
"Heh, lu kenal ini tukang sayur?" tanya si preman dengan nada tak bersahabat.
Axel memandangnya sinis, tak ada sedikit pun rasa takut di hatinya menghadapi preman itu. Badannya doang yang gede, tapi perut besarnya sudah memberi gambaran kalau preman itu tidaklah sekuat yang terlihat.
"Iya, memangnya kenapa ya? Apa urusannya sama kamu? Kenapa juga kalian mengganggu dia, memangnya dia ada mengganggu kalian?" cecar Axel cepat, bahkan sama sekali tidak memberi jeda untuk preman itu bisa berpikir.
"Halah, banyak bac*t!" karena bingung akhirnya preman itu menggunakan jurus andalannya, apalagi kalau bukan adu otot.
"Sat! Bawa dia ke dalam!" tegas Axel sebelum preman kebesaran perut itu melayangkan pukulannya yang entah kemana arahnya.
Satrio mengangguk dan lekas memapah tubuh pria penjual sayur itu ke arah ruko.
"Heaaahhhh," teriak preman itu seakan gaya berkelahinya sudah benar saja.
Axel hanya mengelak sedikit dan itu saja sudah bisa membuat preman terhuyung ke depan sampai tersungkur ke dalam got.
Byuurrrrr
Air berwarna hitam pekat berbau busuk itu memenuhi tubuh hingga kepala dan wajahnya pun turut terkena.
"Ahahahahahahha!" tawa orang-orang yang lewat dan tidak sengaja melihat langsung menggema, membuat si preman menjadi malu luar biasa.
"Makanya, Bang. Lain kali kalo ngajak duel jangan di pinggir jalan, apalagi yang ada gotnya. Saran saya mendingan Abang belajar kungfu dulu deh, nanti baru kita duel lagi. Ya udah ya, Bang. Saya masuk dulu." Axel langsung berbalik tanpa menolong atau mendengarkan ocehan preman itu lagi yang sebenarnya tidak bisa naik sendiri karna got yang lumayan dalam.
"Tolongggg!" jeritnya pilu, sampai beberapa anak buahnya berdatangan menghampiri setelah memastikan Axel benar-benar sudah masuk ke dalam rukonya.
Di dalam ruko, tampak pria penjual sayur tenaga duduk di salah satu kursi dengan segelas air yang sudah tinggal setengah isinya di hadapannya. Di sampingnya Satrio tampak menemani tapi mereka malah sama-sama diam.
__ADS_1
"Bang, Abang ini ... mantan suaminya Sarah kan?" tanya Axel setelah duduk di hadapan pria itu yang kini menunduk dalam setelah membuka topi lusuh yang sebelumnya dia kenakan.
"Kalau nggak salah ... nama Abang, Bima kan?" sambung Axel yang di jawab anggukan lemah oleh pria yang ternyata adalah Bima itu.
Lagi, Bima mengangguk membenarkan. Saat ini sebenarnya dia sangat malu karna mengetahui kalau pria yang menolongnya ternyata adalah mantan suami dari selingkuhannya.
Pastinya mereka sudah tau semua skandalnya dan Jeni, mengingat kejadian itu sudah tersebar kemana-mana dan membuat Bima tak lagi bisa mendapat pekerjaan dimana pun dan akhirnya terpaksa menjadi tukang sayur.
"Tapi ... bagaimana bisa Abang masih bebas, bukannya orang tua Sarah ...." Axel menggantung kalimatnya, tak enak hati untuk meneruskan ucapannya.
Bima mendongak menatap wajah Axel yang kini tampak lebih bersih dan putih ketimbang saat dulu masih berstatus suami Jeni.
"Iya, saya harusnya di penjara karna semua perbuatan saya di perusahaan orang tua Sarah. Tapi rupanya mereka memang luar biasa baik hati, mereka membebaskan saya dengan syarat saya tidak boleh lagi muncul di hadapan mereka terutama Sarah. Maka dari itu saya berusaha menjauh agar tidak lagi bertemu dengannya. Padahal kalau boleh jujur ... saya ... menyesal berpisah dari Sarah, saya ... baru sadar kalau ternyata saya mencintai dia." entah keberanian dari mana tapi Bima dengan lancarnya malah menceritakan semua isi hatinya pada Axel.
"Lalu, sekarang Abang tinggal dimana?" tanya Axel lagi, turut merasa prihatin dengan apa yang menimpa Bima walau sebenarnya itupun adalah hasil dari apa yang sudah dia tanam sendiri.
