MEMBALAS GUNDIK SUAMIKU

MEMBALAS GUNDIK SUAMIKU
Chapter 208.


__ADS_3

"Astaghfirullah!" seru Hendro terkejut bukan main, kala Ed rupanya membawakan ke sebuah perkebunan mangga, rambutan serta durian yang luasnya nggak kira kira.


 Hendro sampai melongo di buatnya, belum lagi sebuah ekskavator tampak terparkir rapi tak jauh dari sana.


"Kenapa ekspresi kamu begitu?" kekeh Ed menyindir.


 Hendro menelan ludah, kali ini dia tak bisa bersikap seolah tak terjadi apa apa lagi. Ini sudah di luar ekspedisi soalnya, eh.


"Pak, i- ini ... tanaman yang Bapak maksud kah?" tanyanya gugup, berharap sekali Ed akan mengatakan tidak namun sepertinya itu hanya akan menjadi angan angan semata. Semuanya sudah terpampang jelas dan nyata tak ada tempat untuk melipir.


 Ed tersenyum dan mengangguk penuh semangat. "Iya, ini perkebunan yang saya bangun sendiri. Tanaman ini semuanya saya rawat sejak masih bibit, sejak saya baru menikahi Maminya anak anak. Dan sekarang ... seperti yang kamu lihat, inilah hasilnya."


 Dengan bangganya Ed memamerkan semuanya hasil kerja kerasnya selama ini yang membuat dia bisa menjadi bos buah buahan tersebut di waktu waktu tertentu sepanjang tahun. Dan beberapa pengelola sudah menjadi langganannya, terutama durian, karna durian yang di tanam oleh Ed adalah jenis durian yang berbiji tipis, manis dan tebal yang sudah pasti harga jualnya mahal dan bersaing karena kualitasnya tak di ragukan lagi.


"Luar biasa," desis Hendro mengakui, namun dia tak bisa membayangkan di minta mengurus perkebunan itu seorang diri. Walau mungkin menggunakan ekskavator tapi tetap saja tak bisa dia bayangkan di dalam kepalanya.


"Yah, begitulah. Dan sekarang tugas kamu untuk merawat dan membuat semua tanaman tanaman ini tumbuh subur dan berbuah banyak. Selain gaji pokok, saya akan memberikan kamu hasil dari buah buahan ini nanti ketika panen, kamu bisa mengirimkannya untuk ke dua orang tuamu di kampung. Bagaimana?" tawar Ed terdengar begitu menggiurkan, apalagi semua pohon buah di kebun tersebut tampak segar dan sehat pastinya akan menghasilkan buah yang kualitasnya bisa di adu.


 Tapi kembali lagi, mengingat bagaimana caranya dia akan melakoni semua tugasnya membuat Hendro seakan mati rasa.


"A- apa tidak ada pekerjaan lainnya lagi, Pak?" tanyanya mencoba bernegosiasi, bukan apa apa urusan merawat tanaman dengan kualitas terbaik itu membuatnya malah seolah di beri beban berat di pundaknya, dia takut tidak kuat dan akan tumbang nantinya.


 Namun Ed malah menggeleng, meruntuhkan semua harapan di benak Hendro.


"Tidak ada, jika kamu mau ya inilah pekerjaan yang ada. Gajinya juga akan sesuai kok sama beratnya pekerjaan ini, kamu tenang saja kalau itu yang kamu cemaskan. Kamu mendapat fasilitas tempat tinggal dan makan juga di sini, apalagi yang kurang? Hanya tinggal merawat kebun bukan hal yang sulit bukan?"


 Hendro menelan ludah, dalam hati sebenarnya dia membenarkan apa yang di katakan Ed ada benarnya juga. Hendro jadi ragu dan menimbang nimbang apa yang seharusnya dia lakukan sekarang.


 Saat tengah berpikir tentang tawaran Ed, seorang lelaki paruh baya mengenakan caping lebar dan sepatu bot muncul dari balik ekskavator sambil memanggul pacul, keringat tampak bercucuran dari tubuhnya hingga sebagian besar baju yang dia kenakan basah kuyup, namun anehnya wajah tuanya itu malah tak menampakkan kelelahannya sama sekali. Wajah itu tampak sumringah dengan nafas yang tersengal-sengal mungkin karna lelah.


"Pak bos? Kok tumben di sini, belum waktunya panen ini loh," seloroh lelaki tua itu sambil meletakkan cangkulnya di bawah, membuka capingnya dan mengipas ngipaskannya di depan wajahnya.


