
"Kenapa dia bisa ada di sini?"
Bibir Amelie baru saja bergerak untuk menjawab namun Ed sudah menyelanya dengan pertanyaan lain.
"Dan kenapa dia memakai kalung berlian yang ku hadiahkan untuk Aish?"
Amelie melotot menatap Juli, rupanya sejak tadi ada yang luput dari perhatiannya di tubuh wanita itu.
Juli tampak berusaha membungkuk menutupi kalung berlian yang memang melingkar di lehernya, sembari menggeleng gelengkan kepala saat Amelie berusaha mendekati dan melihat kalung tersebut.
"Diam!" bentak Amelie geram kala Juli terus saja bergerak gerak menghindari dirinya.
Juli sontak membeku tak berani bergerak sama sekali mendengar bentakan Amelie. Bahkan dirinya hanya pasrah saat Amelie menyentuh kalung berlian itu dan membukanya dari lehernya, dengan perlahan tentunya karna kalung itu kalung berharga milik putrinya yang memang sengaja di tinggal di rumah itu, karna tak ingin membawa apapun dari rumah orang tuanya.
"Mam, apa itu benar ...."
Aish mendekat bersamaan dengan Asy yang juga penasaran dengan kalung tersebut.
Mata Aish membulat sempurna kala mendapati kalung itu memang kalung miliknya, salah satu hadiah lain dari Ed yang sama persis seperti yang di kenakan Asy saat ini di balik jilbabnya.
"Astaghfirullah," lirih asy tak menyangka, matanya menatap Juli dengan tatapan tak bisa di artikan.
"Sepertinya memang salah kamu menolongnya, Nak. Lihatlah belum satu malam dan dia sudah membuat semua kekacauan ini di rumah kita," dengus ed pelan namun sangat menusuk.
Juli gemetaran terlihat dari tubuhnya yang tak berhenti bergerak gelisah, bahkan sesekali giginya terdengar bergemeletuk karna terlalu ketakutan.
Asy menelan ludah dengan susah payah, terlebih kala menatap mata Ed yang dingin menghujam langsung ke arab Juli yang bahkan tak berani untuk mengangkat wajahnya.
"Maafkan aku, Papi." Hanya itu yang mampu Asy ucapkan sebagai tanda penyesalannya.
Amelie menghela nafas kasar, mencoba mensugesti dirinya sendiri agar tak lepas kendali menghadapi manusia seperti juli.
"Sebaiknya bawa perempuan ini pergi dari rumah ini saat ini juga, atau jika tidak jangan salahkan Mami jika Mami akan membuatnya tak akan pernah bisa melihat matahari lagi," geram Amelie sembari berlalu dari kamar tersebut, meninggalkan Juli yang ketakutan dengan anak anak dan suaminya.
Ed menyugar rambutnya kasar, lalu menatap lekat ke arah ke dua putri kembarnya yang kini sama sama terdiam.
"Mintalah Sutris untuk mengantarnya ke mana pun malam ini yang bisa menjadi tempatnya beristirahat, asalkan jangan di rumah ini. Kalian tentu paham Mami kalian kan? Dia hampir tak pernah main main dengan apa yang sudah dia ucapkan," jelas Ed membuat getaran di tubuh Juli semakin menjadi jadi.
"Baik, Papi." Aish mewakili Asy menjawab, karna tentu saudarinya itu masih merasa sangat bersalah karena sudah memasukkan sembarang orang ke rumah orang tuanya hingga menyebabkan kekacauan seperti sekarang ini.
Setelah kepergian Ed meninggalkan kamar tersebut menyusul istrinya yang ternyata kembali lagi ke kamar mereka.
Aish mendesah, mengenakan kembali kalung berlian itu ke lehernya dan merangkul bahu Asy.
"Kenapa, Jul? " tanya Asy bergetar. "Kenapa kamu tega melakukan semua ini? Niat baik kami menolong kamu ternyata hanya kamu jadikan batu loncatan untuk mencuri?" tanyanya dengan isakan tertahan.
Juli tak menjawab, dia hanya diam dengan isakan yang di sembunyikannya sekuat tenaga .
