
Sementara itu.
"Sudahlah, sampai kapan kamu mau menangis terus, Aish?" ucap Hendro lirih sembari mengangsurkan selembar tisu ke hadapan gadis yang sedang berada dalam kebingungan itu.
Aisyah menerima tisu itu, lalu menggunakannya untuk membuang ingus yang sejak tadi sudah bersarang di hidungnya.
"Aish bingung, A. Aish sekarang harus bagaimana, nenek melarang Aish pulang kalau tidak mau menerima lamaran juragan Baskoro," isak Aisyah semakin menjadi.
Sebuah rumah kebun yang tenang dan sunyi itu kini menjadi tempat beristirahat Aish, setelah dirinya di usir secara paksa karena menolak lamaran dari juragan Baskoro yang tak lain adalah bapak kandung dari Hendro, sahabatnya. Rumah kebun itu milik Hendro, warisan dari sang bapak yang merupakan orang paling kaya di kampung B.
"Lalu kamu bagaimana sekarang, Aish. Apa kamu mau selamanya di sini? Bukan tidak mungkin sekarang anak buah bapakku tengah mencari kamu, Aa hanya takut kalau mereka menemukan kamu, dan melakukan hal yang tidak seharusnya pada kamu. Menculik atau menikahkan kamu dengan paksa mungkin, Aa tidak bisa bayangkan itu, Aish." Hendro mengutarakan pendapatnya.
Aish kembali menyusut tisu dari tempatnya, tisu yang di bawakan Hendro bahkan sudah hampir habis saking lamanya dia menangis.
"Aish juga bingung, A. Apa Aa' punya solusi buat aish? Aish bakalan sangat berterima kasih."
Hendro mendesah membuang pandangan ke arah persawahan warga yang padinya mulai menghijau.
"Bagaimana kalau kamu beritahu calon suamimu?" cetus Hendro kemudian.
Sontak tangis Aish berhenti, dia menatap Hendro lamat lamat.
"Calon suami?".
"Iya, calon suamimu yang ada di kota itu. Maaf, maksud Aa' bukan bapaknya Aa' yang sudah bau tanah itu. Aa' sendiri masih tidak habis pikir dengan jalan pikiran aki aki satu itu," dengus Hendro.
Aish manggut-manggut mengerti. "Apa aish tidak akan merepotkan dia jika aish mengadu, A?"
Hendro menatap Aisyah dalam. "Apa Aa' merasa Aish sudah merepotkan Aa?" tanyanya pula.
"Maksud A hen?" Aish mengernyit tidak mengerti.
"Kalau Aa saja tidak merasa keberatan membantu kamu, harusnya sebagai calon suami kamu dia juga tidak akan keberatan menerima kehadiran kamu. Bukankah pada akhirnya nanti dia juga akan bertanggung jawab penuh atas kamu dan hidup kamu?" jelas Hendro dengan nada getir.
__ADS_1
"Mungkin kah begitu, A?" Aish mengikuti arah pandangan Hendro.
"Harusnya begitu, kalau dia memang tulus mencintai kamu."
Aisyah menunduk, hening tercipta di antara mereka. Siang yang harusnya terik menjadi lebih teduh di sekitar rumah kebun yang berada di tengah kebun durian itu. Duriannya belum masuk musim buah, jadi rumah kebun itu belum berfungsi sebagaimana mestinya. Sehingga bisa di tempati Aish semalam setelah dia di usir oleh neneknya.
"Apa yang kamu pikirkan, Aish?" tanya Hendro memecah keheningan di antara mereka.
Aisyah mendesah, menarik nafas dalam lalu berpindah posisi dengan melipat kedua lututnya ke atas dan meletakkan dagunya di sana.
"Aish ingin bertemu orang tua kandung Aish, A. Dengan begitu akan mudah bagi Aish jika ingin menikah nanti, Aish ... sudah lelah hidup begini," sahut Aish terdengar putus asa.
"Apa kamu punya petunjuk mengenai kebersihan mereka?" Hendro melayangkan tanya.
Namun sayang, Aish menggeleng pertanda tak ada harapan untuk bisa cepat mendapat jawaban atas pencariannya.
"Tapi seseorang pernah datang padaku dan bilang kalau aku punya saudara kembar', A." Aish berkata lagi, kali ini tampak semangat berkobar di mata indahnya.
Hendro mengernyitkan keningnya. "Saudara kembar'?"
