai mengerikan.


Asy terus tersudut, dia menunduk dalam menghindari tatapan sang bapak yang seolah olah ingin menelannya bulat-bulat.


"Asy? Asy ?" suara Pardi mengalun pelan di dekat telinga asy, Asy memejamkan mata seiring desau angin dingin yang terasa menerpa tengkuknya.


  Namun setelah beberapa saat memejamkan mata Asy malah tak mendapati apa apa terjadi padanya, di bukanya mata dan yang lebih mengejutkan lagi ternyata saat ini pintu kamar mandi masih dalam kondisi tertutup. Dan tak lama terdengar suara guyuran air dari sana yang menandakan Pardi masih ada di dalamnya dan belum keluar.


"Lalu ... yang tadi itu, apa?" gumam Asy pelan.


 Namun tak banyak lagi waktu untuk berpikir, cepat asy meraih gagang pintu kulkas dan membukanya sebeljm Pardi selesai dengan kegiatannya di dalam sana. Sekali lagi Asy menoleh ke arah kamar mandi, masih terdengar suara gemericik air dari dalam sana sepertinya Pardi sedang mengambil wudhu. Gegas Asy membuka pintu kulkas lebih lebar dan menahan nafas setelah semburan angin dingin menerpa wajahnya.


Kosong.


 Di dalam sana bahkan tak ada tanda tanda daging di dalam baskom seperti yang dia lihat tadi malam, lalu dimana seseorang misterius itu meletakkan baskom berisi daging itu? Tak ada tempat yang terlalu besar di dapur itu untuk bisa menyembunyikannya.


Ceklek


"Asy? Sedang apa?"


 Asy berbalik kali ini Pardi benar benar keluar dari kamar mandi, dan tengah mengelap kakinya yang basah di keset yang tersedia di depan pintu.


"Kamu mau minum? Atau mau nyari yang lain? Kalau bahan makanan kayanya belum ada, soalnya bapak belum sempat belanja paling juga di kulkas adanya telur sama mie." Pardi berjalan mendekatinya.


 Asy yang tersadar jika saat yang sebelumnya tadi hanya ilusinya saja, akhirnya bisa bernafas lega.


"Ah, nggak kok Pak. Tadi Asy cuma mau minum saja," sahut Asy mulai bisa bicara normal.


"Sudah minumnya?" tanya Pardi lembut.


 Asy mengangguk lalu menutup pintu kulkas yang ternyata tidak ada apa apa di dalamnya selain bahan masakan tadi.

__ADS_1


"Ya sudah, kita lanjut sholat ya. Kalian sudah sholat belum? Atau mau barengan?"


 "Belum, Pak. Sebentar Asy panggil Kak Rahman dulu ya."


 "Ya sudah panggillah, subuhnya sudah mau habis maaf ya bapak lama abisnya tadi malam makan daging jadi nggak enak sekarang perutnya," ucap Pardi sambil berjalan ke arah ruang tamu dan akan sholat di sana.


Degh


Asy tercenung di tempatnya, mendengar kata daging membuatnya seketika merinding.


"Loh? Sayang, ngapain bediri saja di sana? Sudah minumnya?" tanya Rahman yang baru saja membuka pintu kamar untuk mengecek keadaan Asy yang yang kunjung kembali ke kamar setelah pamit ingin minum tadi.


"Ah iya, sudah Kak." Asy menjawab cepat, sebisa mungkin tak menunjukkan kalau saat ini dia tengah meredam pikirannya yang berkecamuk.


  Rahman melongokkan kepalanya dan tampak celingukan. "Tadi kakak kayak denger suara bapak, bapak sudah selesai ya? Kita mau sholat bareng apa saja atau sendiri di sini?"


"Ah, iya tadi bapak ngajak sholat bareng, Kak. Di depan," tunjuk Asy ke arah ruang depan.


"Ya sudah, ayo. Kamu pakai dulu mukenahnya di dalam ya, kakak tunggu di depan sama bapak." Rahman turut berjalan ke depan.


