
Tus
Tus
Tus
Tiga letupan menyusul kemudian, perlahan tinggi mobil semakin menurun dan membuat Axel panik. Di putarnya tubuh untuk memindai sekitar, hingga di dapatinya bayangan hitam berkelebat di antara pohon palem yang tumbuh di halaman rumah orang tuanya.
"Hei! Siapa di sana?" seru Axel sembari mengeluarkan kepalanya dari sisi jendela mobil.
Bayangan itu melesat lalu menghilang entah kemana dalam waktu kurang dari setengah detik.
Sraaakkk
Menembus rerumputan hias dan tak terlihat lagi.
"Siapa, Mas?" tanya Sarah sembari mengikuti arah pandangan Axel.
Axel kembali masuk, menarik nafas dalam lalu memegang tangan istrinya.
"Ayo cepat masuk ke rumah, perasaan Mas tidak enak."
Sarah mengangguk, lalu dengan cepat mereka masuk ke dalam rumah Andrew yang kebetulan pintunya tidak dikunci.
"Mas sebenarnya apa yang terjadi?" bisik Sarah setelah mereka masuk ke dalam rumah, suasana sekitar tampak lengang, mungkin karna saat ini masih jam tidur siang anak anak.
Wajah Axel tampak gusar namun sebisanya dia menutupinya dari Sarah.
"Entahlah, tapi ... tadi sepertinya ada seseorang yang menembak ban mobil kita hingga bocor."
"Apa, Mas? Menembak? Tapi ... tapi kenapa?" cecar Sarah mulai ketakutan, belum habis traumanya karna harus kehilangan kedua orang tuanya di waktu yang bersamaan, kini datang lagi cobaan yang masih belum jelas asal usulnya.
Axel menggeleng karna dia juga masih belum paham apa yang sebenarnya terjadi, semuanya masih abu abu.
"Loh, Sarah? Axel? Kapan kalian datang? Kok bicaranya bisik bisik?" tanya Sonia yang baru saja melintas untuk melihat si kembar di kamarnya, kamar yang memang di persiapkan khusus jika mereka datang untuk menginap.
"Ah, Mama kami baru sampai kok, baru masuk juga." Axel menjawab sembari mengulas senyum.
__ADS_1
Sonia mendekat lalu memeluk Sarah lembut.
"Apa kabarmu, Nak?". tanyanya.
"Baik, Ma. Maaf karna sudah merepotkan Mama menjaga si kembar."
Sonia melerai pelukannya dan mengelus pucuk kepala Sarah yang tertutup jilbab instan.
"Tidak ada kata merepotkan untuk seorang nenek yang menjaga cucunya, Nak. Ya sudah, ayo kita masuk Mama sudah masak makanan enak hari ini dan kalian harus makan."
Sarah dan Axel mengikuti langkah Sonia menuju ke ruang keluarga, di sana juga tampak Andrew yang tengah sibuk dengan laptopnya di salah satu sudut di dekat jendela yang lumayan besar.
"Pa," sapa Axel sembari mendekat dan mencium tangan Andrew, Andrew tersenyum lalu menepuk pundak Axel pelan.
Sarah melakukan hal yang sama, dan mengulas senyum tipis pada ayah mertuanya yang rambut dan janggutnya mulai di tumbuhi uban tipis itu.
"Kau sudah lebih baik, Nak? Jika masih butuh waktu biarlah si kembar di sini dulu, pergilah berlibur bersama Axel jika itu bisa membuatmu lebih baik," ujar Andrew penuh perhatian pada Sarah.
Sarah mengangguk pelan. "Tidak apa, Pa begini saja sudah cukup, malah Sarah rasa akan lebih baik jika Sarah dekat dengan anak anak. Setidaknya Sarah tidak akan merasa kesepian dan akan terus terbayang Momy dan Dady."
"Baiklah jika itu maumu, Nak tapi kembalilah kapan saja kalian butuh bantuan. Kami akan berusaha untuk selalu ada untuk kalian dan anak anak," imbuh Andrew lagi.
"Kehilangan itu memang sakit, Nak tapi ... sebisa mungkin maafkan lah segala luka yang tertoreh di hatimu, ikhlas dan menerima semua ketentuan dari yang Maha Kuasa. " Sonia menasehati Sarah saat tengah memasukkan sayur ke dalam mangkuk keramik lalu meletakkannya di atas meja makan.
