
Di kediaman Edwin.
"Apa yang kau pikirkan, sayang? Bukankah harusnya kamu bahagia? Anak anak kita sudah kembali pulang pada kita?" tanya Ed sembari melingkarkan tangannya di leher sang istri yang tengah duduk melamun di depan cermin rias.
Amelie mengangkat wajahnya, membiarkan tatapan matanya bersirobok dengan mata sang suami yang menatapnya penuh cinta.
"Mereka ... seperti tidak begitu bahagia."
"Hum? Tidak bahagia bagaimana maksud mu, sayangku? Bukankah kamu melihatnya sendiri bagaimana mereka begitu terharu saat bertemu kita tempo hari setelah tahu kalau kitalah orang tua yang selama ini mereka rindukan?" cecar Ed lagi, kali ini dia berpindah ke depan sang istri berjongkok di hadapannya dan meletakkan dagunya di pangkuan Amelie.
Tatap mata Amelie tampak kosong, namun Ed tahu ada getir yang tersimpan di sana.
"Apa kamu lupa? Anak anak kita kini sudah bukan lagi bayi lucu, mungil dan menggemaskan yang akan menuruti semua yang kita putuskan untuk mereka. Mereka sudah dewasa, Ed. Mereka pasti sudah mempunyai kehidupan mereka sendiri di luar sana selama ini," gumam Amelie mengalihkan tatapannya pada pantulan cermin di depannya.
Sejenak Edwin terkesiap, baru dia sadari kalau apa yang di katakan sang istri memang benar adanya.
"Kau benar, honey. Lalu ... apa yang harus kita lakukan? Padahal baru saja aku merasa sangat bahagia karna akhirnya keluarga kita bisa kembali lengkap setelah sekian lama berpisah," papar Ed dengan suara serak.
Terdengar helaaan nafas panjang dari Amelie, jiwanya yang sudah membaik sejak bertemu Asiyah membuatnya lebih mudah di ajak berkomunikasi ketimbang tahun tahun sebelumnya saat mereka baru saja kehilangan dua bayi kembarnya yang hilang di culik di malam pertama mereka lahir ke dunia.
"Kembalikan mereka ke kehidupan mereka sebelumnya, Ed. Tanyakan pada mereka apa yang mereka mau dan apa yang mereka butuhkan. Sebagai orang tua kita harus mendukung mereka bukan? Jangan hanya memaksakan kehendak, kasihan anak anak."
Lagi lagi Edwin tercengang mendengar perkataan sang istri, setelah belasan tahun hanya mendengar suara singkatnya yang pelan dan hanya serupa *******, kini di hari dan detik ini Ed kembali mendengar suara gamblang sang istri yang teramat sangat dia rindukan. Teringat olehnya saat pertama kali bertemu Amelie di sebuah club malam.
"Hanya orang orang gila dan buta yang rela menghabiskan uang di tempat seperti ini, sedangkan mereka tahu ada banyak orang yang lebih membutuhkan uluran tangan mereka. Yang setiap harinya hanya bisa menahan lapar dengan air mata," ucap Amelie kala itu.
Amelie yang seorang petugas kebersihan jalanan kebetulan di bantu oleh Edwin dengan membelikan sebuah air mineral kemasan karna melihatnya tertidur di trotoar tanpa alas karna terlalu kelelahan.
"Tapi club' itu milikku," ungkap Ed kala itu.
Dan tanpa aba aba Amelie langsung beranjak berdiri pergi dari sisi Edwin dengan tatapan sinis.
"Kalau begitu merasa berdosalah karna sudah turut andil membuat banyak orang berbuat dosa, Tuan."
__ADS_1
Saat itu Ed hanya bisa terdiam, membiarkan gadis yang berani memerintahnya itu meninggalkannya dengan sejuta gundah di hatinya. Dan sebab itu juga akhirnya Ed membubarkan club' malam itu dan menggantinya menjadi sebuah usaha petshop yang lumayan terkenal di kota itu.
Dan berkat pertemuan dan kata kata amelie pula lah ia akhirnya berhenti dari dunia gelap, dan memulai hidup baru tanpa embel-embel mafia. Walau tak ada yang tahu semua itu, termasuk keluarganya sendiri hingga Rahman salah satu keponakannya pun memberontak karna mengira dirinya masih termasuk bagian dari geng mafia yang sudah membantai almarhum ayahnya.
"Ed, kau melamun?"
