
Mata Nek Minah berkaca kaca melihat anggukan kepala Gus Musa, di tambah dengan begitu sayang dan lembutnya Gus Musa memperlakukan bayi Jeni yang merengek di gendongannya itu.
Rengekannya semakin kencang, sepertinya bayi itu mulai haus atau lapar.
"Le, sepertinya nya dedek lapar," ujar Nek Minah sambil meminta bayi itu dari gendongan Gus Musa.
Gus Musa mengangguk. "Iya, Nek. Saya ambil bekalnya dulu di mobil ya, kayaknya tadi Mbak Jen ada bawa."
Nek Minah mengangguk pula dan menatap punggung Gus Musa yang semakin menjauh.
"Kamu beruntung jika bisa menikah dengannya, Jen. Nenek harap ... dia beneran bisa menjadi calon suami dan ayah buat kamu dan anak kamu ini." Nek Minah mencium lembut pipi mulus bayi Jeni yang masih saja bergerak gelisah karna lapar itu.
Tak lama Gus Musa kembali dengan membawa sebuah tas berukuran sedang yang berisi berbagai macam keperluan bayi yang sebelumnya sudah di persiapkan Jeni sejak sebelum berangkat.
Gus Musa membuka sebuah kotak kecil yang di dalamnya berisi bubur halus yang di masak sendiri oleh Jeni untuk makan anaknya, di tambah sebuah botol dot beserta termos kecil berisi air hangat untuk menyeduh susu semua lengkap ada di sana.
"Sini, le. Biar nenek yang suapin," nek Minah meminta mangkok kotak kecil yang berisi makanan bayi untuk di suapkan pada bayi Jeni yang tampak bersemangat berupaya menggapai tikar tersebut.
Gus Musa mengangguk dan menyerahkan sekotak bubur halus itu ke tangan nek Minah, sedangkan Gus Musa sudah sibuk membuatkan susu yang takarannya sudah dia hapal di luar kepala (jangan tanya hapal dari mana).
Nek Minah menyodorkan sesendok bubur halus itu ke mulut bayi Jeni, namun bayi itu justru menolak dan terus mengarahkan tubuhnya pada Gus Musa yang baru saja seperti membuat susu.
"Le, sepertinya dia mau sama kamu." Nek Minah berucap lirih.
"Injih, Nek. Sini biar sama saya, biar saya kasih susu," sahut Gus Musa sopan.
Bayi Jeni sudah berpindah ke pangkuan Gus Musa dan menyedot susu di botolnya dengan rakus. Hati Gus Musa menghangat melihatnya, dan dia semakin yakin akan keputusannya setelah ini.
Ceklek
Pintu ruangan IGD yang sejak tadi di tunggu tunggu akhirnya terbuka lebar, seorang dokter perempuan keluar dari sana dengan seraut senyum ramah di wajahnya.
"Bagaimana saudari saya, dok?" tanya Gus Musa tanpa bangkit, dia masih bertahan di posisinya karna sedang membaringkan bayi Jeni untuk menyusu di pangkuannya.
__ADS_1
"Iya, Dok. Bagaimana cucu saya?" timpal nek Minah tak kalah cemas, dia khawatir Jeni tidak baik baik saja mengingat banyaknya darah yang tadi mengalir dari tubuhnya.
Dokter muda itu tersenyum sambil menepuk pundak Nek Minah.
"Alhamdulillah, pasien masih bisa di selamatkan, Bu. Mungkin nanti, pasien hanya butuh tambahan darah saja untuk mengganti darahnya yang sudah keluar banyak sebelum sampai di sini."
"Alhamdulillah," ucap Gus Musa dan Nek Minah bersamaan.
" Tapi maaf, Pak, Bu. Ada sesuatu yang harus saya sampaikan," sela dokter itu.
"Apa itu, dok?" tanya Gus Musa dengan tak sabar.
Dokter menghela nafas sejenak sambil memindai wajah Gus Musa.
"Golongan darah yang di butuhkan sedang kosong, dan kami butuh donor untuk di berikan pada pasien secepatnya, agar kondisinya bisa lekas stabil."
" Memangnya apa golongan darah saudari saya, dok?" tanya Gus Musa lagi, sambil menggendong bayi Jeni untuk mendekat ke arah dokter karena bayi itu sudah selesai menyusu.
"Ambil darah saya, Dok." Gus Musa berucap tegas.
Tak ada keraguan sedikit pun di matanya, karna bayangan bagaimana sebelum ini Jeni dengan berani mengorbankan dirinya sendiri untuk melindunginya. Gus Musa mengerjab, dan setetes air mata lolos dari netranya.
