
Asy mengangguk, melangkah pelan mendekat sembari mengusap sudut matanya.
"Neng kamu nangis? Kenapa?" tanya Rahman cemas, walau dia tahu dia tak berhak atas perempuan yang masih bertahta di hatinya itu.
Asy menggeleng pelan dan berusaha tersenyum walau getir.
"Kak, tolong aku."
"Tolong? Tolong apa, neng? Katakan, kalau kakak bisa pasti akan kakak tolong," ucap Rahman pada gadis berjilbab tosca itu.
Asy tersenyum lagi, kali ini lebih lebar walau getir itu masih terasa.
"Ikutlah dengan ku, kak." Asy berbalik dan melangkah menjauh.
"Mau kemana?". tanya Rahman lagi sambil mengambil langkah lebar mensejajari langkah Asy.
"Ikut saja, kak. Nanti kakak akan tahu, tapi Asy mohon tetaplah tolong asy nantinya. Apapun yang akan kakak lihat di sana," pinta Asy dengan mata berkaca-kaca.
Hari Rahman terenyuh, entah apa yang akan di minta Asy untuk dia lakukan. Tapi dia sama sekali tak kuasa menolaknya.
"Baiklah," gumam Rahman sambil menganggukkan kepalanya.
"Terima kasih."
Bisa Rahman lihat bagaimana senyum itu mekar dengan lebih tulus kali ini.
*
Sementara itu.
"Mom, dengarkan dulu." Sarah berusaha mengejar Nyonya Ellen yang sejak tadi berjalan mondar mandir di dalam kamarnya, wajah cantiknya tampak tegang dan gelisah.
"No, apa yang harus Momy dengar? Kalian gagal menjalankan tugas itu, dan apa katamu tadi? Kalian bilang kalau gadis itu sendiri yang menginginkan ada di rumah Ed?" cecar nyonya Ellen dengan wajah merah padam seperti menahan amarah.
Sarah tersurut mundur baru kali ini sang ibu sampai marah padanya hanya karena masalah sepele.
"Ini bukan masalah ringan, Sarah. Ini ...."
"Tapi, Mom dia putri kandung uncle Ed dan aunty Amelie!" seru Sarah mencoba membela diri dengan memberi tahu yang sebenarnya.
Nyonya Ellen berbalik dengan seringai miring di bibirnya.
__ADS_1
"Apa ada bukti konkret untuk itu? Apa Ed dan anak itu sudah melakukan tes DNA?"
Srah tercekat, dia tak bisa menjawab apapun lagi karna hal itu memang tak ada saat kemarin mereka di rumah Edwin.
"Kau diam, artinya memang tidak ada kan?" Nyonya Ellen tersenyum penuh kemenangan.
" Tapi mereka punya tanda lahir yang sama dengan putri uncle yang hilang!" Sarah masih ngotot, terlebih kemiripan wajah antara Asy dan Aish dengan Ed seolah mematahkan semua dugaan kalau mereka bukan ayah dan anak.
"Apa katamu? Mereka?". gumam Nyonya Ellen kembali melempar tanya pada Sarah yang kini berdiri di hadapannya.
Sarah mengangguk. " Ya, Asiyah dan Aisyah mereka anak kembar uncle Ed dan aunty Amelie yang hilang lebih dari dua puluh tahun lalu karna kejahatan seseorang yang tega menculiknya saat mereka baru saja lahir di dunia."
Nyonya Ellen melempar tatapan tak suka pada Sarah, dan tentu saja Sarah menyadari itu. Dan semakin besar kecurigaannya pada orang tuanya sendiri.
"Kalian bahkan tidak punya bukti dan malah membiarkan dua orang gadis tak bersalah terkurung di sarang penjahat seperti rumah Ed. Kalian bahkan tidak tahu betapa kejamnya dia saat ...."
"Membantai opa dan Oma?" Sarah menyela.
Nyonya Ellen menatapnya gusar.
"Baguslah kalau kau ingat kisah itu, Nak. Jadi setidaknya kau akan tahu seperti apa sebenarnya pamanmu itu."
"Memangnya seperti apa? Sarah bahkan baru bertemu dan bisa mengobrol dengannya beberapa hari yang lalu, Mom saat Momy meminta kami ke sana membebaskan gadis itu tapi nyatanya kami malah mendapatkan kejutan di sana."
