
Di sebuah rumah yang tampak sunyi, seorang pria berjalan pelan di dalam kamar yang gelap dan temaram. Langkahnya yang tegap mengarah pada seorang perempuan yang tengah duduk melamun di depan sebuah jendela besar yang menampakkan pemandangan malam di luar sana.
"Nina bobo ... oh Nina bobo ... kalau tidak bobo di gigit nyamuk," senandung perempuan itu lirih, sambil menggoyang goyangkan tubuhnya tak tampak kurus dan ringkih, perempuan itu memeluk tubuhnya sendiri menatap kosong ke arah luar seolah tak menyadari kedatangan pria itu di belakangnya.
Tringgg
Tiba tiba ponsel milik pria itu berdering, dengan gerakan cepat pria itu mengambil ponselnya dan mengangkat panggilan dari sebuah kontak tanpa nama.
"Halo, bagaimana hasilnya?" ucapnya dingin.
Tak terdengar sahutan dari sebrang telepon karna pria itu tak menghidupkan Loudspeaker ponselnya.
Tapi sejurus kemudian senyumnya mengembang, tampak dingin dan licik dengan sorot mata elang yang begitu dingin dan agak menakutkan.
"Bagus! Kau bekerja dengan baik, setelah ini semuanya akan semakin mudah. Bersegeralah jika kau ingin ibumu selamat, Robin." pria itu berucap datar dan tegas membuat lawan bicaranya tak dapat membantah selain mengiyakan.
Segera setelah memastikan sambungan teleponnya, pria itu berjalan kembali menuju ke tempat sang istri berada dan mengelus rambut perempuan yang tidak merespon keberadaannya sama sekali itu. Mengecup rambut kering itu perlahan dan menghirup aromanya yang selalu menjadi candunya.
"Tenanglah, Amelie sayang. Sebentar lagi, hanya sebentar lagi kita akan segera berkumpul kembali dengan anak kembar kita. Dan aku, Edwin tak akan membiarkan mereka lepas lagi dari genggaman kita, aku janjikan itu sayang," bisik Edwin di telinga istrinya yang masih menatap kosong keluar sana.
Tapi di sudut matanya, air bening itu mengalir seakan masih ada sudut hatinya yang mengerti dan mencerna dengan baik maksud perkataan suaminya.
"Anakku ... anakku ...," lirih Amelie menyayat hati, Edwin mengusap sudut matanya dan memeluk wanitanya dalam dekapan hangatnya.
****
"Mom, kenapa tidak kemari?" tanya Sarah di sambungan telepon pada Nyonya Ellen yang sudah beberapa hari tak tampak mengunjungi kediamannya.
Padahal biasanya, setiap minggu nyonya besar itu tak akan absen untuk sekedar bertandang ke rumah sang putri semata wayangnya.
"Tidak, Momy hanya ... hanya sedang tidak enak badan saja," kilah nyonya Ellen di seberang sana.
Sarah menghela nafas dalam, lalu duduk di pinggiran tempat tidurnya.
"Apa Momy tidak merindukan triplets?" pancing Sarah, sebenarnya Sarah memiliki tujuan lain untuk bertemu ibunya hanya saja dia tak ingin terlalu menunjukkannya.
__ADS_1
Nyonya Ellen terdengar mendesah, lalu sedikit suara berisik mendominasi suaranya. Mungkin suara majalah atau tempat tidur atau semacamnya Sarah juga kurang pasti.
"Rindu, Momy selalu merindukan mereka setiap hari," sahutnya setelah beberapa saat Sarah menunggu.
"Lalu, kenapa tidak datang?" pancing Sarah lagi, walau sebenarnya dia sudah tahu kenapa ibunya terlihat menghindar.
"Momy hanya ... hanya ... ah, baiklah Momy akan datang ke sana. Tunggu saja, sebentar lagi Momy sampai," pungkas Nyonya Ellen pada akhirnya lalu mematikan sambungan teleponnya.
Nyonya Ellen meremas ponselnya kuat, menekannya di dada sambil menghentak nafasnya sekuat tenaga.
"Hah, semoga tidak akan apa apa," desisnya lalu gegas beranjak dan menyambar tas tangannya.
"Pak, tolong antar saya ke rumah Sarah ya." Nyonya Ellen memberi perintah pada supir pribadi keluarganya dan langsung masuk dalam mobil, menghindari teriknya matahari yang terasa membakar.
"Langsung ke rumah Non Sarahnya atau mau mampir dulu Nyonya?" tanya sang sopir yang sudah tahu list tujuan nyonya Ellen jika hendak berkunjung ke rumah sang putri.
"Seperti biasanya saja," tukas nyonya Ellen sambil meletakkan tas tangannya di samping dan mengambil ponselnya.
Sopir itu mengangguk patuh dan mulai melajukan kendaraannya membelah jalan raya dengan kecepatan sedang.
Tak terdengar jawaban dari Tuan Bryan karna Nyonya Ellen tidak mengaktifkan loudspeaker ponselnya.
