
Sarah keluar dari kamar mandi dengan wajah basah oleh air mata, namun kali ini dengan di sertai senyuman lebar di bibirnya.
"Sayang, kamu senyum? Itu artinya ...."
Axel tak mampu melanjutkan kalimatnya saat melihat Sarah serta merta mengangguk cepat dengan mata basah dan senyuman manisnya.
"Alhamdulillah," seru semua yang ada di sana termasuk Sonia yang sudah kembali ke kamar Sarah sambil membawa nampan berisi minuman.
"Mas, aku hamil." Sarah tersenyum dan tertawa di waktu bersamaan di sertai air mat bahagia yang semakin melengkapi kebahagiaan mereka.
Axel mengangguk dan memeluk erat tubuh Sarah, berucap hamdalah berulang kali mensyukuri nikmat Allah yang paling berharga.
"Selamat ya, Sayang. Akhirnya kamu akan segera jadi ibu," ujar Nyonya Ellen sambil bergantian memeluk Sarah.
"Thanks, Mom. Doakan bayi ini sehat hingga lahir nanti, dan bisa menjadi penghibur hati kita semua."
Sarah berganti memeluk kedua orang tuanya dan mereka berbahagia bersama.
"Hei, jangan lupakan mertuamu ini," sela Sonia sambil menarik Sarah dan ikut memeluknya erat.
Semua berbahagia, semua gembira ingin menyambut calon anggota baru keluarga mereka yang sudah di tunggu sejak lama. Tak terkira senangnya hati Sarah, hingga rasanya semua luka yang pernah menghampiri hidupnya kini sirna seketika.
****
"Hati-hati, Sayang." Axel meletakkan tangannya di atas pintu mobil, berjaga agar kepala Sarah tidak terantuk.
Kini mereka semua sudah sampai di pelataran sebuah rumah sakit ibu dan anak, sesuai saran orang tua dan mertuanya Sarah akan langsung melakukan USG untuk mengetahui perkembangan bayi dalam kandungannya.
Mereka masuk ke lobi dan mendaftar, selama menunggu giliran tangan Axel tak sekalipun lepas dari tangan Sarah. Sesekali tampak dia menciumi tangan istrinya itu dengan perasaan senang bercampur haru.
"Nyonya Sarah!" panggil petugas rumah sakit sambil membuka pintu ruangan periksa.
Masih sambil bergandengan tangan Sarah dan Axel masuk ke dalam.
"Selamat datang, apa yang bisa kami bantu, Nyonya dan Tuan?" sapa dokter yang berada di balik meja kerja itu ramah.
__ADS_1
Setelah di persilahkan duduk, Sarah mulai mengutarakan keinginannya untuk USG.
"Baik, silahkan ke sini Ibu Sarah." dokter berjilbab itu berdiri dan membimbing Sarah menuju sebuah ranjang dengan alat USG di sampingnya.
Axel mengikuti dan terus menggenggam tangan Sarah erat, seakan takut istrinya terpisah darinya. Lucu memang, tapi ... itulah cinta bukan?.
"Permisi ya, Ibu." dokter meminta izin untuk membuka sedikit baju Sarah dan mengoleskan gel dingin khusus di sana. Setelahnya terasa alat USG itu menari di atas perutnya membuat Sarah yang baru pertama kali merasa sedikit geli.
"Nah, itu sudah terlihat kantung janinnya ya Pak, Bu. Usianya sudah 4 minggu, dan kondisinya semua sehat."
Mata Sarah berkaca-kaca, sebelah tangannya menutup mulutnya tak percaya. Begitu pula Axel yang langsung memeluk Sarah saking senangnya.
"Terima kasih sekali, Sayang. Kamu istri yang luar biasa, setelah ini pokonya aku akan memperlakukan kamu lebih baik dari yang sebelumnya. Mas janji," bisik Axel pelan namun penuh keyakinan.
Sarah mengangguk dan mengusap air mata yang mengalir di mata Axel kemudian mereka tertawa bersama.
"Ah ya, ada satu kabar gembira lagi yang harus saya sampaikan Pak, Bu." Dokter itu berbalik dan tersenyum, tangannya tetap memegangi alat USG yang masih setia bertengger di perut Sarah sejak tadi.
"Apa itu, dok?" tanya Axel penasaran.
"Janinnya ...."
Dokter itu tersenyum geli karna tau ini pasti kalo pertama pasangan itu memiliki anak jadi belum paham tentang situasinya. Dan hanya dengan menggantung kalimat saja sudah bisa membuat keduanya begitu cemas tak terkira. Sarah bahkan meremas tangan Axel yang masih setia memegangnya.