"Momy memberimu tugas, dan kau gagal menjalankannya. Kita lihat saja apa yang akan terjadi pada gadis itu nantinya, Ed bukanlah seperti yang terlihat, Sarah. Dia licik dan berbulu, sangat sulit untuk menemukan titik kelemahannya." Nyonya Ellen berkata dengan nada lirih dan pelan.
Sarah begidik, memikirkan akan keputusan yang sudah dia ambil saat itu. Entah mengapa saat ini dia sangat takut itu keputusan yang salah.
****
Di tempat lain pula.
"Hmm ... jadi begitu ceritanya, lalu ... apa Asy tahu mengenai niatmu itu?" tanya Ed menatap tajam manik mata Alam yang tengah terbaring lemah di atas ranjang rumah sakit karna penyakit jantungnya yang kembali kambuh tanpa di nyana.
Alam membuang pandangan ke langit langit kamar, nanar matanya menampakkan kegelisahan.
"Belum, Papi. Hanya saja ... saya sudah menyampaikan ini pada lelaki yang di cintai Asy, mungkin ... jika tiba batas waktu saya nanti, dia yang akan menggantikan saya di hidup Asy. Tapi ... sebelum itu saya hanya ingin zuriat saya bisa terlahir dari rahim wanita baik baik seperti asy, agar kelak orang tua saya tidak akan merasakan kehilangan terlalu dalam."
Ed meneguk ludahnya dengan susah payah, tak di sangkanya pria yang tampak santai dan anteng seperti Alam rupanya tengah menyimpan duka yang sangat dalam.
Katup jantungnya bermasalah dan dokter sudah memastikan usianya tak akan lama lagi, dan sebagai orang yang baru mengenalnya terang saja Ed langsung menaruh simpati padanya.
__ADS_1
"Lalu, bagaimana tanggapan pria yang kamu bilang mencintai putri ku itu?" tanya Ed lagi.
"Dia bilang ...."
Tok
Tok
Tok
"Tuan, ada seseorang yang mencari anda.".
Suara seorang anak buah Ed terdengar nyaring dari balik pintu ruangan, menghentikan percakapan Ed dan Alam begitu saja.
Ed menatap Alam sejenak dan tanpa banyak kata bangkit berdiri dari duduknya.
"Baiklah, katakan aku akan datang. Kita lanjutkan nanti, dude."
Ed menarik tuas pintu dan keluar dari ruangan itu meninggalkan Alam seorang diri di dalamnya. Merenungi akan nasibnya yang terkadang dia benci.
"Kenapa sesakit ini, aku terus berusaha mengalihkan rasa ini agar tidak semakin berkembang. Tapi nyatanya, bahkan berjauhan sebentar saja membuat aku sesak untuk segera bertemu dan memandang wajah teduhmu. Maafkan Mas, Asy. Mas ingkar janji untuk tidak melibatkan perasaan dalam pernikahan kita, tapi nyatanya sekarang Mas benar-benar mencintai kamu."
Setelah berkata demikian, Alam memejamkan matanya tetesan lembut dua buliran bening dari sudut matanya membentuk jejak di sisi sisi wajahnya. Lelap dalam nestapa yang entah kapan bertemu ujungnya .
*****
"Neng, ini rumah sakit. Kenapa kita ke sini, neng? Apa kamu sakit?" cecar Rahman saat taksi online yang di tumpanginya dan Asy berhenti di depan sebuah rumah sakit besar di kota tersebut.
Asy menggeleng dan dengan langkah cepat menuju lobi rumah sakit tanpa berkata apa apa.
Rahman yang kebingungan hanya bisa mengikuti dengan hati penuh tanya.
Sampai di suatu koridor rumah sakit, Asy berbelok dan tampak di sana Ed tengah bicara serius dengan seseorang yang hanya tampak bagian punggungnya saja.
"Kak, ayo cepat waktu kita sedikit " Asy menarik tangan Rahman tanpa sadar dan membawanya ke depan sebuah ruangan yang terdapat kaca tembus pandang di pintunya.
Rahman menoleh dan terkejut mendapati seseorang yang terbaring di sana.
"Mas Alam? Kenapa dia bisa di sini, Asy?"
"Kak, tolong selamatkan Mas Al. Kata dokter dia ...."
__ADS_1