Satrio pamit ke belakang untuk membuatkan minuman untuk mereka, Axel mengizinkan bahkan meminta Satrio untuk membuatkan makanan pula untuk Bima yang tampak juga kelaparan itu, bahkan bunyi perutnya juga terdengar walau Bima berpura tak mengindahkannya.
Axel benar-benar tak tega, ingin rasa hatinya membantu tapi dia takut Sarah malah marah padanya karna setahu Axel, Sarah kini begitu membenci semua yang berhubungan dengan Bima dan Jeni.
"Lalu ... gerobak sayur itu?" Axel menunjuk gerobak sayur yang sebagian sudah rusak dan berlubang karena di keroyok preman tadi.
Bima tersenyum menatap gerobak yang bentuknya sudah sangat menyedihkan itu. Padahal itulah satu-satunya jalannya mencari rejeki untuk menyambung hidup.
"Gerobak itu ... hasil pinjaman, saya meminjamnya dari seorang bapak tua di gang sana. Lalu sayurnya saya ambil di pasar," jelas Bima terdengar lirih karna masih menahan tangis.
Axel meggeleng miris, hatinya pilu. Jiwa sosialnya meronta namun otaknya masih bingung harus melakukan apa.
__ADS_1
"Sejak kapan Abang mulai jualan?" tanya Axel lagi untuk mengorek informasi seputar kehidupan Bima setelah berpisah dari Sarah.
Karena dia teringat dulu Jeni selalu bilang kalau pria yang dia cintai itu adalah orang kaya yang punya segalanya. Dan saat itu selingkuhannya hanyalah Bima.
"Baru beberapa minggu lalu, saat berpisah dari Sarah dan di depak dari perusahaan saya sudah berusaha melamar pekerjaan di banyak perusahaan lain. Tapi nyatanya pengalaman kerja saya yang minim membuat saya tidak kunjung diterima dan hanya menyusahkan teman saya yang menampung saya di rumahnya. Bahkan saat ibunya sakit dan harus ke rumah sakit, saya tidak bisa membantu karna saya tidak punya uang, bagaimana mau punya uang sedang makan saja saya masih merepotkan mereka. Sampai akhirnya ada yang menawari saya buat jualan sayur ini, saya terima saja daripada terus-menerus jadi beban keluarganya. Jujur ... saya masih trauma." Bima kembali bercerita panjang lebar.
Beban di dadanya sangat berat, dan entah mengapa menceritakan semuanya pada Axel membuat dadanya sedikit lega.
"Kira-kira ... bagai kabar Sarah ya? Kalau boleh jujur, saya rindu sekali sama dia." Bima menerawang jauh memunculkan bayangan wajah Sarah yang tersenyum padanya di atas langit sana.
Pembicara mereka sejenak terjeda saat Satrio datang membawa tiga gelas teh hangat dan juga sepiring nasi goreng yang masih tampak mengepul.
"Silahkan di makan dulu, Bang." ujar Satrio sambil menghidangkan sepiring nasi goreng itu di hadapan Bima.
"Ah, maaf tapi nggak perlu repot-repot. Hari masih pagi dan saya belum dapat penglaris, saya nggak bisa bayar nasi goreng ini." Bima menjauhkan piring itu dari hadapannya sambil menggeleng cepat.
Matanya menyiratkan keinginan tapi dompetnya berkata jangan, ya semiris itu hidupnya sekarang. Padahal dulu saat masih berkecukupan Bima selalu menghamburkan uangnya sampai lupa menafkahi istrinya sendiri.
"Nggak papa, Bang. Nggak usah pikirin bayaran, Abang silahkan makan saja. Ini gratis dari kami." tukas Axel mendekatkan kembali piring itu ke hadapan Bima.
Melihat ketulusan di mata Axel, Bima akhirnya menerimanya dan melahap nasi goreng itu dengan mata berkaca-kaca.
"Makasih banyak ya, Bang. Abang baik banget, pantes Gusti Allah ngasih kesuksesan seperti ini sama Abang. Lihat sekarang sudah punya ruko sendiri, pasti semua itu karena kebaikan Abang," celetuk Bima setelah nasi di piringnya tandas.
Axel mengangguk dan tersenyum, lalu tangannya menyodorkan sebuah kertas cantik berbungkus plastik mengkilat pada Bima.
"Ini, Bang. Kalau Abang mau tau kabar Sarah," ucapnya.
__ADS_1
Bima mengambil kertas yang ternyata undangan itu, dan senyumnya yang tadi merekah kini perlahan mulai hilang.
"Sarah ... akan menikah?"