"Iya, Mang Diman. Ini saya bawa teman untuk Mang Diman." Ed menimpali.


 Hendro terbengong melihat itu, namun dia sudah bisa menebak kalau yang di maksud oleh Ed tadi adalah dirinya.


 Lelaki tua yang di panggil Mang Diman itu tampak memindai tubuh Hendro dari atas hingga ke paling bawah. Hendro sontak menutupi bagian tengah tubuhnya agar tak ternoda karna di tatap sedemikian rupa oleh Mang Diman.


"Hahahaha." Mang Diman malah tertawa melihat tingkah konyol Hendro.


"Kenapa kamu tutupi? Saya tidak berminat kok," seloroh Mang Diman masih dengan tawa khasnya.


 Ed menatap Hendro, membuat Hendro seketika menjadi malu sendiri sembari garuk garuk kepala yang tidak gatal.


"Bagaimana, Mang? Cocok?" tanya Ed lagi.


 Mang Diman mengacungkan sebelah jempolnya dengan raut wajah puas.


"Sangat cocok, badannya tegap dan ototnya pasti masih kuat. Mantab, Pak bos pilihan yang sempurna'," tukasnya terkekeh.


Ed menggelengkan kepalanya sedikit. "Pilihan Aish itu," gumamnya.


"Iya kah? Wah Non Aish pinter milih calon ...."


"Calon apa?" Sela Ed menatap Mang Diman tajam.


 Mang Diman langsung cengengesan. "Calon tukang kebun dong, Pak bos apalagi?" sahutnya sembari ikut menggaruk kepalanya salah tingkah.


 Ed melengos. "Ya sudah, Mamang ajari dia apa apa saja yang perlu dia lakukan. Saya masuk dulu, kalau ada apa-apa kasih tahu saja ya."

__ADS_1


"Siap, Pak bos." Mang Diman berkata lantang.


 Kemudian Ed berbalik dan berjalan kembali ke rumah tanpa berpaling atau setidaknya bicara pada Hendro.


 Hendro mendesah pasrah, toh semua ini juga tak akan lama setelah mahir nanti Hendro yakin pekerjaan ini pasti akan lebih mudah.


"Ayo, Den. Kita ke sana," ajak Mang diman pada Hendro.


 Hendro yang tak merasa di panggil malah celingukan, karna Mang Diman malah memanggilnya Den, di kiranya ada orang lain yang sedang di ajak bicara Mang Diman kala itu.


"Eh, kenapa kamu malah kebingungan? Ayo, mamang teh manggil kamu atuh," ujar Mang Diman lagi, kala menyadari Hendro malah celingak-celinguk saja di tempatnya.


Hendro menunjuk dirinya sendiri dengan tatapan bertanya.


"Iya, kamu teh siapa namanya? Mamang belum tahu, makanya tadi Mamang panggil Den, begitu." Mang Diman menjelaskan sesederhana mungkin.


 Hendro mengulum senyum lalu melangkah mendekati Mang Diman.


"Ooh, saya pikir Mamang bicara sama orang lain makanya saya bingung. Kenalin, nama saya Hendro, Mang." Hendro mengulurkan tangannya ramah.


Mang Diman menyambut uluran tangannya dengan sebuah senyuman lebar. "Nama Mamang teh Mang Diman, lengkapnya Sudirman."


 Hendro manggut-manggut, lalu setelah itu Mang Diman membawanya ke beberapa tempat yang akan menjadi pekerjaannya nanti. Seperti gudang pupuk, peralatan untuk mengurus dan merawat tanaman dan mesin ekskavator, juga lain lainnya.


 Setelah semuanya usai, dan Hendro mulai mengerti apa apa saja yang akan menjadi tugasnya. Mang Diman mengajaknya duduk sebentar di sebuah gubuk kecil yang biasa dia gunakan untuk beristirahat kala lelah mengurus kebun tersebut.


"Kerja sama Bos Edwin teh enak, Hen. Gajinya sesuai, kerjanya nggak di tekan. Pokonya nyaman dan tenang sekali kerja di sini. Mamang saja sudah kerja sama bos ed sejak sebelum dia menikah, dan semua tanaman ini Mamang juga yang bantu dia dulu bikin bibitnya. Nggak nyangka sekarang bisa jadi seluas ini kebunnya. Mana panennya banyak lagi," papar Mang Diman meletakannya sebotol air yang emang di sediakan Ed untuk pekerjanya yang lelah merawat kebun kenangangannya itu.


