
"Aish, Aish. Itu ... tunggu, biar Mas jelasin dulu."
Tut
Tut
Tut
Terlambat, Aish yang kesal sudah langsung mematikan sambungan teleponnya dan membuat Satrio langsung kelimpungan sendiri.
"Kenapa, Mas? Kusut gitu mukamu, padahal habis telpon pacarnya kan? Kenapa? Di marahin kamu?" kekeh Sri yang tengah menikmati sebungkus nasi plus es jeruk ukuran jumbo yang sepertinya di bawakan oleh si pria yang berambut gondrong namun tampan itu, sepertinya itu juga tadi alasannya senyam senyum tidak jelas.
Pria itu tampak sopan, dia mengangguk saat Satrio mengalihkan pandangan pandanya.
"Mas, di tanyain kok diem aja. Nih di beliin nasi bungkus juga sama pacarku, kenalin ini namanya Mas Sutrisno, mantanku sekaligus pacarku lagi, heheh." Sri memperkenalkan kekasih hatinya itu pada Satrio, ternyata inilah orang yang namanya tertulis di cangkir pink milik Sri yang tertinggal di kontrakannya waktu itu.
"Eh iya, saya Satrio, Mas. Makasih sudah repot repot di belikan, harusnya nggak usah, Mas." Satrio mengulurkan tangannya dan pria gondrong itu menyambutnya ramah.
"Saya Sutrisno, panggil saja Sutris. Nggak papa tadi saya yang tanya Sri sama siapa saja di sana, katanya sama Mas ya sudah sekalian saja saya bungkuskan. Kita makan sama sama ya, Mas soalnya Sri kayanya sudah nggak tahan laper lagi itu," kekeh Sutris menunjuk Sri yang tampak sudah makan dengan lahap.
"Ah, iya iya silahkan sebentar ya saya ambilkan piring dulu." Satrio bergegas masuk dan keluar kembali membawa tiga buah piring, tapi Sri malah menolaknya.
"Aku nggak pake lah, Mas udah gini aja aku."
"Oohhh, ya sudah." Satrio menarik kembali piring itu dan menyimpannya di belakangnya.
Lalu untuk menghormati tamunya yang sudah susah payah membelikannya nasi bungkus dia pun ikut makan, walau sebenarnya tidak begitu berselera mengingat tadi Aish pastilah masih marah padanya.
"Mas Satrio, kok malah melamun sih? Dari tadi Sri perhatikan kayak nggak fokus, ada masalah ya Mas sama pacarnya?" celetuk Sri yang ternyata sudah selesai makan dan tengah menyeruput es jeruknya, sebelum akhirnya membereskan bekas makannya untuk di buang.
"Iya, Mas saya perhatikan juga daritadi Masnya kayak galau begitu. Cerita saja kalau mau cerita, Mas siapa tahu kami bisa bantu cari solusinya. Begini begini kami sudah malang melintang loh, Mas di dunia percintaan hehe." Sutris menimpali, wajahnya yang memang gud luking itu terlihat semakin tampan saat tersenyum lebar.
Satrio tersenyum kecut, lalu terpaksa mengangguk karna sebenarnya dia pun butuh solusi atas masalahnya ini.
"Jadi, sebenarnya pacar saya ngambek, Mas barusan. Dia matiin teleponnya sepihak setelah marah," gumam Satrio memulai ceritanya.
Sri berjengit. "Marah kenapa, Mas? Pasti ada sebab yang jelas kan? Perempuan itu gak bakalan marah kalau alasannya nggak masuk akal."
__ADS_1
Satrio mengangguk samar. "Iya, dia marah karna denger suara kamu nyambut Mas Sutris tadi kayanya, dia kira itu kamu bicara sama aku."
Mata Sri membulat sempurna, namun bibirnya nampak menahan tawa.
"Apa, Mas? Gara gara itu? Ya sudah, ini sih fiks kalau pacarnya kamu itu salah paham, ya sudah mana hapenya tadi Mas biar aku yang jelaskan sama pacarmu, gampang ini mah."
Sri mengambil ponselnya yang di berikan Satrio, lalu mulai mencari kontak yang tadi di telpon oleh Satrio.
"Ini ya, Mas yang namanya Aish?"
Satrio mengangguk.
"Lucu ya, Mas namanya sama kayak orangnya." Sri terkekeh sembari menekan icon telepon di layar.
