
"Tidakkah ada yang ingin kamu sampaikan pada ibu, Asy?" gumam Bu Sani lagi, masih berusaha mendesak asy.
Demi sesuatu yang dia tidak tahu.
Tes
Setetes bulir bening jatuh di pangkuan Asy, Aish yang duduk di sebelahnya langsung merangkulnya dan mengelus lengan nya menguatkan.
"Sebenarnya ... sebenarnya ... Mas Al sudah menalak saya, Bu."
Jdeeerrrr
Bak di sambar petir di siang bolong, Bu Sani bahkan sampai tersurut mundur dan menubruk Juli yang duduk tepat di sebelahnya, Juli yang juga mendengar perkataan Asy sampai melongo tak percaya.
"Ka- kamu, kamu ... bercanda kan, Asy?" tanya Bu Sani dengan tangan memegangi dadanya yang tiba tiba bergemuruh.
Asy menggeleng lemah, menghapus lelehan air mata di pipinya.
"Kamu pasti bohong! Mas Al itu mencintai kamu, nggak mungkin dia menceraikan kamu tanpa alasan! Kamu saja yang lagi dari perhatian iya kan? Supaya tidak di salahkan karna tidak merawat Mas Al saat sakit kemarin." Juli malah melayangkan tuduhan yang tidak tidak pada Asy, padahal Asy sama sekali tidak berbohong.
"Berhenti memfitnah saudariku!" bentak Aish geram.
"Aku tidak memfitnah, memang begitu kenyataannya kan?" balas Juli lagi.
"Bahkan air mata yang keluar dari mata Asy pun tak bisa berbohong, apa kamu terlalu buta untuk melihat kejujuran itu? Di sini Alam yang salah! Bukan Asy." Aish masih kekeh membela saudarinya, sedang Juli kini mulai percaya kalau apa yang di katakan Asy memang keadaan yang sebenarnya.
Bu Sani kembali duduk ke tempatnya, mengambil sebotol air yang ada di tasnya dan meminumnya setengah.
"Kalau memang benar begitu adanya, katakan apa penyebabnya Alam melakukan itu? Pasti akan ada sebabnya bukan? Ibu tahu, Al sangat mencintai mu, Asy jika bukan karna hal yang mendesak tentu dia tak akan mengambil keputusan seberat itu. Bahkan saat sakit kemarin pun dia tak hentinya memanggil nama kamu," terang Bu Sani dengan mata berkaca-kaca.
Asy menunduk, mengusap lagi air mata yang seolah enggan berhenti itu.
"Untuk itu ... Asy ...."
Ceklek
__ADS_1
Belum sempat Asy menyelesaikan ucapannya pintu ruangan operasi terbuka, seorang pria berseragam hijau dan berkacamata keluar dari sana dengan raut wajah tegang dan lelah.
"Keluarga pasien." Hanya itu yang dia ucapkan, deru nafasnya yang memburu seolah menjelaskan semua belum baik baik saja.
Bu Sani berlari memburu dokter itu. "Ada apa dengan anak saya, dok? Bagaimana kondisinya? Apa dia baik baik saja? Dia bisa sembuh kan, dok?" cecar Bu Sani tanpa henti.
Tapi dokter itu hanya menarik nafas dalam, lalu menghembuskannya perlahan.
"Saya hanya ingin menyampaikan, kondisi pasien sudah sangat kritis, katup jantungnya rusak dan kami sedang berusaha menggantinya dengan katup buatan. Namun jika reaksi tubuhnya tidak menerima kami harap seluruh keluarga bisa mempersiapkan diri untuk kemungkinan terburuk."
"Apa? Apa maksud dokter? Kemungkinan terburuk apa? Jelaskan yang jelas, dok!" jerit Bu Sani yang sebenarnya tahu apa yang terjadi namun batinnya menolak untuk menerima.
"Berdoalah yang terbaik untuk pasien, semoga ada keajaiban. Kami akan berusaha semaksimal mungkin untuk menyelamatkannya." Setelah itu sang dokter langsing kembali lagi ke dalam ruangan dan menutup pintunya.
Bu Sani meraung di tempatnya, gegas Juli memapah Bu Sani. Mendudukkannya kembali ke tempat duduknya tadi, lalu memeluknya erat.
Mereka semua menangis, tak menyangka kabar seperti barusan akan sampai ke telinga mereka.