"Benar begitu, Mang? Soalnya saya kerja ini juga butuh uang buat pengobatan bapak saya di kampung, Mang." Hendro menuturkan kegundahan hatinya.


 Mang Diman mengangguk pasti. "Iya, kalau kamu mau mengirim untuk orang tuamu juga mudah, Bos Edwin bisa membantu sehingga kita tidak perlu repot ke bank atau brilink. Dia akan mentransferkannya untuk kita, yah sebaik itu orangnya walau pun luarnya kelihatan jutek," kekeh Mang Diman pula.


 Mang Diman bangkit dari posisi berbaringnya, dan menatap Hendro dengan raut wajahnya yang teduh.


"Kita di sini di gaji setiap minggunya, gaji yang sangat lumayan untuk pekerjaan seperti ini tentunya. Bos kita bukan orang yang pelit, selama kita baik dan jujur dia pun akan demikian. Baik baiklah bekerja di sini, kamu beruntung karna tidak sembarang orang bisa di terima di sini," tandas Mang Diman, lalu setelah itu lelaki tua itu pamit hendak menemui istrinya yang juga bekerja di sana sebagai pembantu rumah tangga.


 Tinggallah Hendro seorang diri di sana, hawa gubuk atau yang lazim di sebut rumah kebun itu begitu sejuk hingga membelainya dan membuatnya terbuai. Antara sadar dan tidak, Hendro pun tertidur. Tidur yang sangat nyenyak karna merasa satu bebannya kini mulai berkurang.


****


Sementara itu ..


"Mas kamu yakin mau pulang aja? Kondisi kamu belum membaik loh, Mas apa nggak sebaiknya istirahat dulu sampai luka lukanya kering?" tanya Sarah dengan raut khawatir.


 Axel mengelus lembut rambut istrinya, dan menyunggingkan seulas senyum tipis.


"Nggak papa, malahan kalau kelamaan di sini Mas jadi cemas berlebihan karena berjauhan dari si kembar. Mana sewaktu pulang ke rumah kemarin Mas belum sempat ikut pelukan lagi."


 "Tapi beneran nggak papa? Aku yang cemas loh Mas jadinya kalau kamu belum sembuh sudah maksa pulang begini," tukas Sarah lagi, belum tenang juga gundah di hatinya rupanya.


 "Iya, Mas yakin nggak papa kok. Lagipula lukanya sudah baikkan kok ini nggak begitu sakit lagi, di rawat jalan di rumah juga kayaknya nggak papa. Mas malah lebih senang karna bisa dekat sama keluarga Mas ketimbang di sini sepi," ujar Axel meyakinkan.


 Sarah menghela nafas panjang. "Baiklah, " ucapnya mengalah.


 Setelah itu Sarah pun keluar dari ruangan Axel untuk meminta dokter membuatkan surat izin pulang bagi suaminya. Walau dengan banyak pertimbangan dan nasehat serta saran yang mungkin tak semuanya bisa di ingat Sarah akhirnya dokter yang menangani Axel memperbolehkannya pulang dengan syarat harus banyak istirahat dan minum obat teratur di rumah, juga mengingatkan untuk mengontrol luka lukanya satu minggu sekali hingga luka luka itu di nyatakan kering dan sembuh total.


 Sarah juga tak lupa mengabari orang rumah, dengan tanggap Andrew langsung mengirimkan sebuah mobil dan beberapa anak buah untuk menjemput mereka. Khawatir ada sesuatu yang akan terjadi di saat perjalanan menuju rumah. Mengingat kondisi saat ini belum terlalu aman untuk berkeliaran di luar.


 Setelah semua persiapan matang, Sarah meminta salah satu anak buah yang di kirimkan sang ayah mertua untuk membantu membimbing Axel menuju mobil, tak butuh waktu lama akhirnya kini mereka sudah berada di jalan dengan posisi Axel berbaring di jok tengah yang sudah di beri alas sedemikian rupa hingga memungkinkan untuk berbaring dengan nyaman.

__ADS_1


"Rasanya nggak sabar pengen ketemu anak anak," gumam Axel tersenyum sendiri.


"Iya, aku juga Mas. Sudah lama sejak terakhir kita bisa bercanda bersama dan pergi liburan yang menyenagkan, iya kan?" timpal Sarah.


 Axel mengangguk membenarkan.


