MEMBALAS GUNDIK SUAMIKU

MEMBALAS GUNDIK SUAMIKU
Chapter 110.


__ADS_3

 Rahman kini tercenung memandangi jalanan yang di lewati, jalan yang sesungguhnya yang akan membawanya menuju ke desa tempat dia akan menyampaikan tausiyah.


 Masih jelas di ingatan Rahman saat kemarin Edwin yang tak lain juga adalah pamannya malah dengan sengaja membajak mobil yang akan digunakan untuk menjemputnya hanya demi membawa Rahman ke tempat dimana selama ini ibunya di sekap.


 Dan untungnya tempat itu cukup nyaman dengan beberapa orang pembantu dan suster yang ternyata di tugaskan khusus untuk merawat sang ibu yang sudah tua itu jika sakit.


"Aku masih punya hati, Robin. Tidak mungkin ku biarkan seorang wanita tua tak berdosa ikut menanggung semuanya, anggap saja ibumu saat ini hanya tengah menikmati hari tuanya di sini. Aku pastikan dia tak akan kekurangan apapun di sini, tapi cepatlah selesaikan tugasmu dan bawa kabar tentang anakku, sekecil apapun kabar itu!" tegas Edwin waktu itu.


 Saat itu Rahman hanya bisa tertunduk diam, dia tahu kalau dia harus bergerak cepat namun dia sengaja mengulur waktu karena tahu apa yang akan di lakukan sang paman jika sampai dia menemukan gadis yang di carinya yang tak lain adalah anaknya sendiri yang puluhan tahun lalu hendak di binasakannya. Rahman tidak percaya sang paman sudah berubah walau ratusan kali Edwin mengatakannya. Namun seiring waktu itu pula, ibunya harus terus berada di dalam kekuasaan Edwin yang licik dan penuh tipu daya, setidaknya begitulah seputar ingatan Rahman tentangnya.


"Apa kau tidak ingin mencium dan memeluk ibumu dulu, Robin? Waktumu hanya sebentar kau tau? Aku sengaja membuatnya tidur agar dia tak merasakan sedih saat tahu kalau anaknya tidak datang untuk menjemputnya. Atau dalam kata lain anaknya ini sengaja membiarkannya ada di sini karna demi melindungi seorang gadis," bisik Ed di telinga Rahman.


 Saat itu, Rahman berang namun kembali lagi dia tak bisa melakukan apapun karna jika nekat bisa saja ibunya yang akan membayar akibatnya. Rahman sangat mengenal Ed, pria itu tak akan pernah membiarkan orang yang melawannya tenang.


"Pak ustad, Pak ustadz." sebuah suara mengagetkan Rahman, seketika dia terlonjak dari lamunannya dan mengusap wajah sambil beristighfar.


"Astaghfirullah," gumam Rahman lirih.


 Pria muda yang tadi memanggil Rahman adalah sopir yang sebenarnya yang sebelumnya juga turut di culik oleh kaki tangan Edwin saat perjalanan menuju ke pondok untuk menjemputnya.


"Mari, ustadz. Kita sudah sampai," ucap pria itu lagi sambil tersenyum ramah.


 Rahman mengangguk, lalu beringsut untuk keluar dari mobil yang pintu penumpangnya sudah di bukakan oleh pria muda tadi.

__ADS_1


"Alhamdulillah, akhirnya sampai juga." Rahman merenggangkan otot ototnya di samping mobil, hampir enam jam berkendara membuat hampir seluruh tubuhnya terasa kaku.


"Ustadz, mari saya antar ke dalam." Pria tadi ternyata sudah menenteng tas yang dibawa Rahman dan tanpa bisa di cegah di bawanya tas itu masuk ke dalam rumah sederhana berdinding kayu papan berpelitur itu.


 Pria muda itu membawa Rahman ke sebuah ruang tamu yang di sana sudah duduk seorang pria yang umurnya kira kira setengah abad duduk bersila dengan senyum ramah di bibirnya.


 Pria tua itu adalah Pak Darso, kepala desa tersebut dan supir yang menjemputnya tadi adalah putra semata wayangnya yang bernama Abdi.


 Setelah berbasa-basi sebentar, Abdi gegas mengantar Rahman ke sebuah kamar yang tampak baru di bersihkan, kamar yang kecil namun tampak nyaman sekali.


