MEMBALAS GUNDIK SUAMIKU

MEMBALAS GUNDIK SUAMIKU
Chapter 219.


__ADS_3

 Asy dan Rahman saling pandang, untuk pertemuan pertama setelah beberapa waktu lamanya tak berjumpa sepertinya membahas tentang masalah orang lain yang tak ada hubungannya dengan mereka sangat rancu terasa.


"Ah, maaf bukan maksud bapak ingin membahas masalah lain. Bapak hanya ingin tahu pendapat kalian saja, sebab bapak sempat melihat Nak Rahman kemarin juga datang di proses pemakamannya. Dan juga mengimami sholatnya, siapa tahu sedikit banyaknya Nak Rahman tahu," pungkas Pardi setelah menyadari arti tatapan anak angkat dan menantunya itu.


"Bapak sih, lagi pula itu juga kan bukan wewenang kita, Pak. Biarkan saja pihak berwajib yang mengurus masalah itu, kita jangan ikut ikutan," timpal Salma tampak tak suka mendengar ucapan suaminya.


"Iya sih, Bu." Pardi menyesap kopi hangat yang di sediakan snag istri tadi untuknya. " Tapi rasanya seperti biasa, pihak desa ini tidak akan mengusut tuntas kasus ini dan akan bersikap seakan tidak ada apa apa pada Kematian Juli. Seperti yang sudah sudah."


 Salma telihat kaget mendengar tuturan suaminya barusan, di kedipkannya matanya beberapa kali memberi isyarat pada sang suami kalau dia sudah bicara terlalu banyak.


 Rahman hanya memperhatikan mereka sekilas, lalu kembali menatap ke arah gelas teh miliknya yang sudah tandas separuh itu.


"Ya sudah, Bu Pak. Kalau begitu kami pamit dulu, hari sudah mulai sore takutnya nanti Pak kades mau pakai motornya." Asy bangkit dan hendak berpamitan pada orang tua angkatnya.


"Loh, kok malah mau nginep di sana lagi, Nak? Kenapa nggak nginep di sini saja malam ini? Toh entah kapan lagi kamu akan bertandang ke mari lagi untuk bertemu bapak dan ibu," sela Pardi yang entah kenapa sekarang tampak tak rela berpisah dengan putri angkatnya itu. Padahal dulu saat sebelum mengetahui kalau orang tua Asy adalah orang kaya yang terkenal seantero kota tempat tinggal mereka, Pardi selalu berkata ketus dan seolah tak mau dekat dekat dengannya.


 Salma menatap suaminya dalam diam, beberapa kali dia juga tampak menatap ke arah Asy dengan raut wajah muram. Entah apa yang Salma pikirkan hingga bersikap seperti itu.


"Memangnya bapak nggak keberatan Asy dan Mas Rahman nginep di sini?" tanya Asy masih kurang memercayai perubahan bapak angkatnya itu, padahal dulu saat Asy pergi dari rumah itu, Pardi yang tampak paling senang dan tersenyum puas melihatnya menjauh.


 Pardi bangkit berdiri dan kali ini dia memegangi lengan Rahman sembari mengulas senyum yang tampak mencurigakan di mata Asy.


"Tentu saja tidak, memangnya kenapa harus keberatan? Toh kalian itu kan anak anak bapak. Jika bukan kalian siapa lagi yang akan menjadi anak bapak dan akan mengurus bapak dan ibu setelah kami tua nanti?"

__ADS_1


 Asy mengangguk paham, sekarang dia tahu alasan sebenarnya bapaknya bersikap demikian baik padanya dan suaminya yang jelas-jelas dulu saja begitu tidak di sukainya kala Rahman masihlah pemuda biasa yang belum setenar sekarang.


"Baiklah, kami akan mengembalikan motor Pak kades dulu. Nanti malam kami ke sini lagi, Pak," putus Asy kemudian.


 Pardi menyambutnya dengan sumringah, sedangkan Salma tampak membuang muka ke arah lain. Muram di wajahnya masih bisa tertangkap mata Asy yang tanpa sengaja menoleh ke arahnya.


 Setelah itu, Asy dan Rahman pun berpamitan untuk kembali lebih dulu ke rumah pak kades.