"Setelah ini nanti ayo kita pergi jalan jalan sama anak-anak lagi, rasanya rindu menghabiskan waktu berkualitas bersama mereka."


"Emmm, baiklah. Tapi pastikan dulu kondisi kamu sudah membaik benar ya."


 Axel mengangguk lagi, tampak kedamaian di kedua sorot matanya.


"Sayang," panggil Axel dengan mata terpejam.


"Hmmm?"


" Bagaimana kabar restoran kita ya? Rasanya sudah lama juga Mas tidak menilik ke sana, karna terlalu sibuk dengan semua drama ini."


 Sarah tiba tiba tersentak, bahkan Axel yang berbaring di pangkuannya sampai membuka mata karna merasakan keterkejutannya.


"Ada apa, sayang?"


 Raut wajah Sarah langsung berubah menegang, terlebih kala dia teringat akan kabar yang belum dia sampaikan pada suaminya mengenai Satrio.


"A- ah, nanti saja kita bahas restoran ya, Mas. Sekarang lebih baik Mas fokus saja dengan kesembuhan Mas, insyaallah Sarah masih bisa menghandle semua restoran itu, mas." Sarah memaksakan senyumnya agar terlihat natural.


Namun sebagai suami yang sudah lama membersamainya, tentu saja Axel menyadari perubahan ekspresi Sarah sebelumnya tadi yang semakin memperjelas kalau memang benar ada sesuatu yang di sembunyikan Sarah darinya. Dan Axel akan mencari tahu sendiri apa itu sebenarnya.


 Tak ingin terburu-buru, akhirnya Axel mengalah. Dia membalas senyuman Sarah agar perasaan wanitanya itu bisa lebih tenang.


"Baiklah, sayang terima kasih karna sudah membantu Mas ya."


 Sarah tampak tersenyum lega, dia mengangguk mengiyakan ucapan axel.


 Tanpa terasa mobil yang mereka tumpangi sudah tiba di halaman rumah Andrew, dengan di bantu beberapa orang Sarah memapah Axel naik ke teras rumah. Di sana rupanya sudah menunggu Andrew, Sonia juga si kembar yang langsung menghambur memeluk Axel meluapkan kerinduannya.


"Yyeyyyy, Papa pulang!" Seru si kembar berbarengan , mereka berlari hendak memeluk Axel. Namun langkahnya langsung di tahan oleh Sarah yang menyadari pasti sebuah pelukan akan membuat suaminya kembali merasakan sakit di luka yang ada di tubuhnya.


"Tunggu, tunggu anak anak m . Sabar ya," sela Sarah menahan tubuh anak anaknya yang sudah hampir menubruk tubuh Axel.


"Yah, Mama? Adam mau peluk Papa kenapa nggak boleh?" protes Adam dengan wajah di tekuk.


"Iya, Mama ish. Kenapa malah dihalangi?" timpal Ayuna dengan raut wajah yang sama dengan Adam.


 Dengan tenang Sarah menjelaskan kepada anak anaknya a, sedangkan Axel di bantu masuk oleh Sonia dan menunggu di dalam rumah.


"Kalian jangan peluk Papa dulu ya, badan Papa ada lukanya masih sakit nanti kalau kalian peluk kaya biasanya Papa kesakitan, nggak mau kan Papa kesakitan?"


 Si kembar kompak menggeleng.


"Nah, makanya kalau kalian tidak mau Papa sakit nanti jangan dulu di peluk Papanya ya. Di cium saja bagaimana?" tawar sarah menawarkan opsi lain untuk anak anaknya.


 Si kembar mengangguk dengan kompak, wajah mereka kini mulai tampak berbinar.


"Pintar, sekarang kita temui Papa ya. Ingat ya, jangan dulu di peluk tapi di cium saja ya."


 Sarah menggiring anak anaknya masuk ke dalam rumah untuk bertemu Axel. Wajah mereka tampak menunjukkan kebahagiaan yang tak terbendung. Dari ambang pintu tempatnya berdiri Sarah menatap haru bagaimana anak anaknya bergantian menciumi wajah Axel dengan riang.


 Namun kala kaki Sarah hendak melangkah mendekati mereka, sebuah suara mengagetkan nya dari arah belakang.

__ADS_1


"Wah wah wah, sepertinya aku datang di saat yang kurang tepat. Tapi ... sudah tidak banyak lagi waktu yang tersisa untuk kalian."


__ADS_2