MEMBALAS GUNDIK SUAMIKU

MEMBALAS GUNDIK SUAMIKU
Chapter 79.


__ADS_3

 Gus Musa meradang melihat seorang nenek tua yang tidak sepandan untuk menjadi lawan dua preman bertubuh kekar itu kini tergolek lemah di tanah.


"Hei! Jangan kurang ajar kalian!" sentak Gus Musa marah.


 Jeni bergegas menolong nek Minah dan membawanya menjauh dari sana.


 Dua preman itu tersenyum sinis dan memasang raut wajah meremehkan menatap Gus Musa yang saat ini hanya memakai sarung dan baju kaos sederhana berpadu peci hitam yang sudah mulai kusam warnanya.


"Sepertinya ada yang mau main main dengan kita, Bro." Preman pertama terkekeh mengejek.


"Iya, sepertinya nyalinya sudah setebal baja berani menantang kita. Hei kau, ustadz gadungan! Apa maumu hah? Tidak usah ikut campur urusan kami kalau besok masih mau melihat matahari, hahahaha." Preman ke dua menyahut dengan ejekan yang lebih meremehkan lagi.


 Ke duanya tertawa terpingkal-pingkal sambil memegangi perutnya, tapi Gus Musa sama sekali tak terpengaruh, dengan sekali tonjokan cepat preman pertama langsung roboh di buatnya


Bug!


 Brughhhh


 Preman pertama jatuh tersungkur sambil memegangi hidungnya yang terasa patah.


"Aarrtghhhhhhh!" dia mengerang keras merasai bagaimana hidungnya yang patah itu kini mulai mengeluarkan darah segar.


"Kurang aj*r! Berani beraninya kau menyentuh kawan ku. Rasakan ini, heeeaaahhhh!" preman ke dua maju sambil melayangkan tendangan ke arah kepala Gus Musa namun Gus Musa dengan cekatan menahan kakinya dan memelintirnya, kemudian menendang rahang preman itu.


Gubrakkk


 Preman ke dua juga jatuh menimpa preman pertama, tapi sepertinya mereka belum menyerah, dengan tertatih mereka bangkit sambil memegangi bagian tubuhnya yang terasa sakit dan bersama sama kembali melancarkan serangan pada Gus Musa.


"Jangan senang dulu kau, ustadz gadungan! Rasakan pembalasan kami!" preman pertama merangsek maju, namun belum sempat dia menyentuh tubuh Gus Musa, Gus Musa lebih dulu melayangkan tendangan ke arah alat vitalnya.


"Telur emasku ...," erangnya saat merasakan lagi ngilu yang luar biasa karena tendangan itu, tangannya otomatis mencengkram erat barang pusakaknya itu sambil menatap iba pada temannya.


 Meminta sang preman ke dua untuk membalaskan dendamnya.

__ADS_1


 Preman ke dua kembali meradang melihat temannya lagi lagi langsung kalah bahkan sebelum bisa menyentuh Gus Musa, dengan perhitungan yang di rasa tepat preman ke dua menggoyangkan kepalanya ke kiri dan ke kanan kemudian merenggangkan otot di jari dan tangannya.


"Kau! Benar benar!" preman ke dua melayangkan tinjunya lagi pada Gus Musa.


 Gus Musa berkelit, dan dengan sekali tonjokan Gus Musa bisa merobohkan preman itu dengan tonjokan yang bersarang tepat di ulu hatinya.


 "Heaaagggrrhhhhh!" preman ke dua juga roboh ke tanah, namun sebelum jatuh dia sempat melayangkan sebuah sabetan pisau kecil ke arah Gus Musa.


"Gus! Awas!" pekik Jeni sambil berlari menuju Gus Musa.


"Tidak, Mbak Jen. Jangan ke sini!" sentak Gus Musa cemas.


Jleb


 Terlambat, Jeni sudah bersimbah darah saat pisau itu dengan suksesnya menusuk ke punggungnya yang berusaha melindungi Gus Musa.


"Jeni!" jerit nek Minah yang memegangi cucunya dengan pilu.


 Jeni luruh ke tanah, Gus Musa dengan cepat mengangkat kepalanya dan menaruhnya ke pangkuannya.


 Ya, siapa lagi kalau bukan Pak Ismail. Anak dari nek Minah yang begitu gila harta dan kekuasaan. Di tangannya dia menenteng dua buah surat yang sepertinya adalah surat rumah dan kebun milik Nek Minah.


