MEMBALAS GUNDIK SUAMIKU

MEMBALAS GUNDIK SUAMIKU
Chapter 218.


__ADS_3

"Hah, apa? Kamu bilang apa, Kak? Maaf aku kurang dengar soalnya anginnya kencang sekali," tukas Asy sembari memperbaiki jilbabnya yang beterbangan terbawa angin.


 Rahman terkekeh. "ah, tidak. Tidak apa apa, itu rumah orang tua kamu sudah kelihatan, mau mampir dulu tidak?".


 Asy mendongak menatap ke arah yang di tunjukkan Rahman. Raut wajahnya menjadi lebih ceria sekarang, rumah itu rumah yang penuh kenangan dan saksi bisu tentang bagaimana dia menahan rindu dalam diam akan seseorang yang kini sudah menjadi sang pujaan.


"Nah, kan di tanyain malah diam saja." Rahman mencolek tangan Asy yang melingkar di perutnya.


"Ah, eh i- iya kita mampir dulu, Kak. Masa iya sudah sampai di sini kita nggak jenguk bapak dan ibu sekalian." Asy balas tersenyum.


 " Nah begitu dong, baru istriku namanya. Kalau di tanya menjawab dengan senyuman," gumam Rahman sembari memelankan laju motornya dan berbelok masuk ke dalam halaman rumah Pardi dan Salma yang tampak lengang.


 Asy turun dari motor, memindai keadaan sekitar rumah yang tak banyak mengalami perubahan berarti. Tanaman tanaman seperti sayur mayur dan buah buahan yang dulu dia tanam di samping rumah juga masih ada, tumbuh dengan subur dan baik. Mungkin karna di rawat oleh Pardi yang juga senang berkebun.


"Ayo, naik." Rahman menggandeng tangan Asy dan mengajaknya menaiki teras rumah yang sudah lumayan lama tak di injaknya itu.


 Asy bergetar, hingga tak mampu untuk sekedar mengetuk pintu rumah orang tua angkatnya tersebut. Hingga akhirnya Rahman lah yang mewakili.


Tok


Tok


Tok


"Assalamu'alaikum," ucap Rahman di depan pintu rumah yang tertutup itu.


  Hening, tak di dapatinya jawaban sama sekali dari dalam sana. Bahkan suara sekecil apapun tidak pula terdengar.


Tok


Tok


Tok


"Assalamu'alaikum," ulang Rahman berharap kali ini panggilannya akan mendapatkan jawaban.


Namun sayang, hasilnya masih hening. Tak ada suara sedikit pun yang terdengar dari dalam sana.


 Rahman mengulangi panggilannya hingga tiga kali, dan hasilnya masih sama. Tak ada jawaban sama sekali, hingga akhir mereka saling pandang dan memutuskan untuk pergi saja dari rumah itu. Menimbang waktu yang juga terus berjalan' dan tinggal satu jam lagi menuju waktu yang di tentukan untuk di mulainya acara pengajian si masjid.

__ADS_1


"Apa mungkin bapak dan ibu juga ada di masjid ya, Kak?" ucap Asy saat mereka sudah kembali berkendara menuju masjid Desa.


 Rahman manggut-manggut. "Mungkin saja, bisa jadi memang begitu. Nanti kita coba cari cari saja di sana ya. Semoga saja ada," pungkas Rahman.


 Asy mengangguk mantab, dan mereka pun kembali melanjutkan perjalanan dalam diam.


****


Sesampainya di masjid desa, rupanya sudah ada banyak sekali orang yang datang. Tamu dari luar kampung tersebut juga ada di tambah santri santri dari pondok pesantren di kampung sebelah yang juga turut hadir.


 Penjual penjual makanan ringan pun sudah membangun tenda tenda kecil untuk berjualan, banyak anak anak kecil yang mengerubunginya untuk membeli dagangannya.


 Rahman memarkirkan motor yang dibawanya di luar halaman masjid, karena tempat yang di sediakan hampir penuh oleh kendaraan tamu tamu yang datang. Lalu setelah itu berjalan memasuki halaman masjid yang sudah penuh sesak oleh manusia.


"Subhanallah, ramai sekali ya Kak." Asy memandang takjub pada banyaknya orang yang antusias terhadap adanya acara pengajian tersebut.


"Alhamdulillah, kesadaran masyarakat akan pentingnya pendidikan agama maish tinggi di sini." Rahman menimpali.


