MEMBALAS GUNDIK SUAMIKU

MEMBALAS GUNDIK SUAMIKU
Chapter 70.


__ADS_3

 Setelah menimbang sana dan sini, akhirnya Jeni memutuskan untuk menjenguk Sarah dan bayi bayinya. Walau dia belum tahu apa yang mungkin saja terjadi jika dia kembali menunjukkan diri di depan Sarah dan Axel. Terlebih kini dia tau Sarah sudah melahirkan anaknya.


 Jeni meminta Asiyah untuk menyiapkan kado yang sekiranya pantas untuk di bawa, mengingat bayi Sarah yang dia tau dulu adalah kembar tiga maka dia meminta Asiyah membelikan tiga barang kembar yang berguna sedang dia sendiri menunggu di pondok sembari menyelesaikan tugasnya.


"Dedek udah bisa apa sekarang, Mbak Jen?" tanya Gus Musa yang tiba tiba ada di dapur saat Jeni tengah mencuci piring sambil merendam cucian di kamar mandi.


 Bayinya dia letakkan di lantai beralaskan kain tak jauh darinya, dengan di beri makanan yang di dapat dari Gus Musa dan sebuah mainan kerincing sudah bisa membuat bayi itu anteng di tempatnya.


"Eh, Gus. Alhamdulillah sudah bisa merangkak, Gus. Terima kasih juga buat jajannya kemarin Gus, dedek suka sekali sama makannya. Itu juga lgi di makan sama dia," tunjuk Jeni pada biskuit bayi yang ada di tangan bayinya.


 Bayi itu tampak tersenyum dan tertawa lebar melihat Gus Musa, perlahan dia mengangkat tubuhnya untuk merangkak mendekati Gus Musa.


"Loh, Nak? Sayang, dedek jangan ke sana ya. Di sini aja, Nak. Jangan gangguin Gus," panggil Jeni lembut berharap bayinya mau mendngarkan.


 Bayi itu memang berbalik, namun hanya sesaat dan selanjutnya dia merangkak lebih cepat hingga sampai di bawah kaki Gus Musa dan menarik pelan sarung yang di gunakan Gus Musa.


"Duh, Nak. Kenapa malah mau gangguin Gus? Ayo sini jangan nakal ya, dedek." Jeni melambaikan tangannya ke arah bayinya, tapi bayi itu tak peduli dan bahkan merengek pada Gus Musa, sepertinya sejak dulu bayi Jeni memang sangat rindu belaian seorang ayah. Sejak di tolak oleh Axel dulu, Gus Musa satu satunya lelaki yang kembali di datanginya.


 Gus Musa tidak marah, dia malahan tersenyum dan mengambil tubuh mungil bayi itu dari lantai, terdengar suara bayi itu tertawa riang di tangan Gus Musa.


"Aduh, Gus. Maaf ya jadi merepotkan, taruh di tempatnya tadi saja, Gus. Biar nggak ganggu," ucap Jeni sungkan.


 Tapi Gus Musa justru berdiri sambil membawa bayi Jeni dalam gendongan.

__ADS_1


"Sudah, Mbak Jen santai aja kerjanya. Biar dedek sama saya, kebetulan saya lagi nggak ada jam ngajar jadi bisa main main sebentar sama anak pintar ini. Saya bawa dedek jalan jalan ke luar ya, Mbak Jen." Gus Musa tak menunggu jawaban Jeni dan langsung pergi meninggalkan Jeni begitu saja dengan bayinya yang masih tertawa riang di gendongannya.


 Jeni menatap nanar kepergian Gus Musa, bukan di menolak kehadiran seorang pria untuk anaknya ,hanya saja trauma itu masih membekas dan sungguh membuatnya takut untuk melihat anaknya dekat dengan pria manapun. Sekalipun hanya untuk mengajaknya bermain, Jeni takut anaknya berharap lebih pada pria yang berbuat baik padanya. Dia tidak ingin anaknya merasakan rasanya di khianati sepertinya jadi lebih baik baginya jika sang anak tidsk mengenal ayah sekalian.


"Mbak Jen," panggil Asiyah yang ternyata sudah pulang dari pasar, berbelanja bahan makanan sekaligus membelikan pesanan Jeni.


