
Di sebuah desa yang lain.
"Cah ayu, katanya juragan Baskoro mau melemarmu, nduk. Apa kamu bersedia menjadi istrinya?" tanya Nek Janah pada Aisyah, cucu angkatnya.
Aisyah yang tengah mencuci piring di kamar mandi langsung menghentikan kegiatannya dan menatap sang nenek dengan mata nanar.
"Tapi, nek. Juragan Baskoro kan sudah punya dua istri, lagi pula usianya sudah tidak muda lagi, Nek."
Nek Janah duduk di kursi meja makan lalu membuang nafas lelah.
"Lalu apa salahnya, nduk. Dia kaya, jadi wajar kalau sanggup punya istri lebih dari dua," pungkas sang nenek.
Aisyah menatap tumpukan piring kotor di hadapannya dan terdiam cukup lama.
"Bagaimana, nduk? Kalau kamu menikah sama juragan Baskoro pasti akan mencukupi kebutuhanmu semuanya. Kamu nggak akan pernah kekurangan, nduk." Nek Janah masih mencoba membujuk Aisyah.
"Tapi aish sudah punya pilihan sendiri, nek. Dan dia juga akan melamar Aish dalam waktu dekat ini," cicit Aisyah pelan sambil kembali melanjutkan kegiatannya mencuci piring.
"Maksud kamu si Satrio?" Nek Janah berkata sedikit tajam.
Perlahan, Aisyah mengangguk walau hatinya mencelos.
Nek Janah tampak membuang muka ke arah lain sambil mendengus kesal.
"Dia itu hanya seorang pesuruh, Aish! Sadar kalau dia itu tidak akan bisa menghidupi kamu dengan pekerjaannya yang hanya tukang nasi goreng itu! Punya orang lagi! Mending kalau punya dia sendiri."
Aisyah terus menunduk mendengar ocehan neneknya, memang selalu begitu jika dirinya mulai membahas tentang Satrio, kekasih hatinya sekaligus karyawan di resto nasi goreng milik Axel, suami dari majikannya dulu.
Kisah mereka bermula sejak Aish mulai bekerja di rumah Sarah, dan sering bertemu Satrio setiap pemuda itu mengantar sesuatu ke rumah sang bos, bisa uang hasil penjualan atau nasi goreng khusus pesanan Sarah dan keluarganya.
__ADS_1
Namun kini, sejak Aish di ajak neneknya untuk pergi ke kampung. Mereka hanya bisa berkomunikasi lewat telepon, menjalin hubungan jarak jauh dengan tetap membina komitmen untuk saling setia.
"Hah, sudahlah! Kamu memang tidak bisa di bilangin! Jangan menyesal saja jika nanti kamu malah menderita hidup dengan pilihanmu itu!"
Nek Janah mendorong kursi dan bangkit dari duduknya dengan wajah masam, untuk yang kesekian kalinya Nek Janah menawarkan lamaran dari orang orang kaya di kampung tersebut pada sang cucu. Entah apa tujuannya, mungkin karna sudah lelah mengurus cucu yang bukan darah dagingnya sendiri itu.
Usai mencuci dan membereskan dapur serta rumah, Asiyah gegas masuk ke dalam kamarnya dan menguncinya. Air mata yang sejak tadi di tahannya menetes tanpa bisa di cegah, hatinya sakit sekali setiap kali neneknya mencoba menjodohkannya dengan orang yang terkesan sembarangan. Tau jarang orang tersebut sudah beristri atau malah sudah tua sekali bahkan melebihi umur nek Janah sendiri, sungguh miris sekali.
Tring
Tring
Tring
Dering ponsel yang terdengar nyaring memecah lamunan Aisyah, lekas dia mengambil benda pipih yang di milikinya dari hasil mengumpulkan uang gajinya itu dan melihat nama yang penelpon di sana.
"Ah, Mas Satrio. Kamu selalu tahu kapan saja aku butuh kamu," bisik Aisyah sebelum akhirnya mengangkat panggilan itu.
"Wa'alaikumsalam, Aish. Kok suaranya serak, kamu nangis lagi?" tanya Satrio dari sebrang telepon seakan bisa melihat kondisi sang kekasih hati saat ini.
Aisyah mengusap air mata yang masih mengalir di pipinya, lalu memasakkan senyum walau dia tahu Satrio tak akan bisa melihatnya.