"Sudahlah, Asy. Tidak perlu lagi terlalu baik pada orang yang tidak tahu terima kasih sepertinya. Lebih baik kita turuti perintah Papi dan meminta Mas sutris membawanya pergi sekarang juga," bisik Aish membesarkan hati Asy yang tentunya sangat kecewa dengan Juli.
Singkatnya, malam itu juga Juli kembali di bawa oleh Sutris. Pihak Asy menyerahkan sepenuhnya hak akan kemana Sutris membawanya, mereka tak ingin tahu lagi karna sudah terlalu sakit hati dengan perilakunya.
Juli pasrah, bahkan sepanjang jalan dia hanya diam memandang sekitar tanpa sekalipun membuka suara untuk bicara dengan Sutris.
'baru kali ini aku ketemu orang yang sangat tidak tahu caranya membalas budi seperti ini. Semoga aku dan anak keturunan ku nanti di jauhkan dari sifat seperti ini, ya Allah," batin sutris sembari terus melajukan mobilnya ke satu tempat yang sejak tadi sudah menjadi tujuannya.
*****
__ADS_1
Tak lama setelah mengantarkan Juli ke kos kosan yang di urus oleh Sri, calon istrinya. Sutris langsung berpamitan untuk kembali ke kediaman Ed karna Ed memintanya untuk langsung pulang begitu selesai mengantarkan Juli.
Namun saat melintas di depan rumah kontrakan Satrio yang tampak lengang sebab Aish yang menginap di rumah orang tuanya. Betapa terkejutnya ia kala mendapati seorang pria bersimbah darah tengah tergeletak di atas lantai teras.
"Astaghfirullah! Siapa itu?" serunya kaget, lalu tanpa pikir panjang langsung membelokkan mobilnya ke arah halaman rumah tersebut dan menyorot sesosok tubuh tersebut dengan lampu mobilnya.
"Ya Allah, Mas Satrio!"
Sutris keluar dari mobil dengan tergesa gesa, apalagi kala dia meyakini orang yang terbaring tak berdaya dalam kondisi sekarat itu memang benar Satrio.
Sutris membalik tubuh Satrio yang tengkurap dan segera mengelap wajah nya yang juga penuh darah itu dengan baju yang dia pakai tanpa rasa jijik sedikit pun.
"Mas! Mas Satrio? Mas, bangun Mas!"
Sutris menepuk nepuk wajah Satrio, namun sama sekali tak ada respon balik dari Satrio. Sutris kemudian menempelkan telunjuknya ke depan hidung Satrio dan mengarahkan telinganya ke dada Satrio.
Nafasnya terdengar lega kala mendapati jantung Satrio masih berdegup dan nafasnya masih berhembus walau sangat lemah.
Dalam kondisi panik itu gegas Sutris mengambil ponselnya, menekan nomor telepon majikannya dan mengatakan semua yang dia temukan saat ini.
Tak terperi betapa terkejutnya Ed dan Amelie saat mendengar kabar yang baru saja di sampaikan sutris, dan tanpa pikir panjang ke duanya berkata akan langsung datang ke sana namun ke duanya meminta Sutris untuk membawa Satrio ke rumah sakit terdekat lebih dulu dan memberi tahu mereka lagi nanti.
Tak butuh waktu lama, kini tubuh lemah Satrio sudah terbaring di dalam mobil. Dengan cekatan sutris langsung duduk di bangku kemudi dan melajukan mobilnya menuju rumah sakit terdekat yang jaraknya sekitar lima belas menit perjalanan dari rumah Satrio tadi. Tak lupa sutrsi juga mengabari Ed dan Amelie tentang kemana dia akan membawa Satrio, dan ke dua pasangan majikannya itu mengatakan kalau mereka akan langsung menyusul saat itu juga.
"Bertahanlah, Mas. Kita akan segera sampai, ingat Non Aish Mas. Dia sedang menunggu Mas sekarang," ucap Sutris sembari melirik Satrio yang terbaring memejamkan mata di kursi belakang . Walau matanya terpejam tapi sutris yakin Satrio pasti mendengarnya dan akan bertahan demi istri tercintanya.
****
"Ini kamar kamu," ucap Sri pada Juli yang sejak baru datang setelah di antar Sutris tadi terus saja menunduk dan lebih banyak diam.
