
Beberapa hari setelahnya.
"Bu, hari ini jadi ke rumah uncle? Kebetulan hari ini jadwal Rahman nggak begitu padat, setelah mengajar pagi sampai malam Rahman free," ucap Rahman dengan logat santainya.
Bu Hannah yang tengah membaca buku kisah para rasul itu langsung menutup buku dan membuka kacamata baca di wajahnya.
"Iya, nanti kita ke sana dan ibu harap kau pastikan letak jantungmu itu sudah benar. Jangan sampai nanti terkejut dan dia berpindah tempat," ujar Bu Hannah lebih serupa titah ketimbang saran.
Rahman memanyunkan bibirnya dan bangkit berdiri dari duduknya.
"Hei, seorang ustadz tidak ngambekan seperti dirimu, Nak." Bu Hannah terkekeh menambahi.
"Iya, ibuku sayang," sahut Rahman sambil tersenyum lebar dan menunduk hormat sebelum akhirnya berlalu menuju masjid karna jadwal mengajar paginya sudah tiba.
Bu Hannah mengangkat wajahnya, menatap nanar punggung sang anak yang berjalan menjauh. Setetes air turun dari kelopak matanya tanpa permisi.
"Ibu harap kau kuat, Nak. Jangan tumbang walau badai terbesar menghantam mu. Ibu akan selalu memegang tanganmu sekarang," gumam Bu Hannah tulus.
****
Sementara itu.
"Ini mimpi, ini pasti mimpi. Tapi Kenapa rasanya nyata sekali?" gumam Satrio yang tengah berbaring di kamarnya sambil menatap langit langit kamar.
Sejak kejadian di rumah Edwin waktu itu, Aish langsung memutuskan untuk pindah ke sana. Toh Edwin yang memintanya karna tak ingin berjauhan lagi dengan putri putrinya.
Dan semenjak itu pula Hendro menginap lebih mana di tempatnya, karna merasa takut kalau kalau Satrio bertindak nekat karna kaget akan siapa sebenarnya kekasihnya.
"Dek Aish," gumam Satrio sambil membuang pandangannya ke arah jendela kaca yang tidak terpasang gorden di kamarnya, memiringkan tubuhnya hingga dia bisa leluasa menatap burung burung yang berkicau riang di pagi yang belum tersentuh mentari itu.
__ADS_1
Satrio tersenyum sendiri membayangkan ketika dia dan Aish akan duduk di pelaminan nantinya, tapi hatinya kembali mencelos.
"Sekarang bahkan kasta kita sudah berbeda, apakah kamu masih akan menjadi dek Aish ku yang dulu? Atau malah berubah menjadi orang yang berbeda? Terlebih kehidupan orang kaya selalunya lebih rumit," desah Satrio merasa putus asa, apalagi sejak hari itu Aish hanya menghubunginya beberapa kali itupun juga Satrio duluan yang menghubungi jika tidak maka tidak akan ada pesan dari Aish untuknya.
Satrio mengangkat ponselnya yang sudah beberapa hari terasa sepi, padahal dulu saat Aish masih tinggal di kampung ponsel itu akan senantiasa berbunyi setiap dua jam sekali saat Aish mengiriminya pesan meskipun mungkin Satrio tak bisa cepat membalas karna pekerjaannya.
"Nggak ada kabar lagi?" tanya Hendro yang tiba-tiba sudah ada di belakang Satrio dengan dua gelas kopi di tangannya.
Satrio berbalik dan bangkit dari posisi berbaringnya.
"Eh, Mas hen. Nggak kok, mungkin Aish lupa ngasih kabar," sahut Satrio berusaha nampak baik baik saja.
Hendro mengulurkan segelas kopi panas itu ke tangan Satrio, sedangkan dia memilih duduk di dekat jendela berlesahan di lantai sambil menatap ke halaman samping yang basah karna hujan semalam.
"Kenapa nggak samperin ke sana saja? Kamu kan tahu alamat rumah orang tuanya," gumam Hendro sambil menyesap kopinya, kopi sasetan yang dia beli di warung tadi malam.
Satrio menunduk memandangi kopi yang mengepulkan asap di gelasnya, senyum terkembang di wajahnya walau getir terasa.