 Setelah sholat berjamaah bertiga, Pardi masuk ke dalam kamarnya lebih dulu katanya hendak membangunkan Salma yang memang tengah berhalangan dan biasanya setiap saat itu tiba Pardi akan membiarkan sang istri untuk tidur lebih lama dan membangunkannya setelah subuh. Kebiasaan yang baru di mulai setelah Asy pergi dari rumah tersebut.


 Selama menunggu Pardi, Asy memilih melipat semua peralatan sholat mereka dan membereskannya. Setelah itu dia juga memilih masuk ke dalam kamar guna meletakan mukenahnya di tempat semula.


Ceklek


Krrriiiieeeeettttttt


 Asy mengernyit, pintu kamarnya berderit sesuatu yang sangat jarang terjadi karna biasanya pintu itu selalu di minyaki olehnya atau ibunya. Dan lagi rasanya dia ingat saat malam tadi ada seseorang yang menerobos masuk ke dalam kamarnya dan membuka pintu, pintu itu bahkan sama sekali tak mengeluarkan suara. Ada apa ini? Batin Asy.


 Melupakan sejenak tentang keanehan di pintu itu, Asy melangkah masuk meletakkan mukenahnya lalu tak lupa membuka jendela kamar agar sirkulasi udara lancar. Udara dingin dan segar menyeruak begitu Asy membuka lebar jendelanya, di hirupnya oksigen itu dalam dalam hingga memenuhi paru parunya sampai perasannya membaik.


 Sejenak Asy termenung, membayangkan semua yang terjadi di kampung ini selama dia tiba di sini. Semuanya yang terasa janggal dan membuatnya penasaran, namun di satu sisi juga enggan untuk terlalu ikut campur.

__ADS_1


 Pagi yang masih kelabu menyadarkan Asy, tentang laci paling bawah di nakas yang belum sempat di tutup olehnya setelah kejadian dini hari tadi.


 Lekas lekas dia berjalan cepat menuju nakas itu, dan lagi lagi keningnya mengernyit mendapati laci itu yang sebelumnya terbuka kini tertutup dengan rapi.


"Siapa yang menutupnya? Apa Kak Rahman? Bisa jadi sih, kan tadi kak Rahman yang ada di dalam sini." Asy menarik kesimpulan.


 Lalu perlahan dia pun berjongkok, mencoba membuka laci itu kembali.


Tak


Tak


Trakkk


"Loh?" Kening Asy tampak berkerut. "Kok terkunci? Perasaan tadi gampang di bukanya?" gumam Asy lirih.


 Krrriiiieeeeettttttt


 Asy menoleh cepat kala pintu terdengar membuka, dan dia segera menarik nafas lega setelah melihat Rahman lah yang masuk ke dalam kamarnya.


"Lagi apa, Sayang?" tanya Rahman sembari menjatuhkan diri di atas ranjang dan berbaring telentang.


 Semua kejadian yang sudah terjadi dan di ceritakan Asy seolah tak mengganggunya sama sekali. Seolah semua itu hanyalah bualan belaka, padahal Asy sendiri hampir gila karenanya.


"Kakak yang nutup laci ini ya?" tanya Asy memilih mengalihkan pembicaraan ketimbang harus berdebat nantinya..


 Rahman berbaring miring, menatap ke arah laci yang di tunjuk Asy.


"Hum? Tidak, kakak bahkan tidak sempat melihat ke arah sini saat masuk kamar tadi. Sebab ada telepon masuk dari Gus Musa yang minta kita pulang hari ini, sebab lusa beliau mau acara aqiqah anaknya dan kita di minta membantu." Rahman menjelaskan yang tejadi setelah dia masuk ke kamar sesaat setelah wudhu tadi.


 Asy mengangguk samar lalu kembali menunduk memperhatikan laci yang tertutup tersebut, mendadak keningnya kembali berkerut saat mendapati sebuah paku kecil tampak menancap di sudut laci yang membuatnya tidak dapat di buka. Siapa yang melakukannya?


 Saat tengah asik berpikir terdengar suara Salma memanggil mereka arah depan kamar, yang lagi lagi membuat Asy semakin merinding karenanya.

__ADS_1


"Asy, Nak Rahman. Ayo kita makan dulu, ibu sudah masak rendang daging untuk kita semua."


__ADS_2