MEMBALAS GUNDIK SUAMIKU

MEMBALAS GUNDIK SUAMIKU
Chapter 88.


__ADS_3

Akhirnya malam sakral yang di tunggu tunggu itu pun tiba juga, semua hiasan dan orang orang beserta tamu undangan sudah berdatangan memenuhi tempat yang sudah di sediakan, santriwan dan santriwati tampak bersorak gembira menikmati acara yang di meriahkan oleh hiburan Hadroh dan rebana yang di adakan sang empunya hajat yaitu kyai Hasan selaku pimpinan pondok pesantren.


"Ayu tenan kamu, nduk." Nek Minah memuji penampilan Jeni yang baru saja selesai di dandani oleh MUA pilihan Umi Nafisah, jangan tanya bagaimana hasilnya Jeni sendiri saja sampai pangling melihat pantulan wajahnya di cermin.


"Terima kasih, Nek. Terima kasih juga nenek sudah mau di repotkan menjaga dedek malam ini, Jeni jadi tidak enak," pungkas Jeni sambil mengelus rambut bayinya yang masih terlelap di gendongan Nek Minah.


Bayi gembul itu baru saja di susui Jeni tadi, jadi perutnya yang kenyang di tambah buaian yang nyaman membuatnya lekas terlelap nyenyak.


"Ah, nenek nggak repot. Justru nenek yang harusnya berterima kasih sama keluarga ini karna sudah mau menerima nenek dan membantu nenek mendapatkan kembali hak nenek. Sudah nggak usah kamu pikirkan, seorang fokus saja sama pernikahan mu. Bayi manis ini biar nenek yang urus, insyaallah nenek bisa." Nek Minah tersenyum lebar menunjukkan ketidakberatannya menjaga si bayi.


Jeni mengangguk dan kembali menarik nafas dalam sebelum mulai mendengarkan suara kyai Hasan yang sudah menggema menggunakan pengeras suara di luar ruangan kamar pengantin itu.


"Assalamu'alaikum warahmatullahi wa barakatuh," ucapan salam kyai Hasan terdengar santer seantero pondok pesantren yang luas itu. Nek Minah lekas masuk ke dalam kamar bayi yang letaknya tepat di sebelah kamar Jeni ini, guna menidurkan si kecil di gendongannya agar tidak terkejut mendengar suara keras itu.


"Wa'alaikumsalam warahmatullahi wa barakatuh," sahutan dari para hadirin yang datang memenuhi halaman luas rumah utama kyai Hasan tempat berlangsungnya acara malam itu.


Jeni mengusap sudut  matanya yang terasa berair entah karena apa, tapi di benaknya dia sekelebat seakan melihat Abah dan Emaknya hadir di dekatnya.


"Hadirin sekalian, malam ini saya ... Kyai Hasan, ingin mengadakan acara pernikahan putra semata wayang saya sekaligus ingin mengaqiqahkan cucu saya yang merupakan anak dari perempuan Solehah yang akan di nikahi putra saya ini. Dengan itu, saya mohon doa dari kata hadirin sekalian, agar acara kita malam ini bisa membawa keberkahan dan meraih ridho yang paling tinggi yaitu ridho Gusti Allah SWT," papar kyai Hasan penuh ketenangan.

__ADS_1


"Amiiinnn!" seru para hadirin yang sebagian besarnya adalah para santri dan pendatang dari luar pondok itu.


Sebelum acara inti di mulai, terlebih dahulu kyai Hasan mengatakan pada semua hadirin yang hadir tentang status Jeni, semua tentangnya  agar tak ada orang yang akan bercerita dengan nada sumbang nantinya setelah Jeni resmi menyandang status istri dari pewaris tunggal pondok pesantren itu.


Semua hadirin yang ada tampaknya mengerti, dan kyai Hasan pun melanjutkan acara dengan ijab qobul antara anaknya dan Jeni yang masih tetap berada di kamar, menunggu hingga nanti dirinya sudah sah menjadi istri Gus Musa.


Jeni terharu, bagaimana tidak saat ini namanya akan kembali di sebut dalam sebuah janji suci oleh seorang pria yang insyaallah bisa menuntunnya hingga meraih jannah- Nya. Setelah sebelumnya dia harus mengalami berbagai kemalangan demi kemalangan sampai Gusti Allah SWT mengangkat derajatnya seperti sekarang ini. Air mata Jeni menetes, tidak bukan air mata kesedihan tapi itulah air mata bahagia pertamanya setelah semua kesedihan yang sekuat tenaga dia lalui sendiri.


