MEMBALAS GUNDIK SUAMIKU

MEMBALAS GUNDIK SUAMIKU
Chapter 46.


__ADS_3

~ekslusif pernikahan Sarah Axel.


Tenda-tenda besar sudah berdiri kokoh, di depan rumah besar seorang Tuan Bryan. Pengusaha sukses yang di kenali banyak orang. Nuansa putih dan gold menghiasi seluruh interior tempat pesta yang di bentuk layaknya acara di gedung hotel. Padahal acara pernikahan itu hanya di gelar di taman besar rumah saja.


"Apa mempelai wanita sudah siap?" tanya Nyonya Ellen sembari masuk ke ruang kamar Sarah yang merangkap sebagai kamar pengantin juga.


Semenjak berpisah dengan Bima, Sarah memang memilih tinggal bersama orang tuanya dan rumah lamanya di sewakan pada orang lain.


"Ah, Nyonya. Sebentar lagi selesai, apa acaranya sudah mau di mulai?" tanya sang mua yang merupakan pegawai salon tempat Nyonya Ellen berlangganan.


"Ah, belum. Saya hanya ingin melihat putri saya."


Nyonya Ellen perlahan mendekat dan memindai wajah ayu Sarah yang sudah terpoles make up.


"Sempurna, kamu benar-benar cantik, sayangku. Persis seperti Momy dulu," ujar Nyonya Ellen tersenyum puas.


"Terima kasih, Mom. Semua ini juga berkat Momy," cetus Sarah sambil memegangi lengan Nyonya Ellen.


Tangan Sarah terasa dingin, mungkin dia gugup untuk menghadapi pernikahan keduanya ini.


"Hei, Nak. Santai saja, kenapa tanganmu sampai sedingin ini?" Nyonya Ellen meraih tangan Sarah dan menggenggamnya, kemudian meniup udara hangat dari mulutnya ke tangan itu setidaknya bisa membantu suhu tubuh Sarah tidak turun.


"Sarah ... gugup, Mom. Rasanya Sarah tidak mau keluar, " rengek Sarah seperti anak kecil yang takut berpisah dengan ibunya.


Nyonya Ellen mengusap pundak putrinya yang sebentar lagi akan segera menjadi istri orang itu. Senyumnya merekah menenangkan membuat Sarah perlahan lupa akan gugupnya.


"Bismillah, kamu pasti bisa. Ini hari yang kita tunggu-tunggu bukan? Kamu harus kuat dan tersenyum," ujar Nyonya Ellen pelan namun sangat mengena di hati Sarah.


Sarah mengangguk dan membiarkan ibunya kembali keluar untuk mengecek keadaan di luar.

__ADS_1


Setelah make upnya selesai, Sarah minta untuk di antar ke depan jendela besar di kamarnya untuk bisa meliha kondisi sekitar, di bawah sana dimana acara akan di selenggarakan, tampak lalu lalang orang sudah memadati tempat. Tak lama kemudian rombongan mempelai pria pun tiba, dengan di apit mama dan papanya Axel berdiri gagah dengan balutan jas berwarna tosca senada dengan gaun mewah yang kini di kenakan Sarah.


"Mbak Sarah, sudah waktunya keluar?" Lasmi datang dengan penampilan rapi dan cantik, seperti halnya keluarga Lasmi mendapat pakaian seragam dan juga make up khusu seperti yang di kenakan pula oleh Satrio dan yang lainnya.


"Baiklah, tolong bantu saya, Las." Sarah mengulurkan tangannya dan Lasmi berserta beberapa petugas mua mulai membantu mengangkat gaun lebar Sarah agar memudahkannya menuruni tangga menuju lokasi acara.


Sepanjang jalan yang di lalui Sarah, semua mata memandang takjub padanya. Terpesona oleh kecantikan seorang putri tunggal pewaris perusahaan raksasa Tuan Bryan, yang selama ini sangat jarang bisa mereka saksikan.


"Subhanallah, kamu cantik sekali, Sarah. Sayangnya, kini kecantikan itu bukan lagi milikku. Andai saja ... andai saja dulu aku bisa lebih bersyukur." Air mata itu menetes dari seorang pria yang sebelumnya pernah mengisi hidup Sarah.


