
*Ada yang masih ingat Peter? Duh authornya rese' nih belum belum udah bocor. :^
Ruang gelap nan pengap itu menyambut Sarah, mata yang sejak tadi terpejam perlahan mulai terbuka. Pertama kali yang dia lihat, hanyalah cahaya lampu sorot yang berwarna kekuningan.
Sarah terhenyak, matanya liar memindai tempat dimana dia berada saat ini. Tempat asing yang bahkan tak akan pernah terpikir untuk dia datangi selama hidupnya.
Belum sempat berbuat banyak, tiba-tiba pintu ruangan tersebut terbuka bunyinya seakan mengiris hati yang tengah di Landa kebingungan itu.
Krrriiiieeeeettttttt
Sebuah kepala menyembul ke dalam, Sarah termegap, kepala itu ... kepala dengan tutup wajah hitam yang sejak beberaapa hari terus dia lihat tengah mengawasi rumahnya.
"Wah wah, sudah bangun rupanya."
Suara pria, Sarah semakin tersurut takut, terlebih saat pria itu melangkah dengan ringan ke arahnya. Sarah mundur, mencoba menjauh sejauh yang dia bisa dari pria asing tersebut.
"Apa tidurmu nyenyak, nona cantik?"
Lagi lagi Sarah terhenyak, suara itu seakan membuatnya bernostalgia, siapa gerangan orang yang ada di balik topeng tersebut. Bermain dengan sebuah sapu tangan di tangannya, berputar-putar di tempatnya dengan nada ceria.
"S- sss ... siapa k- kau? Apa maumu?" cicit Sarah di tengah kekalutannya.
Terdengar deru nafas mendesah dari si pria misterius, sejurus kemudian dia mengambil posisi berjongkok di depan Sarah.
"Hiyyyaaaa!" jerit Sarah saat pria itu tiba-tiba mengeluarkan sebuah belati kecil dari balik pinggangnya.
Kemudian memainkannya di lantai berdebu yang ada di depan Sarah, membentuk jalur jalur abstrak di sana. Bunyi deritnya membuat tak hanya gigi Sarah yang ngilu, tapi juga batin nya yang semakin tak tenang. Memikirkan ada dimana dia saat ini.
"Tenanglah, aku tak akan melukaimu walau pun keluargamu mungkin sudah melukai ku." Pria itu bermonolog pelan.
Derit pisau yang beradu dengan lantai keramik itu tiba-tiba berhenti, seiring dengan tatap mata Sarah yang tercengang.
__ADS_1
"Kau pasti bertanya tanya apa maksud perkataan ku bukan?" pria itu tersenyum lebar, menampakan susunan giginya yang saling bertumpang tindih.
Dengan ragu Sarah mengangguk, sebab perkataan pria itu nyatanya memang membuatnya penasaran.
"Aku ... adalah korban kebejatan almarhum orang tuamu, nona."
Mata Sarah sontak melebar, antara percaya atau tidak dengan pendengarannya sendiri.
"Apa maksud mu? Apa hubungan semua ini dengan orang tua ku? Mereka bahkan sudah meninggal, tapi ku lihat hampir setiap hari setelah kematian mereka kau ada di depan rumah kami seolah mengawasi semuanya." Entah keberanian darimana Sarah bisa menjawab perkataan pria misterius itu.
Namun pria itu malah tersenyum, senyum yang sangat aneh.
"Justru karna keadaan itu akan menguntungkan bagiku untuk bisa menculikmu seperti sekarang," kekehnya seakan mengejek.
Jantung Sarah berdetak hebat, teringat di benaknya setiap perkataan almarhum orang tuanya tentang sesuatu yang akan dia ketahui tidak lama lagi, dan Sarah langsung merasa inilah semua rahasia itu.
"Katakan apa maumu." Sarah mulai bergetar ketakutan.
"Duduklah di sini, biar ku ceritakan semuanya sebelum nanti ...."
Pria itu menggantung kalimatnya, hanya matanya saja yang seolah ingin menerkam Sarah bulat-bulat.
Tatapan yang mengintimidasi itu pulalah yang membuat Sarah dengan pasrah menuruti ingin pria itu, terlebih melihat belati kecil yang masih terselip di antara ke dua jari tangannya, seolah mengancam keselamatan nyawa Sarah.
"Ke- kenapa, kau menculikku? Sebenarnya apa salahku? Apa hubungan ku dengan permasalahan orang tuaku?" isak Sarah yang sudah sangat ketakutan, sejak tadi tak hentinya dia merapalkan doa di dalam hatinya berharap saat ini akan ada yang menyelamatkannya.
