MEMBALAS GUNDIK SUAMIKU

MEMBALAS GUNDIK SUAMIKU
Chapter 118


__ADS_3

"Gus, maaf tapi saya harus pulang sekarang untuk mempersiapkan acara tahlilan almarhumah Emak," ucap pak Ismail yang sejak dari pemakaman tadi membantu Gus Musa membawa Jeni menuju ke rumah sakit terdekat untuk di periksa.


 Gus Musa menoleh lemah.


"Iya, Pak. Terima kasih karna sudah membantu saya ya, kalau nanti bapak butuh sesuatu hubungi kami saja, kalau kami bisa pasti akan kami bantu," sahut Gus Musa tulus.


"Insyaallah, Gus. Ya sudah saya pamit ya, semoga Jeni nggak kenapa-kenapa," tukas Pak Ismail sebelum beranjak pergi.


"Terima kasih sekali lagi, Pak." Gus Musa menyalami Pak Ismail dan mereka pun berpisah setelah saling mengucapkan salam.


 Gus Musa kembali duduk di kursi tunggu rumah sakit, suasana yang mulai kelam di luar sana membuatnya teringat akan kewajibannya sebagai muslim yang belum di tunaikan.


 Baru saja Gus Musa bangkit hendak menuju ke mushola rumah sakit, tiba-tiba dari ruangan pemeriksaan Jeni keluarlah seorang dokter paruh baya dengan kaca mata tebal bertengger di hidungnya.


"Anda keluarga pasien?" sapanya ramah.


 Gus Musa mengangguk.


"Iya, Dok. Saya suaminya."


"Anda mau kemana?" tanya dokter itu lagi.


"Ke mushola, dok. Saya belum sholat maghrib."


 Dokter itu tampak mengangguk.


"Baiklah, silahkan sholat dahulu saya juga kebetulan mau sholat. Nanti saja saya sampaikan tentang kondisi pasien, tapi yang pasti pasien tidak mengalami kondisi serius, itu saja dulu yang perlu saya sampaikan."


 Senyum di wajah Gus Musa terukir, walau belum sepenuhnya lega tapi setidaknya dia sudah merasa lebih baik dengan mengetahui kabar sang istri yang baik baik saja.


"Alhamdulillah, terima kasih, Dok."


 "Sama-sama, kalau begitu mari ... kita sholat magrib dulu."


 Dokter itu mengayunkan tangannya ke depan mempersilahkan Gus Musa untuk berjalan lebih dulu, sesampainya di mushola kecil rumah sakit itu Gus Musa mengimami sholat untuk sang dokter dan beberapa orang lainnya yang juga hendak melaksanakan sholat.


 Usai sholat, Gus Musa menyempatkan untuk berzikir dan berdoa sejenak sedangkan orang orang beserta sang dokter yang tadi ikut sholat bersamanya semua sudah kembali ke kesibukannya masing-masing.


   Setelah puas berzikir dan berdoa, Gus Musa bergegas kembali ke ruangan di mana Jeni di tangani tadi. Di sana sudah menunggu sang dokter yang duduk di kursi tunggu sembari memainkan ponselnya.


"Dok," sapa Gus Musa tak kalah ramah.

__ADS_1


 Dokter itu menoleh lalu mematikan ponselnya sebelum memasukkannya ke dalam saku.


"Anda sudah selesai? Apa bisa ke ruangan saya sekarang? Ada beberapa hal mengenai kondisi pasien yang harus saya jelaskan."


 Gus Musa mengangguk dan membuntuti langkah dokter itu menuju ke sebuah ruangan.


"Jadi, bagaimana sebenarnya kondisi istri saya, Dok?" tanya Gus Musa tak sabar.


 Dokter lelaki dengan garis wajah yang masih menyisakan sisa sisa ketampanan masa mudanya itu tersenyum lebar, seperti hendak menyampaikan berita baik untuk Gus Musa namun malah membuat Gus Musa berdebar tak karuan.


"Sebelumnya, saya ucapkan selamat ya, Pak." Dokter itu mengulurkan tangannya pada Gus Musa.


 Dengan bingung Gus Musa menyambut uluran tangan sang dokter, walau batinnya kini tak berhenti bertanya tanya.


"Tapi ... untuk apa ya, dokter?" tanyanya lagi.


 "Selamat, anda akan menjadi ayah. Istri anda tengah mengandung," sahut dokter itu sumringah, dan membuat Gus Musa serta merta menjatuhkan air mata bahagianya dengan tatapan tak percaya.


"A- apa, Dok? Dokter tidak sedang bercanda kan? Saya tidak mimpi kan, dok?" ucap Gus Musa bertubi-tubi.


 "Saya serius, sangat serius. Untuk lebih pastinya silahkan Bapak langsung menemui dokter kandungan untuk memastikannya," ucap sang dokter semakin membuat Gus Musa ingin berteriak saking bahagianya.


 Sambil menahan gejolak rasa di dalam dadanya, Gus Musa berdiri dan meminta izin sang dokter untuk menemui istrinya.