 Setelah sampai di dekat pintu masuk masjid, beberapa orang menyambut Rahman dan Asy lalu mengarahkan mereka ke tempat yang sudah di sediakan. Rahman di antara tetua desa dan ustadz ustadz lainnya, sementara Asy di barisan depan para ibu ibu.


 Acara pun di mulai, beberapa orang yang berada di dekat asy tampak tak fokus dengan jalannya acara. Dan malah lebih memilih berbisik bisik dan menggosip ketimbang mengikuti acara yang sakral itu.


****


 Setelah acara pengajian yang di isi ceramahnya oleh Rahman itu berakhir, mereka pun duduk bersamaan di dalam masjid, menunggu para tamu undangan semuanya pulang terlebih dahulu agar tidak berdesakan dengan yang lain


.


 Di saat itulah para tetua desa dan juga ustad yang ada memuji apa yang di sampaikan oleh Rahman tadi, tausiyahnya mengenai pentingnya menjaga lisan sangat mengena di hati para tamu dan mereka semua yang hadir di sana.


"Ah tidak seperti itu, pak. Saya hanya menyampaikan apa yang saya tahu saja kok." Rahman berdalih sembari mengulas senyum.


"Ustadz Rahman ini sangat pandai berdalih, padahal apa yang dia sampaikan saya saja baru tahu loh."


"Iya benar, ustadz Rahman ini merendah saja. Padahal sebenarnya yang ada di baliknya sangat luar biasa.


 Rahman kembali tersenyum simpul. "Subhanallah, ustadz ustadz di sini juga tentunya ilmunya pasti lebih tinggi dari pada saya. Saya merasa tidak enak di puji demikian. Harusnya hal itu belum pantas untuk saya, namun saya mengucapkan terima kasih sebanyak-banyaknya jikalau memang isi tausiyah saya tadi berkenan di hati ustad sekalian."


 Setelah itu mereka pun berpamitan pula untuk pulang, membubarkan diri dan membuat janji untuk bertemu kembali di lain kesempatan.

__ADS_1


Saat berjalan menuju kendaraan bermotor yang tadi di parkirkan Rahman di luar masjid, Asy tanpa sengaja melihat ke arah seorang yang tampaknya dia kenal.


"Kak, sebentar." Asy menahan tangan Rahman.


"Ada apa, sayang? Kamu mau beli sesuatu?"


Asy menggeleng. "Bukan, tapi coba lihat itu. Sepertinya itu bapak dan ibu ya?"


 Rahman menatap ke arah yang di tunjukkan Asy, matanya menyipit mencoba menajamkan pandangan.


"Bagaimana kalau kita dekati?" tawar Rahman.


 Asy mengangguk dan mereka pun berjalan mendekati orang yang di maksud asy.


 Satu orang mendorong sebuah kursi roda yang di atasnya duduk seorang perempuan berjilbab lebar.


"Bapak?" panggil Asy memastikan.


 Orang yang dia maksud menoleh dan tahulah Asy kalau dia memang lah orang dia maksud. Pardi sendiri tampak terkejut sesaat kala melihat Asy, sedangkan Salma berusaha menoleh ke belakang untuk melihat siapa yang memanggil suaminya.


"A- Asy ...," Lirih Pardi pelan.


"Asy? Ini benar kamu, Nak?" Salma menimpali, mata ke dua orang tua itu tampak berkaca-kaca.


 Asy mengangguk, lalu tanpa aba aba dia pun memeluk Salma dengan sangat erat.


****


 Singkatnya kini mereka sudah berada di rumah Pardi dan Salma, duduk berhadapan dengan senyum kebahagiaan yang sama.


"Ibu senang sekali akhirnya kamu mau bertandang ke sini lagi, Nak. Ibu kira kamu sudah lupa dengan ibu dan bapak," tukas Salma menatap Asy penuh haru.


 Asy memeluk Salma meluapkan kerinduannya. "Iya, Asy juga rindu dengan bapak dan ibu."


"Bagaimana dengan orang tua kandungmu di sana, nduk?" tanya Pardi yang sekarang bicara lebih lembut pada Asy, penampilannya pun kini tampak lebih islami ketimbang dulu saat Asy masih tinggal bersama mereka.


"Alhamdulillah, papi dan mami sangat baik. Dan juga Aish, ternyata Asy punya saudara kembar' dan dia sangat cantik."


"Alhamdulillah."

__ADS_1


"Oh ya, bagaimana pendapat kalian tentang almarhum Juli yang katanya di ketemukan dalam kondisi mengenaskan itu? Bapak dengar katanya dia meninggal karna di bunuh oleh seseorang? Apa benar begitu?"


__ADS_2