"Saya nikahkan dan kawinkan engkau saudara Musa Ali al- Ghozali bin Hasan Basri Al - Ghozali dengan saudari Anjani Puspita Sari binti almarhum  Abdullah dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan surah ar- Rahman, dibayar tunai." suara seorang penghulu yang juga merangkap sebagai wali hakim bagi Jeni yang seorang yatim piatu tanpa sanak keluarga terdengar begitu syahdu dan menyentuh hati Jeni yang mendengarkan di dalam kamar hingga tak kuasa menahan air matanya.


Di luar, di mana acara berlangsung Gus Musa yang menjabat tangan penghulu tersebut pun menjawab tegas.


"Bagaimana saksi?" penghulu melempar pertanyaan pada para saksi di kanan dan kiri mereka.


"Sah!" sahut mereka bersamaan.


"Alhamdulillah, " ucap sang penghulu dan mempersilahkan Gus Musa untuk mulai membacakan q.s Ar Rahman yang menjadi mas kawinnya dengan Jeni.


Ya, Jeni. Kalian pasti bertanya tanya kenapa nama asli Jeni sebagus itu namun malah di ubah menjadi Jeni? Bukankah Anjani lebih indah di dengar? Iya memang, tapi dulu saat Jeni pertama kali memasuki dunia malam dan mulai aktif menjadi simpanan para om om, nama Anjani tentu tidak cocok dengan citranya kan?.

__ADS_1


Kembali ke  Gus Musa, kini beliau tengah bersiap siap di depan penghulu juga semua hadirin yang ada untuk membacakan surah penuh kasih sayang yang sudah di hapalnya luar kepala itu.


"Auzubillahiminassyaitonirojiim, bismillahirrahmanirrahim ... Ar Rahman,  'Allamalqur'aan ...."


Lantunan ayat demi ayatnya yang merdu dan fasih membuat siapa saja sukses menjatuhkan air matanya saat mendengarnya. Tak ada gan bersuara sejak Gus Musa mulai melantunkan ayat-ayat suci itu, semua diam semua meresapi dan semua menangis. Terutama Jeni yang kini tengah mati matian menahan tangisnya agar tak bersuara di dalam kamar pengantin. Sang MUA pun dengan sabar terus membantu Jeni mengelap air matanya karna tidak ingin make up yang sudah menempel di wajah Jeni luntur karna air mata.


"Shodaqallahuladziim ...." Gus Musa menutup bacaannya dengan alunan qiraah yang lembut, membuat siapa saja semakin teriak karenanya.


Dan setelah semua prosesi selesai, Umi Nafisah menjemput Jeni ke dalam kamar dan memapahnya menuju tempat ijab qobul dimana Gus Musa berada. Dengan tubuh gemetar Jeni berusaha melawan semua gentar di hatinya dan melangkah mantab sampai ke dekat Gus Musa kemudian duduk di sampingnya, di atas kain jarik yang sebelumnya sudah di bentuk sedemikian rupa untuk menjadi alas duduknya dan Gus Musa .


"Alhamdulillah, sudah sah sekarang. Selamat ya le, nduk." Umi Nafisah berbisik pelan saat mendudukkan Jeni di sisi Gus Musa, tampak Jeni dan Gus Musa sama sama menundukkan kepalanya dalam karena malu yang tiba tiba kembali melanda.


Acara selanjutnya di mulai, kyai Hasan meminta sahabat baiknya kyai Nurdin untuk memimpin walimah, menyampaikan tausiyah pula tentang kehidupan pernikahan ala kanjeng nabi Muhammad Saw.


Semua mendengarkan dengan seksama, tak terkecuali Gus Musa yang kini sudah memantabkan hatinya untuk menjadikan istri dan anaknya sebagai prioritas nya, semua yang di sampaikan Kyai Nurdin saat ini di simpan di dalam benaknya dan akan di amalkan setelah ini nanti agar rumah tangga yang akan mereka bina menjadi sakinah mawadah warahmah sesuai doa semua orang.


Memasuki acara selanjutnya, yaitu aqiqah dan pemotongan rambut bayi Jeni sekaligus pemberian namanya. Gus Musa mengambil bayi yang masih tertidur itu dari gendongan Nek Minah dan membawanya ke tengah acara dimana para ustadz dan kyai kondang sudah berdiri di sana untuk memotong rambut dan mendoakan si bayi. Walau acara itu sebenarnya sudah sangat terlambat (untuk ukuran orang kampung maksimal aqiqah/ potong rambut, maksimal 1 bulan usia bayi).


Sebelum di mulai, Gus Musa mengambil alih acara untuk menyiarkan nama bagi bayi yang kini sudah resmi menjadi anak sambungnya itu. Dengan menatap wajah polos si bayi Gus Musa menyebutkan nama indah yang sudah dia dan keluarga juga Jeni sepakati untuk di pakai si bayi.

__ADS_1


"Bismillahirrahmanirrahim, anak saya ini insyaallah akan kami beri nama ... Muhammad Abbas Al- Ghozali ...."


__ADS_2