
Sonia terkejut bukan kepalang saat dia mendengar dari suaminya kalau sang anak, Axel nekat pergi ke pulau sebrang untuk menjemput anak anaknya. Gumpalan kabut langsung terbentuk di pelupuk matanya seiring tubuhnya yang lemas dan jatuh terduduk di samping suaminya.
"Ya Allah, Pa ini akan sangat berbahaya. Mama nggak mau sampai kehilangan Axel lagi, Pa." Sonia memeluk tubuh Andrew dan menumpahkan tangisnya di sana.
Andrew menepuk punggung sang istri dengan wajah yang sama gusarnya, namun mereka tak bisa berbuat banyak. Axel terlalu emosi untuk di larang.
"Sudahlah, kita doakan saja yang terbaik untuk anak dan cucu cucu kita. Jangan dulu berpikiran buruk, insyaallah Axel akan bisa menangani ini. Kita doakan saja dia bisa pulang dengan selamat bersama anak anaknya," pungkas Andrew berusaha terdengar tenang.
Sonia mengangguk dan melepas pelukannya dari suaminya.
"Mama mau lihat Ayuna dulu," ujarnya dengan suara serak.
Andrew mengangguk dan membiarkan istrinya beranjak dari sisinya walau sebenarnya masih banyak hal yang ingin dia sampaikan padanya.
Sonia membuka pintu kamar Ayuna perlahan, tampak di dalam sana bocah cantik itu masih terlelap dengan posisi membelakangi pintu. Melihat itu, Sonia menutup kembali pintu dan berbalik menuju kamar Sarah.
"Nak," sapanya kala melihat Sarah tengah melamun di sudut balkon.
Sarah menoleh dan untuk pertama kalinya mengulas senyum tipis, sangat tipis. Namun itu juga sudah kemajuan yang pantas ketimbang beberapa hari lalu dimana dia hanya berekspresi datar walau Ayuna datang dan merengek padanya.
"Kamu lagi apa di sini?" tanya Sonia lebih lanjut.
Sarah menggeleng pelan. "Tidak ada, Ma."
Sonia mengelus pundak Sarah dan memilih duduk di dekatnya.
"Apa kamu tahu, Nak?" Sonia membuka percakapan dengan putrinya, dan Sarah tampak antusias menunggu lanjutan kalimatnya.
Sarah tak bicara, hanya binar matanya yang terlihat tak sabar menunggu kabar dari Sonia yang dia tahu pastilah kabar gembira.
"Suamimu pergi menjemput si kembar," ujar sonia bergetar, walau sebenarnya itu belum bisa di katakan sebagai kabar gembira tapi setidaknya Sonia senang bisa menyampaikannya pada Sarah, terlihat dari ekspresi wajahnya Sarah sepertinya sangat senang.
"Doakan dia semoga bisa pulang dengan selamat bersama anak anak ya," sambung Sonia setelah beberapa saat menunggu dan Sarah tampaknya tak ingin membuka mulutnya untuk menanggapi.
Hanya senyuman yang di tunjukkan Sarah, walau tak seceria biasanya tapi setidaknya kemajuan itu sudah membuat Sonia senang.
Lalu tanpa aba-aba tiba tiba Sarah menubruk Sonia, memeluknya erat sekali dengan mata yang basah dan Isak tangis pengharapan yang tersedu sedan.
"Anak anak ... Mama kangen."
****
Sementara itu di kediaman Edwin.
"Mas kamu kenapa?" tanya Asy kala mendapati suaminya, Rahman tengah melamun dengan wajah gusar di balkon kamar yang menghadap halaman belakang rumahnya.
Rahman tampak tersentak kala tangan Asy menyentuh pundaknya, cepat dia berbalik dan mengulas senyum tipis di wajahnya.
"Nggak papa, Neng. Cuma cari angin aja di sini. Gimana? Kamu sudah siap? Kita jadi ke rumah sakit kan?" tanya Rahman dengan nada cepat.
Asy tertegun sesaat sebelum akhirnya mengangguk walau bingung dengan tingkah Rahman yang kelihatan gugup.
Setelah itu mereka beriringan keluar, di depan kamar Aish sudah tampak Sutris dan beberapa anak buah Ed yang lain sudah bersiap untuk membantu mengangkat tubuh Satrio ke mobil.
"Kenapa belum di bawa, Mas?" tanya Rahman pada Sutris, yang sejak beberapa waktu belakangan menjadi lumayan dekat dengannya.