"Mail! Jangan nekat kamu! Sampai matipun emak tidak akan pernah ikhlas rumah dan kebun ini untuk kamu! Kamu anak durhaka, lebih baik semua ini emak berikan pada Jeni ke timbang padamu!" maki Nek Minah sambil bangkit berdiri dan menggendong anak Jeni yang masih anteng di dalam pelukannya.


 Pak Ismail seolah tuli, dia bersikap seakan tak mendengar dan tak takut akan ancaman ibunya yang baginya hanya angin lalu saja itu.


"Baron, Tegar! Kira pergi sekarang, saya sudah dapatkan apa yang saya mau." Pak Ismail berjalan cepat menuju motornya dan tak memandang mereka sedikit pun. Baginya mungkin mereka semua yang ada di sana tidak lah tampak di matanya.


Dua preman yang masih terkapar di tanah itu cepat berusaha bangkit berdiri, walau tertatih namun mereka terpaksa harus mengikuti perintah Pak Ismail jika tidak ingin babak belur di pukuli anak buahnya yang lain.


"Jangan pergi kamu, Mail! Kembalikan sertifikat itu!" teriak nek Minah lagi, sambil berusaha mengejar Pak Ismail yang sudah melajukan motornya lebih dulu.


 Nek Minah sebenarnya berhasil mengejar dan meraih jaket yang di kenakan Pak Ismail, namun dengan teganya Pak Ismail malah menendang tubuh renta nek Minah dan mengegas motornya untuk melaju lebih cepat.

__ADS_1


 Nek Minah tergugu di tempatnya jatuh, untungnya bayi Jeni yang ada di pelukannya tidak terluka. Nek Minah melindungi tubuhnya saat jatuh, hingga bayi itu kini hanya diam dan menatap bingung. Namun sedetik kemudian dia malah ikut menangis karna melihat nek Minah yang juga menangis.


 Nek Minah bangkit, dan berjalan pelan menuju tempat Jeni tadi terbaring dengan luka tusuk di punggungnya.


"Mbak Jen! Bangun, Mbak! Bangun! Jangan pergi, Mbak." suara Gus Musa terdengar pilu walau hanya berupa gumaman lirih yang berusaha agar tak di dengar orang lain tapi nek Minah mendengarnya.


"Kita harus bawa Jeni ke rumah sakit, le. Maaf, gara gara nenek ...."


"Nggak papa, Nek. Jangan menyalahkan diri nenek sendiri. Nenek nggak salah, nenek cuma korban, orang orang jahat tadi itu yang salah. Mbak Jeni juga pasti berpikir begitu," sela Gus Musa sebelum nek Minah menyelesaikan kalimatnya.


 Nek Minah mengangguk dengan wajah basah, melihat kondisi Jeni yang kini tampak pucat karna kehilangan bbanyak darah.


"Ya sudah, ayo cepat kita bawa Jeni ke rumah sakit, le. Nenek khawatir sama kondisinya."


 Gus Musa bergerak cepat, mengangkat tubuh Jeni dan memasukkannya ke dalam mobil, setelahnya membantu Nek Minah masuk dan memangku kepala Jeni.


 Gus Musa naik ke kursi kemudi, dan mobil pun meluncur deras ke jalan raya untuk segera mencapai rumah sakit terdekat.


"Suster, tolong saudari saya!" seru Gus Musa sesampainya di rumah sakit terdekat.


 Gus Musa membuka pintu belakang mobil dan membantu para petugas memindahkan tubuh lemah Jeni ke atas brankar.


 Setelahnya mereka mendorong brankar itu menuju ruangan IGD.


"Bapak dan nenek tunggu di sini saja ya. Biar dokter yang akan memeriksa pasien." seorang suster menahan pergerakan Gus Musa dan Nek Minah yang hendak mengikuti Jeni.


 Dengan terpaksa akhirnya Gus Musa dan Nek Minah menunggu di depan ruang IGD itu.


"Nek, biar saya yang gendong dedek." Gus Musa mengulurkan tangannya untuk mengambil anaknya Jeni dari gendongan Nek Minah yang tampak lelah.


 Bayo montok itu mengulurkan tubuhnya dan Gus Musa meraihkan ke dalam gendongan. Nek Minah mengernyitkan keningnya saat melihat bayi Jeni merebahkan kepalanya di bahu Gus Musa.


 Rasa penasaran menggelitik Nek Minah untuk bertanya.

__ADS_1


"Le, sebenarnya kamu ini siapanya Jeni? Kenapa anaknya bisa akrab sekali sama kamu? Apa ... kamu calon ayah barunya bayi ini?"


 Gus Musa terhenyak, namun sesaat setelah beradu pandang dengan bayi Jeni, Gus Musa mengangguk sambil mengusap air mata di sudut netranya.


__ADS_2