"Nggak papa kok, Mas. Cuma masalah biasa," jawab aish apa adanya, karna semua masalah di kampung dan semua yang di lakukan dan terjadi padanya Aisyah akan selalu mengatakan sejujurnya pada Satrio, memang kunci hubungan LDR yang awet adalah dengan saling terbuka bukan?.
Terdengar helaan nafas panjang dari sebrang sana.
" Di jodohkan lagi? Kali ini sama siapa?" tanya Satrio yang sudah biasa mendengar kabar seperti itu, hanya saja dia menanggapinya dengan tenang tidak terburu buru marah karna dia tahu semua itu juga bukanlah keinginan sang kekasih hati yang sampai saat ini dia yakini masih setia padanya itu.
Aisyah tertawa sengau, karna hatinya terlalu sakit kali ini.
__ADS_1
"Juragan Baskoro," sahut Aisyah singkat.
"Siapa dia, aish? Terus jadi istri ke berapa?" canda Satrio mencoba mencairkan suasana, walau kini hatinya sama sakitnya dengan sang kekasih.
"Juragan pupuk, umurnya hampir sama dengan Nenek. Jadi istri ketiga, soalnya istri juragan itu sudah dua setahu Aish, gila sekali kan, Mas?" dengus Aisyah tak mampu lagi menahan kekesalannya.
Hening sesaat, mungkin Satrio tengah menyusun kata yang tepat untuk dia katakan pada pujaan hati yang sudah berbagi suka dan duka dengannya selama hampir lima tahun ini.
"Mas akan menikahi kamu secepatnya." Satrio berkata tegas, setelah hampir satu menit lamanya mereka saling diam seakan menyelami hati masing masing.
Mata Aish menghangat, sudah sejak lama sekali dia menunggu kata kata itu terlontar dari mulut sang kekasih. Walau tak pernah memaksa Satrio untuk lekas menikahinya tapi Aish tahu kekasihnya itu pasti selalu mengusahakan yang terbaik bagi masa depan mereka.
"Mas serius?" tanya Aisyah dengan wajah bersimbah air mata.
"Iya, Mas akan segera cari siapa ayah kandung kamu untuk melamar dan memintanya menjadi wali nikah kita nanti. Kamu tenang saja ya, serahkan semuanya sama Mas, insyaallah Mas akan berikan yang terbaik ketimbang dari yang di tawarkan nenek pada kamu. Tunggu Mas ya, Sayang."
Air mata Aisyah semakin banjir, dia mengangguk berulang kali walau Satrio tak mungkin melihatnya karna bukan sambungan video call.
"Terima kasih ya, Mas. Aish janji akan menunggu," sahut Aish sebelum mereka akhirnya mengakhiri panggilan telepon dan kembali pada aktivitas masing-masing.
****
"Huahahhhhaha, lima tahun .... Sudah lima tahun aku menunggu untuk momen ini, semuanya tidak ada yang sia sia. Bersiaplah kalian! Sebentar lagi semua rencana kita akan berhasil. Tanpa harus bersusah payah pada akhirnya anak anak itulah yang akan datang menemuiku." gelak seorang pria misterius yang selama ini selalu menyembunyikan identitasnya dari para pembaca, -- hanya author yang tahu dia siapa, haha --
"Apa kau yakin mereka akan menerima kita, jika nantinya mereka tahu alasan kita tidak ada untuk mereka sejak mereka mulai bisa mengingat?" tanya seorang wanita yang sedang bersama pria itu.
Pria itu berbalik, menatap mata indah wanitanya dalam keremangan cahaya kamar itu.
"Tentu saja,mereka datang untuk mendapatkan belas kasih ku. Maka dari itu mereka harus membayar dan menuruti permintaanku. Permintaan yang selama lima tahun ini aku tangguhkan sampai akhirnya hari itu akan tiba, hari dimana mereka akan datang dan meminta bantuanku! Hahahaha!" ucap si pria penuh keyakinan sambil berdiri dan merangkul pundak sang wanita dalan dekapannya.
__ADS_1
Dia memeluk dan menciumi puncak kepala wanita itu, yang kini matanya tampak basah oleh air mata. Sang pria menghapusnya lembut, lalu perlahan juga mengecup kedua mata sang wanita.
"Sabarlah, Honey. Sebentar lagi, hanya sebentar lagi."