
Sarah mengangguk dengan senyum miring di bibirnya.
"Sengaja saya bawa dia ke sini, untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya"
Jeni terhenyak.
"Ta- tapi, dari mana Mbak Sarah tahu tentang Pak Ismail?" desisnya.
"Mudah, dia kan mantan suaminya asisten saya Lasmi. Lasmi sudah gugat cerai dia setelah melakukan KDRT, bukan cuma itu Lasmi juga sudah cerita semua tentang makhluk tak berakal ini pada Mbak dan Mas Axel. Jadi, yah begitulah. And here we are," terang Sarah.
Pak Ismail yang saat itu datang dalam kondisi tubuh penuh lebam dan luka tampak meringis kesakitan, pegangan tangan Axel di pundak dan tanganya terasa begitu menyiksa.
"Am- ampun ... tolong lepaskan saya, saya nggak punya masalah sama kalian," rintihnya menghiba.
Jeni terlihat mendesah berat, tampak Pak Ismail sudah tidak mengenali dirinya lagi di balik jilbab besar dan wajah polos tanpa make up nya saat ini.
"Jadi bagaimana, Jen? Sebaiknya kita apakan dia? Oh iya satu lagi." Sarah merogoh tasnya dan mengeluarkan beberapa dokumen dari sana.
"Apa ini, Mbak?" tanya Jeni bingung.
"Itu surat tanah dan rumah milik Nek Minah, ibunya. Menurut Lasmi, dia berencana menjual semua itu untuk ikut judi online. Untungnya sebelum sempat terjual pada orang lain Mas Axel bergerak cepat untuk menjebaknya dan mendapatkan surat itu. Sekarang silahkan kamu simpan, itu barang penting." Sarah mendorong tangan Jeni memaksanya untuk mendekap surat itu.
Jeni mengangguk. " Kalau begitu, kita bawa masuk saja dulu, Mbak. Nggak enak di lihat orang."
Sarah mengangguk setuju, dan dengan beriringan mereka masuk ke dalam rumah ndalem'.
"As, kamu tunggu di sini sebentar ya. Mbak mau panggil Mas Musa," titah Jeni pada Asiyah yang sejak tadi mengikutinya.
"Eh, Mbak tunggu." Asiyah menyela sambil memegangi tangan Jeni.
"Kenapa, As?" tanya Jeni heran.
"Mbak masa lupa kalau Gus Musa lagi nganter Nek Minah ke rumah sakit sama Umi?" ucapnya menyadarkan Jeni.
Jeni menepuk jidat pelan. "Astaghfirullah, iya Mbak lupa."
"Nggak papa, Jen. Kita duduk saja dulu sambil nunggu, toh nggak buru buru kok." Sarah menengahi.
__ADS_1
Jeni mengangguk sungkan saat tanpa sengaja dia melihat banyak pasang mata yang saat ini tengah mencuri pandang ke dalam rumah ndalem' sambil membersihkan bagian halaman rumah yang agak kotor setelah acara tadi siang.
"Mbak, Asy ke belakang dulu ya, mau bikinin minum." Asiyah berbisik lirih, dan setelah Jeni mengangguk ia langsung melipir ke belakang ndalem'.
Jeni berjalan perlahan menuju pintu dan menutupnya, agar tak ada lagi bisik bisik tetangga yang akan mewarnai kehidupan nya.
"Mbak, sebaiknya bagaimana? Suamiku sedang pergi, dan aku nggak mungkin biarin Pak Ismail di sini. Mau kita bahas sekarang juga, nenek lagi sakit," keluh Jeni merasa putus asa.
Sarah tampak berpikir sejenak lalu menepuk pundak suaminya Axel yang sejak tadi masih memegangi Pak Ismail dengan erat hingga membuatnya terus meringis.
"Gimana ya, Mas?" tanya Sarah pada Axel.
Axel berdehem. "Mungkin sebaiknya, kita bawa dulu masalah ini ke kantor polisi. Lagi pula sejak awal kalian sudah melapor kan? Jadi seharusnya kasus ini masih dalam tahap penanganan."
Sarah dan Jeni kompak manggut-manggut.
"Mas Axel benar, Jen. Tapi menurut kamu sendiri bagaimana? Sebagai orang yang cukup dekat sama Nek Minah harusnya di sini kamu juga punya wewenang," tukas Sarah.