Sutris menunjuk ke bagian dalam kamar. "Mas Satrio ya lagi di gantikan baju sama Non Aish, Mas."
Asy menyusul masuk sedang Rahman berjalan pelan di belakangnya.
"Huhuhu, ya Allah. Kenapa jadi begini, Mas?" tangisan Aish terdengar santer ketika mereka masuk ke dalam kamar tersebut, di atas ranjang tampao Aish tengah sesenggukan sembari memegangi pakaian yang rencananya akan dia kenakan pada tubuh suaminya.
"Ya Allah, Aish? Ada apa?" seru Asy sembari memburu Aish dan memeluk tubuhnya.
Rahman yang penasaran langsung mendekat dengan berlari dan terkejut bukan main kala mendapati kondisi Satrio yang sangat mengenaskan.
"Astaghfirullah, apa yang sudah terjadi? Kenapa tubuh Mas Satrio jadi begini?" seru Rahman tak percaya.
__ADS_1
Aish semakin tergugu, tak sanggup untuk sekedar menjawab pertanyaan Rahman.
Di tenggelamkannya wajahnya di antara ceruk leher Asy dan terus saja menangis terisak.
Tak lama datanglah Amelie, Ed dan juga Bu Hannah yang terkejut mendengar keributan dari arah kamar Aish. Padahal sebelumnya mereka tengah bercengkrama di balkon belakang membahas tentang apa yang harus Bu Hannah lakukan jika mereka semua pergi ke rumah sakit menjaga Satrio. Karna Bu Hannah sudah tua dan tak mungkin terus di ajak bepergian.
"Asy, Aish? Ada apa ini?" seru Amelie sambil berlari kecil menuju ke arah anak-anaknya yang tampak tengah menangis sambil berpelukan.
Asy mendongak dan menatap netra ibunya yang tampak tak kalah khawatir.
"Mas Satrio, Mi." Asy menjawab lirih.
Secepatnya Amelie menatap ke arah ranjang dimana Satrio terbaring lemah dengan mata tertutup.
"Astaga," desis Amelie sembari menutup mulutnya dengan sebelah tangan, terkejut sekaligus ngeri melihat kondisi Satrio.
"Cepat siapkan mobil, kita berangkat sekarang juga!" titah Ed pada anak buahnya yang sejak tadi berjaga di muka pintu.
Beberapa pria bertubuh kekar masuk , sedangkan Sutris langsung turun ke bawah untuk menyiapkan mobil.
Bu Hannah sendiri tak dapat berkata kata, hanya bisa terisak tak menyangka dengan apa yang menimpa ipar dari anaknya itu.
Ed meminta pakaian Satrio yang masih berada di tangan Aish, lalu dengan bantuan Rahman memakaikannya ke tubuh Satrio. Setelah itu bersama sama mereka mengangkat tubuh Satrio menuju mobil dengan hati hati.
Perjalanan menuju rumah sakit memakan waktu yang terasa sangat lama, padahal biasanya dalam kondisi tenang mereka bisa sampai setelah lima belas menit berkendara. Kini lima belas menit pun terasa seperti Berjam jam karna rasa gelisah yang melanda mereka semua.
"Sepertinya dugaan Papi benar," gumam Rahman yang duduk di kursi depan bersebelahan dengan Ed yang memutuskan menyetir sendiri mobilnya menuju rumah sakit, dan memerintahkan sutris juga anak buahnya yang lain mengikuti dari belakang berjaga jaga jika ada yang berniat jahat pada keluarga mereka.
"Papi pikir juga begitu," timpal Ed sembari tetap fokus pada kemudinya.
"Apa maksud kamu, Mas?" bisik Asy penasaran dengan apa yang menjadi pembahasan antara suami dan ayahnya tersebut.
Rahman berbalik sedikit, lalu berbisik lirih di telinga Asy. Setelah memastikan Aish tak begitu memperhatikan mereka karna sibuk dengan Satrio yang terbaring di pangkuannya.
"Dugaan Papi kalau Satrio sebenarnya sudah di racun, untuk mencegah dia bicara apa yang sebenarnya sudah terjadi padanya."
Melihat itu Rahman refleks menempelkan telunjuknya di bibir memberi kode sang istri agar jangan sampai Aish mendengar lebih dulu apa yang dia sampaikan barusan.