Juli tampak mengangguk, melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar kos yang lumayan sempit tersebut. Di dalamnya bahkan lebih kecil ketimbang kamar pembantu yang ada di rumah Amelie. Bahkan isinya hanya muat sebuah kasur busa tipis yang sudah kempes di makan usia, sebuah bantal yang tak kalah tipisnya dan sebuah kipas angin duduk yang bunyinya sangat nyaring seperti sudah berusaha di perbaiki berkali kali dan di paksa untuk tetap hidup karna pemilik asli kos kosan itu enggan menggantinya dengan yang baru karna sayang uangnya.
Lagi, Juli hanya mengangguk saja. Lalu berpaling sedikit mengangkat wajahnya menatap Sri. Di paksakannya selarik senyum terbit di wajah sembabnya.
"Terima kasih," lirihnya pelan sekali.
Sri mengangguk, lalu mempersilahkan Juli menutup pintunya agar bisa segera beristirahat.
Krrriiiieeeeettttttt
Ceklek
Bunyi pintu tersebut di tutup dari dalam, untuk menguncinya agar tak ada yang bisa sembarangan masuk ke dalam kamar tersebut hanya di sediakan sebuah kayu kecil yang di paku di tiang pintu tersebut. Yang cara menggunakannya hanya sekedar di putar saja hingga menghalangi pintu. Kurang aman sih, tapi ya mau bagaimana lagi? Hanya itu yang ada untuk sekarang.
Juli mendudukkan tubuhnya yang lelah di atas kasur kempes tersebut. belum apa apa saja sudah terasa sekali seperti dia tengah duduk di lantai keramik yang ada di bawahnya.
"Duhai nasib, kenapa miris sekali. Belum lewat satu malam dan sudah banyak sekali kejadian yang terjadi. Duhai, harus di mintai pertanggung jawaban orang yang menyebabkan ini semua terjadi," desah Juli yang padak akhirnya tetap memilih merebahkan tubuhnya di atas kasur beralaskan sprei lusuh tersebut. Dan karna kelelahan yang luar biasa tanpa menunggu lama akhirnya Juli terbuai menuju alam mimpinya sendiri.
****
Sementara itu.
"Sudah kalian lakukan apa yang aku perintahkan?" tanya seseorang berkepala pelontos pada anak buahnya yang mengenakan pakaian hitam hitam, yang baru saja datang menemuinya.
"Sudah, Tuan. Semua selesai sesuai perintah."
Si pria botak tertawa besar, sembari merentangkan ke dua tangannya ke udara.
__ADS_1
"Huahahahah, bagus bagus. Kau memang anak buah ku yang paling bisa aku andalkan. Tenang saja kau akan mendapatkan bayaran yang setimpal untuk ini, " ujarnya mantab, dengan nada senang yang tak di buat buat sama sekali.
Pria yang di sebut anak buah itu membungkukkan sedikit tubuhnya ke depan, dari wajah yang hanya terlihat matanya saja itu dapat di ketahui kalau sang anak buah tengah tersenyum lebar saat ini.
"Tapi, Tuan ...."
"Ada apa?" tanya sang bos tanpa memutar tubuhnya untuk melihat anak buahnya tersebut sama sekali.
"Ada seseorang yang datang, setelah saya melaksanakan tugas. Sepertinya ... Dia membawa pria itu ke rumah sakit, Tuan".
Wajah sang bos tampak menegang sesaat, namun sejurus kemudian kembali normal lagi seperti semula.
Bahkan sebuah seringai licik kembali hadir di wajahnya yang buas.
"Biarkan saja, biarkan orang orang berusaha menyelamatkan nya dan menbuatnya tetap hidup. Itu akan lebih bagus bagi kita, tanpa perlu bersusah payah keluar uang tapi anak buah kita tetap bisa sembuh kembali. Dan tentu saja akan bisa di peralat lagi setelah ini, lihat saja." Bos terkekeh geli.
"Tapi, bagaimana kalau nantinya dia akan menolak bergabung lagi, Tuan? Kejadian sebelum ini pastinya akan menimbulkan trauma di dalam hatinya pada kita. Dan besar kemungkinan dia akan menyebar luaskan semua tentang kita oada orang banyak untuk memperoleh perlindungan," terang si anak buah dengan nada suara yang menunjukkan betapa dia peduli dengan sang bos yang bahkan terkadang suka bersikap kasar padanya dan pada teman teman lainnya. Yang -- mungkin, di kiranya-- posisinya lebih rendah darinya.