"Heh, mau kemana?" sela Hendro sambil memegang pergelangan tangan Aish menahan pergerakannya.
"Aku mau ke kota dan mencari orang yang wajahnya mirip denganku, A. Mungkin saja nanti dia bisa membawaku bertemu orang tua kandung ku, dengan begitu satu masalah ku akan selesai," tukas Aish terdengar begitu bersemangat.
"Kamu yakin?"
Lagi, Aish mengangguk cepat. "Ya, Aish yakin."
"Aa temenin." Hendro melompat turun dari teras rumah kebun dan berjalan beriringan dengan Aish.
"Tapi, orang tua Aa gimana? Nanti kalau nyariin?"
Hendro berdecak. "Gampang, Aa udah gede mereka pasti ngerti. Lagi pula Aa biasa ke kota sendiri kalau lagi ada tengkulak yang mau beli hasil kebun ya kan. Udah kamu nggak usah mikirin Aa, lebih baik sekarang kamu kabari calon suami mu , bilang kalau kamu mau ke kota."
__ADS_1
Aish menatap pria di sampingnya dengan haru, selama ini memang Hendro tak pernah setengah setengah saat membantunya selalu sampai tuntas. Namun entah kenapa perasaan di hati Aish selama ini hanya menganggapnya sahabat atau kakak, tidak lebih. Walau sebenarnya dia tahu Hendro menyimpan rasa yang lebih padanya.
****
Singkatnya perjalanan ke kota mereka tempuh siang itu juga, setelah dua jam lamanya berada di mobil pribadinya Hendro memilih menepikan mobilnya di sebuah pelataran rumah makan yang tampak tak begitu ramai, mungkin juga karna sudah lewat waktu makan siang.
"Kenapa berhenti, A?" tanya Aish yang sejak tadi hanya sibuk melamun memikirkan nasibnya itu.
"Kamu memangnya nggak laper?" kekeh Hendro.
Aish tersenyum singkat, lalu ia pun mengikuti langkah Hendro menuju ke rumah makan itu. Ternyata walau judulnya rumah makan tapi di sana juga menyediakan aneka jenis makanan lain, seperti soto, bakso dan juga mie ayam.
"Aish mau makan apa?" tanya Hendro dengan suara selembut sutra. --yang belum jadi kain--
Aish hanya menunduk saja saat tak sengaja melihat sang penjaga warung tersenyum simpul mendengar perkataan Hendro.
"Aish nasi soto saja, sama teh hangat."
Hendro mengangguk. " Saya samain saja ya, minumnya jus alpukat."
Penjaga warung mengangguk lalu meminta mereka menunggu di meja yang sudah di sediakan. Konsep warung itu lesehan jadi dengan nyaman Hendro menyelonjorkan kakinya yang sejak tadi terasa kaku.
"Sudah dapat kabar dari calon suamimu, Aish?" tanya Hendro.
Aish diam sejenak sembari memeriksa ponselnya yang sejak tadi dia letakkan di saku celananya.
"Sudah, A. Kata Mas Satrio nanti kita langsung saja ke alamat ini." Aish menunjukkan ponselnya pada Hendro.
Hendro mengangguk setelah melihat alamat yang tertera di aplikasi pesan singkat itu.
"Ya, Aa tahu tempatnya kamu tenang saja. Insyaallah dua atau tiga jam lagi kita sampai, sekarang kita makan dulu," pungkas Hendro bertepatan dengan pesanan mereka yang sudah di hidangkan.
Mereka makan dalam diam, namun pikirannya yang ruwet membuat makanan yang masuk ke dalam mulut Aish terasa hambar, Aish cepat cepat menghabiskan makanannya walau dengan paksa karena tak enak dengan Hendro yang sudah berbaik hati membantunya bahkan dia juga yang membayarkan makanannya, padahal walau tak banyak Aish juga punya uang hasil menabung gajinya selama ini.
__ADS_1
"Itu buat pegangan kamu saja, selama kamu belum mandiri kamu itu butuh modal. Walau nanti kamu sudah menikah dan mempunyai suami yang baik, akan lebih baik kalau kamu punya pegangan atau usaha sendiri. Kita tidak tahu kapan hati manusia bisa berubah," ucap Hendro saat menolak uang pemberian Aish untuk membayar makanan dan untuk membantunya membeli bahan bakar kendaraannya.
Aish terdiam, saat mobil itu mulai berjalan lagi Aish sadar kalau semua yang di katakan Hendro benar.