MEMBALAS GUNDIK SUAMIKU

MEMBALAS GUNDIK SUAMIKU
Chapter 185.


__ADS_3

 Pagi itu.


"Sayang, kamu yakin mau tinggal terpisah sama kami?" tanya Amelie pada sang putri, Aish yang kini tengah bersiap untuk ikut Satrio yang sudah sah menjadi suaminya ke rumah kontraknya.


 Walau Amelie tahu letak kontrakan tersebut, tapi rasanya dia masih enggan berpisah dengan Aish. Apalagi kebersamaan mereka yang belum lama, dan kini sudah harus berpisah lagi, sungguh sebenarnya pun Amelie tidak kuat membayangkan tinggal berjauhan dengan sang anak.


"Yakin, Mi. Memangnya kenapa, Mi? Kan Asy juga tinggal di sini kan? Mami kalau kangen tinggal lihat Asy, toh wajah kami sama," kekeh Aish berkelakar.


 Amelie tersenyum, lalu duduk di atas ranjang milik putrinya yang kembali sibuk menata barang barangnya ke dalam koper yang tak begitu besar. Sedang Satrio saat ini telah berada di rumah kontrakannya, katanya hendak membersihkannya lebih dulu agar sang istri tak kerepotan nantinya.


"Walaupun wajah kalian sama persis, tapi tetap saja Mami pasti akan merindukan kamu, Nak. Apalagi kita belum lama tinggal bersama, dan sekarang kamu sudah akan pergi lagi meninggalkan Mami." Amelie berpura pura merajuk.


 Aish terkekeh kecil, kemudian menyudahi kegiatannya dan berjongkok di depan sang ibu.


"Aish janji akan sering main ke sini, Mam. Kalau perlu setiap minggu Aish akan menginap di sini," tukasnya membujuk.


"Tapi tetap saja rasanya tak akan sama dengan kamu tetap tinggal di sini," gumam Amelie mulai melow.


"Ah, rupanya mengejek Papi hanya cara Mami menutupi sisi lain Mami yang ini, padahal sama saja melownya," kekeh Aish sembari memeluk tubuh sang Mami dan menghidu aromanya yang pasti akan dia rindukan setelah tinggal berjauhan nanti.


 Setelah beberapa saat saling memeluk, Aish melerai pelukannya. Dan menatap wajah sang ibu lekat.


"Aish sayang sekali sama Mami."


"Mami juga, sayang. Kapan pun kamu ingin pulang, pulanglah rumah ini akan selalu terbuka untuk kamu. Jangan sungkan ya," tandas Amelie.


"Tentu saja, Mami. Rumah dan ruangan ini jualah yang akan jadi tempat ternyaman. Tapi Aish tetap tidak bisa menolak kenyataan kalau Aish harus ikut kemana suami Aish sekarang menbawa Aish. Dan Aish tidak pernah masalah kalau dia meminta Aish memulai semuanya dari nol tanpa bantuan Papi atau Mami sama sekali. Toh, Aish sudah pernah hidup lebih sulit dari ini." Aish tersenyum simpul teringat akan kenangannya dengan sang nenek yang mungkin saat ini sudah tak lagi marah marah karena dia tak ada lagi di rumahnya.

__ADS_1


 Bahkan mungkin saat ini neneknya sudah menikah dengan sang juragan yang memaksanya untuk menyerahkan Aish padanya dulu. Yang menjadi awal mula semua ini di mulai, yang membawa hikmah luar biasa bagi Aish yang akhirnya bisa bertemu ke dua orang tua kandungnya sekarang. Rasanya semua penderitaan itu tak lagi memiliki arti.


Tok


Tok


Tok


 Aish menoleh saat pintu kamarnya yang sebenarnya tak tertutup itu di ketuk, dan senyum manis langsung tersungging di bibir tipisnya saat melihat kalau Asy yang datang dengan sebuah nampan berisi camilan di atasnya.


"Boleh aku masuk?" tanya Asy lembut, sopan santun tak pernah lekang dari sosok Asy walau hanya masuk ke kamar saudarinya dia tetap mengetuk pintu.


"Tentu saja, saudariku sayang. Masuklah, ini kan kamarmu juga," ucap Aish sembari menyambut asy dan mengambil alih nampan di tangannya.


"Jangan begitu, nanti aku akan lebih leluasa masuk ke sini dan mengacak acak semua barang mu bagaimana?" Kekeh asy setengah mengancam.