Amelie menyentuh pundak suaminya, menyentak Edwin untuk kembali ke alam nyatanya.
"Ah, maaf. Aku hanya ... hanya memikirkan kata katamu barusan, sayang."
"Mari kita temui anak anak, dan musyawarahkan hal ini. Ingat, kita tidak bisa memaksa mereka tetap di sini jika mereka tidak menginginkannya, Ed."
"Baiklah, sayang. Terserah kau saja, apapun keputusan mu aku akan menurut."
Edwin melangkah sejajar dengan sang istri yang melingkarkan tangannya di lengan kokoh Ed. Pria kaya yang memudarkan rasa bencinya pada kaum kalangan atas yang sombong dan egois.
*
Dan di sinilah mereka, di sebuah ruang keluarga yang lega dan nyaman. Duduk berbarengan dengan Asiyah dan Aish duduk bersebelahan.
Jika sudah demikian akan sangat sulit membedakan keduanya, karna selain tanda lahir tak ada perbedaan mencolok di wajah keduanya kecuali jilbab yang di kenakan Asiyah.
Alam sendiri sampai terbengong bengong menyaksikan dua saudari kembar yang terpisah puluhan tahun lamanya itu, masih bisa tetap berwajah sama persis walau tak pernah bertemu. malah kini mereka tampak sangat akrab dengan bergandengan tangan.
"Kalian memang anak anak Papi, cantik dan luar biasa," gumam Ed mengagumi kedua anaknya yang sangat mirip dengan dirinya itu.
Sayang sejak awal berjumpa Asiyah tidak menyadari itu, karna terlalu sibuk dengan pikirannya untuk segera bertemu kedua orang tua kandungnya yang tak lain adalah orang yang tengah di bantunya itu.
"Terima kasih, Papi." Asy dan Aish menyahut bersamaan.
"Anak anak, ada yang ingin Mami sampaikan," tukas Amelie sembari menatap nanar dua gadis yang saat bayi lahir dari rahimnya itu.
Asy dan Aish yang langsung bisa menerima Ed dan Amelie sebagai orang tua kandungnya tersebut langsung berpindah tempat menjadi mengapit amelie di tengah tengah mereka.
__ADS_1
"Katakanlah, Mami. Kami akan dengarkan," ucap Asy mewakili Aish yang mengangguk membenarkan.
Amelia terlebih dahulu menarik nafas dalam sebelum akhirnya mengatakan maksudnya.
"Apa kalian ingin tinggal di sini bersama Mami dan Papi? Atau kembali ke kehidupan kalian sendiri? Maaf bukan maksud Mami ingin mengusir kalian, hanya saja Mami ingin mendengar langsung dari bibir kalian mengenai apa yang membuat kalian lebih nyaman," ungkap Amelie sejelas mungkin.
Asy dan Aish tampak berpikir sejenak, sebagai perempuan yang sudah bersuami Asy memilih untuk meminta izin bicara berdua dengan sang suami lebih dahulu.
"Apa keputusanmu, Dek? Apa kamu mau tinggal di sini bersama ke dua orang tuamu?" tanya Alam setelah mereka berdua sampai di kamar yang di sediakan Edwin untuk mereka.
Asy menarik nafas dalam menetralisir degup jantungnya yang berdetak kencang tak karuan.
"Asy bingung, Mas. Di satu sisi Asy ingin terus berada di dekat Mami, tapi di sisi lain ada kamu yang harus aku ikuti."
"Tapi, bukankah kamu tidak mencintai Mas, dek?" tanya Alam hati hati, karna walau Asy adalah istrinya namun dia tak bisa memaksa hati Asy untuk mencintainya. Terlebih setelah dia bertemu dengan Rahman.
Asy menunduk dalam, menatap lantai yang diam di bawah kakinya.
"Tapi pada kenyataannya kamulah suamiku, Mas. Dan sudah kewajiban ku mengikutimu," gumam Asy pelan.
"Aku tak akan memaksa membawamu jika kamu lebih nyaman berada di sini, dek."
Asy menoleh pada Alam, mencari sinar kebohongan di sana dan itu dia dapati dari sorot matanya yang nanar.
"Tapi, aku ...."
Tok
Tok
Tok
Asy menghentikan ucapannya karena terdengar suara Edwin dari luar pintu kamar mereka.
__ADS_1
"Nak, bisa Papi bicara sebentar dengan kalian?"