Ya, dialah Bima. Dia datang memenuhi undangan yang Axel berikan padanya. Dan betapa kagetnya dia ternyata calon suami mantan istrinya itu adalah mantan suami dari selingkuhannya sendiri, Jeni. Betapa sempitnya dunia ini bekerja. Namun lihatlah, betapa beruntungnya Sarah kini bisa bersanding dengan Axel, yang juga pewaris tunggal perusahaan Andrew.


Bima memukul dadanya yang terasa sesak, tangisnya tak terbendung sakit sekali menyaksikan wanita yang masih bertahta di hatinya itu di sandingkan dengan pria yang ternyata lebih segalanya dari dirinya.


"Kamu bodoh, Bima! Bodoh!" Bima merutuki dirinya sendiri sembari menjambak kuat rambut kepalanya hingga wajahnya memerah.


Ijab qobul berjalan dengan lancar, Axel rupanya bisa dengan lancar melantunkan kalimat qobul dengan hanya satu tarikan nafas.


"Saya terima nikahnya Sarah Ananda Emmanuel binti Bryan Emmanuel dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan emas batangan seberat dua setengah kilo gram di bayar tunai."


"Bagaimana saksi?" Penghulu memutar kepalanya menatap para saksi di kiri dan kanan pengantin.


"Saahhhh!"


Kompak suara itu memenuhi lokasi acara dan setelahnya penghulu mulai membacakan doa untuk kedua pengantin.


Senyuman di bibir Sarah dan Axel tak bisa di tahan, setelah perjalanan panjang yang bermula dari niatan balas dendam kini malah berakhir menjadi suami istri sungguhan yang menikah tanpa paksaan.


Air mata mulai luruh, ketika untuk pertama kalinya Axel mengecup kening Sarah yang kini sudah sah menjadi istri halalnya.  Pandangan mereka beradu, tatap mata bening yang masih malu-malu.

__ADS_1


"Semoga kamu bahagia, mantan istri terkasihku. Maaf kalau dulu hanya bisa menorehkan luka dalam pernikahan kita." Bima yang merasa sudah tidak kuat lagi melihat semua itu memutuskan pergi dan kembali pulang kepada nasibnya yang mengenaskan di luar sana.


   Dia sadar, seharusnya dia tak datang ke sana. Hatinya kini teriris perih, sakit sekali sampai rasanya jalan yang di laluinya menjadi kabur karna air mata yang terus berdesakan keluar.


"Permisi, tunggu!" seru seorang pria yang melihat Bima keluar dari tempat acara dengan lelehan air mata di pipinya.


Bima berbalik dan gegas menghapus jejak air matanya dan berpura-pura baik-baik saja.


"Anda Tuan Bima?" tanya pria yang ternyata adalah Peter itu.


Bima mengangguk. "Iya saya, ada apa ya?"


"Acara belum selesai, kenapa tuan ingin pergi?" tanya Peter lagi, walau sebenarnya dia sudah tau jawabannya karna sejak tadi diam-diam memperhatikan Bima dari kejauhan.


Bima mendesah. "Saya ingin pulang, saya tidak pantas berada di sini. Saya ... hanya tidak sanggup melihat wanita yang masih saya cinta bersanding dengan pria lain yang juga pernah menolong saya."


Peter menunduk, merasa ikut prihatin dengan apa yang terjadi pada Bima. Hanya saja dia juga tidak bisa membenarkan tindakan Bima dulu yang dia dengar langsung dari pengakuan Axel padanya. Jadi sedikit banyak Peter sudah tau seperti apa masa lalu mereka sampai semua menjadi seperti ini.


"Ah, kalau begitu ... Ini, saya di minta Axel untuk menyampaikan ini jika bertemu tuan Bima." Peter mengangsurkan sehelai kertas yang di lipat kecil pada Bima.


"Apa ini?" tanya Bima heran.


Peter menggeleng. "Entahlah, Tuan bisa membukanya nanti. Kalau begitu saya permisi masuk kembali, masih ada yang harus saya kerjakan. Saya permisi."


  Bima mengangguk, dan membiarkan Peter kembali masuk ke tempat acara. Karena terlalu penasaran Bima berjalan menuju ke bawah sebuah pohon yang tak jauh dari tempatnya berdiri dan mulai membuka kertas yang tadi berikan itu.


Kira-kira beginilah isinya.


*Terima kasih untuk semuanya\, sebagai tanda terima kasih kami datanglah esok ke ruko tempat pertama kali kita bertemu. Ada yang akan kami berikan padamu. Tertanda Axel*

__ADS_1


__ADS_2