Hendro tertawa pelan. "Saya suka semangat kamu, semoga kamu memang orang yang tepat untuk Aish. Jika nanti kalian memang berjodoh tolong bahagiakan Aish, jangan pernah sakiti hatinya atau aku akan mengambilnya darimu."
Degh
Sontak Satrio mengangkat wajahnya menatap Hendro, selama ini dia bahkan tidak tahu kalau ada yang mencintai Aish lebih tulus dari dirinya karna Hendro selalu tampak biasa saja jika mereka bersama.
"Maaf, tapi ... maksud Mas hen apa ya?" tanya Satrio mencoba memastikan.
Hendro mendesah pelan, lalu menunduk dan melempar tatapan lekat pada Satrio.
"Saya mencintai Aish, sejak lama ... tapi saya tahu kalau dia sangat amat mencintai kamu, tak ada yang bisa menggoyahkan kesucian cintanya untuk kamu dan saya tahu itu. Selama ini saya yang selalu menjaganya di desa, menjadi temannya dan membantunya apapun yang dia butuhkan saya ada. Namun satu yang tidak bisa saya paksakan, perasaannya. Walau saya sudah mengorbankan segalanya untuknya tapi perasaannya hanya murni untuk kamu. Baiklah, untuk saat ini saya akan mengerti dan mengalah demi kebahagiaan Aish. Tapi, jika suatu saat nanti saya mengetahui Aish menangis karena sakit hati dengan kelakuan kamu, jangan salahkan kalau saya tidak akan mengalah lagi."
__ADS_1
Satrio terhenyak, baru dia sadari kalau dia mempunyai saingan yang cukup berat. Walau dia tahu bagaimana tulusnya cinta aish untuknya bukan tidak mungkin dia akan berpaling jika nanti dia membuat kesalahan sedikit saja.
"Tapi ... Mas."
"Tenanglah, jika kamu tidak pernah menyakitinya tentu saja saya akan tahu diri untuk tidak mengganggu hubungan kalian. Selama saya di sini saya yakin kamu sudah paham bagaimana karakter saya bukan?" sela Hendro.
Satrio mengangguk membenarkan, selama ini Hendro bahkan tak pernah mencoba menghubungi Aish atau berbicara tentang Aish jika bukan Satrio yang memulai. Dan sejujurnya Satrio merasa tenang dengan pernyataan Hendro barusan, karna Hendro bukanlah orang yang suka ingkar dengan ucapan yang terlontar dari bibirnya sendiri.
Siangnya.
Hari minggu restoran libur, Satrio memilih di rumah saja untuk mengistirahatkan tubuh yang selama enam hari belakangan terus di paksa bekerja untuk mengurangi rasa rindu yang menggebu di dadanya untuk sang kekasih.
"Kamu di rumah?" tegur Hendro saat melihat Satrio tengah duduk di teras rumahnya sambil melamun.
"Eh, Iya Mas. Hari Minggu restoran libur."
Hendro duduk di sebelah Satrio, mengeluarkan sebungkus rokok dan meletakkannya di antara mereka setelah mengambil satu dan menghidupkannya.
"Saya nggak ngerokok, Mas." Satrio menolak halus.
"Iya saya tahu, aish nggak suka bau asap rokok kan?"
Satrio mengangguk dan tersenyum sungkan.
"Saya juga dulu tidak merokok lagi semenjak kenal Aish, tapi ... karna sekarang dia sudah punya tambatan hati maka saya akan kembali melakukan semua yang dulu saya tinggalkan. Supaya dia lupa sama saya dan hanya fokus ke kamu, lelaki sempurna yang di cintainya," ujar Hendro sambil menghembuskan asap rokoknya perlahan.
"Kenapa, Mas? Maksud saya kenapa harus seperti itu?" tanya Satrio penasaran.
Hendro mengulas senyum tipis. "Tidak ada, saya hanya ingin mengalihkan rasa kecewa yang tak bertuan ini saja kok."
__ADS_1
Satrio terdiam, bingung juga harus menanggapi bagaimana. Setelah beberapa saat saling diam Hendro membuang puntung rokoknya yang sudah habis dan menginjaknya sambil berdiri.
"Saya akan pulang," ucapnya pelan terdengar nada sendu mengiringi suaranya.