
"Kok kamu di sini? Bukannya tadi kamu di bawah sama tamu tamu itu?" ucap Alam menggebu.
Asiyah menggeleng heran. "Di bawah? Dari tadi bahkan aku belum keluar dari kamar ini, Mas."
Wajah Alam yang pias tampak semakin pias. "Lalu kalau bukan kamu, terus ... terus yang ada di bawah itu siapa?"
Gegas Asiyah mengayunkan langkah menuju keluar kamar, dia perlu tahu siapa yang di maksud suaminya hingga dia mengatakan kalau dirinya ada di bawah padahal sejak tadi Asiyah merasa tak keluar sama sekali dari dalam kamar Amelie.
"Dek, tunggu." seru Alam sambil berusaha mengimbangi langkah kaki asiyah yang sangat cepat.
Tapi Aisyah tak peduli, dia berjalan cepat tanpa menoleh sama sekali ke belakang. Bahkan dia menuruni tangga dengan sangat cepat seperti terbang
"Ya, dia ada di sini. Kalian mau bertemu?".
. Sebuah suara yang sangat di kenal Asiyah menyambutnya saat dia baru saja sampai ke lantai bawah, tepatnya di balik tembok pembatas Asiyah berdiri untuk menguping lebih dulu pembicaraan mereka yang ada di sana.
"Kamu ngapain malah di sini, dek?" tanya Alam yang pada akhirnya bisa menyusul Asiyah walau dengan nafas memburu.
Asiyah menarik tangan alam cepat dan membawanya berdiri di sebelahnya.
"Sssttt, diamlah.". Asiyah menempelkan telunjuknya di bibir dengan mata agak melotot.
Alam mengangguk paham walau sebenarnya dia sangat penasaran siapa gerangan yang dia lihat tadi jika sang istri nyatanya ada di dalam kamar dan mengaku tidak keluar dari sana sama sekali.
"Tapi sebelum itu, saya sangat berterima kasih kalian sudi mampir ke sini untuk menjenguk istri saya."
Lagi suara Edwin terdengar sumringah dari balik tempat persembunyiannya.
"Tapi, uncle. Bagaimana bisa Uncle mengatakan kalau Ai adalah putri uncle dan aunty yang hilang?"
Asy mengerutkan keningnya, suara itu dia kenal sebagai suara temannya Jeni yang pernah di temuinnya juga beberapa waktu lalu saat pesta di rumah Jeni.
Dada Asy seolah tertusuk duri, perih sekali rasanya walau dia tak tahu perihnya karena apa.
"Dek, kamu menangis?" bisik Alam di dekat telinga Asy.
Cepat asy menghapus air matanya dan menunduk dalam agar tak lagi ada air mata yang tampak oleh Alam, bukan karna tak ingin ketahuan dia hanya malu jika Alam tahu dia mengharapkan Amelie yang menjadi ibu kandungnya, walau itu tidak mungkin dalam benaknya.
"Kamu ... pasti pernah melihat tanda di lengan bagian atasnya kan? Aku bahkan ingat setiap tanda lahir anak anakku waktu itu, tanda yang tak akan di miliki orang lain di dunia ini selain anak anak Edwin dan Amelie."
Degh
Jantung Asy bagaikan tersetrum saat mendengar Ed menyebutkan anak anak dan tanda lahir, tanpa sadar asy menyingkap bagian lengan baju gamisnya dan memperlihatkan sebuah tanda lahir seperti bentuk bulan sabit di lengan kanannya yang selalu dia tutupi dari orang lain.
"Dek, kamu ...."
Alam menggantung ucapannya, namun nanar matanya tak dapat berbohong kalau dia juga pasti mempunyai pikiran yang sama dengan Asy. Terlebih dia juga mendengar pembicaraan di ruang tamu sana. Tanda lahir di lengan Asy memperkuat dugaannya.
__ADS_1
Tanpa aba aba, Asy langsung keluar dari balik tembok dan berjalan mendekat ke arah sofa melingkar yang memuat keluarga Ed dan Axel di sana itu.
Tampak olehnya seorang gadis yang duduk tepat di sebelah amelie, rambut panjangnya yang persis seperti milik Amelie membuat Asy sontak menahan nafas.
"Apa mungkin?" gumamnya pelan sekali, bahkan hanya terdengar serupa ******* nafas.