"Sehatlah, Mas izinkan aku sebentar saja merasakan menjadi istrimu," batin Juli penuh harap.
Sementara di ruangan lainnya.
"Ya Allah, selamatkan istri hamba ya Allah." Axel berjalan mondar mandir di depan sebuah ruangan bertuliskan UGD di atasnya.
Sesekali dia melirik ke arah pintu yang terdapat kaca untuk melihat kondisi di dalam. di sana tampak istrinya sudah bersih dari darah namun belum ada tanda tanda Sarah akan sadar.
Axel sudah mengabari ke dua orang tuanya, dan mereka berkata akan segera meluncur ke rumah sakit.
Axel duduk di kursi tunggu, menanti dengan tak sabar kabar yang setidaknya akan membuat debaran di dadanya sedikit mereda.
Menit berlalu, tak kunjung ada yang keluar dari ruangan itu memberi kabar baik padanya. Axel mencoba bersabar, namun pikirannya tak bisa berhenti berputar.
"Apa maksud Peter melakukan semua ini? Apa kejanggalan kematian Momy dan Dady juga ada hubungannya dengan dia?" gumam Axel menerka.
Padahal seingatnya, sepupunya itu berkata ingin pergi ke negeri paman Sam untuk mengurus cabang perusahaan Andrew yang ada di sana. Namun kenapa tiba tiba dia ada di sini, itulah yang harus di cari tahu oleh Axel.
__ADS_1
Tak berapa lama, terdengar suara langkah kaki berlarian ke arahnya. Axel berpaling tampak di sebrang koridor ke dua orang tuanya datang dengan wajah cemas.
"Bagaimana kondisi Sarah, Nak? Dia baik baik saja kan?" cecar Sonia tak sabar.
"Belum ada kabar, Ma Sarah masih di tangani dokter. Kita berdoa saja semoga tidak terjadi sesuatu yang buruk padanya."
Sonia mengangguk, lalu mengambil tempat duduk di sebelah Axel.
"Siapa yang tega melakukan semua ini, Nak? Bukankah Sarah tidak punya musuh?" tanya Andrew pula, yang duduk di sisi kiri Axel.
Axel menggeleng lemah dengan sorot mata tak dapat di artikan. " Entahlah, Pa tapi ... pelakunya yang membuat Sarah begini adalah keluarga kita. Bahkan orang yang pernah Papa dan Mama tolong."
Axel memang belum memberitahu orang tuanya tentang Peter, dia merasa masih belum percaya sepenuhnya kalau sepupunya itulah yang hendak melenyapkan nyawa sang istri.
"Siapa maksud kamu, Nak? Apa dia sudah di tangani? Jika belum Papa akan menelepon relasi papa di kepolisian untuk meringkusnya." Andrew hendak meraih ponselnya tapi lekas di tahan oleh Axel.
"Tidak perlu, Pa. Pelakunya ... sudah di bawa oleh polisi," gumamnya.
Andrew mengangguk paham.
"Lalu siapa dia, Nak? Tolong jangan buat Mamamu ini bertanya tanya," sela Sonia pula yang rupanya sejak tadi mendengar percakapan dua lelaki kesayangannya itu.
Axel mendesah pelan, menatap ke dua orang tuanya bergantian lalu menjawab. "Apa Papa dan Mama yakin akan bisa menerima kenyataan ini? Sebab Axel pun masih belum percaya rasanya."
Sonia mengangguk mantab. "Iya, katakan lah, Nak. Agar kita bisa lekas mengambil langkah yang tepat untuk menghukumnya."
"Ya, Papa setuju. Mamamu berkata benar, tidak ada yang boleh bebas begitu saja setelah apa yang dia lakukan pada anggota keluarga kita." Andrew turut menimpali dengan wajah geram.
Axel mengangguk pelan. "Pelakunya ... Peter, Ma Pa."
"Tunggu, Apa? Tidak mungkin, Nak. Apa kamu yakin?" seru Sonia terkejut.
"Jangan mengada ada, ax. Bahkan sepupumu itu masih ada di Amerika, mengurus cabang perusahaan Papa di sana. Bagaimana mungkin dia ada di sini. Dan kalaupun ada, ada yang membuat dia ingin mencelakai Sarah?" cecar Andrew pula.
"Itu juga yang ingin Axel tanyakan pada kalian Ma, Pa. Kenapa?"
__ADS_1