MEMBALAS GUNDIK SUAMIKU

MEMBALAS GUNDIK SUAMIKU
Chapter 77.


__ADS_3

 Nyonya Ellen termangu, menatap ke tiga cucunya yang kini tengah di ajak bermain oleh susternya masing masing. Ternyata Aisyah yang di sangkanya pemalu itu sangat berpengalaman dan bisa menghandle bayi dengan sangat baik, dia mendapat Ayuna sebagai anak asuhnya.


"Mom, apa yang kamu pikirkan?" tanya Tuan Bryan yang akan berangkat kerja itu pada istrinya.


"Tidak, Dad. Hanya ... Momy terkenang dengan anak dari Edwin dan Amelie yang hingga saat ini kita pun tak tahu bagaimana kabarnya." Nyonya Ellen mendesah.


 Tuan Bryan duduk di hadapan nyonya Ellen, menggenggam tangannya lembut dan matanya dalam.


"Tenanglah, dua bayi kembar itu bukankah sudah kita tempatkan di tempat yang aman? Seharusnya kita bisa percaya pada orang tua asuh yang kita pilih dulu untuk mereka. Sekarang tenanglah, yakinlah kalau Edwin tidak akan pernah bisa menemukan anak anaknya. Dia hanya akan membuat mereka menderita jika sampai bertemu, kita berdoa saja semoga sampai kapan pun mereka tak akan di pertemukan untuk kebaikan mereka masing masing."


 Nyonya Ellen menarik nafas dalam dan mengangguk.


"Yah, kau benar, Dad. Semoga saja Tuhan melindungi dua anak kembar itu, dan semoga mereka tidak terpisahkan hingga sekarang."


****


 Jeni berlari kecil di sepanjang jalan setapak di sudut pesantren besar itu, dia tengah kebingungan karna anaknya yang tadi dia letakkan di baby Walker saat ke kamar mandi tiba-tiba raib tak tau rimbanya.


"As!" panggil Jeni pada Asiyah yang kini tampak tengah melambai pada mobil milik Gus Musa yang bergerak menjauh di depan gerbang utama.


"Apa, Mbak?" tanya Asiyah sambil berbalik menatap Jeni.


"Dedek mana?" cecar Jeni memegang kedua bahu Asiyah.


"Barusan di bawa Umi Nafisah sama Gus Musa, katanya mau 'sowan' ke rumah kyai Nurdin."


 Jeni menepuk jidat dengan raut wajah kesal.


"Ya ampun, As! Kamu kok nggak bilang Mbak dulu sih? Tau nggak Mbak hampir jantungan tadi liat dedek nggak ada di baby Walkernya! Mbak kira ada yang nyulik! Mahal loh dia itu kalo di jual!" omel Jeni sambil berjalan masuk kembali ke dalam pesantren.


 Asiyah mengikuti sambil terbahak. "Anak mu sendiri itu loh, Mbak! Masa mau di jual mentang mentang mahal."

__ADS_1


 Jeni memberengut kesal, pasalnya ini bukan pertama kalinya Asiyah mengambil anaknya untuk di serahkan pada Gus Musa untuk sekedar di bawa jalan jalan atau ke taman bermain. Pun dengan Umi Nafisah yang tampaknya sangat senang dengan kehadiran anak Jeni itu.


 Jeni masuk ke kamarnya di ikuti Asiyah.


"Sekarang Mbak bingung mau ngapain, kerjaan semua sudah selesai. Dedek nggak ada, mau ngapain lagi?" keluh Jeni sambil menyandarkan kepalanya di atas baby Walker milik anaknya yang juga merupakan pemberian Umi Nafisah.


 Asiyah menyambar toples biskuit kesukaannya dan duduk bersila di depan Jeni.


"Lagi pula, kenapa sih anak Mbak belum juga di kasih nama sampe Segede itu, Mbak? Memangnya Mbak nggak mau gitu ngasih nama yang bagus buat dedek? Rancu loh Mbak selama ini di panggil dedek dedek aja," ceplos Asiyah tak menjawab pertanyaan Jeni.


 Jeni mendengus keras sambil memanyunkan bibirnya.


"Kamu kan tau selama ini Mbak selalu sibuk sama kerjaan supaya bisa memenuhi semua kebutuhan anak Mbak, bahkan kadang Mbak juga nggak sempat mau jagain dia sampe dia lebih banyak ikut anak santri yang lain. Gimana Mbak bisa kepikiran buat ngurus akte dan surat surat resmi dia yang lain? Bahkan imunisasi saja nggak pernah," keluh Jeni sedih.


 Asiyah mendesah, namun mulutnya tak henti menguyah biskuit coklat kesukaannya itu.


"Iya ya, Mbak. Kalo di liat liat kasian banget hidupnya dedek dari lahir sampe sekarang ya. Coba aja dedek punya ayah baru, pasti dia ...."


 Asiyah melebarkan cengirannya, menampakkan gigi giginya yang bak gigi seekor kelinci dengan paduan gingsul di sisi kanan gusinya, tampak manis dan indah sekali di pandang mata.


