
Pleettaakkk
Jeni menjitak kepala Asiyah dan serta merta ocehan yang keluar dari mulutnya berhenti sama sekali berganti ringisan menahan sakit akibat pelipisnya yang serasa benjol oleh perbuatan Jeni.
"Mbak Jen apa apaan sih?" gerutu Asiyah sambil mengusap usap pelipisnya.
Jeni tidak menjawab, hanya memberi kode dengan lirikan matanya. Asiyah diam, tak lama kemudian terdengar suara Gus Musa memanggil dari samping pintu kamar. Gus Musa memang tidak pernah menatap langsung ke dalam bagian kamar, setiap butuh memanggil Jeni dia akan berdiri menyamping dan membuang pandangannya ke arah lain.
"Mbak Jen, boleh ke sini sebentar?" panggil Gus Musa.
Terdengar suara tawa bayi Jeni dari arah luar sana, sepertinya bayi itu senang sekali bisa ikut dengan Gus Musa.
Jeni bangkit dan menuju ke arah pintu.
"Saya, Gus." ucapnya sopan sambil menundukkan pandangannya ke bawah.
"Saya ke sini mau minta susu dan pakaian ganti buat dedek, Umi bilang mau ajak dedek ke taman bermain. Kebetulan ada reuni keluarga di sana, berhubung sama belum punya anak jadi Umi minta supaya izin sama Mbak Jen buat bawa dedek," papar Gus Musa ramah.
Jeni sedikit terkejut mendengar permintaan Gus Musa, namun ketika tau kalau yang meminta adalah Umi Nafisah maka Jeni rasa tidak bisa menolak permintaan orang sebaik dirinya.
"Apa ... perginya lama, Gus? Maaf, soalnya dedek kan masih menyusu. Saya takutnya nanti malah membuat repot kalau di ajak," sahut Jeni berusaha sesopan mungkin .
Sedangkan Asiyah di dalam sana sedang berusaha mati matian menahan tawanya agar tak keluar dari mulutnya. Tapi konsekuensinya adalah angin tawanya itu malah keluar lewat jalan belakang.
Duuuttt
Bunyi kentut Asiyah menggema di dalam kamar Jeni, sontak dia dan Gus Musa menghentikan pembicaraan dan fokus pada suara tanpa rupa yang baru saja mereka dengar.
Asiyah bangkit dengan wajah syok, menatap Jeni yang juga tengah menatapnya dengan tatapan horor. Tapi tak lama kemudian tawa kembali pecah dari bibir Asiyah yang sejak tadi memang sudah tak sanggup menahannya.
"Bwahahahhahahahah."
Jeni menepuk jidat, begitu pula Gus Musa yang inginnya pura pura tak tahu tapi ujung-ujungnya tersenyum senyum juga.
"Mbak Jen, Monggo di siapkan barangnya dedek, insyaallah saya bisa jaganya nanti di sana. Nggak usah khawatir, " tukas Gus Musa yang sepertinya sudah tak tahan berada di sana lebih lama dan mendengar tertawaan Asiyah yang menular itu.
Jeni masuk dan melempar bantal ke arah Asiyah yang masih saja tertawa hingga bengek itu tepat mengenai wajahnya. Gantian Jeni yang tertawa sembari menyiapkan tas berisi barang pribadi dedek yang tadi di minta oleh Gus Musa.
__ADS_1
Setelah semuanya siap, dan tidak kurang satu pun Jeni memberikannya pada Gus Musa yang masih setia menunggu di teras kamarnya.
"Ini, Gus."
Gus Musa menerima tas itu dengan sopan, tanpa menyentuh tangan Jeni sama sekali.
"Terima kasih, saya bawa dedek ya, Mbak. Insyaallah sayaa yang akan bertanggung jawab dengan keselamatannya." Gus Musa menegaskan sekali lagi, dan Jeni mengangguk tanda percaya.
Gus Musa berlalu pergi bersama bayi Jeni, dan bayi itu sama sekali tidak menangis malahan dia tertawa tawa senang seakan tidak keberatan berjauhan dengan ibunya asal bisa dekat dengan Gus Musa.
Asiyah mendekati Jeni yang tengah melihat kepergian Gus Musa dan bayinya.
"Wah, kayaknya bahkan calon neneknya dedek udsh mulai mendekatkan diri sama dedek nih," celetuk Asiyah ngawur.
