MEMBALAS GUNDIK SUAMIKU

MEMBALAS GUNDIK SUAMIKU
Chapter 127.


__ADS_3

"Loh, Mas? Ngapain kamu basah basahan kaya gitu? Habis nangkep kodok kamu?" ledek Asiyah saat melihat Alam kembali dalam keadaan basah kuyup.


 Alam berdecak.


"Apaan sih?" dengusnya sambil duduk di tangga teras rumah Gus Musa.


 Mereka memang memutuskan untuk menginap malam ini, sengaja karna asiyah memaksa ingin mengikuti acara syukuran kehamilan Jeni yang akan di laksanakan esok hari.


 Sebenarnya Asiyah cukup bersyukur dengan pernikahannya dengan Alam, karna dengan begitu dia bisa bepergian dan membeli apapun yang dia mau. Sebab sikap Alam yang loyal dan tidak pelit membuatnya bisa bertahan walau tanpa cinta dalam pernikahan itu.


"Kenapa nggak beli aja baju yang baru, katanya orang kaya," seloroh Asiyah lagi sembari memetik kelopak demi kelopak bunga mawar yang tubuh di dekat teras rumah tersebut.


"Gimana mau beli, ya malulah Mas jalan ke toko baju basah basah begini. Gimana sih kamu," gerutu Alam lagi, tanpa menatap ke arah Asiyah yang menahan senyum kecilnya menyaksikan kondisi suaminya yang memprihatinkan itu.


"Dek Abbas!" seru Asiyah memanggil putra pertama Jeni yang terlihat tengah berlarian di halaman sambil menendang bola itu.


 Bocah itu sontak menoleh dan berlari kecil menghampiri Asiyah, membiarkan bolanya menggelinding ke sana ke mari karna di tendang anak anak lainnya.


"Apa, Bibi?" tanyanya dengan suaranya yang menggemaskan.


Asiyah tersenyum lalu memegang tangan mungil Abbas yang dulu sangat di sukainya itu.


"Panggilin om Rahman dong," pinta Asiyah setelah mencium telapak tangan Abbas beberapa saat, menikmatinya seperti saat dulu Abbas masih bayi.


"Ngapain manggil om rahman? Males ah." Abbas melipat kedua tangan kecilnya di dada sambil membuang muka, namun malah membuat Asiyah semakin gemas di buatnya.


"Loh, kok males sih? Ayo dong, Abbas sayang bantuin bibi panggil om Rahman. Ya ya ya, nanti bibi ajak beli es krim deh," bujuk Asiyah menggunakan senjata andalan untuk membujuk anak kecil.


 Dan berhasil, tampak mata bulat dan bening milik Abbas berbinar. Dan dengan cepat bocah pintar itu berbalik menatap Asiyah lagi.


"Beneran?"


 Asiyah mengangguk mantab.


"Tapi mau empat ya," ucap Abbas lagi, membuat Aisyah melongo.

__ADS_1


"Banyak banget empat? Emangnya Abbas sanggup abisin semua?" tanya Asiyah lembut sembari memegang perut Abbas yang terasa padat.


 Abbas nyengir, menampakkan barisan gigi susunya yang putih karna Jeni tak pernah absen menyikatnya.


"Deal or no deal?" tanya Abbas lagi semakin membuat Asiyah melongo, terlebih lagi Alam yang baru kali ini tidak julid walau perkataan Abbas sejak tadi agak menyebalkan.


 Asiyah mendesah pasrah lalu menjabat tangan kecil Abbas yang sudah mengambang di udara.


"Deal," ucapnya tegas.


 Dan bocah pintar itupun langsung bersorak girang, lalu berlari begitu saja menuju ke kamar Rahman di lantai dua asrama putra.


 Tak butuh waktu lama, terlihat Rahman kini sudah menuruni tangga dan berlari kecil menuruti langkah Abbas yang terus menerus menarik tangannya menuju ke tempat Asiyah.


"Bibi, ini om Rahmannya. Ayo kita beli es krim sekarang." Abbas berseru sejak sebelum sampai ke hadapan Asiyah, membuat Asiyah kasihan melihat Rahman yang kini harus tersengal-sengal karna mengikuti lari Abbas sembari agak membungkuk karena tangannya di tarik Abbas sekuat tenaga bocahnya.


"Iya, nanti kita beli ya. Sekarang Abbas masuk dulu ke rumah terus izin sama Mama ya, bilang kalau mau pergi beli es krim sama bibi Asiyah gitu ya," jelas Asiyah lembut.