Asy mengangguk mengerti dan diam, walau sebenarnya batinnya masih tak menyangka kalau hal demikian yang terjadi pada Satrio. Tapi besar harapannya agar hasil pemeriksaan dokter nanti bisa berbeda walau dia tak yakin juga.
Mobil berhenti tepat di depan pintu masuk UGD, cepat Ed keluar dari mobil dan berteriak memanggil para perawat yang dengan sigap langsung membawa ranjang dorong dan membantunya mengangkat tubuh satrio ke atasnya.
Tak butuh waktu lama kini Satrio sudah langsung di tangani oleh seorang dokter muda berperawakan tinggi dan berkacamata minus yang masuk ke dalam ruangan dengan terburu-buru.
Ed langsung mengurus administrasi, lalu segera kembali setelah semuanya selesai. Menemui anaknya dan membawa Aish ke dalam dekapannya, karna melihat Aish yang semakin kacau sebab di waktu yang seharusnya menjadi saat saat bahagianya menjadi pengantin baru dia malah harus mengalami semua kemalangan ini.
"Tenanglah, Nak. Jangan menangis, Papi ada di sini." Ed mengelus lembut rambut panjang Aish.
"Apa yang terjadi pada Mas Satrio, Pi? Kenapa kondisinya bisa seperti itu?" isak Aish masih dalam posisi memeluk tubuh Ed.
Ed membawanya duduk, dan memberinya sebotol air yang sengaja dia bawa dari mobil tadi. Setelah lebih tenang pasca meminum air itu, Aish kembali menatap Ed seakan meminta pendapatnya.
Ed kembali mengelus rambutnya, dan berusaha menarik sudut bibirnya membentuk sebuah senyuman walau getir terasa.
"Kita tunggu hasil pemeriksaan dokter ya, kamu yang sabar insyaallah Satrio tidak apa apa," gumamnya pelan.
Sebenarnya Ed pun takut kalau apa yang ada di pikirannya saat ini menjadi kenyataan, karna akan sangat memilukan dan memukul mental Aish dengan telak.
Tak berapa lama kemudian, pintu ruangan terbuka sang dokter berkacamata yang tadi masuk kembali dengan membuka masker yang menempel di wajahnya.
"Dokter, bagaimana suami saya?" cecar Aish yang langsung berlari memburu sang dokter dengan tak sabaran.
Semua turut mendekat, ingin mendengar hasil pemeriksaan dari dokter tersebut.
"Katakan, dok bagaimana kondisi anak menantu saya?" tanya Ed turut mendesak dokter tersebut.
Sedetik serasa sewindu bagi mereka, menanti jawaban itu keluar dari bibir sang dokter yang tampak gusar.
__ADS_1
"Maaf, tapi ... sepertinya kami menemukan indikasi racun yang menyebar di hampir seluruh tubuh pasien."
Jedeeerrrrrrr
Semua terkejut, bak tersambar petir di siang bolong. Terlebih Aish yang langsung terduduk lemas tak sanggup menahan semua beban di pundaknya saat ini.
Asy mensejajarkan tuhuhnya dengan aish, memeluknya dari samping memberikan kekuatan.
"Kami sudah berusaha mengeluarkan racunnya tapi sepertinya sudah sangat terlambat untuk itu. Racunnya sudah hampir memenuhi 80% dari tubuh dan sudah menyebar ke jantung."
Jedeeerrrrrrr
Berita yang benar benar memukul telak mental Aish hingga rasanya dia tak lagi memijakkan kakinya di bumi ini, dia limbung tak sanggup lagi menahan tubuhnya hingga tanpa sadar jatuh pingsan di dalam pelukan Asy.
****
Perjalanan yang panjang menuju ke pulau sebrang akhirnya berakhir juga. Dengan membawa serta seorang anak buah keperawatan ayahnya, Axel berangkat dengan perencanaan yang apa adanya.
Rasa rindu yang menggebu di tambah ketidak pastian dari apa yang di rencanakan ayahnya membuat Axel akhirnya nekat pergi sendiri menjemput anak anaknya yang lokasi tempatnya pun sudah dia ketahui. Dia berterima kasih sedalam dalamnya pada keluarga yang kini tengah menjaga dan merawat anak anaknya dengan baik menurut laporan yang dia terima dari salah satu anak buah ayahnya yang lain yang di tugaskan mengawasi si kembar di tempatnya saat ini.
"Bos ini mungkin akan sangat beresiko," nasehat anak buahnya entah untuk yang ke berapa kali sejak mereka berangkat.