"Eh, udah pulang, As? Cepat sekali, dapat nggak titipan Mbak?" tanya Jeni sambil memutar tubuhnya sedikit untuk bisa melihat Asiyah yang ada di belakangnya.


 Asiyah yang sedang membongkar bahan makanan untuk di masak itu pun tersenyum dan menganggap sebuah kantung plastik yang berukuran lumayan dengan tiga kotak berbalut bungkus kado di dalamnya.


"Dapat dong, Asy gitu loh yang nyari. Apa aja di jamin beres," sahutnya sembari menyombongkan diri.


 Jeni tergelak dan menganggukkan kepalanya. "Iya deh iya, Asiyah yang paling bener buat di titipin sesuatu."


 Jeni tergelak dan Asiyah pun kini ikut tergelak. Setelah puas menikmati tawanya mereka melanjutkan pekerjaan mereka dalam diam agar tugas itu bisa lekas selesai.


 Setelah semua pekerjaan dapur siap, Jeni mencuci tangannya di keran begitu juga Asiyah yang baru saja selesai memasak dan menyusunnya di atas meja makan. Memakai sabun di tangannya karena terasa sedikit panas.


"Mbak, tadi Asy lihat si dedek ikut Gus Musa ya?" tanya Asiyah.


 Jeni mengangguk. "Iya, tadi si dedek Deket deket sama Gus Musa. Pas cucian Mbak lagi numpuk makanya Mbak nggak bisa ambil dia, eh sama Gus Musa malah di bawa keluar nggak tau kemana."


 Mata Asiyah melebar. "Ah yang bener kamu, Mbak. Soalnya tadi Asy lihat Gus Musa beliin jajanan buat dedek banyak banget. Mereka juga baru keluar dari minimarket di dekat jalan besar sana loh. Asy nggak sengaja lihat pas baru pulang dari pasar."

__ADS_1


Kening Jeni berkerut mendengar penjelasan Asiyah, sambil keluar dari dapur ndalem' dia sibuk menyimak penjelasan Asiyah saja yang menurutnya lumayan asik itu.


"Terus tadi juga pas baru sampe ke sini kan, Gus Musa juga baru sampe tuh sama si dedek. Tau nggak Mbak, di motornya Gus Musa itu ada kursi rotan yang buat duduk bayi itu di depannya. Dan dedek duduk di sana, bayangin. Kan setahu kita juga Gus Musa belum menikah, dan keluarganya pun nggak ada yang punya anak bayi atau balita sampe perlu pake dudukan rotan." Asiyah masih bercerita dengan semangatnya sampai tangannya menunjuk nunjuk ke sana ke mari.


"Terus apa masalahnya?" tanya Jeni tak paham.


 Asiyah berhenti dan menepuk jidatnya. "Ya ampun, Mbak. Masa Mbak Jen nggak paham juga sih? Ya itu artinya Gus Musa beliin kursi rotan itu khusus buat boncengin dedek, Mbak!"


"Ya terus?" tanya Jeni lagi masih tak paham.


 Asiyah semakin gemas di buatnya, dia menarik tangan Jeni untuk berjalan cepat menuju ke kamarnya.


"Ah, susah jelasin ke Mbak nih. Mendingan kita ngobrol di kamar aja, nggak enak kalo hal begini sampai di ketahui orang lain."


 Jeni menurut saja ketika Asiyah membuka pintu kamarnya dan membawanya masuk ke sana, duduk berhadapan kemudian dia mengambil air minum dari galon keran yang ada di kamar Jeni, khusus di siapkan jika sewaktu-waktu anaknya haus.


 Setelah menghabiskan segelas besar air, Asiyah mengambil toples biskuit milik Jeni dan mulai memakannya.


"Huh, gayanya aja ngajak ke sini bilangnya nggak enak di dengar orang lain. Rupanya biar bisa cerita sambil makan." Jeni mencebik.


 Asiyah tertawa senang, dan mulai kembali bercerita pada Jeni.


"Jadi kalau menurut asy nih ya, Mbak. Sikap Gus Musa itu sudah menunjukan tanda tanda kalau dia siap menjadi ayah sambungnya dedek loh, Mbak." Asiyah berkata cukup keras.

__ADS_1


Pleettaakkk


__ADS_2