"Iya, Ma terima kasih karna sudah memperhatikan Sarah." Sarah menarik kursi dan menjatuhkan tubuhnya di sana, mendadak kepalanya terasa sangat pusing entah karena apa.
Sonia ikut duduk di samping Sarah, memegang tangannya yang ada di atas meja dan menatapnya lekat.
"Sarah, boleh kah jika Mama bertanya satu hal padamu, Nak?"
"Ya? Apa itu, Ma?" tanya Sarah sembari memaksakan senyumnya walau saat ini sakit kepalanya terasa semakin menjadi.
"Apa kamu pernah tahu kalau almarhum orang tuamu pernah ... punya masalah dengan orang lain? Yang mungkin saja menjadi dendam dan membuat orang itu gelap mata untuk menghabisi keduanya?" tanya Sonia hati hati.
Kening Sarah berkerut, selain karna sakit kepalanya tapi juga karna kabar yang baru saja di sampaikan Sonia padanya.
"Ma- maksud Mama?"
__ADS_1
Sonia terdengar mendesah panjang, lalu matanya kembali mengunci tatapan Sarah.
"Ada yang janggal dari kematian Kak Bryan dan Mbak El, Sarah."
****
Sementara itu .
Satu Minggu sudah Alam hanya bisa terbaring di tempat tidurnya, wajahnya yang biasanya berbinar penuh semangat kini tampak kuyu dan pucat. Tubuhnya yang dulu berisi kini tampak kurus dan tirus, karna tak ada makanan yang bisa masuk ke dalam lambungnya, lebih tepatnya dia yang tidak mau memakan apapun.
"Le, ayo makan. Habis itu minum obat biar kamu cepat sembuh, le. Bu ne nggak tega lihat kamu sakit sampe begini, makan ya?" ujar Bu Sani yang entah ke berapa kalinya pagi ini, selalu begitu setiap harinya Karna tak kunjung ada perubahan dalam kondisi putra semata wayangnya itu.
Alam hanya menggeleng, meresapi jantungnya yang terasa sangat nyeri hingga untuk bicara saja dia tak sanggup hanya bisa berbaring diam dan menangis menahan semua sakitnya agar tak di ketahui siapapun.
Tok
Tok
Tok
"Assalamualaikum, Mak ... Mak Sani, Mak?" seruan di depan pintu membuat Bu Sani mau tak mau meninggalkan Alam lebih dulu, meletakkan sepiring nasi lengkap dengan lauk pauknya di atas nakas.
"Wa'alaikumsalam," sahut Bu Sani sembari membuka pintu depan perlahan, tampak di muka pintu Juli yang datang dengan sebuah rantang makanan di tangannya, sudah satu Minggu ini sejak Alam sakit dia selalu rutin datang dan membantu Bu Sani menjaga dan merawat Alam walau Alam sama sekali tak mengindahkannya.
"Mak, gimana Mas Al?" tanya Juli sembari melangkah masuk mengikuti jejak Bu Sani.
Kali ini Juli memakai pakaian yang lumayan sopan, rok panjang juga atasan kaos longgar yang sederhana sedangkan rambutnya yang memang hitam dan panjang dia biarkan tergerai, membuatnya tampak cantik alami..
"Yah, masih sama seperti kemarin, Jul. Entah apa yang buat dia begitu, Emak minta buat telepon istrinya juga dia tidak mau, ada saja alasannya. Tapi makin hari kamu lihat sendiri kondisinya malah makin parah saja," gumam Bu Sani sedih.
Juli mengusap punggung renta itu dengan penuh kasih sayang, sungguh jika bisa ingin sekali Juli mengabadikan dirinya untuk melayani dan merawat ke dua orang tua yang sangat baik di kampungnya itu sebagai menantunya, sejak dulu dia sudah sangat mencintai Alam namun sayang cintanya justru bertepuk sebelah tangan.
"Sabar ya, Mak kita doakan semoga Mas Al lekas sembuh."
Bu Sani mengangguk, lalu membawa Juli masuk ke dalam kamarnya Alam.
"Asy ... Asy ... ."
__ADS_1
Terlihat di atas pembaringannya Alam tengah mengerang menyebut nama Asy sembari memegangi dadanya yang rasanya semakin sakit tak tertahankan.
"Ya Allah, Al! Juli, tolong ... tolong cepat kamu panggilkan pak mantri, Jul!"