"Nah, itu Mbak paham. Kenapa nggak Mbak pertimbangkan? Kayaknya Gus Musa cocok tuh jadi ayahnya dedek."


 Jeni menggeleng dan mengibas ngibaskan tangannya.


"Haish ,nggak kepikiran sampe sana ah, As. Pusing, lagi pula nggak mungkin juga kan? Mana mungkin anak seorang kyai kondang seperti Gus Musa mau sama Mbak yang asal usul dan masa lalunya aja nggak jelas gini," sanggah Jeni tak ingin berharap sama sekali.


 Walau dia pun merasakan kalau beberapa kali Gus Musa pernah memberikan sinyal dan perhatian yang berlebih untuknya dan anaknya. Mungkin yang melihat bisa saja salah paham, namun Jeni terus menekan perasaannya untuk tak lagi menyimpan nama seorang pria di sana. Entah sejak kapan, namun Jeni sudah mengharamkan hal itu dari hatinya. Untuk saat ini.


"Jangan merendah, Mbak. Ada kalanya Gusti Allah SWT itu akan mengangkat derajat hambanya yang mau bertaubat dan sungguh sungguh mendekatkan diri pada- Nya. Siapa tau saja kan nanti dengan Mbak berjodoh sama Gus Musa kehidupan Mbak dan dedek jadi lebih baik lagi?" ujar Asiyah masih kekeh menjodohkan Jeni dan Gus Musa.


 Sekali lagi Jeni menggeleng. "Mbak nggak mau berharap lebih, As. Begini saja sudah cukup buat Mbak, anak Mbak punya tempat berteduh dan makanan yang layak, dan untuk pendidikan pun pastinya di sini akan terjamin. Mbak nggak mau muluk muluk lagi, As. Takut sakit kalo jatoh."

__ADS_1


 Asiyah mengangkat kedua bahunya acuh, namun dalam hatinya dia tetap bertekad akan membuat Jeni dan Gus Musa semakin dekat.


****


 Sore itu, Gus Musa dan Umi Nafisah baru saja kembali dari rumah sahabat kyai Hasan yaitu kyai Nurdin yang rumahnya kira kira hampir satu jam perjalanan dari pondok pesantren kyai Hasan.


"Abah langsung masuk ke kamar saja, Abah kan belum begitu sehat. Barang barangnya biar Musa yang bawakan," ujar Gus Musa pada kyai Hasan yang duduk di kursi roda namun masih bersikeras ingin membantu.


 Kyai kondang yang beberapa waktu lalu akhirnya berhasil sembuh dari strokenya karna pertolongan Gusti Allah SWT lewat tangan dingin putra kyai Nurdin itu, kini sudah mulai bisa beraktivitas ringan walau masih harus duduk di kursi roda.


"Abah masih kuat, Le. Biar Abah bantu juga," kekeh kyai Hasan.


 Kyai dengan rambut penuh uban dan keriput yang sudah memenuhi wajahnya itu terus memaksa, karna barang bawaan berupa hasil bumi dan jajanan yang di berikan keluarga kyai Nurdin lumayan banyak menumpuk di bagasi belakang.


"Kalau gitu, Abah bantu gendong si dedek saja ya," tukas Umi Nafisah sambil memberikan bayi Jeni pada kyai Hasan yang langsung menerimanya dengan sumringah.


 Di ciumnya pipi gembul bayi itu yang semakin hari tampak semakin gendut saja, bayi itu tertawa tawa dan balas mencium kyai Hasan walau sambil membuka mulutnya hingga encesnya menempel semua ke wajah kyai Hasan.


"Hahaha, aduh Eyang Kakung basah semua ini." Kiyai Hasan malah tertawa, sambil mengelap pipinya yang terkena air liur bayi itu.


"Ya sudah, sana Gus. Kamu anter abahmu dulu ke kamarnya, biar mainan sama si dedek. Biar umi minta bantuan Mbak Jen sama Asy buat angkutin semua ini." Umi Nafisah memberi titah.


 Gus Musa menurut dan lekas mendorong kursi roda abahnya yang masih tampak senang menggendong bayi Jeni.


"Gus, kenapa toh bayi ini nggak ada namanya? Di panggilnya dedek, dedek bayi terus? Apa si Jeni nggak niat ngasih nama buat anaknya?" tanya kyai Hasan tiba tiba.


 Gus Musa tampak terhenyak. "Kulo juga kurang tau, Bah. Mau bertanya juga kok sungkan, jadi ya sudah kita ikuti saja panggilan yang di berikan ibunya buat dia."


"Hah, andaikan saja ini cucuku, Le. Sudah tak kasih nama yang bagus terus tak potongkan kambing yang paling gemuk buat aqiqahnya. Sayang tenan Abah sama anak ini," gumam kyai Hasan sambil menimang bayi Jeni yang juga tampak betah pangkuannya.


Gus Musa terdiam, tidak tahu harus menjawab bagaimana.

__ADS_1


"Kamu ... nggak ada pikiran buat menikah tho, le? Sama ibunya bayi ini misalnya?" tanya kyai Hasan lagi, dan kali ini benar benar menohok hati Gus Musa.


__ADS_2