
Setelah puas melepas rindu dengan pusara sang ayah, Rahman dn Bu Hannah pulang. Mereka terlebih dahulu ke rumah sang paman untuk berpamitan.
"Kau yakin, dude? Kenapa tidak tinggal di sini saja dengan bibi? Kalian akan sangat di terima di sini, tenang saja Uncle tidak akan meminta bayaran," seloroh Ed mencoba menahan niat Rahman yang ingin membawa Bu Hannah kembali ke pondok.
"Tidak perlu, Uncle." Rahman menggeleng. "Aku ingin mandiri, dan semua rasanya berjalan lancar sebelum uncle datang mengacaukan semuanya."
Ed terkekeh. "hei, bocah ingusan katakan apa maksudmu he?"
"Ah, tidak. Tidak ada apa apa, ya sudah uncle sampaikan salam kami pada Aunty Amelie, kami akan sering berkunjung nanti," ujar Rahman meraih tangan Ed dan hendak menciumnya.
"Apa kau tidak ingin menitip salam pula untuk putriku, Asy?" Ed mengulum senyum.
Rahman terhenyak, lalu cepat cepat mencium punggung tangan pamannya itu dan berlalu.
"Kami pamit, Uncle. Assalamu'alaikum," ucap Rahman sembari membalik tubuhnya dan melangkah keluar rumah.
Bu Hannah yang sejak tadi hanya berdiri melihat sembari tersenyum kecil mendekat, memegang lengan Ed seraya matanya memperhatikan sang putra yang berjalan tegap keluar rumah.
"Dia sangat mirip dengan almarhum ayahnya, melihatnya membuatku terkenang akan beliau. Orang yang sudah sangat berjasa dalam hidupku, Bi." Ed tampak berkaca-kaca.
Bu Hannah mendesah berat. " Kau benar, dan masalah lainnya sepertinya akan datang lagi setelah sekian tahun meredup."
Ed sontak menoleh demi mendengar perkataan Bu Hannah barusan.
"Apa ... maksud bibi?"
"Aku melihatnya, Ed di pemakaman saat Rahman berdoa tadi. Tatapan matanya bahkan masih sama seperti dahulu," gumam Bu Hannah yang hanya akan di mengerti oleh Ed.
****
Beberapa saat kemudian Rahman dan Bu Hannah sudah sampai kembali ke pondok yang beberapa hari ini mereka tinggalkan. Di antar oleh supir pribadi Ed yang langsung meluncur pulang setelah memastikan Rahman dan ibunya sampai dengan selamat.
"Assalamu'alaikum," ucap Rahman di depan teras rumah ndalem', sudah beberapa hari dia pergi tanpa ada kabar lagi jadi sudah sepantasnya dia datang dan langsung menjelaskan apa yang menimpanya pada sang empunya pondok sekarang yaitu Gus Musa.
"Wa'alaikumsalam," suara Jeni terdengar dari arah dalam di susul suara langkah kaki yang di seret menuju pintu yang terbuka separuh.
"Eh, Rahman? Bu Han? Ya Allah, akhirnya kalian pulang juga, kami semua cemas menunggu kabar dari kalian," Songsong Jeni sembari berjalan mendekat dan meraih tubuh Bu Hannah dalam dekapannya.
"Ah, iya Mbak Jen beberapa hari ini ada kejadian tak terduga yang terjadi sewaktu kami di rumah Uncle Ed, itu juga yang mau saya ceritakan sama Gus Musa, apa beliau ada di dalam?" tukas Rahman.
.
__ADS_1
"Oh, iya iya ada sebentar ya, Mbak panggil dulu."
Jeni melerai pelukannya dari tubuh Bu Hannah lalu mengistirahatkan mereka untuk mengikutinya ke arah ruang tamu.
Jeni langsung masuk ke dalam rumahnya sementara Bu Hannah dan Rahman melangkah menuju ruang tamu.
"Assalamu'alaikum," gumam ke duanya sebagai adab masuk ke dalam rumah.
"Wa'alaikumsalam," sahut Asy yang rupanya masih ada di sana sejak tadi.
Rahman dan Bu Hannah terkejut karna ada yang menjawab salam mereka.
"Loh, Asy. Kamu di sini, Nak?" Bu Hannah melangkah mendekati Asy dan duduk di sampingnya, sedang Rahman memilih untuk duduk di hadapan mereka terpisah meja di tengah tengahnya
"Iya, Eyang pengennya aja tadi main ke sini. Eyang dari mana?" Asy menjawab sambil matanya sesekali menatap Rahman.