 Abbas meletakkan tangannya di kening seakan memberi hormat pada Asiyah dan langsung berlari kembali naik ke atas rumahnya seakan tak punya rasa lelah sedikit pun.


"Heh, ini Kakak di suruh kesini tiba tiba kenapa? Sampe di tarik tarik begitu tadi, awas aja kalo nggak penting ya," desah Rahman sambil ikut duduk di tangga teras guna mengatur nafasnya yang tersengal.


"Oh ini, Kak. Mas Alam habis kecebur got, bisa nggak pinjam baju Kakak dulu soalnya dia malu katanya mau beli ke toko kalo basah basahan," seloroh Asiyah seenak dengkulnya.


Alam mendelik tidak terima. " Hei, saya bukan ...."


"Ooh, kecebur got. Got yang mana?" sela Rahman hingga Alam tak jadi meneruskan kalimatnya.


"Tapi saya bukan ...."


"Got di pertigaan kayaknya, baunya ajak beda," sela Asiyah pula sembari menebar tawa renyahnya yang terdengar begitu lepas saat bersama Rahman.


"Saya bukan kecebur got! Saya kecebur kolam ikan di pemancingan!" seru Alam kesal karna sejak tadi tidak di dengar dan selalu di sela sesuka hati. Namun selain kesal rupanya ada sedikit gelenyar cemburu di hatinya saat mendengar tawa lepas Asiyah yang hanya terdengar saat bersama Rahman saja.


 Rahman dan Asiyah tertegun sejenak, lalu saling pandang dan ber oh ria.

__ADS_1


"Ooohhhh, kecebur kolam ikan," ucap keduanya hampir berbarengan, membuat Alam lagi lagi harus membuang muka agar wajah merah padam karna cemburunya tidak terlihat siapapun.


"Ya sudah, sebentar saya ambilkan baju saya dulu." Rahman bangkit lalu kembali ke kamarnya guna mengambil satu stel baju lengkap dengan ********** sekalian, karna dia tahu pasti semua pakaian Alam tak terkecuali onderdilnya basah semua.


"Ini kenapa segala segitiga Bermudanya di kasih ke saya?" teriak Alam sambil menunjuk dalam berwarna hitam polos itu dengan tatapan tak suka saat Rahman memberikan pakaian itu untuk dia pakai sementara.


"Memangnya mau nggak pakai? Saya punyanya cuma sarung, emang mau nanti begandal begundul nanti?" tanya Rahman sambil menaik turunkan alisnya.


 Asiyah membuang muka karna malu sendiri mendengar percakapan dua orang yang mendadak tampak akrab itu.


"Emangnya kalau pake sarung harus pake segitiga Bermuda?" tanya Alam dengan polosnya karna sejak kecil memang tidak di ajari memakai sarung sebab setiap melihat sarung pasti di gunting.


 Rahman menepuk jidat, sedangkan Asiyah tanpa pamit lagi langsung saja melipir pergi, karna pembicaraan mereka yang semakin tidak senonoh, eh.


"Udah, buruan sana ganti baju dulu. Nanti kalau masuk angin yang ada semua repot," gerutu Rahman sambil berjalan menjauh meninggalkan Alam yang kebingungan dan akhirnya memilih untuk membuntuti Rahman.


"Mas ngapain ngikutin saya?" sentak Rahman berhenti tiba-tiba saat merasa ada yang melangkah di belakangnya membuat Alam yang berjalan menunduk akhirnya menubruk dada bidangnya.


Brugh


"Aww, kenapa berhenti tiba-tiba sih? Ya saya bingung harus ganti baju dimana, masa di teras sih?" gerutu Alam sambil memegangi jidatnya yang sebenarnya tidak kenapa-kenapa itu.


 Rahman mendengus, lalu dengan malas mengajak Alam ke dalam kamar mandi pribadi yang kebetulan ada di kamarnya.


"Sudah di sini aja, biar bisa sekalian mandi. Biar bau ikannya hilang," ucap Rahman sambil membukakan pintu kamar mandinya dan mempersilahkan Alam untuk masuk.


"Bagus juga pondoknya ya, ada kamar mandi pribadinya. Kayak kos kosan," celetuk Alam sebelum akhirnya masuk ke dalam dan menutup pintunya.


 Rahman baru saja hendak keluar dari kamarnya saat mendengar teriakan tertahan dari dalam kamar mandinya.


"Hah, apa ini? Tolong!"


"Gawat," gumam Rahman lalu tanpa buang buang waktu lagi langsung berbalik dan membuka pintu kamar mandi.


"Aaaaaaaaaaaa!"

__ADS_1


__ADS_2