MEMBALAS GUNDIK SUAMIKU

MEMBALAS GUNDIK SUAMIKU
BAB 176. TANGIS PERPISAHAN.


__ADS_3

Sarah membuka mata perlahan, lalu mengernyit karna silau yang menerpa wajahnya seketika.


Sinar putih berpendar mengitari ruangan serba putih beraroma obat itu, Sarah mendesis saat rasa nyeri di lengannya kembali terasa menyiksa.


"Sayang, kamu sudah sadar?" seru Axel mendekati istrinya dan menatapnya dengan mata yang basah.


Sarah kembali memindai, tampak ke dua orang mertuanya juga ada di sana. Menatapnya dengan raut wajah yang sama khawatirnya dengan Axel.


"Apa ada yang sakit, sayang? Katakan, jangan di tahan sendiri ya." Sonia mengecup lembut kening menantunya, yang tampak masih pucat itu.


"Papa akan ke kantor polisi, kalian tetaplah jaga Sarah  di sini. Papa juga sudah kirim orang untuk membawa anak anakmu dan pengasuhnya ke rumah Papa, sementara kalian akan tinggal bersama Papa. Itu akan lebih aman," tukas Andrew sembari melangkah pergi setelah berpamitan.


Ceklek


Pintu ruangan kembali tertutup setelah Andrew melewatinya.


Axel kembali duduk di kursi tepat di samping ranjang Sarah, menciumi tangannya penuh cinta seakan sangat takut kehilangan.


"Mas," lirih Sarah sembari memutar tatap untuk melihat wajah suaminya.


"Ya, sayang? Kamu butuh sesuatu?" tanya Axel cepat.


"Ada apa ini? Kenapa ... kenapa aku bisa di culik?" gumam Sarah yang masih berusaha menyusu ingatannya yang lagi yang terasa sangat aneh.


Axel memandang Sonia, seakan meminta pendapat haruskah dia beritahu kan apa yang bahkan baru saja di ketahuinya dari orang tuanya.


Tapi dengan cepat Sonia menyela, dia tak ingin rahasia lama itu terbuka dan si ketahui Sarah, karna tentu akan membuatnya sangat terguncang nanti.


"Ah, untuk itu kita serahkan saja pada polisi yang menangani kasus mu, sayang. Semoga mereka bisa mengorek informasi dari Peter, akan maksudnya melakukan ini semua." Sonia mengelus jemari Sarah.

__ADS_1


  Sarah menunduk, memejamkan mata sejenak lalu kembali berkata. "Tapi ... kenapa Sarah merasa semua ini ada hubungannya dengan almarhum Momy dan Dady?"


Sonia tampak terkesiap, namun sebisa mungkin dia cepat mengubah ekspresi wajahnya agar tak terlihat oleh Sarah.


"Sudahlah sayang, jangan terlalu membebani pikiranmu dengan hal hal yang berat. Sekarang istirahat lah yang tenang agar kamu bisa lekas membaik. Setelah ini kamu dan anak anak tinggal sama Mama saja ya, setelah ini Mama yang akan merawat kalian. Terlalu riskan saat ini untuk membiarkan kalian tinggal di rumah kalian sendiri," tandas Sonia mengambil sikap.


Sarah mengangguk pasrah, dan kembali memejamkan mata. meresapi rasa perih dan nyeri yang saat ini meraja di lengannya yang dua kali mendapat tusukan beruntun dari Peter.


****


"Dokter, pasien kritis dia kehilangan banyak darah!" seru salah satu perawat yang membantu operasi Alam pada sang dokter yang tengah sibuk dengan tugasnya.


Dokter itu mengelap keringat yang membulir di keningnya, lalu membuka maskernya sedikit.


"Sekarang juga ambil persediaan darah dari lab, dan bawa ke sini. Kita tidak bisa membuang waktu, setiap detik sangat berharga untuk menyelamatkan pasien ini."


Perawat itu mengangguk lalu secepatnya berlari keluar ruangan untuk melaksanakan tugasnya.


Suster itu menjadi bimbang, namun agar lekas selesai akhirnya dia menjawab saja apa adanya.


"Pasien kehilangan banyak darah akibat operasi, dan sekarang saya mau ke bank darah untuk mengambil persediaan. Tapi saya tidak tahu apakah ada atau tidak, jadi pihak keluarga juga mohon bantuannya untuk menyiapkan donor darah untuk pasien agar tidak terlalu menunggu lama jika tidak ada persediaan nantinya."