"Silahkan istirahat, Ustadz. Maaf kalau kamarnya begini, semoga ustadz berkenan." Abdi meletakkan tas Rahman di dekat kasur yang berada di lantai beralaskan tikar pandan.


Rahman tersenyum ramah dan menunduk.


"Haish, hanya begini saja kok, ustadz tidak perlu sungkan. Ya sudah ya, ustadz, saya mau ke masjid dulu mau bantu bantu di sana. Ustadz silahkan istirahat saja ya, kalau ada apa apa itu ada bapak kok di depan." Abdi pamit undur diri kemudian menutup pintu kamar itu dengan perlahan, meninggalkan Rahman agar bisa beristirahat dengan tenang.


 Rahman tak menyia-nyiakan kesempatan, walau sebentar ia langsung membaringkan tubuhnya di atas kasur busa itu, terasa nyaman sekali di tubuhnya yang memang sudah sangat lelah di perjalanan tadi.


 Sejurus, Rahman menatap ke arah langit langit kamar. Tiba tiba tanpa di duga, rindu yang begitu menggebu dan membuncah luar biasa terasa berpadu dengan aliran darahnya.


"Astaghfirullah, ya Allah." Rahman bangkit dari posisi berbaringnya, duduk di tepian kasur sambil menekan dadanya yang tiba-tiba terasa sakit dan nyeri.


 Di kepalanya tiba tiba saja terbayang kembali wajah terakhir Asiyah yang bisa dia ingat. Dia menangis karna tidak ingin ikut orang tuanya ke desa, namun hingga kini tak lagi terlihat wajah ayu nan teduh yang selalu menghiasi mimpi-mimpi Rahman itu.

__ADS_1


 Perlahan, Rahman kembali merebahkan tubuhnya ke atas kasur. Di tutupnya mata dengan satu tangan.


" Neng, Kakak rindu."


****


 Asiyah masih sesekali sesenggukan di dalam pelukan ibunya, ya setelah dari masjid tadi Asiyah memutuskan untuk langsung saja menemui ibunya apalagi di jam siang seperti ini sang bapak, Pardi biasanya akan lebih banyak menghabiskan waktu di sawah. Mengawasi para pekerja yang tengah memanen padi di sana.


"Sudah, nduk. Jangan menangis terus, nanti mata kamu bengkak loh." Salma mengusap lembut punggung dan lengan sang anak yang sangat di sayanginya itu, walau Asiyah bukanlah anak kandungnya.


"Asy ... Asy hanya rindu, bu. Kenapa? Kenapa semuanya serba terlambat seperti ini? Kenapa sepertinya takdir pun selalu enggan berpihak pada Asy, Bu?" pekik Asiyah frustasi sambil sesekali menarik narik jilbab yang di pakainya dengan air mata yang tak hentinya mengalir di pipi mulusnya.


 Salma sangat paham kondisi hati anaknya saat ini, namun dia bisa berbuat apa. Wanita lumpuh sepertinya tak akan bisa berbuat banyak untuk membantu putrinya walau diapun sebenarnya ingin.


"Iya, nduk. Ibu paham, hanya saja mungkin memang inilah jalan yang terbaik untuk kalian. Kalau pun nanti kalian memang berjodoh, insyaallah akan ada jalannya nanti dari Gusti Allah SWT, kamu harus yakin itu, nduk." Lagi Salma berusaha membesarkan hati anaknya yang dia tahu sama sekali tak mencintai suaminya saat ini, apalagi pernikahan mereka tidaklah sah.


  Asiyah kembali tergugu, nafasnya sampai sesak karena menahan rindu yang bercokol di dalam dada sekian tahun lamanya. Kembali dia memeluk ibunya, setidaknya hanya dengan cara itulah kini Asiyah bisa lebih menguasai dirinya sendiri.


" Kenapa takdir kami jadi begini, Bu? Asiyah mencintainya, dan Asiyah tahu dia juga mencintai Asiyah lalu kenapa kami harus terpisahkan dengan cara yang kejam?"


 Brakkk


 Tiba-tiba saja pintu belakang terbuka lebar dengan seraut wajah marah tampak di sana. Asiyah semakin mengeratkan pelukannya di tubuh sang ibu, seakan mengisyaratkan kalau dia tengah ketakutan.

__ADS_1


"Siapa yang kamu maksud sebagai orang yang kamu cintai itu hah?" bentak pria itu berang.


__ADS_2