"Jangan cemas Bapak, Ibu. Ini kan kabar gembira, saya hanya mau menyampaikan kalau janin kalian nggak hanya satu," jawab dokter itu.
Sarah dan Axel sejenak saling pandang. "Maksud dokter, kembar?"
Dokter mengangguk. "iya, dan ini." menunjuk layar monitor. "Bukan hanya dua, tapi ini ada tiga embrio yang semuanya tengah berkembang sempurna."
"Jadi ... maksudnya bagaimana, Dok?" tanya Axel yang memang belum mengerti sama sekali tentang hal ini.
"Itu artinya, calon bayi Bapak dan Ibu bukan hanya kembar dua tapi sekaligus kembar tiga atau triplets."
"Alhamdulillah!" seru Axel sambil melepas tangan Sarah dan menjatuhkan diri untuk bersujud syukur di lantai.
__ADS_1
"Alhamdulillah, terima kasih nikmat- Mu ya Allah." Sarah mengusap air mata yang langsung membanjir di pipinya tak hentinya rasanya bibirnya mengucap hamdalah akan semua kejutan besar di hidupnya hari ini.
Axel bangkit dan menangkup tangannya di dada dengan wajah basah oleh air mata.
"Terima kasih banyak, dokter. Terima kasih sudah memberi kabar bahagia ini pada kami," ujar Axel dengan kebahagiaan yang membuncah bahkan saking bahagianya dia sampai tak tahu lagi harus mengucapkan apa untuk mendeskripsikan kebahagiaannya saat ini.
Setelah menebus obat dan vitamin untuk kandungan Sarah, lekas mereka pulang ke rumah untuk mengabari kedua orang tuanya yang masih setia menunggu di rumah. Axel membaringkan kursi mobil di sampingnya agar Sarah bisa berbaring lebih nyaman.
"Terima kasih, Mas." Sarah tersenyum.
"Iya, sama-sama. Mulai sekarang jangan capek-capek ya. Kamu cuma perlu fokus sama calon anak-anak kita. Urusan rumah nanti biar Mas minta Mama buat carikan orang untuk bantu-bantu. Pokoknya kamu nggak boleh capek dan nggak boleh ngerjain apapun, oke?" titah Axel yang merasa sangat khawatir jika Sarah sampai kelelahan atau apalah yang malah membuat janji mereka kenapa-kenapa.
Sarah tersenyum. "Iya, suamiku. Tenanglah, ini nggak seserius itu. Kami pasti baik-baik saja kok sampai mereka lahir nanti."
Axel mengangguk dan mulai menjalankan mobil menuju rumah.
"Ada yang mau kamu makan, Sayang? Katanya kalau ibu hamil selalu suka makanan yang aneh-aneh," celetuk Axel setelah mereka berada di jalan yang penuh dengan penjaja makanan di kiri dan kanan jalan .
Sarah sedikit menegakkan tubuhnya untuk melihat-lihat.
"Emmm, kayaknya rujak enak deh ya, Mas? Sama itu juga tuh es kelapa muda. Hummm cocok banget pasti di makan pas panas-panas begini."
Axel mengangguk dan langsung menepikan mobilnya ke dekat penjual rujak dan es kelapa yang di tunjuk Sarah.
"Sebentar ya, kamu tunggu di sini aja. Biar Mas yang belikan, di luar panas soalnya," tukas Axel sambil segera membuka pintu mobil dan turun.
"Bang, rujaknya 2 ya. Buatin dulu saya mau beli es nanti saya ambil lagi ke sini," pinta Axel pada Abang penjual rujak yang tengah sibuk mengupas mangga.
"Siap bos!" sahutnya sambil mengacungkan jempol.
Setelahnya Axel langsung menuju ke penjual es kelapa muda dan membeli beberapa bungkus sekaligus untuk orang tua dan mertuanya di rumah.
Namun saat sedang memesan Axel tidak sengaja melihat seorang wanita hamil yang sedang mengais tong sampah tak jauh darinya. Tampak wanita itu kepayahan karna perut besarnya, namun tangannya tak henti mengais sampah sampai mendapatkan sepotong roti yang tampak sudah berjamur.
"Tunggu, jangan di makan." Axel berlari mendekati wanita hamil yang hanya memakai daster lusuh itu.
__ADS_1
Wanita itu mengurungkan niatnya untuk mengigit roti berjamur untuk mengganjal perutnya yang kelaparan. Dan mendongak menatap Axel yang kini sudah sampai di hadapannya dan mengeluarkan beberapa lembar uang dari dompetnya .
"Ini, buat beli maka .... Ya Allah, Jeni?"