Beberapa saat kemudian, panggilan tampak di terima. Namun belum sempat Sri berkata apa apa panggilan tampaknya di matikan lagi secara sepihak.
"Yah, gagal," keluh Sri.
"Gimana, Sri? Apa katanya?" cecar Satrio tak sabar.
Sri menggeleng. " Yang angkat bukan pacarmu, Mas kayaknya perempuan lain. Dia kayak kesel itu."
Sutris menepuk pundak Satrio pelan. "Sabar, Mas memang begitu kalau perempuan sudah salah paham. Tapi percayalah, nanti kalau sudah tahu akar masalahnya dan sadar sudah salah paham biasanya bakalan balik romantis lagi kok."
Satrio bergeming, dia mengulas senyum getir untuk menghargai Sutris yang sudah berusaha menghiburnya.
Cklik
Lampu kilat ponsel mengarah pada mereka, sontak Sutris dan Satrio mengangkat wajahnya melihat apa yang di lakukan Sri saat ini.
"Ngapain, Dek?" tanya Sutris.
Sri terkekeh. " Biasaaaa, keluarin jurus rayuan, Mas. Ini aku fotoin kalian sekalian menjelaskan apa yang jadi pokok salah pahamnya."
Sutris mengangguk. "Ooohhh gitu, ya sudah semoga aja lekas percaya pacarnya Mas Satrio. Biar cepat baikannya."
Dalam hati diam diam Satrio mengamini ucapan Sutris, dan membiarkan mereka berdiskusi untuk membuat Aish percaya di sana.
__ADS_1
****
Sementara itu.
"Sudahlah, sayang sepertinya memang cuma salah paham." Amelie berusaha membujuk sang putri yang kini terlihat menangis di atas kasurnya.
Aish bergeming, memutar tubuhnya hingga wajahnya bisa menatap wajah sang ibu.
"Tapi itu suara perempuannya jelas sekali, Mami. Pantas saja Mas Satrio nggak ngehubungin Aish belakangan ini pasti ada hubungannya sama perempuan itu."
Amelie meraih tangan anaknya dan mengelusnya lembut.
"Tapi Mami yakin kalau sebenarnya dia tidak begitu, Nak. Coba kamu lihat ini dulu," ujar Amelie sambil menyerahkan ponsel Aish yang dalam kondisi hidup.
Layar ponsel tersebut sudah terbuka bagian yang ingin di tunjukkan Amelie padanya.
"Apa ini, Mami?" tanya Aish bingung, sembari memperhatikan foto yang baru saja di kirimkan oleh kontak darimana Satrio tadi menghubunginya.
"Coba baca pesan selanjutnya," titah Amelie.
Aish menurut, menekan icon kembali dan membaca pesan yang tersemat di bawah foto tersebut.
Isi pesannya:
(Hai, Ai. Masih ingat aku nggak? Aku Sri yang waktu itu di kos kosan deket kontrakannya Mas satrio, ini tadi dia pinjam hapeku buat telpon kamu karna hapenya nyemplung di bak mandi dan nggak bisa hidup lagi. Dan suara yang kamu dengar tadi? Itu memang suara aku, tapi bukan bicara sama Mas Satrio tapi sama pacarku, Mas Sutris yang fotonya tadi barusan aku kirimkan. Ganteng kan, pacarku?)
Aish mendesah berat, bukannya terhibur malah jadi senewen membaca pesan dari perempuan yang rupanya adalah Sri itu, masih teringat di benaknya bagaimana Sri tebar pesona pada Hendro waktu itu, dan sejujurnya Aish tak menyukai itu.
"Bagaimana, sayang? Apa kamu sudah bisa memutuskan?" gumam Amelie sembari duduk di dekat putrinya.
Melempar ponsel begitu saja, Aish menyurukkan wajahnya ke ceruk leher Amelie. Membuatnya tenang hanya dengan menghidu aroma parfum ibu kandungnya tersebut.
"Aish harus bagaimana, Mami?" bisiknya.
Kening Amelie sontak berkerut. "Hum? Apa yang membuat kamu bingung, sayang?"
"Aish ingin melihat buktinya secara langsung," gumam Aish meminta pendapat.
__ADS_1
Amelie langsung menegakkan punggungnya, dan memegang kedua bahu Aish dengan semangat.
"Ayo kita temui kekasihmu itu sekarang juga."