"Dek? Kamu yakin nanti malam mau menginap di rumah bapak kamu?" tanya Rahman saat mereka sudah berada di atas motor dan sudah berjalan beberapa saat menjauh dari rumah Pardi dan Salma.


 Asy mengeratkan pegangannya di perut suaminya, suasana sore yang indah membawa udara yang lebih dingin ketimbang saat siang hari. Terlebih langit mulai tampak mendung seperti akan turun hujan tidak lama lagi.


"Iya, Kak. Memangnya kenapa? Kakak nggak mau ya?" sahut Asy sembari menatap wajah suaminya dari spion motor.


"Ha? Bukan, kakak sih oke oke saja. Tapi bukannya kata kamu dulu bapak kamu itu kurang suka berada di dekat kamu? Jadi rasanya aneh saja kalau kamu tiba tiba pengen nginep di sana, sayang. Apalagi ini malam terakhir kita di sini, besok kita sudah harus pulang lagi ke kota loh." Rahman menjawab.


 Rahman mengangguk paham. "Baiklah, sayang. Kakak serahkan semuanya sama kamu."


Asy tersipu malu dan memukul pelan punggung Rahman beberapa kali karena gemas. Lalu setelah itu kembali menyandarkan kepalanya di punggung yang selalu kokoh menahan beban darinya itu. Punggung yang membuatnya bersyukur di pertemukan dengan Rahman dengan kisah yang indah.


****


 Setelah menyampaikan niatnya pada Pak kades dan keluarga, Rahman dan Asy langsung membereskan barang mereka yang akan dibawa menginap di rumah pardi malam ini.

__ADS_1


 Pak kades bahkan dengan baik hatinya meminjamkan motornya untuk di pergunakan. Asy dan Rahman menuju ke kediaman kedua orang tua angkat Asy.


"Baik baiklah di sana ya, sebelum pulang besok mampirlah ke mari lebih dulu, ada yang ingin bapak berikan untuk kalian," pungkas Pak kades sebelum Rahman dan Asy berangkat.


 "Iya, Pak tentu saja kami akan kemari lebih dulu besok m. Kan masih harus mengembalikan motor bapak," sahut Rahman tersenyum kecil.


Pak kades mengangguk dan mengantarkan pasangan suami istri itu ke muka teras dan terus menatap kepergian mereka hingga tak tampak lagi di pandangan.


 Hari semakin mendung dan dingin kala Rahman dan Asy kembali melintasi persawahan yang membentang di sepanjang jalanan desa. Hawa yang dingin di tambah lagi dengan angin yang berhembus kencang membuat Asy menjadi mengigil walau sudah memakai jaket yang lumayan tebal. Namun nyatanya tak mampu mengusir hawa dingin yang datang tak di undang.


 Menyadari sang istri kedinginan, Rahman mempercepat laju motornya terlebih saat itu angin yang berhembus mulai membawa rintik hujan bersamanya. Beruntung sebelum hujan


 berubah menjadi deras mereka sudah berada di teras rumah Pardi.


"Syukurlah kalian sudah datang, ayo. Ayo masuk di luar semakin dingin." Pardi yang rupanya sengaja sejak tadi menunggu kedatangan mereka langsung membuka pintu ketika mendengar suara motor memasuki halaman rumahnya.


 Asy dan Rahman masuk, lalu pardi langsung menutup pintu rumahnya rapat rapat dan menguncinya.


Zc


"Hujannya deras sekali, mungkin karna baru saja ada yang meninggal. Sekarang sebaiknya kalian langsung saja masuk ke dalam kamar. udaranya semakin dingin di sini," ucap Pardi sambil berjalan mendahului mereka menuju kamar.


 Asy menurut, kamarnya yang dulu memang bersebelahan dengan kamar ke dua orang tuanya. Dia mengajak Rahman ke sana dan membuka pintu kamarnya yang tidak terkunci.

__ADS_1


 Namun sebelum masuk ke dalam , Pardi lebih dulu memberi peringatan pada mereka.


"Oh ya, nduk. Nanti di dalam kamar tolong jangan buka laci paling bawah yang ada di nakas samping ranjang itu ya. Bapak ada menyimpan barang punya bapak di sana," ucapnya membuat Asy seketika langsung menaruh curiga terhadapnya.


__ADS_2