"Ya saya tahu, tapi jika tidak mengambil resiko ini saya juga beresiko kehilangan istri saya yang setiap hari menunggu kepulangan anak anak kami. Bahkan dalam hal ini polisi pun sama sekali tidak membantu!" tegas Axel.
Anak buahnya diam, tak lagi banyak bicara hingga akhirnya kapal merapat dan kini mereka mulai bersiap untuk keluar dari sana.
Setelah beberapa saat menunggu antrian pun sampai pada giliran mereka, Axel mengemudikan mobilnya dengan hati hati hingga turun dari jembatan penghubung dengan selamat.
"Alhamdulillah, akhirnya sekarang kita sudah lebih dekat dengan si kembar. Semoga ini pertanda baik," gumam Axel dengan penuh harapan, yang langsung di Amini oleh anak buahnya.
Mobil kembali melaju, dan sempat berhenti untuk mengisi bahan bakar sejenak. Saat itu Axel meminta anak buahnya menelpon temannya yang saat itu masih dalam tugas mengawasi rumah dimana si kembar berada.
Memintanya mengirim lokasi pasti dan langsung meluncur ke sana tanpa buang buang waktu lagi. Kerinduan yang rasanya sudah membuat dadanya sesak semakin terasa menyesakkan hingga tanpa sadar membuat Axel meneteskan air matanya.
Sampai di titik lokasi yang di tunjukkan sang anak buah, Axel turun tak lupa memakai kumis dan jenggot palsu sesuai arahan anak buahnya yang dia bawa agar tak mudah di kenali.
"Rumahnya yang berwarna kuning pudar, yang ada jemuran di depannya juga tumpukan pasir," ucap anak buah pengintainya dari sambungan telepon yang tersambung lewat headset bluetooth di telinganya.
Axel memutar tubuhnya dan mengedarkan pandangannya mencari lokasi yang di sebutkan. Hingga tatapannya terkunci pada satu sudut yang terdapat rumah dengan ciri-ciri yang barusan di sebutkan oleh anak buahnya.
"Kita ke sana," titah Axel setelah mendapatkan titik lokasinya.
Dengan langkah pasti di ayunkannya langkah menuju rumah tersebut. Pintunya tampak terbuka dan samar samar terdengar suara tawa anak anak dari dalam sana.
"Itu suara Azka dan Adam, aku mengenalinya dengan baik. Itu artinya benar mereka ada di sini," bisiknya pada anak buahnya yang sejak tadi setia mengikutinya dari belakang. Pria itu tersenyum dan mengangguk, lalu kembali mempersilahkan Axel melanjutkan langkahnya.
Axel berbalik memindai tempat dimana dia berada sekarang, hatinya teriris melihat kondisi sekitar rumah itu yang sangat miris kondisinya.
Sebuah tumpukan sampah yang menggunung tampak tak jauh dari sana, mungkin semua warga di sini membuang sampahnya ke tempat itu. Baunya menyengat hingga sampai ke tempat dimana Axel berdiri sekarang. Belum lagi parit berwarna keruh kehitaman yang ada di bagian irigasi rumah sama menguarkan bau yang tak sedap. Rumah kosong yang terhenti pembangunannya hingga berlumut itupun tampak sangat tak ramah untuk anak anak yang bermain di sekiranya.
Axel bahkan sampai geleng geleng kepala tak sanggup membayangkan jika anak anaknya harus tinggal lebih lama di tempat seperti itu. Namun dia jadi bersemangat kembali kala menyadari keberadaannya di sini adalah untuk menjemput mereka pulang ke rumahnya yang nyaman dan aman.
Axel melangkah menaiki teras rumah minimalis tersebut, lalu mengetuk pintunya dengan perasaan bercampur aduk.
Tok
Tok
J
Tok
"Assalamu'alaikum," ucapnya dengan nada bergetar, tak sanggup menahan lebih lama rindu akan bertemu dan memeluk tubuh anak kembarnya yang sebentar lagi akan di temuinya.
"Wa'alaikumsalam," sahutan dari dalam di iringi pintu yang bergerak terbuka.
Axel terpana mana kala melihat seorang bocah laki laki membukakan pintu untuknya. Senyumnya merekah , namun belum sempat dia bertindak lebih jauh sebuah letusan lembut membuat tubuhnya menegang seketika.
__ADS_1
"Tuusssss!"