"Terima kasih, Mbak Jen. Setelah ini ... biarkan saya membalasnya."
****
"Le, bagaimana kondisi Mbak Jen?" cecar Umi Nafisah yang baru saja datang ke rumah sakit setelah di kabari oleh Gus Musa.
Di belakangnya tampak kyai Hasan yang di dorong oleh salah seorang santri laki laki dari pondoknya, kyai Hasan yang sebelumnya memaksa ikut karna juga cemas dengan Jeni itu.
Gus Musa menyongsong ke datangan kedua orang tuanya di depan ruang rawat Jeni, sebelumnya Gus Musa sudah menceritakan semuanya hingga sekarang baik Umi Nafisah ataupun kyai Hasan sudah tau jalan ceritanya.
"Bagaimana Jeni, le?" tanya kyai Hasan pula saat sampai di depan anaknya.
__ADS_1
"Alhamdulillah, masa kritisnya sudah lewat Bah, Um. Ayo masuk, mungkin sebentar lagi Mbak Jen sadar." Gus Musa membuka pintu kamar rawat lebar lebar, di dalam sana tampak Nek Minah yang tengah memegang bayi Jeni terpekur di sisi ranjang Jeni. Sedangkan bayinya tampak terbaring telungkup di atas perut Jeni, sebagaimana ciri khasnya jika hendak bermanja dan meminta asi pada Jeni.
"Assalamu'alaikum," sapa Umi Nafisah pada Nek Minah yang tampak termenung.
Nek Minah menolehkan kepalanya. "Wa'alaikumsalam," sahutnya dengan suara serak.
Umi Nafisah menyalami tangan Nek Minah dan mencium bayi Jeni yang tampak nyaman di posisinya saat ini.
"Ya ampun, cucu Eyang kenapa begini? Kangen sama Mama kamu ya?" tanyanya sendu.
Bayi Jeni hanya mengedipkan matanya merespon perkataan Umi Nafisah.
Umi Nafisah beralih pada Jeni yang masih belum sadarkan diri dengan kantung infus dan sekantong darah dari Gus Musa tergantung di tiang di sisi ranjangnya. Mengalir deras seakan menggantikan semua darah dan cairan yang sudah terkuras dari tubuh Jeni.
"Kamu kuat, Mbak Jen. Kamu pasti sembuh, sampean yang kuat ya, Mbak. Terima kasih ... terima kasih sekali sudah menyelematkan anak Umi." Umi Nafisah berbisik lirih di telinga Jeni.
Kelopak mata Jeni bergerak, seiring dengan air mata yang keluar dari sudut matanya. Namun mata itu masih belum juga mau terbangun.
"Apa nenek, neneknya Jeni?" tanya Umi Nafisah beralih pada Nek Minah yang masih terdiam.
Nek Minah mendongak dan mengangguk pelan, hatinya masih terpukul untuk bisa merespon lebih banyak. Apalagi melihat kondisi Jeni sekarang yang harus terbaring lemah di rumah sakit karna ulah anaknya yang pengecut itu.
"Jeni pernah cerita kalau dia punya nenek yang baik sekali dan sayang sama dia dan anaknya, tapi ... dia terpaksa meninggalkannya karna harus bekerja dengan sayaa untuk menghidupi anaknya dia bilang. Saya minta maaf ya, Nek. Karna saya ...."
"Tidak apa, Umi. Tidak perlu minta maaf, semua sudah terjadi. Jeni anak baik, tapi semua kebaikannya malah membuat anak saya yang gelap mata itu kalap dan mengambil semua harta yang saya punya untuk menyambung hidup." Nek Minah menjawab lirih, sambil mengusap air yang keluar dari matanya.
Gus Musa perlahan mendekat sambil mendorong kursi roda abahnya, santri yang tadi mengantar hanya menunggu di luar tanpa berniat ikut campur walau hanya sekedar mendengarkan.
"Nenek tenang saja, insyaallah saya akan bantu nenek untuk mengambil hak nenek kembali. Tapi ... setelah Mbak Jen sembuh tentunya, karna saya ingin meminang Mbak Jen setelah semua kondisinya kembali stabil ... termasuk kejadian yang sudah nenek alami," pungkasnya tegas.
Semua mata kini menatap tak percaya pada Gus Musa, dengan binar yang tentu saja berbeda di setiap tatap mereka. Umi Nafisah dan kyai Hasan dengan binar bahagianya, sedangkan Nek Minah dengan tatap sendunya.
Ada apa dengan nek Minah? Temukan jawabannya di episode besok ya, bakal ada banyak kejutan.
__ADS_1