"Waw, ini bolu pandan? Apa kamu yang buat sendiri, sayang?" tanya Amelie saat melihat apa yang ada di dalam nampan yang kini telah berpindah ke atas nakas.


 Asy mengangguk dengan penuh semangat. "Di ajari sama ibunya Kak Rahman.".


 Asy tersipu, terlebih saat teringat kebersamaannya dengan Bu Hannah yang sudah selayaknya ibunya sendiri. Memperlakukannya dengan lembut dan sangat baik, tak pernah membedakannya dengan anaknya sendiri. Membuat Asy sangat merasa bersyukur memiliki ibu mertua sepertinya.


"Wah, benarkah? Enak sekali kamu, ada yang mengajari bikin masakan. Aku siapa yang mau mengajari, orang tua saja Mas Satrio tidak punya, sudah almarhum. Hanya ada paman dan bibinya, itupun tinggal jauh dari rumahnya," keluh Aish yang tiba tiba juga ingin mempunyai ibu mertua yang sayang padanya. Terlebih setelah ini dia akan mengambil tanggung jawab sebagai seorang istri, jujur saja besar keinginannya untuk bisa di bimbing oleh seorang mertua yang penyayang.


"Tidak apa, Nak tidak semua mertua penyayang seperti yang di dapatkan Asy. Bibi Hannah sejak dulu memang baik, tapi tidak punya ibu mertua juga tidak ada salahnya ketimbang kamu mendapatkan ibu mertua cerewet yang suka mengatur ngatur seperti di cerita novel TABIR (pelakor itu ternyata adikku) karya tangannya author Lady ArgaLa? Bagaimana? Apa kamu yakin akan bahagia? Apalagi kalau suaminya tukang selingkuh kayak si Fatan, salah satu tokoh utamanya yang plin plan itu, hih amit amit." Amelie berkata panjang lebar sembari menggedikkan bahunya saat teringat dengan novel yang sering di bacanya di salah satu platform online tersebut.


Aish dan Asy kompak tertawa.

__ADS_1


"Ah iya, Mami benar. Kamu akan gila kalau punya meertua super cerewet dan banyak tingkah seperti Bu Sukri, salah satu tokoh di novel itu. Aku saja selalu amit amit kalau membacanya kok," timpal Asy menyetujui perkataan ibunya.


"Jadi kamu baca novel itu juga, Nak?". tanya Amelie tak percaya.


 Asy mengangguk mantab. "Bahkan dari episode pertama dan aku selalu menunggu update terbarunya setiap hari. Walau konfliknya ramai tapi selalu bikin candu ya kan, Mi?".


Amelie mengangguk cepat sedang Aish malah kebingungan melihat mereka.


"Mami sama Asy ngomongin apa sih?" tanyanya bingung.


"Kamu beneran nggak tahu?" Amelie bertanya balik, begitu pula Asy yang kini malah menatap heran pada saudaranya yang mempunyai rambut indah sepunggung itu.


 Aish mengangguk dengan jujur. "Nggak."


 "Novel online di aplikasi noveltoon, yakin kamu nggak tahu?" Asy menimpali.


"Nggak, Asy. Coba sini kasih tahu, manatau bisa jadi kegiatan di waktu luang nantinya, kebetulan Aish juga suka baca cerita kok."


Amelie menunjukan ponselnya dan novel yang dia maksud, lalu Aish mulai mendownload aplikasi platform online tersebut ke ponselnya sendiri dan mulai menjelajah.


"Aish, suamimu sudah kembali. Apa kamu sudah siap, Nak?" Bu Hannah muncul dari balik pintu kamar Aish yang terbuka.


 Aish menoleh dan mengangguk cepat. "Sudah, Bu. Sebentar."


 Setelah beberapa saat bersiap, akhirnya mereka sekarang berkumpul di teras untuk melepas kepergian Aish bersama Satrio yang saat ini telah menjadi suaminya.


Amelie memeluk anaknya, mengelus punggung yang tertutup rambut panjang itu dengan lembut.

__ADS_1


"Jangan lupa untuk sering ke sini ya, Nak. Dan jangan ragu untuk cerita apapun sama Mami, tolong jangan menutupi apapun. Walau dia suami kamu, jangan terlalu percaya penuh padanya," bisik Amelie di telinga Aish yang langsung menimbulkan sejuta tanya di hati Aish.


__ADS_2