
"Bagaimana, Gus?" tanya Rahman saat melihat Gus Musa tampak terdiam setelah dirinya mengatakan hendak membawa sang ibu untuk tinggal di lingkungan pondok.
Gus Musa masih tak bergeming, dia diam seakan tak kunjung menemukan jawaban yang tepat.
"Atau, kalau Gus keberatan."
"Saya tidak bilang begitu, Rahman." Gus Musa menyela cepat, kemudian menyesap kopi hitam di depannya.
"Tapi, saya rasa memang akan sulit menampung terlalu banyak pendatang seperti kami, Gus." Rahman berkata berat.
Gus Musa mendesah. "Bukan itu yang saya pikirkan."
"Lantas apa, Gus?"
"Hanya saja, apa ibumu mau jika hanya di beri tempat seukuran kamar asrama? Apa itu cukup?" tanyaa Gus Musa menyampaikan kegelisahannya, terlebih tadi Rahman mengatakan kalau ibunya sudah lumayan tua mungkin hampir seumuran Umi Nafisah.
Tapi seulas senyum tampak terkembang di wajah Rahman.
"Tidak apa, Gus apa yang salah? Toh kamar asrama juga nyaman, lagipula kehidupan kami dulu bahkan lebih sulit dari sekedar memikirkan tempat tidur," kenang Rahman miris saat teringat bagaimana mereka dulu harus rela tidur beralaskan kardus bekas setelah di usir dari keluarga besarnya.
"Baiklah, kalau begitu saya izinkan," tukas Gus Musa mengangguk.
****
Dan di sinilah Rahman saat ini, di depan sebuah rumah megah nan mewah yang tak lain adalah rumah sang paman, Edwin.
"Apa yang kau lakukan di sini? Rendahan?" sergah salah seorang pengawal sang paman yang tampak menatap sinis Rahman dengan tatapan meremehkan.
Namun Rahman tak gentar, jika pun pengawal bertubuh kekar itu mengajaknya berduel tentu dia akan senang hati untuk ... lari.
"Dimana Uncle Ed?" balas Rahman tak menjawab pertanyaan si pengawal.
"Ada urusan apa kau mencari bos kami?" sergah pengawal itu lagi.
Rahman mendekat, memiringkan kepalanya ke ceruk leher pengawal itu dan berbisik.
"Bukan urusanmu."
Sontak pengawal itu mendelik, lalu tanpa kata dia mencengkram kerah baju koko yang di pakai Rahman hingga leher Rahman terasa tercekik.
__ADS_1
"Kau berani melawanku, tikus kecil?" kekeh si pengawal merasa menang.
Dengan wajah merah padam Rahman mencoba bertahan, mempertahankan mati matian sisa oksigen yang masih bersarang di paru paru nya agar tidak terbuang sia sia, hingga akhirnya sebuah suara yang familiar menyelamatkannya, lebih tepatnya sesaat.
"Apa yang kau lakukan, Brandon? Lepaskan dia! Apa aku memerintah mu untuk melukai orang lain!" maki seseorang yang tak lain adalah Edwin sendiri.
Pengawal yang di panggil Brandon itu mendengkus, lalu tanpa aba aba dia menjatuhkan Rahman ke lantai begitu saja. Dan berbalik meninggalkannya.
"Uhuk, uhuk!" Rahman memegangi lehernya yang terasa sakit sembari menghirup udara sebanyak-banyaknya untuk mengisi kembali pasokan oksigen ke paru-parunya.
"Are you okey, dude?" tanya Edwin sambil berjalan mendekati Rahman dan memijit pelan tengkuknya.
Tapi dengan cepat Rahman menepis tangan Edwin dari tubuhnya dan menatapnya nyalang.
"Dimana ibuku?" sentaknya setelah suaranya cukup untuk bicara.
Ed berdiri tegak dan tersenyum menyeringai.
"Oh, ayolah keponakanku yang malang. Bersenang-senanglah sedikit, bagaimana kalau sebelum itu kita party lebih dulu? Ada banyak persediaan anggur kesukaan mu di ruang bawah tanahku."
Rahman mengetatkan rahangnya menatap tak suka pada Edwin yang tampak sangat santai dengan setelan casualnya.
"Berhenti berucap tak berguna seperti itu! Hubungan kita sudah lama usai sebagai keluarga!"
Rahman tak menggubris, dia berdiri menantang Ed dengan wajah sangar.
"Hah, baiklah. Ikuti aku," desah Edwin sembari melangkah kembali masuk ke dalam rumahnya yang besar ala rumah orang kaya di film film.