"Dari pemakaman, terus ke rumah Papimu baru ke sini." Bu Hannah menjawab dengan apa adanya.
Setelah itu Bu Hannah diam, sepertinya masih merasa lelah karna terlalu lama duduk di mobil hari ini.
Asy dan Rahman beberapa kali bertatap mata, tak di pungkiri ke duanya kalau masih ada gelenyar di dalam dada. Namun terhalang entah apa hingga tak ada lagi yang mau berbagi cerita di antara mereka.
Tatapan penuh cinta yang masih di layangkan masing-masing mereka, melayangkan ingatan pada pesan yang seakan wasiat bagi mereka.
Dan hingga kini baik Rahman ataupun Asy sama sama belum menjawab apapun atas permintaan itu.
*.
"Eh, Rahman sudah pulang? Alhamdulillah akhirnya kamu pulang juga, Man." Gus Musa datang dari arah dalam sembari memasang kopiahnya lalu merangkul Rahman sekilas dan menepuk pundaknya pelan.
"Maaf, Gus ada beberapa kendala soalnya kemarin yang memaksa saya dan ibu saya jadi tidak bisa pulang saat itu juga," ujar Rahman memberi tahu.
"Iya iya, ya sudah ayo kita duduk di depan biarkan para Ledis ini yang di sini. Mari Bu Han, Asy," tukas Gus Musa menundukkan kepalanya pada Bu Hannah dan Asy.
Setelah itu merangkul Rahman keluar dari dalam menuju ke teras.
Tak lama Jeni menyusul dengan membawa tiga gelas minuman di nampan dan meletakkan satu di depan bu Hannah.
"Silahkan di minum, Bu sebentar saya antar ini ke depan dulu ya."
"Terima kasih, Nak Jen."
__ADS_1
Jeni mengangguk dan berlalu ke depan membawa dua gelas minuman untuk suaminya dan Rahman.
Saat itulah Bu Hannah menyentuh tangan Asy dan menatapnya lekat.
"Sayang, bukankah kau tahu kalau putraku memiliki hati yang di jaganya untukmu?"
Asy sontak terkesiap, dan tidak siap untuk melontarkan jawaban apapun.
****
Setelah pulang dari pondok, Sarah langsung menyempatkan untuk berkunjung ke rumah mertuanya sekaligus berniat menjemput anak anaknya yang sudah beberapa hari ini ada di sana. Betapa dia sudah sangat rindu pada mereka.
"Sebaiknya beli kue dulu buat Mama, sudah lama tidak ke sana pasti beliau sangat kerepotan mengurus triplets, semoga saja tidak ada masalah besar yang terjadi karna anak anak," gumam Dara sembari membaca buku tuntunan sholat yang ada di tangannya.
"Sayang?" panggil Axel yang tengah menyetir di sebelah Sarah.
Sarah mengangkat wajahnya. "Ya?" ..
"Sejak tadi kamu bicara sendiri seolah aku ini tidak ada," protes Axel dengan mata tetap fokus pada jalan raya di depannya.
Sarah tersenyum kecil, menutup buku kecil di tangannya dan memasukkannya ke dalam tas yang dia bawa.
"Baiklah, suamiku. Maaf kalau aku masih suka seolah bingung dengan keadaaan sekitar, rasanya aku tidak hidup di saat ini walau aku sudah berusaha menerima semuanya dengan lapang dada," gumam Sarah dengan gelayut mendung mulai menghiasi wajahnya.
.
Tangan Axel terulur, mengusap rambut Sarah dan beralih menggenggam tangannya.
"Tidak apa, sayang ambillah waktu sebanyak apapun yang kamu butuhkan untuk bisa kembali seperti sedia kala. Mas akan terus mendampingi kamu."
Sarah mengulas senyum lalu berputar dan menghadap Axel.
"Bagaimana kalau hafalan doa qunut lagi? Sepertinya tadi aku sudah mulai lancar di ajari Jeni."
Axel terkekeh. "Baiklah, ayo mulai."
Sarah mulai membacakan doa qunut yang tadi sudah di hapalnya dengan Jeni, walau masih terbata tapi sudah lebih lancar ketimbang sebelumnya.
Hingga tak lama mobil mulai memasuki pelataran rumah Andrew dan Sonia. Axel baru saja hendak memarkirkan mobilnya saat terdengar suara letusan lembut di susul posisi mobil yang seolah turun.
Tus!
__ADS_1
"Hah? Ada apa ini?"