
Ckiittt
Mobil yang mengantar Aish dan Satrio ke rumah kontrakan yang mulai hari ini akan di tempati mereka berdua berhenti tepat di halaman rumah, panas yang terik tak lantas menjadikan Sutris, si supir yang kini sudah menjadi orang kepercayaan Amelie kehilangan semangat untuk bekerja sebaik-baiknya.
Sutris bergegas turun, mulai membantu menurunkan barang barang yang ada di bagasi mobil. Beberapa merupakan barang yang di berikan Amelie untuk anak dan menantunya itu sedang sebagian yang lain adalah hadiah dari pesta pernikahan mereka kemarin.
"Non, barangnya sudah di turunkan semua. Apa mau sekalian saya bantu bereskan di dalam?" tawar Sutris yang seperti biasa tak pernah perhitungan dan setengah setengah dalam bekerja. Selalu ingin memberikan pelayanan terbaiknya bagi keluarga bos nya itu agar sesuai dengan gaji yang di berikan Amelie untuknya.
Aish menggeleng sopan, sembari menenteng sebuah tas tangan di bahunya.
"Nggak usah, Mas. Mas boleh langsung pulang saja, biar Aish sama Mas Satrio yang beberes. Hitung hitung biar makin romantis," kelakar Aish sembari melempar tatapan pada Satrio, suaminya yang kini tengah mengangkat koper miliknya ke dalam kamar yang akan mereka tempati berdua.
"Ya sudah kalau begitu, Non. Kalau boleh saya mau mampir ke sebelah sebentar, sebelum pulang ke rumah Nyonya besar," pamit Sutris sopan.
Kening Aish berkerenyit sesaat, sebelum akhirnya dia ingat apa tujuan Sutris ke sebelah.
"Mau ngapel ya," godanya membuat wajah sutris seketika memerah.
"Ah, Non Aish bisa aja. Ya sudah ya, Non saya cuma mau mampir sebentar ke sebelah. Mau jenguk Sri, soalnya katanya kemarin dia sakit tapi saya nggak bisa ngasih kabar apalagi jenguk karna lagi ada kerjaan dari Tuan Ed," papar Sutris menjelaskan tanpa di minta.
Aish mengangguk paham, lalu mengulas senyum tipis. "Oke deh, nggak papa, Mas. Saya juga titip salam sama Mbak Sri ya, bilangin semoga lekas sembuh."
Sutris mengangguk mengiyakan, lalu berlalu menuju ke mobil dan mengarahkannya ke kosan sebelah dimana Sri bertempat tinggal sebagai pengurus di sana.
"Dek, ayo masuk barang barang kamu sudah Mas susun di lemari semua. Coba di lihat dulu ada yang nggak sesuai nggak?" celetuk Satrio yang muncul secara tiba tiba dari belakang tubuh Aish yang masih menatap arah perginya mobil yang Papi yang kini di kemudian Sutris.
"Ah, iya Mas. Kok repot-repot sih, Mas? Kan Aish bisa beresin sendiri? Lagi pula kan Kitu udah tugasnya Aish, Mas."
Satrio membimbing sang istri ke dalam rumah yang sudah jauh lebih bersih ketimbang saat pertama kali Aish menginjakkan kakinya di rumah itu. Bahkan lantai keramik yang ada di bawah kakinya pun terasa sangat kesat, dengan karpet bulu yang sudah di cuci bersih dan harum.
__ADS_1
"Nggak papa, istriku ini akan jadi ratu di istana sederhanaku ini. Kamu mau kan, sayang?" gumam Satrio mengecup punggung tangan Aish untuk yang pertama kalinya, membuat wajah Aish seketika menghangat dan semerah kepiting rebus.
****
Sementara itu di tempat lain.
"Mama! Lihat Adam nggak?" tanya Azkara yang tampak tengah kebingungan mencari saudara kembarnya itu.
Sarah yang sedang membuat minuman di dapur mengerutkan keningnya. "Loh, bukannya tadi kalian main bareng?"
Azkara meremas jemarinya seperti kebiasaanya setiap dia merasa gelisah.