 "Yah, tentu saja boleh. Istri anda sepertinya belum sadar, mungkin kelelahan tapi sudah kami beri tindakan dan kondisinya sudah stabil. " Dokter itu menjawab.


 "Terima kasih dokter, ini kabar yang luar biasa sekali untuk saya. Kalau begitu saya permisi dulu," tukas Gus Musa dan langsung keluar dari ruangan dokter untuk kembali menuju ruang rawat istrinya, tak sabar sekali rasanya untuk segera bertemu dengan istrinya yang kini bisa di pastikan tengah berbadan dua itu.


 Saat Gus Musa sampai di depan ruangan itu, bertepatan dengan seorang suster yang juga baru saja keluar.


"Sus, apa istri saya sudah sadar?" tanya Gus Musa cepat.


"Bapak suaminya?"


 Gus Musa mengangguk sebagai jawaban.


"Belum, Pak. Mungkin sebentar lagi, silahkan kalau bapak mau menemani."


 Suster itu membuka pintu ruangan lebih lebar dan meminta diri untuk kembali melanjutkan tugasnya, meninggalkan Gus Musa di sana yang masih terpaku menatap wajah pucat Jeni yang terbaring lemah di atas brankar.


"Dek Jen, kamu baik-baik saja kan, sayang? Sebentar lagi Abbas mau punya adik, terima kasih ya sayang, kamu kembali memberikan kebahagiaan dalam hidup Mas. Mas beruntung sekali menikahi kamu, tak peduli sekelam apapun masa lalu kamu. Sekali lagi terima kasih, Mas akan terus mencintai kamu," bisik Gus Musa sambil mengecup lembut kening istrinya yang masih menutup mata itu.

__ADS_1


 Setelah itu, Gus Musa tak lupa mengecup perut Jeni yang masih tampak rata. Tapi dia bisa merasakan ada kehidupan yang sedang berkembang di dalam sana.


"Mas mau ngabarin Abah dan Umi dulu ya, mereka pasti seneng denger kabar bahagia ini.". Gus Musa beranjak menuju ke sebuah jendela besar di dalam ruangan itu dan menekan layar ponsel untuk melakukan panggilan telepon pada Umi Nafisah.


"Assalamu'alaikum, le kamu dimana? Kenapa belum pulang juga?" ucap Umi Nafisah saat panggilan baru saja tersambung.


"Wa'alaikumsalam, Umi. Musa di rumah sakit,um."


"Astaghfirullah, ada kamu di rumah sakit, le? Siapa yang sakit? Kamu? Atau Jeni?" cecar Umi Nafisah tak sabar dengan nada suara yang terdengar sangat khawatir.


 Gus Musa tampak menahan senyumannya, air mata kebahagiaan itu perlahan kembali menetes.


"Le, kamu kok malah diam saja tho? Jangan bikin Umimu ini jantungan kenapa sih? Mbok kalo ngasih kabar itu yang tenanan (serius), jangan malah bikin deg degan begini loh." ucap Umi Nafisah mulai mengeluarkan jurus andalan emak emak yaitu ngomel-ngomel.


 Gus Musa semakin tak tahan mendengar omelan ibunya di sebrang sana, terdengar juga suara sama Abbas yang tengah bercengkrama dengan kyai Hasan yang kini di panggilnya eyang.


"Mi, tenang dulu Musa mau menyempaikan kabar mengejutkan ini." Gus Musa sengaja berteka-teki.


"Hah? Kabar mengejutkan? Kabar apa, le? Kamu jangan suka ngisengin Umi kenapa tho? Rasanya jantung Umi ini mau pindah ke empedu dari tadi kamu bikin diskoan terus!" ketus Umi Nafisah yang sudah sangat penasaran itu.


"Hehe, ya sudah ini Musa sampaikan ya, Um. Tapi sebelumnya Umi pegangan dulu, ke apa gitu dinding atau ke Abah juga boleh."


"Lha buat apa tho segala pegangan? Kamu ini kah nyampaikan kabar atau angin ****** beliung?" ketus Umi Nafisah lagi, namun sebenarnya di sana beliau pun tengah mendekat ke arah sang suami yaitu kyai Hasan dan berpegangan pada pundaknya -- lebih tepatnya menarik bajunya --


 Gus Musa terkekeh pelan.


"Wes tho, mau denger beritanya nggak ini?" pungkasnya.


"Iya iya, buruan."


"Sampun (sudah) pegangan?"


"Sudah," sahut Umi Nafisah mulai jengkel.


"Dimana?"


"Bajunya abahmu, wes cepet gitu kenapa ngomongnya, tak kutuk jadi ahli surga baru kapok kamu ya." Umi Nafisah kembali mengomel.


 Gus Musa menarik nafas dalam, lalu dengan suara tegas dan lugas dia menyampaikan beritanya.


"Insyaallah, Dek Jen hamil lagi, Um."

__ADS_1


"Apa? Alhamdulillah!" --ini bukan suara Umi Nafisah --


__ADS_2