Jeni menunduk sambil memijit pangkal hidungnya yang terasa berdenyut karna pusing dengan masalah ini. Di saat yang sama Asiyah muncul dari dapur dengan membawa sebuah nampan berisi minuman dingin dan setoples camilan kering.
"Silahkan di minum, Mbak Mas." Asiyah meletakkan gelas di hadapan masing-masing orang.
Asiyah mengangguk dan duduk lesehan di dekat Sarah.
"Haus ... tolong berikan saya minum," lirih Pak Ismail menghiba, dia saat ini duduk meleseh di bawah kursi yang di duduki Axel dengan tangan masih di pegangi olehnya.
Axel mengambil gelas berisi minuman berwarna merah yang merupakan jatah Pak Ismail dan memberikan padanya, pria berkulit sawo matang itu langsung menerimanya dan menenggaknya dengan rakus seakan sangat kehausan.
"Pelan pelan," ucap Axel sembari menepuk pelan pundak Pak Ismail.
"Tolong beri lebih banyak," pinta Pak Ismail lagi.
Asiyah hendak bangkit untuk membuatkan minuman lagi, hatinya terenyuh melihat kondisi Pak Ismail yang tampak mengenaskan. Sejahat apapun dirinya dulu, tapi Asiyah yang merindukan sosok orang tua begitu tak tega melihat kondisinya.
"Eh, dek tunggu." Axel menyela, membuat Asiyah menahan gerakannya.
"Kenapa, Mas?" tanyanya heran.
__ADS_1
"Nggak usah bikin lagi, ini aja cukup." Axel menunjuk gelas miliknya dan memberikannya pada Pak Ismail, dan lagi lagi pria itu meminumnya dengan begitu rakus hingga meluber ke baju yang di pakainya dan membuatnya basah.
"Apa Bapak mau makan?" tawar Asiyah spontan.
Pak Ismail menatap Asiyah nanar, lalu perlahan kepalanya mengangguk.
"Ma- mau, Nak."
"Ambilkan yang agak banyak, As. Kayanya Pak Ismail lapar," bisik Jeni yang langsung di setujui oleh Asiyah.
Gegas gadis manis itu beranjak menuju dapur untuk mengambil makanan yang masih banyak di sana, makanan hidangan pesta tadi siang.
Sarah yang sejak tadi diam tiba tiba buka suara ketika Asiyah tak lagi terlihat di balik gorden pemisah antara dapur dan ruang depan.
"Jen, Mbak mau tanya sesuatu," bisiknya pada Jeni.
"Tanya apa, Mbak?" sahut Jeni setelah meminum air di gelasnya.
"Kamu kan kemarin sudah pernah ke rumah Mbak, dan ketemu sama pengasuhnya triplets. Nah menurut kamu kira kira salah satu dari mereka ada nggak yang mirip sama gadis itu barusan?" tanya Sarah dengan wajah serius.
Jeni sejenak berpikir lalu tak lama dia pun mengangguk mantab.
"Iya, ada Mbak. Yang pertama kali bukain pintu kemarin, dia mirip sekali sama Asiyah. Cuma bedanya Asiyah berjilbab dia nggak, makanya kalau nggak jeli nggak akan sadar kalau mereka mirip. Tapi coba kalau pengasuh itu di pakaikan jilbab, pasti mereka kelihatan mirip sekali," sahut Jeni penuh semangat.
Sarah manggut-manggut.
"Nah, Mbak juga berpikir begitu. Tapi ... kita nggak bisa langsung menyimpulkan sesuatu hanya karena itu kan? Kita harus punya bukti yang lebih kuat. oh ya, sebelum ini Asiyah juga pernah mengirim surat sama Mbak, yang kamu bawa kemarin. Dan isinya dia minta Mbak cari tahu tentang orang tuanya dia yang katanya di ketahui sama Momy nya Mbak. Aneh kan?"
Dahi Jeni mengernyit dalam.
"Iya, kok malah nanya sama nyonya Ellen sih? Tapi sepertinya Asiyah nggak mungkin main main deh, Mbak. Sejauh ini, Jeni kenal dia anaknya selalu jujur dan melakukan apapun dengan alasan yang kuat kok."
"Nah, itu juga yang perlu kita cari tahu. Dan untuk langkah awal, Mbak mau kamu melakukan ini ...."
"Apa, Mbak?"
Sarah mendekat dan berbisik di telinga Jeni.
__ADS_1
"Baiklah, insyaallah Jeni bisa," pungkas Jeni pelan.