Alam rupanya membuntuti Asy dari belakang, saat melihat Asy berhenti karena ragu ragu. Dia menyentuh pundak sang istri dan mendorongnya untuk maju, mencari tahu apa yang seharusnya dia tahu.
Perlahan Asy maju, beberapa pasang mata sudah melihatnya dan terpana beberapa saat.
"Tidak mungkin," gumam Satrio yang berada tepat di sebelah axel, berhadapan dengan Amelie dan Edwin juga seorang gadis yang wajahnya belum terlihat oleh Asy.
Jantung Asy berdebar kencang, jangan di tanya bagaimana rasanya . Kalau saja bukan karna keinginannya mengetahui siapa orang tua kandung dan saudarinya tak mungkin Asy mau menahan malu dengan berdiri di antara dua keluarga itu, terlebih tanpa di undang hanya karna rasa penasarannya semata.
"Kamu ...." Sarah bangkit dari tempat duduknya, menatap tak percaya pada Asy yang berjalan pelan di belakang sofa dimana Ed duduk.
"Ternyata dugaan kita selama ini benar," gumam Axel sembari berdiri dan merangkul pundak sang istri yang tampak menangis.
"Ai, dia ...." Sarah menunjuk ke arah Asy, dan gadis yang duduk di sebelah Amelie memutar kepalanya untuk melihat apa yang di tunjuk Sarah .
Degh
Degh
Degh
Dua detik
Tiga detik
Hingga hampir sepuluh detik lamanya asy dan Aish saling pandang dalam satu garis lurus, mata mereka sama sama menatap ke dalam mata masing masing.
Semua diam, membiarkan dua gadis yang bak pinang di belah dua itu saling mengenal dan menyelami hati masing-masing.
"Kamu ...."
"Kamu ...."
Asy dan Aish saling tunjuk dengan mata berkaca-kaca, Aish lalu berdiri hendak berjalan lebih dekat pada tempat Asy berdiri.
"Apa kami ...."
ucap keduanya berbarengan, kali pertama sejak mereka terpisah mereka menjalin hubungan layaknya saudari kembar.
"Selamat pulang ke rumah, anak anakku."
Edwin berkata lantang sambil merentangkan tangannya ke depan, membiarkan dua gadis manis di depan sana menghambur dalam pelukannya.
__ADS_1
Amelie ikut berdiri, wajahnya basah oleh air mata. Dia mendekat dan ikut berpelukan dengan suami dan dua anak kembarnya.
"Akhirnya kalian pulang anak anakku," gumamnya lembut sembari menciumi kepala dua gadis di dekapannya tersebut.
****
Di tempat lain.
"Rahman, Nak apa kamu sudah tidur?"
Tok
Tok
Tok
"Rahman, ini ibu."
Bu Hannah kembali mengetuk pintu kamar sang putra, malam memang telah beranjak naik namun kabar yang baru saja dia dengar tak ingin dia simpan sendiri.
Dengan wajah cemas Bu Hannah terus mengetuk pintu kamar Rahman dengan lebih keras .
Dok
Dok
Dok
"Rahman! Man! Rahman!" seru Bu Hannah lebih keras, tak peduli walau kini suaranya mungkin saja akan mengganggu penghuni asrama lain.
Ceklek
Akhirnya setelah berbelas belas menit menunggu dan mengetuk pintu kamarnya, Rahman terbangun juga dan membuka pintu untuk sang ibu yang sudah geram setengah mati di sana.
"Ada apa sih, Bu? Ini bahkan belum subuh sudah gedar gedor pintu aja. Kalo di sangka ada apa apa gimana, Bu?" protes Rahman sambil menutup mulutnya yang menguap, dengan muka bantal dan mata setengah terpejam.
Bu Hannah mengibaskan tangannya di udara.
"Sudahlah tunda dulu ngantuknya, ibu ada yang mau di sampaikan sama kamu."
Rahman membuka sebelah matanya dengan lebih lebar, dengan alis terangkat sebelah dan wajah cuek tak peduli.
"Apa?" dengus Rahman setengah hati.
"Paman mu Ed sudah menemukan anak kembarnya!" seru Bu Hannah layaknya suporter bola.
Mata Rahman yang sebelumnya terpejam langsung terbuka sepenuhnya.
__ADS_1
"Apa, Bu? Siapa anaknya?" serunya penasaran.