Suara gemeletuk terdengar dari rahang sang bos yang mengatup erat. Tanpa banyak kata dia menjatuhkan sebuah samurai yang sejak tadi di timangnya ke dinding yang ada di depannya, dan samurai itu pun langsung amblas separuh bagiannya ke dalam dinding tersebut.
"Kalau begitu biarkan dia mencoba melakukannya, agar dia juga melihat apa yang bisa kita lakukan untuk membalasnya dan akan kembali membuatnya bungkam!".
*
***
Di rumah sakit.
Menit menit yang berlalu terasa begitu lambat, sejak tadi seorang wanita manis tengah berdiri gelisah di depan sebuah ruangan dimana terdapat suaminya yang begitu dia nanti kehadirannya justru kembali dalam kondisi yang tak di harapkan.
"Aish, duduklah. Sudah terlalu lama kamu bediri di sini," ujar asy sembari merangkul pundak saudarinya yang tampak sangat bersedih itu erat.
Aish menggeleng, membalas rangkulan Asy dengan mengelus jemari yang menempel di lengannya.
"Makasih banyak, tapi aku mau di sini aja, asy. Nungguin Mas Satrio, aku mau memastikan sendiri kalau dia baik baik saja," sahut Aish yakin.
Asy mendesah pelan, lalu mengangguk dan membiarkan saudarinya itu tetap berdiri di tempatnya, sesekali Aish tampak melongokkan kepalanya melihat ke bagian pintu ruangan yang terdapat kaca tembus pandang untuk melihat kondisi di dalam. Sembari terus melantunkan doa di dalam hatinya untuk keselamatan sang suami.
"Nak, minumlah dulu. Kamu pasti haus berdiri sejak tadi, jangan menyiksa diri sendiri walau pun sedih ingat ada kami di sini yang akan selalu menemani kamu." Amelie mendekat dan ikut melihat kondisi di dalam ruangan tindakan sembari membawakan sebotol air mineral untuk Aish.
"Terima kasih, Mam." Aish menerima botol itu dan meneguk isinya sampai tenggorokannya yang semula memang terasa kering kembali terasa lebih lega.
Bahkan sejak tadi dia tak ingat hanya untuk meminum air ,saking cemasnya dengan kondisi sang suami kala mendapati kabar dari Ed beberapa waktu lalu. Padahal saat itu dia baru saja hendak bersiap untuk tidur.
"Tenanglah, ai. Yang kuat, insyaallah Mas Satrio pasti akan kembali sembuh seperti semula lagi," ucap Rahman yang juga ikut bersama mereka menuju ruang sakit, sedang Bu Hannah karna saat mereka pergi tadi tengah tertidur pulas jadi tak ada yang mau membangunkannya, meninggalkan wanita tua yang bijaksana itu dengan seorang suster yang memang di tugaskan Ed untuk merawatnya.
"Terima kasih ya, Mas Rahman." Aish mengangguk dengan senyum getir di wajahnya.
Kemudian Rahman pamit untuk menunaikan shalat malam di sebuah mushola yang letaknya tepat di sebelah taman rumah sakit, bersama Asy isttinya mereka pergi ke sana berniat mendoakan yang terbaik untuk kesembuhan saudara iparnya, Satrio.
Sepeninggalan Rahman dan juga Asy, Aish kembali menatap ke arah kaca pintu ruangan, dan matanya kembali berkaca-kaca. Dengan lembut penuh kasih sayang, Amelie meraih kepala Aish dalam dekapannya dan mengelusnya perlahan.
" Berdoalah, kita percayakan semuanya pada Gusti Allah SWT. Semoga suamimu akan baik baik saja."
Aish mengangguk dan mengamini ucapan ibunya.
Tak lama setelah itu, Ed yang sejak tadi mengatakan akan mengurus administrasi sudah kembali dengan wajah tegang.
__ADS_1
"Sepertinya Papi tahu apa yang sudah terjadi dan menimpa Satrio."