Mereka berjalan beriringan, setiap berpapasan dengan beberapa petugas jaga atau asisten rumah tangga yang tengah melakukan tugasnya mereka pasti akan membeliak atau terkejut melihat keberadaan Rahman di sana. Jika pun ada yang berdiri bersama teman atau seseorang pasti mereka akan berbisik bisik setelah Rahman dan Ed lewat di depan mereka.
"Bahkan para pembantuku pun masih mengingatmu, Robin." Ed menyeringai di depan sebuah pintu kayu berpelitur.
"Berhenti memanggilku begitu, sebelum aku lupa kalau kau adalah paman ku." Rahman menggeram rendah, terdengar dingin dan menakutkan. Namun sayangnya tak berlaku bagi Ed yang sudah malang melintang di dunia mafia.
Ceklek
Pintu ruangan itu terbuka di dorong oleh Edwin dengan sekali sentakan.
Gelap
__ADS_1
Itulah yang pertama kali tertangkap oleh mata Rahman, jantungnya berdegup kencang dengan berbagai kemungkinan berseliweran di dalam benaknya.
"Jangan main main, Uncle. Katakan dimana ibuku!" geramnya lagi sambil memegang bahu Edwin dan mencengkramnya pula.
Edwin terkekeh. "Sabarlah, keponakan ku sayang. Lihat ini."
Edwin masuk ke ruangan gelap itu, berjalan ke bagian kiri dan menekan saklar lampu di sana.
Klik
Dan sedetik kemudian ruangan yang semula gelap gulita itu mendadak menjadi terang benderang.
Rahman menyipitkan matanya karena silau, namun cepat dia beradaptasi demi melihat apa yang ada di ruangan itu.
"Welcome to the hell, Rahman."
Rahman tersentak saat mendapati sang paman tengah menatapnya dengan tatapan buas, dengan sebuah bandul berduri yang bergoyang di rantai yang di pegang Edwin.
"Tidak!" desis Rahman ngeri.
****
"Apa yang bisa Aa bantu, aish?" tanya Hendro setelah beberapa saat mereka saling diam, mentari mulai turun menyisakan suasana senja yang menguning dan melow.
Aish menggeleng lemah. "Entahlah, A. Semua ini terlalu rumit, aish bingung harus menyimpulkan bagaimana."
Foto di tangannya masih di terus di tatap oleh Aish, walau dia tahu semakin dia memandangnya semakin hatinya sakit sebab berbagai praduga yang tak kunjung menemukan jawabannya.
"Haruskah kita tanyakan langsung pada perempuan itu?" tanya Hendro mencondongkan ucapan pada si wanita pengurus kos kosan yang tadi mengantar mereka ke kamar yang akan di tempati Aish sebulan ke depan.
"Aish tidak berani, A. Takut salah mengira, nanti malu sendiri."
Aish mendesah lelah, lelah dengan pikirannya sendiri dan lelah dengan keadaan yang seolah tak pernah berpihak padanya.
"Lalu, kamu akan terus memendam semuanya sendiri? Sampai akhirnya nanti kamu nggak tahan dan malah jadi bumerang buat diri kamu sendiri? Sadar Aish! Cinta boleh! Bodoh jangan!" maki Hendro yang merasa tak rela jika benar perkiraannya kalau wanita itu memiliki hubungan dengan Satrio, entah di masa lalu atau di masa kini dan yang paling parah mungkin saja masa depan.
Aish mencengkram kepalanya, air matanya jatuh luruh ke pipi mulusnya.
"Aish bingung, A! Aish bingung harus apa, Aish nggak punya siapa siapa sekarang! Kalau sampai nanti Aish mempermasalahkan hal ini dan Mas Satrio ikut pergi bagaimana? Sama siapa lagi Aish bersandar dan bergantung, A? Aa' pikir mudah jadi Aish? Aish capek, A! Aish capek!" pekik Aish pula dengan wajah memerah dan bersimbah air mata.
__ADS_1
Hendro yang tak tega langsung membawa aish ke dalam dekapannya, dan menghidu aroma gadis itu dalam dalam seakan tak ingin lagi berpisah darinya, walau diapun tahu semua hanya sementara.
"Aa', Aa yang akan menanggung kamu, hidup kamu, kebutuhan kamu dan semua tentang kamu jikalau semua orang pergi dari kamu, Aish. Aa' janji akan selalu ada, sekarang dan selamanya selama nafas masih berhembus di tubuh ini. Saya Hendro Baskoro akan selalu melindungi dan menjaga kamu Aisyah, walau itu artinya dari kejauhan."