"Momy akan ke rumah Sarah, sudah dalam perjalan," ucapnya lagi.
Nyonya Ellen menekan pangkal hidungnya pelan lalu menarik nafas dalam.
"Baiklah, Dad. Yah, semoga saja mereka percaya," imbuhnya lalu mematikan sambungan teleponnya dan mengusap sudut matanya yang mulai berair.
Mobil sejenak berhenti di depan sebuah toko kue yang bersebelahan dengan toko mainan anak.
"Nyonya, kita sudah sampai," ucap sang sopir sopan, namun cukup membuat nyonya Ellen yang tengah gundah itu terkesiap.
"Oh, oke. Ayo kamu ikut saya sebentar, saya butuh bantuan kamu," ucap Nyonya Ellen sambil mendahului sopirnya keluar dari mobil.
Di dalam toko kue, Nyonya Ellen langsung memesan kue kesukaan Sarah yang selalu dia bawakan setiap ke rumahnya. Bolu gulung pandan keju dan towel cake coklat, biasanya nyonya Ellen akan membuatnya sendiri untuk sang anak namun sejak beberapa hari belakangan ini tampaknya semangat untuk memasaknya mulai turun, untuk di rumah saja Nyonya Ellen lebih sering memilih pesan antar ketimbang memasak dan untungnya Tuan Bryan sama sekali tidak protes.
__ADS_1
Tiga buah box kue sudah berada di tangan sang sopir sekarang dengan langkah lebar nyonya Ellen langsung menuju ke toko mainan di sebelah dan mulai mencari mainan yang cocok untuk ketiga cucunya. Dua buah boneka berbentuk bola dan satu buah berbentuk beruang warna pink terang.
Usai membayar semuanya dan membawanya masuk ke dalam mobil, mereka gegas melanjutkan perjalanan menuju ke rumah Sarah. Dan tak butuh waktu lama, mereka akhirnya sampai dan sang supir dengan sigap langsung menurunkan semua barang yang di beli nyonya Ellen tadi sebagai buah tangan untuk anak cucunya.
"Nyonya, tunggu." sang sopir menyela dan membuat nyonya Ellen yang sudah akan mengetuk pintu menjadi urung.
"Kenapa, Pak?" tanyanya heran.
Pak sopir terburu-buru menyusul Nyonya Ellen ke depan pintu rumah Sarah sambil menenteng sebuah kotak kue.
"Ini ketinggalan, Nyonya." Supir itu memberikan box kue itu ke hadapan nyonya Ellen, namun dengan cepat di tolak.
"Nggak, bukan ketinggalan itu memang buat kamu. Hari ini istrimu ulang tahun kan? Saya ingat, jadi sekalian saja saya belikan," pungkas Nyonya Ellen seraya tersenyum lembut.
Supir itu membungkuk dan berterima kasih berkali kali, matanya sampai basah dan memerah saking senangnya dengan pemberian nyonya Ellen yang mungkin setara dengan beberapa hari gajinya itu.
"Sudah, berhenti berterima kasih begitu saya jadi tidak enak. Itukan hanya kue, hanya itu yang bisa saya berikan untuk istri kamu. Semoga dia lekas sembuh ya," ucap nyonya Ellen tulus.
Sang sopir mengangguk berkali kali.
"Terima kasih sekali lagi, nyonya. Semoga juga doa Nyonya di ijabah yang maha kuasa di hari ulang tahun istriku ini, semoga juga doa anak angkat kami yang di pondok pesantren itu bisa membuat Gusti Allah SWT mengangkat penyakitnya," ucap sopir itu getir sambil mengusap matanya yang basah dengan box kue masih bertengger di tangannya di genggamnya erat seakan tak akan di lepas lagi.
Nyonya Ellen mengangguk dan menepuk pundak sang sopir yang sudah setia pada keluarganya bahkan sejak Nyonya Ellen masih kecil dan ayah sang sopir lah yang dulu menjadi sopir. Ibaratnya ya, pekerja turun temurun lah dan sudah seperti keluarga sendiri.
"Pulanglah, sampaikan pada istrimu supaya menjaga putri kalian baik baik. Dan kalau kalian berkenan, saya akan memberikan sebidang tanah untuk kalian supaya kalian bisa hidup sejahtera dan mempunyai bekal di hari tua, apa kamu mau?" tawar Nyonya Ellen tiba tiba.
Mata sang supir membelalak lebar, tak percaya dengan apa yang baru saja di dengarnya.
"A- apa? Nyonya serius?"
Lagi, nyonya Ellen mengangguk mantab.
"Yah, namun tanah itu ada di desa. Dan kalau kalian mau kalian lah yang harus pindah ke sana, karna saya tidak mau tanah itu sampai di uangkan."
Sang sopir tampak berpikir sejenak.
__ADS_1
"Apa, Nyonya? Pindah? Ke desa?" tanyanya terheran-heran.