Suster itu baru saja hendak pergi saat tangannya kembali di tahan oleh Juli yang sejak tadi berdiri di belakang Bu Sani.


"Apa golongan darahnya?" tanyanya.


"A negatif."


Setelah itu suster itu langsung melepas pegangan tangannya dan berlari menuju ke tempat penyimpanan darah di rumah sakit itu.

__ADS_1


"Ya Allah, anakku." Bu Sani limbung, tubuhnya terhuyung ke belakang namun dengan sigap juli menahan bobot tubuhnya.


Dengan di bantu Asy yang masih bertahan di sana, mereka bahu membahu membawa Bu Sani kembali duduk di atas kursi tunggu.


"Alam ... Alam ... kamu harus sembuh, Nak. Kamu harus selamat," bisik bu Sani pelan, seakan tak sadar saat mengatakannya.


"Apa golongan darah kamu?" tanya Juli tiba tiba.


Asy mendongak, dan menyadari kalau yang di tanya Juli adalah dirinya. Karna Aish sedang pergi ke kantin untuk membeli makanan.


"Golongan darah saya, B," jawab Asy apa adanya.


Juli mendengus, matanya memutar geram..


"Bahkan di situasi genting seperti ini pun kau masih saja tidak berguna, pastinya Mas Al akan sangat menyesal menikahimu dulu."


  Asy hanya diam, tak ada gunanya berdebat di saat seperti ini. Lebih baik diam dan berdoa yang terbaik ketimbang harus adu mulut dengan si judes Juli.


"Tolong anakku, selamatkan anakku."


Lagi Bu Sani seperti mengigau, tapi matanya yang terbuka menandakan kalau dia masih terjaga. Tapi mungkin berita tadi seolah pukulan telak bagi psikisnya, hingga tak sanggup bersikap seperti biasanya


"Tenang saja, Mak. Mas Al pasti selamat, aku yang akan menyelamatkannya," ucap juli pongah.


Lagi lagi Asy hanya memilih diam, sembari menunduk dan melantunkan zikir di dalam hatinya. Tak hentinya sejak tadi batinnya berdoa untuk keselamatan Alam, walau hatinya masih terasa pedih saat mengingat betapa mudahnya Alam menjatuhkan talak padanya sebelum perpisahan mereka sebelum Alam memutuskan pulang ke kampung halamann orang tuanya.


"Mas sudah tidak sanggup lagi, dek mungkin mencintai kamu adalah hal yang salah Mas lakukan seumur hidup Mas. Tapi percayalah, cinta ini tulus adanya tidak di buat buat. Tapi ... kalau rasa ini hanya membuat kamu tersiksa dan tidak bahagia maka perpisahan adalah jalan terbaik bagi kita. Lanjutkanlah kisahmu dengan ustadz itu, insyaallah Mas ikhlas, dek. Semua ini Mas lakukan sebagai tanda betapa Mas mencintai kamu. Sangat mencintai kamu, hingga rasanya Mas nggak sanggup melihat kamu menderita dalam hubungan yang tidak kamu inginkan ini. Maaf, karna pernah memaksa kamu bertahan hanya karna Mas mencemaskan orang tua Mas. Tapi sekarang tidak, berjanjilah akan menganggap mereka tetap orang tuamu bahkan setelah Mas pergi nanti."


Terbayang oleh Asy senyuman Asy saat itu, tapi saat itu dirinya hanya bisa menangis tanpa berkata apa apa.

__ADS_1


"Dan mulai saat ini, Asiyah binti Edwin Alexander Nugraha. Saya jatuhkan talak satu padamu, mulai sekarang kamu bukan lagi istri saya. Mulai sekarang bebaslah kamu dari semua kewajiban mu atas saya, dan sampai waktu yang di tentukan sebagi masa Iddah mu nanti saya ridho jika engkau akan menikah lagi."


Asy tergugu di tempatnya saat ingatan menyakitkan itu berkelebat dalam benaknya, hingga tanpa dia sadari semuanya berubah gelap dan dia tak ingat apa apa lagi. Hal terakhir yang di lihatnya, hanyalah wajah berseri Alam yang melambaikan tangan ke arahnya.


__ADS_2