Tuk
Jeni menjitak pelan kepala Asiyah yang sejak tadi tak berhenti menggodanya.
"Sudah, nggak usah ngomong macem macem lagi bukannya kamu bilang mau nemenin Mbak ke rumah sakit jenguk saudara Mbak?" ujar Jeni sambil melangkah masuk ke dalam kamarnya lagi.
"Iya, Mbak ganti baju dulu aja. Nanti kalo udah siap bangunin aku."
Sreeettt
Jeni menarik tubuh Asiyah hingga terduduk di lantai.
"Enak aja, kamu tidur Mbak siap siap. Nanti Mbak siap kamu malah ngorok. Tapi sendiri kamu itu susah di banguninnya, gak ada gak ada kamu juga siap siap buruan."
Asiyah mencebik, namun akhirnya menurut juga setelah Jeni memberinya toples biskuit miliknya yang sangat di gemari Asiyah tapi tak mau di belinya sndiri itu. Alasannya milik orang lain selalu lebih enak, padahal Jeni tau itu alasannya saja supaya tidak keluar uang membeli biskuit.
"Ya udah, aku siap siap di kamar ku ya, Mbak. Nanti panggil aja siapa yang lebih dulu siap." Asiyah melenggang santai keluar dari kamar Jeni.
Beberapa menit kemudian Jeni sudah selesai dengan pakaian yang lebih sopan dan lebih layak untuk di pakai.
Setelah mematut dirinya di depan cermin, Jeni bergegas keluar dengan membawa kantong plastik berisi kado untuk bayi bayi sarah.
"Bismillah, " gumam Jeni di depan pintu kamarnya. Dan membaca doa sebelum bepergian sebelum melangkahkan kakinya keluar kamar.
__ADS_1
"Mbak, udah selesai belum?" panggil Asiyah dari dalam kamarnya yang bersebelahan dengan kamar Jeni. Padahal dia sendiri belum selesai malah teriak teriak manggilin orang.
"Udah, kamu itu yang udah selesai apa belom. Jangan neriakin orang aja taunya," celetuk Jeni sambil melihat Asiyah dari depan pintu kamarnya.
Asiyah nyengir dan memasang jilbab instannya cepat, kemudian menyusul Jeni keluar dari kamar dan tak lupa menguncinya.
"Ayo, mbak. Jangan lama lama, nanti macet di jalan ya."
"Halah gayamu segala bilang macet, motoran juga pun bukan pekerja kantoran." Jeni mencebik dan mensejajarkan langkahnya dengan asiyah.
Beberapa saat kemudian mereka sudah berada di atas motor, berboncengan berdua membelah jalan raya yang padat dan panas.
"Mbak, rumah sakitnya yang mana?" tanya Asiyah setelah beberapa saat berkendara.
"Si rumah sakit ibu dan anak yang di jalan X itu loh." Jeni memberi tahukan.
Asiyah manggut-manggut dan membelokkan motornya ke jalan yang di sebutkan Jeni.
Tak butuh waktu lama, akhirnya mereka pun sampai di pekarangan rumah sakit dan memarkirkan motornya di tempat parkir khusus. Di bawah pohon maksudnya.
"Ini ya, Mbak? Besar juga rumah sakitnya ya, kayaknya saudara Mbak orang kaya nih," celetuk Asiyah sambil mengikuti langkah kaki Jeni menuju lobi rumah sakit.
Jeni tersenyum simpul dan memilih tak menjawab pertanyaan Asiyah. Setelah bertanya pada resepsionis di mana kamar tempat Sarah di rawat mereka langsung menuju ke sana.
Jeni memeriksa setiap tulisan di pintu kamar rawat, dan setelah sampai di depan pintu bertuliskan VVIP dia berhenti.
"Wah, beneran orang kaya ah. Kamar rawatnya aja VVIP," celetuk Asiyah lagi.
Jeni yang menjawab dan memilih langsung membuka pintu sambil mengucapkan salam.
"Assalamu'alaikum," sapa Jeni sambil membuka pintu.
"Wa'alaikumsalam," terdengar sahutan yang lumayan ramai dari dalam.
Jeni membuka pintu lebih lebar, dan semua mata langsung mengarah padanya seperti seorang terdakwa.
"Jeni?" seru mereka hampir berbarengan.
__ADS_1