Setidaknya suaminya, Axel. Besar harapan Sarah agar suaminya itu bisa tanggap saat nanti sampai di rumah dan tidak mendapati keberadaannya.
"Huahahahha!"
Suara tawa pria misterius itu membuat Sarah tersentak dari lamunannya, sigap dia menatap ke arah pria yang saat ini tengah berusaha membuka topeng di wajahnya itu. Betapa tak sabarnya Sarah untuk mengetahui siapa sebenarnya dia.
__ADS_1
"Kau mungkin tidak tahu apa apa, nona. Tapi orang tuamu sudah melakukan dosa yang tak akan bisa terampuni. Mereka lah penyebab aku selama ini menjadi yatim piatu!"
Sreettttt
Topeng itu kini terbuka, menampakkan wajah seorang pria dengan kulit putih dan rambut pirang yang (maaf) sebagian kulit wajahnya terkelupas seperti terkena luka bakar tingkat tinggi hingg bagian sebelah wajahnya rusak parah.
"Astaghfirullah," lirih Sarah sembari menutup mulutnya saking terkejutnya, apalagi sebenarnya diapun mengenali siapa wajah di balik topeng itu.
"Ya Allah, Peter? Itu kamu?" cicitnya iba, ingatannya berputar saat terakhir dia bertemu Peter di pesta pernikahannya dengan Axel dulu.
Setelah itu pria tampan itu berpamitan katanya hendak mengurus cabang perusahaan Andrew yang ada di negri paman sam. Namun Peter yang ada di hadapannya kini amat sangat berbeda dengan penampilan Peter saat itu, entah bagaimana caranya dia bisa mendapatkan luka bakar yang cukup serius itu.
Peter menyeringai. "Rupanya ingatanmu kuat juga, kakak ipar? Kau bahkan masih mengingatku walau sekarang rupaku seperti ini. Hah, sayangnya itu tak akan bisa merubah kenyataan kalau sebab orang tuamu lah aku berakhir seperti ini sekarang."
"Apa maksud mu, Pet ( dibaca pit)? Maaf tapi aku sama sekali tidak mengerti," gumam Sarah yang masih belum bisa merasa tenang walau saat ini yang ada di dihadapannya adalah seorang saudara dari suaminya.
"Kau mau tahu kisahnya, kakak? Apa kau yakin akan percaya?" gumam Peter sambil berjalan mengitari kursi tempat Sarah duduk dengan gelisah.
"Katakan, Pet! Jangan buat aku bertanya-tanya, dan segera kembalikan aku ke rumahku setelah ini." Sarah mulai tak sabar dan tanpa sadar membentak Peter, dia takut sangat takut hingga dia lupa saat ini nyawanya ada di tangan Peter.
Sssrrrrttttttt
"Aaauuuhhhhhhh!" pekik Sarah saat merasakan perih yang meradang di lengan kanannya, darah mulai mengucur deras dari sana membuat Sarah refleks memegangi lengannya dengan erat berharap darahnya bisa berhenti mengalir.
Peter tersengal di belakangnya, dengan belati di tangan yang sudah ternoda oleh darah dari lengan Sarah.
"Jangan membentakku, Kak! Kau tau aku tak suka di atur oleh siapapun semenjak ke dua orang tuaku di renggut dengan paksa nyawanya oleh ke dua orang tuamu yang ja ha nam itu tepat di depan mataku kau tahu?" jerit Peter dengan wajah merah padam.
Sarah menciut, dia diam sambil memegangi lengannya yang terasa sangat pedih. Bahkan kini air matanya mulai terjatuh lagi sebab rasa sakit dan ketakutan yang dia rasakan.
" Kau memang menyebalkan, Kak setelah semua yang di lakukan orang tuamu dulu. Bisa bisanya sekarang kau menikmati hidup yang enak dan nyaman, bergelimang harta juga punya keluarga yang lengkap serta saling menyayangi. Sedangkan aku? Sejak kecil bahkan aku harus rela tinggal dengan orang lain karna kefakiranku setelah ke dua orang tuaku tiada. Kau tahu itu? Dan sekarang, aku datang ... untuk mengambil kembali semua yang menjadi hak ku yang dulu di rebut orang tuamu." Peter menyeringai tepat di depan wajah Sarah, dengan tatapan mata tajam penuh kilat amarah.
__ADS_1