"Iya, tadi kami lagi main petak umpet sama Ayuna juga. Ayuna sudah ketemu tapi dari tadi Adam nggak ketemu juga, Mama. Sekarang Ayuna juga lagi cari Adam," jelas bocah yang tahun ini genap berusia enam tahun itu dengan bahasanya yang sudah mulai jelas.
"Coba kita tanya Papa ya," tukas Sarah yang mendadak merasa cemas, memang sudah dua minggu ini mereka memutuskan kembali ke rumah mereka sendiri. Rumah yang dulu di hadiahkan almarhum orang tua Sarah untuk kado pernikahan mereka.
Sarah dan Azkara berlari kecil menuju ke teras samping, dimana itu adalah tempat favorit Axel untuk menghabiskan waktu sembari membaca buku atau sekedar memberi makan ikan mas koki peliharaannya.
"Papa!" seru Azkara sembari mempercepat laju langkahnya mendekati Axel.
Axel meletakan ponsel yang tengah di pegangnya lalu menyambut sang putra tertua yang kini sudah berpindah ke pangkuannya.
"Ada apa, anak Papa yang hebat?" tanyanya sembari menghujani wajah tampan anaknya itu dnwhn ciuman.
"Papa, papa lihat Adam?" tanya Azkara cepat, raut wajah cemas tercetak jelas di mimik wajahnya.
Sama seperti Sarah tadi kening Axel pun ikut berkerut saat mendengar pertanyaan anaknya. Dia memutar kepalanya menoleh pada Sarah seolah meminta penjelasan lebih.
"Kata Azka tadi mereka main petak umpet, dan sampai sekarang Adam belum ketemu, Mas." Sarah menjelaskan secara singkat.
__ADS_1
Axel bangkit dengan masih menggendong Azkara, lalu melangkah masuk dengan terburu-buru.
"Mas, mau kemana?" tanya Sarah yang mulai menangkap gelagat tak baik di raut wajah suaminya.
Terlebih saat dia melihat ke sekitar dan tak mendapati Ayuna, padahal tadi dia mendengar jelas suara anak anaknya yang bermain di lantai bawah dan bukan di lantai atas karna Sarah melarang mereka bermain terlalu jauh dari keberadaannya untuk mencegah terjadi hal hal yang tak di inginkan.
Axel berjalan terus ke arah garasi samping, tak jauh dari dapur dimana tadi Sarah berada namun tersekat oleh lemari hias yang berisi pajangan keramik cantik.
Dengan tak sabar, Axel menarik tuas yang ada di balik sebuah lukisan pemandangan. Sebuah jalan yang sampai saat ini masih menyimpan misteri di dalamnya.
"Ini tempat apa, Papa?" tanya Azkara heran,karna belum pernah melihat ruangan gelap itu sebelumya.
Axel tak menjawab, dia hanya tertegun sembari menelan ludah dengan susah payah.
"Mas, ada ap ...."
Ucapan Sarah berhenti, terlebih saat pintu ruangan tersembunyi itu mulai terbuka lebih lebar dari sebelumnya dan bias cahaya dari luar menerangi sebagian dinding ruangan yang pengap dan lembab tersebut.
"Ruangan ini ... kenapa tidak terkunci?" gumam Axel seakan bicara pada dirinya sendiri.
Tapi Azkara yang ada di gendongannya malah menyahuti dengan kalimat yang sangat menakutkan bagi Sarah dan Axel.
"Apa mungkin Adam masuk ke sini, Papa?"
Axel menggeleng, mundur teratur sembari memegangi tubuh Azkara agar tidak terjatuh. Sarah mendekat, dan memeluk mereka dari samping dengan wajah yang sama tegangnya.
"Tidak, tidak boleh. Tidak ada yang boleh masuk ke dalam sini, di sini berbahaya. Papa yakin sudah mengunci pintunya ... tapi ... tapi kenapa? Kenapa pintunya terbuka dengan mudah?" cicit Axel sembari menyandarkan tubuhnya yang tiba tiba lemah ke bagian depan mobil yang terparkir di belakangnya.
"Papa, ayo kita cari Adam di dalam." Azkara memaksa turun dari gendongan Axel dan berlari masuk ke ruangan gelap itu bahkan tanpa rasa takut.
__ADS_1